
Pukul sembilan malam lebih. Bora sudah menutup kios minyak wangi tempat ia bekerja. Semenjak peristiwa warung Lamongan yang terbakar, dia belum pernah lagi jajan makanan yang sama. Tiba-tiba pengen beli lauk ayam goreng beserta sambal khas Lamongan.
Bora mengayuh sepeda Jepang Vintage miliknya, warisan sang nenek. Mencari warung Lamongan di sekitar alun-alun. Tak sulit bagi Bora untuk menemukan warung yang dia cari. Dia menepikan sepedanya lalu terlihat memasuki tenda.
"Monggo Mbak, badhe pesen nopo?" silahkan mbak, mau pesan apa?
"Ayam goreng dua, Pak. Bungkus aja tanpa nasi. Sama pecel terong boleh." Bora habis gajian jadi berani makan enak, ya sesekali.
"Ayamnya dada nopo paha bawah?"
"Pahanya Ariel Tatum ada?"
"Ya?" tanya si Bapak ingin memastikan. Hatinya ketar-ketir karena warung sepi pembeli.
"Paha bawah aja"
Niat mau ngereceh malah si penjual gak connect. Bora nyengir lalu menyeret kursi plastik untuk dia duduk. Di warung yang biasa dia jajan, kalau jam segini pasti yang beli lagi ramai-ramainya. Sampai harus di tambah tikar diluar untuk mereka yang tidak kebagian tempat. Ternyata tidak berlaku di warung ini.
Bau harum ayam di goreng dan bunyi kemrenyes minyak panas memenuhi indera Bora. Sesekali dia mainan hp, menggulir layar, nonton toktok yang vidionya masih FYP. Mau becandaan sama si Bapak takut garing lagi kayak tadi.
Menit berikutnya pesanan Bora siap dia bawa pulang. Bora menyerahkan selembar uang lalu di beri kembalian receh oleh sang Bapak. Yang ini receh beneran, koin-koin gitu. Sejumlah delapan ribu rupiah. Ngenes, berasa pulang dari ngamen, kan.
"Maap ya Mbak, semenjak berita orang meninggal tidak wajar akhir-akhir ini, banyak warung yang sepi pembeli. Jadi adane kembalian uang receh"
Meninggal tidak wajar?
Bora ketinggalan berita sepertinya, besok dia sepertinya berencana ghibahin kabar ini sama Dina-saurus. Sahabatnya.
"Enggak apa-apa Pak, terimakasih" Penjual itu tersenyum syukur. Saat Bora akan keluar dari tenda, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri menjulang di depan.
Nyaris Bora menabrak dada laki-laki itu. Bora yang kaget refleks mundur. Barangkali orang itu mau masuk. Eh tapi malah mematung.
Iya, aku tahu aku cantik. Tapi apa harus jadi patung gitu sangking terpesonanya?
Tidak sadar Bora mendengus lalu mengendus. Tampan. Kayak bule.Tapi,.... bau... bau amis dan bau lumpur sih ini. Hoeeekkk!
Apa laki-laki itu habis pulang mancing? semalam ini?
Hidung Bora memang sensitif. Jadi kalau anda bau badan, mending jauh-jauh dari Bora.
Ingin rasanya Bora promosikan minyak wangi yang cocok untuk laki-laki itu. Tapi belum membuka mulut, malah laki-laki bau lumpur itu sudah memutar badan.
"Ckkk! kalau tidak ingin beli, untuk apa berdiri di depan seperti tadi!" Bora tidak lagi membatin, langsung nyeplos aja. Entah orang itu dengar atau tidak. Sepertinya tidak, wong dia lempeng aja, ngluyur pergi.
Tampan. Tapi bajunya kaos partai.
Memang wanita jenis Bora ini, kalau nyir-nyir enggak tanggung-tanggung.
****
Pemuda yang sedang pusing karena kasus-kasus kematian janggal beberapa orang korban itu berkacak pinggang di depan ruko. Pasalnya akhir-akhir ini dia merasa bodoh.
"Haaaaah... jam berapa ini? bagaimana bisa aku berharap toko parfum itu masih buka!"
__ADS_1
"Dasar bodoh!"
Setengah sepuluh lebih, jelas toko parfum itu sudah tutup. Pemuda itu menggeber motornya. Tenggorokannya kering, kebetulan ada Mamamart yang masih buka.
"Selamat datang selamat berbelanja" Pemuda itu hanya mengulas senyum, sudah malam tapi pegawainya masih loyalitas sekali. Pikirnya.
Pemuda itu berjalan melewati rak-rak berisi makanan ringan. Dia berjalan menuju mesin pendingin untuk mengambil minuman. Pilihannya jatuh pada sebotol air mineral dingin. Sangking hausnya dia langsung minum di tempat padahal belum di bayar. Saat air itu mulai mengalir membasahi kerongkongan. Mata pemuda itu menangkap siluet seorang gadis yang sedang berjongkok memilih snack.
Brrrrruuuuttttttt... khem! khem!
Nyaris dia menyemburkan minumannya. Sekuat tenaga dia menahan agar tidak terbatuk-batuk. Semesta memang terkadang ngajak bercanda. Padahal dia sedang tidak ingin bercanda. Disamperin tidak ketemu, giliran tidak di harapkan muncul.
Ingin rasanya memanggil atau menyapa gadis itu. Tapi pemuda itu kan mendadak bodoh tiap kali melihat gadis cantik. Dia jadi gagu macam Ijat temannya Upin, yang tremor duluan tiap di minta membaca oleh Cek gu.
Wait, kata gadis itu kemarin, dia akan menoleh hanya karena mencium parfum yang dia kenali. Apalagi parfum yang aku pakai rekomennya kemarin kan.
Buru-buru pemuda itu mengeluarkan parfum dari waist bag miliknya. Lalu menyemprotkan banyak-banyak di seluruh tubuhnya. Pas sekali dia berdiri di bawah AC. Harum ekstrem sport menyeruak mengalahkan pengharum ruangan.
Seperti magic, gadis itu menoleh kearahnya langsung, tidak menunggu besok. Woi, kelamaan kalau nunggu besok Paijo!
Lalu tersenyum manis. Tidak hanya itu, di mata pemuda tadi, malah sang gadis di kelilingi emoticon love-love yang bertaburan.
Pemuda itu mematung kaku, entah di detik ke berapa justru sang gadis yang dia pandangi sudah berada di hadapannya.
"Ekstrem sport?" Todong gadis manis.
Pemuda itu mengedipkan mata. Tidak mau melewatkan kesempatan emas ini.
Gadis itu tersenyum geli. Mau tak mau dia menerima uluran tangan pemuda itu. "Aku... Bora, maaf tadi aku mengenali parfum yang kamu pakai, jadi aku menyapa"
"Kamu yang kemarin beli parfum di kios Wangi meni, kan?"
"Iya, senang bertemu lagi."
"Apa?"
"Oh, tidak... maksudku, kebetulan kita bertemu,"
"Iya, sangat kebetulan. Aku ingin beli camilan sepulang kerja. Kalau Mas Labib?"
Mas Labib ya? rasanya aku ingin terbang ke surga ya Tuhan.
Labib menunjukkan botol yang isinya sudah berkurang setengah tapi belum dia bayar. Sambil menetralkan detak jantungnya. Jangan sampai dia mengutarakan isi hatinya saat itu juga.
"Hmmm... mampir beli minum," Bora mengangguk kecil sebelum menyudahi obrolan mereka. "Baiklah, aku sudah dapat snack yang ingin aku beli, duluan ya"
Bora memutar tumit. Sudah semakin malam, neneknya pasti mengomel nanti. Untung saja tadi sempat beli ayam goreng dua.
Labib mengikuti Bora di belakangnya sampai ke meja kasir.
"Sudah mbak? Rotinya sekalian? dua puluh ribu dapat tiga" tawar kasir Mamamart yang loyalitasnya setinggi tugu muda.
Bora menggeleng, lalu meletakkan dua bungkus snack berukuran jumbo di meja kasir.
__ADS_1
"Biar saya yang bayar, sekalian ini minuman saya, maaf sudah saya minum duluan"
"Eh... tidak! Jangan mbak, ini punya saya, saya sendiri yang bayar"
Mbak-mbak kasir tersipu. Berasa lagi nonton FTV kalau begini.
"Sudah tidak apa, sekalian ya mbak, ini uangnya"
Mereka berdua keluar bersamaan dari toko itu. Bora berulang-ulang bilang terimakasih. Mereka baru kenalan, tidak enak hati karena malah jajannya di bayari.
"Terimakasih sekali lagi"
"Ya, pulang naik apa?"
"Sepeda, tuh!"
Labib mengangguk. Mau menawarkan diri untuk mengantar Bora pulang, tapi mereka baru awal kenalan, nanti di kira Labib buaya.
Setel kendo!
****
Sementara dua insan anak manusia sedang say good bye. Satu insan manusia ikan sedang berendam di ember. Hari ini dia hanya berhasil menebar serbuk di piring makan satu orang saja. Orang itu makan lele mangut. Sedangkan tadi pas dia menyisir salah satu warung, dia lega tidak ada lele naas yang tersaji di sana.
Bagaimanapun menjadi wujud manusia sepanjang hari sangat menguras energinya. Setidaknya dia butuh mendinginkan diri agar punya kekuatan lagi. Kenapa Pak Daman belum juga memerintahkannya menguras tambak lagi. Padahal hal itu yang sangat dia tunggu-tunggu.
Sangking nyamannya pelan-pelan manusia ikan memejamkan mata. Ngantuk di dalam ember. Dia ketiduran sampai pagi.
Pak Daman yang menemukannya pertama kali sampai tidak percaya. Berkali-kali dia mengucek mata. Selain ada belek di matanya yang baru bangun tidur, dia tidak habis pikir dengan tingkah Aroof yang tidur melungker di dalam ember.
"Ya salam!"
-
-
-
-
Ya salam!
Tunggu-tunggu dulu
janganlah di ganggu
biarkan saja dia duduk dengan tenang!
Kan, aku malah nyanyi🤣
Komen part ini?
Bilang next, kalau enggak aku mutung😕
__ADS_1