Mister Lele

Mister Lele
Chapter 4: Empat


__ADS_3

Manusia lele semakin hari semakin merakyat. Melakukan aktivitas manusia bukan menjadi hal yang sulit lagi baginya. Pergerakannya sangat gesit. Membersihkan rumah, mengisi bak mandi, sampai membantu Pak Daman menguras tambak. Bagian menguras tambak dia sangat senang. Karena bisa puas-puas bermain lumpur. Ya, diam-diam dia merindukan habitatnya.


Pak Daman sudah melapor ke Pak RT jika manusia lele akan tinggal bersamanya sementara. Ingin lapor ke kantor polisi, tapi takut jika manusia lele di persulit, misal bagaimana kalau jika sebenarnya manusia lele itu imigran ilegal. Bakal panjang urusan dan merubah alur cerita kalau sampai manusia lele di deportasi. Apalagi sejak awal kemunculannya manusia lele bagai manusia tanpa memori card, eh maksudnya tanpa ingatan identitas.


Tetangga sekitar juga menerima kehadiran manusia lele. Kaum ibu-ibu malah menerima dengan tangan terbuka. Habisnya manusia lele itu sangat tampan untuk ukuran manusia rakyat jelata. Iris bola matanya hijau safir, mereka menyebutnya mirip bule. Padahal itu karena dia kaum lele yang hidup di air, jadi bola matanya ikut berlumut.


Siang hari terasa menyengat, manusia lele kepanasan sampai rasanya kulitnya ingin mengelupas. Pak Daman sedang tidak di rumah. Dia yang di tinggal sendirian jadi gabut. Nonton televisi jadi hal yang membosankan. Tiba-tiba dia ingin kungkum. Berendam maksudnya. Kontan dia ingat, sumur di belakang rumah. Manusia lele yang sekarang, sudah menoleh jika orang memanggilnya Aroof. Aroof bangkit dari duduknya dan beranjak ke belakang rumah.


Bola matanya yang berwarna hijau safir memindai sekitar. Aman. Dia membuka baju segera. Lalu dengan gesit menjeburkan diri ke dalam sumur. Tubuhnya yang tidak mungil tentu saja menimbulkan bunyi saat menabrak permukaan air di dalam sana. Aroof harap tidak ada yang mendengar dentuman itu. Atau berbondong-bondong mereka akan memanggil bantuan damkar untuk menolong Aroof.


Sekarang tubuh Aroof bukan berbentuk manusia lagi, melainkan menjadi seekor lele Albino yang cukup besar. Sebentar saja, dia ingin berada di wujud aslinya.


Ini sangat segar, sumpah!


Saat Aroof sedang berbahagia berenang di dalam sumur, tiba-tiba muncul sebuah suara. Dimensi lain memberi sinyal padanya. Sinyal itu sangat kuat mengalahkan sinyalnya Telkomsil. Dan dia paham siapa yang datang. Aroof mengepakkan ekornya, dengan mudah tubuhnya melayang keluar dari sumur. Lalu merubah wujudnya lagi menjadi manusia. Tidak perlu menunggu tubuhnya kering dulu, karena dia jelmaan lele, bukan mermaid.


Aroof mengenakan pakaian miliknya yang tadi dia lepas sembarang. Salah satu jelmaan ikan lele berlutut di hadapan Aroof. Tangannya mengulurkan sebuah botol kecil.


"Tuan, ini saatnya. Raja menitipkan ini untuk anda"


Aroof menerima barang itu lalu memasukkan ke kantung celananya.


"Pergilah! Saya tahu apa yang harus saya lakukan"


Tidak banyak bicara, jelmaan itu undur diri lalu menghilang lewat comberan.


****


Kematian pemilik warung Lamongan masih saja menjadi bahan perbincangan. Meski sudah satu bulan berlalu. Polisi masih belum bisa memecahkan kasus ini. Pasalnya tidak ada bukti yang bisa di jadikan petunjuk.


Hanya kesaksian pembeli terakhir yang menyatakan memesan lele goreng namun juga kaget saat kejadian itu terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Bagaimana api melahap warung beserta pemiliknya.


Berdiri seorang laki-laki berusia sekitar 28 tahunan di depan bekas puing-puing tenda warung Lamongan yang terbakar. Laki-laki itu hanya mengenakan celana jins hitam dan t-shirt polo berwarna navy. Kulitnya yang kecoklatan membuat dia bersinar di bawah matahari. Tampan dengan kearifan lokal.


"Apa yang terlewatkan? kenapa sedikitpun tidak ada bukti?"


Andai penggorengan berukuran jumbo bisa bersaksi, pasti kasus ini dengan mudah terpecahkan. Tapi sayangnya, benda itu tak bermulut. Hanya teronggok, ikut hangus meski tidak merubah wujudnya.


Lagi, laki-laki tampan itu mendesah. Karena tidak juga menemukan titik terang, dia berniat ngopi. Meskipun ini siang hari yang panas. Dia penggila kopi panas hitam tanpa gula. Bapak-bapak sekali sih seleranya, padahal sekarang banyak kopi-kopian yang enak.


Saat motornya melaju pelan untuk mencari warung kopi, dia melewati kios dengan papan bertuliskan 'Wangi Meni'.


"Ah, sepertinya itu toko parfum"


Tiba-tiba dia ingat, kemarin dia jadi bahan olok rekannya gara-gara bau badannya yang terlalu strong alias buadek!. Mungkin ada baiknya dia ganti parfum. Motor dia parkir di depan kios. Dengan mudah dia bisa langsung melongok isi kios yang hanya di batasi etalase kaca memanjang. Botol-botol minyak wangi tertata rapi di rak-rak sisi kanan. Saat akan memanggil penjualnya, laki-laki tampan itu tertegun. Baru akan membuka mulut, seorang gadis langsung memberi kode agar dia mau menunggu sebentar. Sementara gadis itu masih ngoceh di depan layar.


Gerakan bibirnya yang mungil dan wajah ayunya. Entah mengapa membuat hati pemuda berkulit coklat itu tiba-tiba ser-seran.


"Oke gaess, langsung aja! Masukan keranjang kalian, lalu check out, mumpung nih ada diskon sepuluh persen dan gratis ongkir! huuuuu...."


"Salam wangi manja dari seller paling cantik sedunia fana,"


"Aku tutup dulu gaess, btw kita bakal live lagi nanti jam lima sore, bye..."


Bora mematikan siarannya. Gerakan tangannya menekan tombol fast pada kipas angin. Membuat benda itu berputar lebih cepat. Udara memang sangat panas. Fyuhhh!

__ADS_1


"Mau isi ulang, Mas?"


Pemuda berkulit coklat gelagapan. Pasalnya dia terpesona dengan kecantikan Bora. Mulutnya sampai ternganga. Untung saja tidak ada lalat yang lewat di sana.


"Ughh... minyak goreng, eh... bukan!"


"Maksud saya, minyak telon, eh... bukan!" Minus pemuda satu ini, bodoh dan gagap di depan gadis cantik.


Bora terkekeh geli. Astaga senyumnya semakin membuat keder sang pemuda.


"Maaf, tapi di sini tidak menyediakan minyak telon, apalagi minyak goreng"


Pemuda itu membuang muka, malu cuy!


"Sebentar, saya tarik nafas dulu!" Dia sampai membalikkan badan untuk membuang rasa gugupnya. Setelah agak tenang dia kembali menghadap Sri Bora Candrawati.


"Pufffttt... sudah tarik nafasnya?" goda Bora.


Pemuda itu meringis. Lalu sok menyeka anak rambutnya yang sudah rapi sejak lahir.


"Eumbbb... bisa carikan parfum yang strong? maksud saya baunya yang wangi segar dan awet"


"Buat mas?"


Duh Denok gandulano ati!


Cuma panggilan mas, kenapa hatinya malah dangdutan campursari.


"Ekhem! iya buat saya"


"Saya rekomendasikan dua ini, black opium dan yang ini extreme sport"


"Silahkan bisa di cium dulu, suka yang mana"


"Boleh pinjam punggung tangannya?"


Pemuda itu menurut, mengulurkan tangan. Bora menyemprotkan sampel parfum satu kali semprot di punggung tangan pemuda itu. Pemilik tangan kontan mengendusnya. Wanginya memang enak. Kemudian satunya lagi. Untuk perbandingan.


"Bagaimana?" Tanya Bora memastikan jika pilihannya tentang parfum tidak pernah mengecewakan.


"Menurutmu yang lebih cocok untuk saya yang mana?" Bukannya memilih sendiri, pemuda itu malah minta di pilihkan Bora.


"Eummbb... menurut saya black opium itu wanginya romantis dan lebih smooth di hirup, kalau extreme sport ini dia memang strong tajam, lebih ke segar,"


"Jadi?"


"Jadi menurut saya anda harus beli dua-duanya"


Giliran pemuda itu yang terkekeh. "Marketingmu boleh juga, Dek!"


Bibir Bora mengerucut, dia melayani sepenuh hati. Tidak terima jika pendapatnya tentang dua rekomendasi parfum itu dianggap hanya sekedar agar pelanggan membeli dua.


"Hem, terserah ya mau beli yang mana, tadi Masnya yang tanya pendapat saya duluan, mengingatkan barangkali Mas lupa"


Sejak kapan aku jadi adekmu, huh!

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum manis. Baru sekali bertemu, tapi entah mengapa dia suka mengobrol dengan gadis muda ini.


"Saya ambil dua-duanya, sesuai rekomendasi kamu"


Senyum Bora merekah, bahagia saja rasanya berhasil meyakinkan konsumen.


"Oke, mau berapa Mili?"


"Full aja"


"Siap, full tanpa campuran alkohol, tunggu sebentar ya Mas"


Pemuda itu hanya mengangguk, membiarkan Bora meracik pesanan minyak wanginya.


Selesai dengan dua botol parfum pesanan pemuda berkulit cokelat. Bora masih sempat memberikan petuah.


"Pakai extream sport di pagi dan siang hari. Tapi kalau ingin bertemu kekasihmu, saya sarankan pakai yang black opium"


"Memang kenapa?" tanya pemuda itu polos. Umurnya jauh di atas gadis itu, entah mengapa malah kayak dia yang minim pengalaman.


"Ektream sport akan membuat setiap gadis rela menoleh padamu, sedangkan black opium, saya rasa kekasihmu akan dengan senang hati bergelayut manja karena wanginya"


"Akan saya coba nanti, terimakasih"


"Terimakasih kembali"


****


Minggu berikutnya, berkas kasus-kasus baru menumpuk di meja polisi muda yang sekarang ini sudah tidak di bully kawan-kawannya sebab selalu wangi every day. Pagi hari dia memakai ekstrem sport dan malamnya dia memakai black opium. Sesuai petuah gadis manis yang belakangan ini mengganggu pikirannya.


"Berkas baru, satu kasus belum terungkap, sudah ada kasus lagi"


"Dalam kurun waktu dekat ini?" Dahinya berkerut.


Ada yang janggal, terhitung tiga laporan tentang meninggalnya tiga orang di beda lokasi. Masih belum di temukan penyebabnya. Namun dari hasil otopsi laporan seorang dokter khusus. Di temukan satu kesamaan. Tiga korban meninggal dengan kerongkongan seperti bekas terbakar. Namun tim medis juga tidak menemukan adanya kandungan zat kimia yang membahayakan apalagi mematikan seperti ini.


"Apa mungkin ini turunan virus baru?"


Polisi muda yang sudah lima tahun berkarir di divisi reserse kriminal itu menyandarkan punggungnya. Lelah iya, pusing iya!


"Sepertinya aku harus menemui gadis itu lagi"


Gumamnya, lalu bangkit menyambar jaket hoodie favoritnya.


_


_


_


Ahay,,, aku update nih, kalian komen ya🥰


Terimakasih yang masih bertahan menyukai karya-karya saya 🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa 💖

__ADS_1


__ADS_2