Mister Lele

Mister Lele
Chapter 3: Tiga


__ADS_3

Sayup-sayup terasa kesedihan yang mendalam. Seakan sedang berada di sebuah pemakaman kerabat terkasih. Seorang lelaki dengan tangan kotor bekas menggali tanah menangis tersedu. Padahal yang baru dia kubur hanya tiga ekor lele yang mati karena di goreng.


Tangannya yang tadi melepuh karena minyak panas, dalam hitungan menit kembali kebentuk semula. Andai ada yang menyadarinya, mungkin orang itu akan takjub. It's magic!


Hari sudah gelap sempurna, namun itu tak membuat Pak Daman kesusahan menemukan lelaki asing yang beberapa jam lalu dia rawat sepenuh hati layaknya kacang kedelai Malika.


"Itu benar kamu, Nak?!"


Laki-laki asing tidak menjawab. Pandangannya terpekur pada gundukan tanah yang masih dia elus-elus.


"Apa yang membuatmu menangis, hah?"


Lelaki asing masih menghiraukan Pak Daman. Dia semakin sesegukan. Dadanya terasa nyeri, menyaksikan sendiri bagaimana saudara satu spesiesnya itu mati crispy di dalam sebuah wajan penggorengan.


Pak Daman yang bingung, langsung memapahnya untuk berdiri. "Ayo-ayo kita pulang dulu"


Kaki laki-laki asing terasa lunak. Untuk berdiri saja dia sempoyongan. Tenaganya seperti terkuras habis sangking sedihnya. Pak Daman terus memapahnya hingga sampai rumah. Mencuci tangan lelaki asing yang penuh bekas tanah sebelum membawanya masuk kedalam ruang tengah.


Televisi dengan siaran burung terbang menyala, meski pemiliknya tak niat menonton. Harus dengan bahasa apa Pak Daman bertanya. Laki-laki asing di depannya terlihat murung dengan pandangan kosong. Karena hari semakin larut, Pak Daman memilih masuk kamar untuk istirahat. Hari ini sangat melelahkan baginya. Selain harus merawat laki-laki asing, dia juga harus membereskan semua kekacauan di dapur.


Televisi masih di biarkan menyala. Laki-laki asing merasa kepo dengan benda itu. Bagaimana ada manusia bisa masuk ke benda kotak yang ukurannya hanya beberapa inci. Alisnya berkerut, mencoba menyerap dialog dua tokoh yang sedang bertengkar memperebutkan harta.


Dari sinetron adzab itulah, laki-laki asing belajar tingkah laku manusia dan bahasa sebagai alat komunikasinya.


"Ti-dak!" ucap laki-laki asing sambil menggelengkan kepalanya.


Semakin belajar, laki-laki asing merasa semakin banyak yang tidak dia ketahui. Ternyata benar apa yang dikatakan Baginda Raja Lele, manusia itu pintar-pintar, tapi kebanyakan karena kepintarannya itu mereka jadi serakah dan jahat. Lebih mementingkan diri mereka sendiri ketimbang keseimbangan alam semesta. Buktinya di televisi itu, manusia berebut harta sampai tega membunuh saudaranya sendiri.


Hingga pagi manusia asing terus menonton televisi. Menyerap banyak ilmu dari sana. Sekarang dia sudah sedikit menguasai bahasa manusia. Tinggal mengembangkan seiringnya waktu dia tinggal di dunia manusia. Laki-laki asing tidak mengantuk sama sekali. Justru dia bersemangat ingin pergi memburu manusia yang terang-terangan membunuh kaumnya.


"Wah, pagi sekali kau bangun Nak"


Aku sama sekali tidak tidur. Batin laki-laki asing.


"Hari ini Bapak malas masak, kita makan di warung saja ya"


Sekarang laki-laki asing sudah paham apa itu arti makan dan warung. Dia bergegas bangkit, karena perutnya juga keroncongan. Sebagai seekor lele albino dia bisa makan apapun. Asal bukan satu spesiesnya. Kalau lele yang lain pasti tega makan satu spesies jika terpaksa tidak ada makanan, tapi beda dengan dia yang merupakan lele terhormat.


Pak Daman tertegun melihat perkembangan laki-laki asing dalam semalam. Pandangannya tak lagi kosong meski tadi malam sempat terlihat bersedih. Dan gelagatnya barusan yang langsung bangkit saat diajak makan, juga termasuk perkembangan bukan.


Sesampainya di warung makan, laki-laki asing makan lahap. Dia makan nasi sayur bayam, telor dadar, kepala ayam dan gorengan. Nasib untung warung itu tidak menyediakan lele goreng.


"Sudah kenyang?"


"Iya..."


Amazing! batin Pak Daman.


"Sekarang kamu sudah mau ngomong sama saya, saya senang sekali"


"Saya tidak tahu siapa nama kamu? atau dari mana kamu berasal,"

__ADS_1


Butuh beberapa detik bagi laki-laki asing untuk mencerna pertanyaan itu.


Sampai mulutnya terbuka. "Tidak tahu!"


"Kau hilang ingatan?"


"Tidak tahu!" laki-laki asing geleng-geleng kepala. Mana mungkin dia jujur kalau dia seekor lele yang berasal dari sungai Ebro. Sungai yang letaknya sangat jauh dan jarang di datangi manusia.


"Eummb, baiklah. Saya kira kamu memang hilang ingatan. Saya akan bantu kamu untuk bisa kembali ke keluargamu, kita bisa lapor ke kantor polisi atau buat pengumuman orang hilang"


"Tapi untuk sementara waktu, kamu boleh tinggal bersamaku, oke?"


"Saya belum pernah punya anak, karena kamu juga tidak tahu namamu"


"Bagaimana kalau saya beri nama?"


Laki-laki asing mengangguk. Dari sinetron azab yang dia tonton tadi malam. Setiap manusia memang punya nama. Bisa jadi nama memang penting.


"Karena kamu terlihat cerdas dan tampan, saya beri nama... "


"Aroof!"


"A-R-O-O-F!" eja Pak Daman dengan bangga. Padahal nama itu dia dapat dari laman google. Hehe...


Pak Daman mengulurkan tangannya. "Perkenalkan nama saya Daman, siapa namamu?"


Yeah, laki-laki asing ingat ada adegan pengenalan juga di sinetron azab. Kontan dia menerima uluran tangan Pak Daman.


"Aroof! namaku Aroof!"


****


Sementara itu, Bora sedang sibuk dengan pekerjaannya yang lain. Selain bekerja di kios minyak wangi, dia aktif bikin konten tik tok. Followersnya sudah lumayan bejibun. Meski sampai saat ini belum juga dapat endors. Tidak apa, Bora tetap semangat. Demi cita-citanya jadi pengusaha parfum berkelas.


Konten yang dia buat juga tidak jauh dari materi perparfuman. Dia benar-benar jatuh cinta dengan berbagai parfum wangi.


"Main air kena air, main parfum sudah pasti kena parfum"


"Eummmbb, wangi..."


"Hari ini kita tutorial, titik wajib mana yang wajib kita spray parfum ya gaess"


Blaaaa... blaaa... blaaa....


Hari menunjukkan pukul sembilan malam. Kios Wangi Meni sudah dia tutup dengan rapat. Hari ini Dina tidak menyambanginya. Katanya sedang sibuk menyiapkan ujian praktek. Bora hanya berbalas pesan tadi. Dina bercerita kalau penjual Lamongan yang kemarin warungnya terbakar, akhirnya meninggal dunia karena luka bakar yang hampir sembilan puluh persen mengenai tubuhnya.


Jalan sudah sepi, toko-toko di sepanjang jalan itu juga sudah tutup semua. Bora mengayuh sepedanya dengan perasaan was-was. Jalan menuju rumahnya melewati warung Lamongan yang terbakar. Tiba-tiba saja dia merinding. Apalagi tercium bau wangi melati sejak tadi. Semakin cepat dia mengayuh sepeda. Rambutnya sebahu tertiup angin malam, dan wangi melati semakin menyeruak di lubang hidungnya.


Tidak! aku tidak boleh noleh kanan!


Dasar kepala penghianat! Hati bilang apa, tapi tetap saja kepalanya menoleh ke kanan. Alhasil bola matanya menangkap lokasi warung yang masih di hiasi police line.

__ADS_1


"NENEK!!! BUKAKAN PINTU!!!"


Belum masuk halaman rumah, Bora sudah berteriak kencang. Bulu kuduknya semakin meremang. Jika benar dia di ikuti arwah ibu warung Lamongan yang mati penasaran. Dia akan minta sang nenek untuk mengusirnya.


Gubrakkkk!


Bora mencampakkan sepeda Jepang warisan sang nenek ke sembarang arah. Dia ketakutan, sumpah!


Kemunculan sang nenek malah bikin Bora semakin terkaget.


"Kamu kenapa, heh!"


"Agghhhhhh...." Bora jatuh terduduk sambil menutup mata. Kaget, wajah nenek tertutup masker putih kayak hantu muka rata.


"Heh, Sri Bora! Ini nenek kamu, bukan setan!"


Bora memberanikan diri mengintip. Itu memang suara neneknya. Dia hafal betul suara itu, karena itu suara satu-satunya di dunia. Suara milik nenek Bora.


"Nenek! bikin kaget saja!"


"Kamu yang bikin kaget! kenapa teriak-teriak? Suaramu itu hlo, bisa membangunkan tetangga yang punya hutang tapi pura-pura lupa"


Bora meringis, "Nenek, aku kayak di ikuti setan"


"Lihat-lihat! bulu-bulu di tanganku berdiri semua"


"Udah gitu, dari tadi aku ke cium wangi melati"


"Nenek, tahu sendiri itu wangi melati favoritnya siapa"


Nenek membungkuk, alih-alih menenangkan ketakutan sang cucu, dia malah mengendus leher dan ketek Bora.


"Nenek ngapain?"


Sekarang nenek paham, cucunya memang sesuatu.


"Jelas saja kamu mencium bau melati!"


"Leher dan ketek kamu saja bau melati Sri Bora!"


Bora mengendus keteknya sendiri. Dia meringis semakin lebar. "Hehe... iya, aku lupa, tadi aku tutorial pakai parfum melati"


"Hmm... anak pintar!" Balas nenek berkacak pinggang.


_


_


_


_

__ADS_1


Gimana? udah jatuh cinta sama Aroof? atau Bora?


🥰


__ADS_2