
Ya Allah Mon, apa yang terjadi..? kok baju kamu penuh darah gitu?" ..
Crocos mamah menyambut kepulangan kami. Mama memutar mutar badanku memeriksa setiap inci badanku.
" Tenang kak Marni, itu bukan darah Mona. Itu darah korban bunuh diri di kampus tadi." Jawab om Faza berusaha menenangkan mama.
" Innalillahi, baru sehari aku gak masuk, sudah ada kejadian tragis begini.. dan kenapa ini kejadiannya berulang kali..ya Allah" Gumam mama, lirih. Ia jatuh terduduk di sofa.
" Mama gak usah nyalahin diri sendiri, nanti kami akan selidiki sampai tuntas kasus ini ya..
Mama doain aja, moga kami berhasil " Ujarku berusaha menenangkan mama.
" Apa, kamu mau ikutan nyelidiki ini semua Mon, kan udah ada polisi yang nyelidiki ?" Sentak mama.
" Cuma bantu bantu kok, maa" ucapku santai.
Mama cuma bisa menggeleng geleng kan kepala, karena mama sangat tau bahwa ia tak akan bisa mencegahku.
Aku sudah siap dengan abaya hitamku saat Om Faza memintaku menemani nya ke rumah duka.
" Mama, Mona berangkat melayat dulu ya, maa" pamit ku pada mama sambil bergegas pergi.
Aku melajukan mobil ku menuju rumah sakit dimana jasad gadis itu di outopsi.
"Gimana hasil outopsi nya om? " Tanya ku pada om Faza saat sudah tiba di rumah sakit.
" Dokter tidak menemukan adanya tanda tanda kekerasan pada korban, jadi kesimpulan sementara kami masih menduga gadis itu mati karena bunuh diri" Tutur om Faza.
Setelah semua proses selesai, kami segera menuju ke rumah korban. Aku dibolehkan ikut karena mendapat izin mama mewakili kampus untuk mengucap kan bela sungkawa pada korban.
" Mon, Om ikut mobil kamu aja ya, biar om yang nyetir. Mobil Om dikantor "
" Ok om, ini kuncinya.
Aku menyerahkan kunci mobilku ke om Faza,
Kami pun segera meluncur mengiringi mobil jenazah menuju ke rumah duka.
Setelah kami sampai, ternyata di depan gang menuju rumah korban sudah ada para dosen yang melayat.
Aku melihat pak Adrian dan ada juga wakil Dekan yang hadir entah siapa nama nya.
Pak Adrian dan yang lain nya langsung menyalami om Faza dan para polisi yang datang. Aku hanya tersenyum dan menangkupkan kedua tanganku didepan dadaku untuk memberi salam jauh pada mereka.
Kamipun melangkah mengiringi petugas yang memikul jenazah, karena untuk masuk ke rumah mereka kami harus melalui gang sempit, kami terpaksa turun dari mobil dan peti jenazah Anita di pikul oleh para petugas medis dan polisi.
__ADS_1
Gemuruh tangis membahana saat korban tiba di rumah duka. Tak ada satu pun anggota kluarga yang mengira anak mereka akan bunuh diri.
"Hu hu hu..anak saya gak mungkin bunuh diri paak..dia itu anak yang baik dan ceria, dia jugà selalu rajin ibadah , paaak.. hik.
Hik.. hik.." Ujar ibu korban di sela sela tangis nya.
"Iya bu, kami faham. In sya Allah kami akan semampu kami mengungkap kasus ini. Ibu yang sabar ya..semua sudah menjadi ketetapan Allah." Om Faza berusaha menasehati si ibu.
Aku mendekati si ibu dan memeluknya.
" Bu, kami dari pihak kampus mengucapkan bela sungkawa sedalam dalam nya ya, bu. In sya Allah kami akan membantu untuk mengungkap kasus ini. Dan ibu yang tenang ya..in sha Allah Almarhumah husnul khotimah, karena saya saksikan sendiri beliau bersyahadat dengan lancar disaat saat terakhir nya"
" Benar kah neng ?..Alhamdulillah ya Allaaah..kalau begitu ibu agak tenang kalau di saat saat terakhirnya dia bersyahadat, in sya Allah dia husnul khotimah ya kan , paak..naak?" Ujar si ibu tergugu.
" In sya Allah bu, sekarang tolong jelaskan pada kami tentang kepribadian dan profil anak ibu juga, sekalian nañti tolong izinkan kami memeriksa kamar anak ibu untuk menyelidiki" Tutur paman panjang lebar.
Si Ibu mulai menjelaskan tentang kepribadian anak nya.
Menurut nya anak nya yang bernama Anita itu adalah anak yang soleh dan cerdas, dia sering mendapat rangking pertama disekolahnya, karena itulah dia mendapat beasiswa di kampus kami.
" Apa bu, jadi anak ibu adalah salah satu penerima beasiswa?..kalau begitu bisa kah saya ke kamar Anita sekarang?" Tanyaku pada si ibu.
Belum sempat kami masuk, didalam terdengar suara sperti benda pecah..
....Prankk..
Ada hawa aneh yang ku rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki dia kamar nya.
Kami mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, kami melihat kearah jendela.
" Om, lihat sini !..kaca nya pecah" Seru ku pada om Faza. kami melihat kaca jendela sudah pecah seperti ada yang melemparinya dengan batu.
Di lantai kamar kami melihat sebuah batu yang dibungkus kertas.
Aku mengambil dan membuka nya.
" *Berikut nya adalah kamu* " Tulisan itu yang tertulis di kertas putih itu.
" Om, siapa yang di maksud orang ini ya ?" Tanya ku lirih.
Om Faza mengambil alih kertas nya.
" Siapapun yang dimaksud, ini bukti bahwa Anita tidak bunuh diri" Ujar nya tegas.
" Saya sudah menduga dan saya sangat yakin anak saya tidak akan bunuh diri..hik hik" Sahut ibu nya Anita.
__ADS_1
" Oh ya ,Mon, kenapa tadi kamu kaget saat mendengar korban adalah penerima beasiswa? Tanya om Faza.
" Menurut desas desus yang saya dengar, setiap penerima beasiswa di kampus kami, selalu mengalami kejadian aneh bahkan banyak yang meninggal karena bunuh diri dan ada juga yang tertabrak. "
" Berarti besar kemungkinan, ini ada kaitan nya dengan beasiswa. Nanti kamu tanyakan pada mama dan papa kamu tentang hal ini ..semoga saja kita dapat petunjuk nantinya" ..Aku mengangguk setuju dengan perkataan om Faza.
Kami terus memeriksa setiap sudut kamar Anita, namun kami tak menemukan apapun yang kami cari.
"Bu, apa Anita tak pernah menulis diary atau semacam nya?" Tanya ku pada ibu nya Anita.
" Sepertinya gak pernah neng. Tapi dia sering menulis di hp nya neng" Jawab nya.
Aku menepuk jidat.
Aku baru teringat tentang hp milik korban yang belum ditemukan.
" Sekarang di mana hp nya bu, soal nya Kami gak menemukan hp Anita di TKP?" Paman menimpali.
"Tadi pagi dia bawa hp ko, Pak. Jam 10 pagi dia ngbel katanya dia izin karena akan terlambat pulang" tutur ibu nya Anita masih dengan wajah sendu.
Belum selesai kami memeriksa kamar Anita, diluar rumah terdengar suara ribut ribut. Kami segera berhambur keluar.
Diluar rumah, kami melihat ayah nya Anita dan keluarga nya menangis dan menjerit.
" Kenapa pak, ada apa ?" Tanya ibunya Anita pada suaminya.
" Ya ..Allaaah tega sekali orang orang desa itu..kenapa mereka gak mau menyolati anak kuuuu hu hu hu.." Jawab bapak itu ditengah isak nya.
Aku segera mendekat ke arah mereka.
" Boleh antarkan saya ke musolla, biar saya yang bicara pada mereka" Ucapku pada mereka.
Aku dan om Faza pergi ke Musholla untuk melihat apa yang terjadi.
Di musholla, kami melihat orang orang berkerumun saling menggerutu tak karuan.
" Assalamualaikum bapak bapak semua" Sapa om Faza pada mereka. Karena melihat om Faza yang berseragam polisi, mereka pun terlihat merapihkan diri dan berhenti mencaci.
" Wa alaikum salam wr wb " Jawab mereka serentak.
" Bapak bapak, Saya mau tanya , kenapa tidak ada yang mau menyolatkan jenazah mbak Anita?" Tanya om Faza lantang.
" Anita itu mati dalam keadaan kafir, karena dia telah bunuh diri..makanya haram disolati " Jawab salah seorang dari mereka. Aku tersentak kaget mendengar jawaban mereka, Aku pun segera maju untuk berbicara didepan mereka.
" Astagfirullahal Adzim, Siapa yang bilang bahwa orang bunuh diri itu dihukumi kafir? ..Mana dalil nya? Setau saya, Orang bunuh diri memang berdosa besar, tapi tidak dihukumi sebagai kafir. Memang benar, seorang imam diperbolehkan tdk mensolati nya, tapi itu tidak menggugurkan kewajiban kita sebagai muslim agar menyolati mayyit yang bunuh diri. Lagi pula, asal kalian tau, saya bersumpah demi Allah, saya menyaksikan sendiri bahwa Anita sebelum meninggal telah bersyahadat dengan lancar didepan saya, jadi haram bagi kalian menghukum nya dengan sebutan kafir.." Tutur ku dengan suara lantang didepan para warga.
__ADS_1
Para warga pun terdiam.
"