
Tubuh manusia asing penuh lumpur di guyur air sumur. Beberapa ember air habis dan entah ini menimba untuk yang keberapa kali. Pak Daman dengan telaten memandikan lelaki itu. Meski sudah berulang di sabun dengan deterjen daia- daia re, hidung Pak Daman masih mencium bau amis dan bau lumpur. Membuat laki-laki yang sudah menduda puluhan tahun karena di tinggal mati sang istri itupun mengernyitkan dahi.
Sedangkan manusia asing itu tetap seperti patung. Tidak mengeluh sedikitpun atau bahkan sekedar gelagapan saat di guyur air. Ekspresinya masih datar. Diam membatu tapi bernafas. Pak Daman yang jadi kelelahan.
"Anggep udah bersih, udah kelihatan tampannya"
"Meskipun masih bau lumpur, hashuuu! "
Pak Daman bersin-bersin setelah mengendus ketek manusia asing. Bau amis dan lumpur. Lalu dengan handuk kering, Pak Daman melilit tubuh polos itu. Memakaikan baju bersih beserta kain sarung lagi. Bukan kain sarung bau apek seperti dari tambak tadi. Ini kain sarung wangi sabun daia-daia re. Baru diambil dari lemari.
Pak Daman memperlakukan manusia asing itu layaknya bayi besar. Memandikan, menggantikan baju, menyisir rambutnya. Sudah beres lanjut memberinya makan. Barangkali kalau sudah makan dia mau ngomong. Pikir Pak Daman.
Karena tinggal sebatang kara tanpa anak dan istri, Pak Daman makan pun seadanya. Masih ada sayur lodeh sisa kemarin. Lauknya ikan asin. Dengan makanan yang sama, Pak Daman memberi makan manusia asing. Reaksi laki-laki di depannya membuat Pak Daman yang duduk manis jadi terjengkang sangking kagetnya.
Manusia jenis apa yang makan beserta piring-piringnya di gigit. Sebelum bibir manusia asing itu terluka. Pak Daman menghentikannya. "Woah, makan yang bagus nak!"
"Piring mana enak di makan?!" Meski terkesan bar-bar, setidaknya manusia asing sudah bereaksi, Pak Daman jadi senang.
"Buka mulut! Aaaaa...!" Manusia asing masih tidak paham. Dia tidak membuka mulut lagi seperti tadi. Ini membuat Pak Daman merasa semakin aneh. Mungkin memang manusia asing tidak paham bahasa Indonesia. Pak Daman coba pakai bahasa Jawa. Barangkali mudeng.
"Aaaaa! Mangap cangkeme !"
Sambil monyong-monyong Pak Daman memperagakan membuka mulut khas tutorial makan beradab dan lahap. Perlahan tapi pasti, manusia asing mengikuti gerakan monyong-monyongnya Pak Daman. Kesempatan itu tidak di lewatkan Pak Daman begitu saja. Langsung saja mulut terbuka itu dia jejali nasi lodeh sisa kemarin. Bukannya di kunyah dulu, manusia asing langsung menelannya. Membuat Pak Daman kembali melongo, meski tidak sampai terjengkang.
Hari beranjak sore menuju petang. Mega merah di cakrawala langit merekah. Pak Daman hendak ke musholla untuk berjama'ah sholat Maghrib. Sejauh mengamati manusia asing, nampaknya tidak banyak pergerakan yang menuju hal membahayakan. Manusia asing hanya duduk mematung dan tidak berkedip.
"Saya mau jamaah dulu, kamu saya tinggal, beranikan di rumah?" Apa yang di harapkan Pak Daman, orang itu bakal nangis kayak bayik? Tentu saja tidak. Tanpa Pak Daman ketahui kalau manusia yang dia anggap asing itu sudah berumur ratusan tahun. Kerabatnya banyak yang sudah punah.
Pak Daman menghilang di balik pintu. Tinggal manusia asing seorang diri. Malam sempurna petang. Sebagai spesies lele, sifat alamiahnya masih terbawa meski ia berwujud manusia sekarang. Spesies lele adalah hewan nokturnal. Mereka lebih aktif saat malam tiba. Termasuk perutnya yang aktif keroncongan karena lapar lagi.
Manusia asing bangkit. Mulai bereksplorasi dengan dapur milik Pak Daman. Piring dia lempar karena sedikit paham jika itu bukan makanan. Akibatnya pecahan piring itu berserakan di lantai. Panci-panci berterbangan menghasilkan suara yang ramai.
Glontang, glontang, glontang!
Karena tidak menemukan secuil makanan pun. Manusia asing itu berjalan keluar rumah. Meski tidak tahu arah, instingnya memerintah agar tetap jalan. Manusia asing berjalan berlawanan dengan arah musholla dimana Pak Daman sedang mencari sandal jepitnya yang masuk ke got.
Beberapa orang yang berpapasan dengan manusia asing merasa terkesima. Sejak kapan kampung mereka kedatangan bule. Tubuhnya yang jangkung dan kulitnya yang putih. Wajah tampannya yang tidak normal bak pangeran-pangeran di film Barbie fairy topia, sudah pasti menarik perhatian mereka.
Manusia asing terus berjalan melewati jalan raya. Tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri dia menyebrang. Membuat beberapa kendaraan gelagapan dan hilang kendali. Ada mobil sejuta umat yang juga kaget lalu membanting setir, hingga menabrak trotoar. Manusia asing tak peduli, apalagi saat hidungnya mencium bau makanan lezat. Langkah kakinya semakin cepat.
Manusia asing berhenti di depan tenda Lamongan. Matanya tertuju pada gambar lele yang mencolok. Hatinya begitu senang hanya karena melihat gambar spesiesnya di sana. Tangannya terulur untuk menyentuh gambar itu, namun kakinya berkhianat. Bau lezat semakin tercium membuat perutnya semakin lapar. Dia merasa perlu tahu jenis makanan apa yang berbau segurih itu.
Manusia asing masuk tenda, matanya melotot saat mengenali spesiesnya, lele berkulit hitam mengapung di wajan sedang di goreng. Tiba-tiba hormon kebencian di hatinya bergelora . Merasa tidak terima temannya di goreng.
"Silahkan Mas, mau pesan apa?" tawar ibu-ibu yang sedang menggoreng lele tadi. Sedangkan satu orang yang memesan lele goreng berada di luar tenda sedang fokus telepon.
__ADS_1
Mengabaikan pertanyaan ibu-ibu itu, manusia asing malah menyelupkan tangannya ke minyak panas dan menyelamatkan lele goreng yang sudah krispi dengan tatapan iba. Ibu-ibu pemilik warung jelas kaget bukan main. Tubuhnya otomatis mundur merasa terancam dengan tatapan manusia asing. Apalagi saat marah seperti itu, manik mata manusia asing berubah warna menjadi merah menyala. Belum sempat berteriak, sekujur tubuh ibu-ibu pemilik warung sudah di siram dengan sewajan besar minyak panas.
Manusia asing lantas keluar dari tenda membawa tiga ekor lele krispi yang berhasil dia selamatkan. Hatinya begitu hancur, dia semakin membenci manusia yang tega membuat spesiesnya mati. Kericuhan di dalam tenda menjadi, saat api di kompor malah ikut melahap kain tenda dan menjadi nyala api yang semakin besar. Di tambah teriakan wanita yang minta tolong karena tersiram minyak panas di sekujur tubuhnya. Manusia asing sudah menghilang terlebih dahulu. Sebelum orang-orang menyadari keberadaannya.
****
Di ruko yang luasnya tak seberapa. Bora sedang sibuk melayani pembeli. Mentang-mentang tanggal muda, banyak orang yang datang mengisi ulang botol parfum mereka. Memangnya mereka sekismin apa sampai membeli parfum pun nunggu gajian. Blekk!
Bora satu-satunya pekerja di kios parfum bernama 'Wangi Meni'. Kalau di translate ke bahasa Indonesia yang baik dan benar, Wangi Meni artinya Harum sekali. Kios itu milik saudagar kaya yang merupakan orang tua dari sahabat Bora sendiri. Bora di percaya membuka dan menutup toko itu. Orang tua sahabatnya sudah seperti keluarga sendiri, meskipun mereka pelit, medit melilit.
"Ekhem!"
"Eee... gimana kak, mau isi ulang atau ganti varian?"
"Isi ulang aja deh, yang kayak biasa, Nagita Slavina ya.."
"Oke deh, botolnya di bawa?"
"Nih...!" Pelanggan itu menyerahkan sebuah botol kecil bening. Bora bekerja dengan sepenuh hati. Dia tergila-gila dengan wewangian apapun itu. Dia benci bau busuk yang tajam. Hidungnya sangat sensitif jika di bandingkan hidung-hidung manusia pada umumnya. Jadi jangan coba-coba kentut di sebelahnya, meskipun tidak berbunyi sekalipun. Bora dengan cepat pasti akan menemukan tersangkanya.
Sebelum di isi ulang, Bora telaten membersihkan botol dengan sebuah cairan terlebih dulu. Kemudian mulai meracik parfum sesuai takaran yang di inginkan.
"Yeah, parfum kakak siap! Dua puluh ribu aja kak, uang pas ya..."
"Yuhu... makasih ya kak" Bora tersenyum sangat manis membalas ucapan terimakasih itu. Para pelanggan yang datang ke toko 'Wangi Meni' selalu puas dengan pelayanan yang di berikan Bora.
Mata Bora sesekali melihat kearah jalan raya di depan kiosnya. Kendaraan berlalu lalang semakin ramai. Lama-lama menjadi sebuah kemacetan. Klakson mereka bersahutan, berisik memekakkan telinga.
Aneh, padahal tadi enggak seramai itu deh jalanannya...
Bora setengah melamun. Sampai suara cempreng memecah lamunannya yang setengah-setengah.
"Dorrr!"
"Enggak kaget, udah hafal aku!"
"Iihhh Borax... kog enggak kaget sih!"
Gadis itu merajuk seperti biasa. Dia sahabat Bora yang di maksud tadi. Si anak juragan medit. Namanya Dina Febriana. Meski bapak ibunya medit melilit, alhamdulilahnya gen medit tidak menurun ke Dina. Dia baik dan royal ke Bora. Hampir tiap malam sehabis adzan isya' dia datang ke toko. Membawakan Bora jajan, entah itu kebab atau cilok lima ribu. Yang jelas pasti bawa jajan. Kalau tidak, ya bakal Bora usir!
Habisnya Dina kalau datang tidak serta merta tanpa maksud dan tujuan. Pasti datang membawa bahan ghibahan. Menceritakan hari-harinya di kampus yang melelahkan. Teman-temannya yang ke centilan, atau dosen yang pas ngomong suka hujan lokal.
"Bau-bau tubuhmu sudah terendus dari jarak lima ratus gram"
"Lima ratus kilometer, Boraaaks! Dih, kelihatan banget pinternya" Hanya Dina seorang yang Bora ijinkan memanggilnya dengan panggilan Boraks, kalau bukan Dina, auto bakal Bora ungkit aib-aib orang yang berani memanggilnya seperti itu.
__ADS_1
Bora nyengir, beralih cuci tangan. "Bawa jajan apa?"
"Aku laper belum sempet makan, dari tadi rame" Adu Bora memelas.
"Cuma bawa gorengan, tadi sih niatnya mau beli nasi di Lamongan pojok sana, eh... malah warungnya kebakaran"
Bora langsung mencomot tahu isi dari kantung plastik yang di bawa Dina. Memakannya dengan lahap sampai mulutnya penuh. "Uhghhhh... maka-nyo macet ampe sinihggg"
"Makan, makan dulu yang bener baru ngomong"
Dina ngobrol sambil memeriksa catatan pembelian parfum hari ini. Dari sana dia tahu kalau hari ini memang pengunjung sangat ramai. Pantas saja Bora sampai kelaparan begitu.
Bora selesai dengan satu tahu isi, nambah lagi mencomot bakwan jagung. Meski begitu mulutnya tidak kesulitan untuk di ajak ngobrol ngalor-ngidul.
"Gimana ceritanya tuh bisa kebakar?"
Dina mengedikkan bahu. "Belum denger kronologinya, males, banyak orang berjibun tadi, ada polisi juga"
"Yah, alamat enggak bisa di beliin Lamongan dong. Lidahku kan cocok sama sambelnya"
"Aku juga suka sambelnya"
"Hmm... kalau pun jualan lagi pasti butuh waktu lama"
"Paling enggak kudu di perbaiki dulu kan ya warungnya?"
"Iyalah..." Keduanya mendesah kecewa karena belum ke turutan makan masakan khas Lamongan.
Mereka mengobrol sampai pukul setengah sembilan malam. Sudah tidak ada pelanggan lagi yang datang. Dina membantu Bora beres-beres dan menutup toko. Saat seperti ini Dina merasa kasihan pada sahabatnya itu. Bora harus bekerja keras mengumpulkan uang demi cita-citanya. Sedangkan dirinya yang tidak punya cita-cita malah harus menuruti keinginan orang tuanya. Kuliah di bidang keperawatan.
Satu hal yang membuat Dina lebih kasihan lagi pada Bora. Diam-diam Bora sangat keras terhadap dirinya sendiri. Gadis itu berhemat ekstrim masalah perut. Mending uangnya di tabung untuk modal, daripada di buat makan yang berujung jadi tai. Itu motto hidup seorang Bora.
_
_
_
Kios Parfum 'Wangi Meni'
Luar biasa... baru kali ini saya nulis bisa diatas 1500 kata🤗
Ramaikan yok♥️
__ADS_1
Berikan banyak cinta buat Boraks🥰