
*******
"Suster, dokter, cepat tolong bantu saya! tangani anak ini, tolong!" teriakku saat kami tiba di rumah sakit.
Para suster itu bergegas membawa brankar dan meletakkan Lia di atasnya, setelahnya Langsung dibawa masuk ke ruang IGD.
" Sus, sepertinya anak ini kritis, kita bawa dia ke ICU aja!"ujar salah satu suster.
" Sus, dok..tolong lakukan yang terbaik. Soal administrasi saya yang menanggung "
: " Baik mbak..mbak tenang aja ya ..kami akan berusaha semaksimal mungkin" Jawab suster itu...
Dengan penuh kecemasan, aku menunggu di luar ruangan.
" Ya Allah, selamatkan lah Lia ya Robb.. " lirihku .sedih. Aku dan Erni duduk di kursi. sementara bu Lina ibu nya Lia masih terlihat bengong.
Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya suster menemui kami.
" Keluarga nya pasien Lia, di tunggu dokter di ruangan nya" ujar salah satu suster yang menangani lia.
Aku dan bu Lina bergegas pergi keruang dokter.
" Bu, ..kami kluarga nya Lia, bagaimana keadaan Lia dok?" Tanyaku pada dokter , saat kami masuk.
" Begini mbak, bu..kami memutuskan akan lapor polisi, karena kami menemukan kasus kriminal di sini ?" Tutur dokter itu.
" Maksud dokter?" Tanyaku. kaget. sementara bu lìna semakin ketakutan.
"Kami menemukan luka memar di sekujur tubuh pasien, dan kami menemukan kerusakan pada organ intim pasien? seperti akibat hubungan yang dipaksakan hingga membuat pasien terluka parah di bagian itu," utur dokter itu.
Jdeerr..
Penuturan dokter itu laksana petir yang menyambar tubuhku. Aku refleks berdiri, mulut ku menganga, aku ingin berucap sesuatu namun rasa nya tak sanggup.
" Apa..? ddok dokter bicccara apa tadi?" teriakku tak percaya dengan apa yang ku dengar darinya.
" Iya mbak, Jelasnya menurut dugaan kami, Pasien mengalami pem*rk*s**n dan penyiksaan dan itu sudah berlangsung lama.
Tapi untuk lebih jelasnya, kami akan serahkan kasus ini ke polisi, biar mereka membawa nya ke ahli forensik untuk diperiksa lebih lanjut" Lanjut dokter itu.
Aku seperti kehabisan kata kata untuk menggambarkan apa yang terjadi..
__ADS_1
" Astagfirullahal Adzim..Astagfirullah..
Bu Linaaa.. ." karena tak kuasa menahan amarah yang memuncak, aku teringat ibu nya Lia yang sedang tergugu tanpa sepatah kata disampingku. Seakan dia sebenarnya sudah tau tentang keadaan Lia.
Aku melirik bu Lina dan langsung meraih kerah baju nya dan menarik nya ke tembok.
" Bu Linaa.. katakan padaku, apa yang terjadi pada Lia..aku yakin ini semua terjadi atas sepengetahuan ibu..iya kan, bu Linaaa?..Jawaab! "
Teriakku sambil memegangi kerah baju bu Lina dan mengarah kan tinjuku.
Dokter yang kaget melihat tingkah ku, segera berdiri dan mencoba menenangkanku.
" Tenang mbak ! kita bisa bicara baik baik..kita serahkan ke polisi, biar mereka yang bertindak..ok mbak?" Ujar nya padaku sambil mencoba memegangi tanganku dan melepaskan nya dari kerah baju bu Lina..
" Astagfirullahal Adzim....màaf dok, saya benar benar emosi karena ibunya ini saya yakin dia terlibat, karena dari tadi dia diam saja tak mau membawa anaknya kerumah sakit " Jawabku sambil mencoba menenangkan diri sendiri.
" Iya mbak. Saya faham. Sekarang kita lapor polisi aja, biar mereka yang menangani ya. Sekarang mbak nya sebaik nya pergi menemui Lia, dan menghiburnya, karena kami lihat pesikisnya terguncang juga, nanti kami akan panggilkan psikiater untuk menenangkan nya."
Ujar bu dokter padaku.
Setelah sedikit tenang, aku bergegas pergi ke ruang Lia dirawat ..sementara Ibu nya Lia masih menangis tersedu sedu.
Aku mendekati nya dan berusaha menanyakan secara baik baik.
Tanyaku pada nya. Tapi dia sama sekali tak meresponku.
Dengan tubuh lunglai dan pandangan kosong, aku melangkah keluar dari ruang dokter menuju ruangan Lia di rawat.
" Mon, kamu kenapa? ko kamu pucat bangèt? " Tanya Erni keheranan melihat ku berjalan seperti mayat hidup. Aku menengok pelan ke arah Erni dan langsung menghambur kepelukan nya ..
Tangis ku meledak seketika.
" Erni..Lia..Lia..Astagfirullah ..hu hu hhu" Aku berteriak histeris di pelukan Erni.
" Mon, Apa yang terjadi dengan Lia, Mon ? jelaskan padaku! " Erni bertanya lagi, dia terlihat bertambah cemas.
" Er. .. tadi dokter bilang...kata nya..katanya..Aastagfirullah......" Aku tergugu dan tak mampu meneruskan kata kataku..entah dengan kata kata apa aku melukis kan perasaanku saat ini.. Aku benar benar syok dan terguncang. Aku memang bukan keluarga nya Lia, tapi kejadian yang menimpa Lia pasti akan membuat terguncang setiap manusia yang memiliki hati ..hanya manusia yang tak mempunyai hati yang tidak terguncang ketika mengetahui kejadian yang menimpa gadis sekecil itu..
Lia masih berusia 13 tahun, dan dia harus mengalami hal semengerikan ini. Dan yang lebih mengerikan, Diduga pelaku nya adalah orang tua nya sendiri.
" Mon, Kenapa dengan Lia... ? tadi dokter bilang apa?" Erni mengulangi pertanyaan nya.
__ADS_1
" Tadi..tadi..dok ..huhu..dokter bilang bahwa..Lia..itu, Lia itu mengalami pelecehan dan penyiksaan..sampai dia keguguran juga..hu hu hu..Astagfirullah.." Akhirnya aku mampu menjelaskan pada Erni walaupun dengan terbata bata.
Mendengar jawabanku, Erni tersentak kaget..
" Apa Mon, ?" Mata Erni terbelalak dan mulut nya terbuka..ku lihat tubuhnya juga lunglai. Dia jatuh terduduk di kursi.
" Astagfirullahal Adzim..Astahgfirullah ..sssiapa yang tega melakukan hal sekeji itu pada nya, Mon? " Tanya Erni seraya bangkit dan memegangi tangan ku.
Mendengar pertanyaan Erni, aku jadi teringat bu Lina, ibu nya Lia . Aku melirik ke arah nya yang duduk tak jauh dari Erni . Dia masih terisak saat ku mendekati nya.
" Pelaku nya belum diketahui, karena kita baru lapor polisi. Jika pelaku nya sudah tertangkap, aku bersumpah akan menuntutnya dengan hukuman mati..atau setidak nya hukuman seumur hidup " Kata ku lantang. Membuat bu Lina terlihat semakin ketakutan.
" Ya sudah, kita tengok Lia ke ruang ICU dulu, yu !..Nanti setelah dari ruangan Lia, aku mau pulang, takut suamiku marah karena kelamaan di tinggalin." Ujar Erni.
" Baiklah, kita kesana sekarang. nanti kalau mau pulang, kamu naik taksi aja. Aku mau menunggu sampai polisi datang dan memeriksa Lia"
Dengan tenaga yang masih tersisa, kami menuju ruangan Lia.
Karena masih berada di ICU, kami pun memakai pakaian steril.
Ku lihat Lia terbaring tak berdaya, luka memar diwajah nya masih terlihat jelas.
Dengan tangan bergetar, aku berusaha memegang tangan Lia. Air mata yang sedari tadi mengalir..kini semakin bertambah deras.
" Astagfirullahal Adzim..Lia, siapa yang melakukan hal sekeji ini pada mu..Lia..huhuhu.." Lirih ku tergugu sambil menaruh wajahku ditangannya. Samar samar
Ku dengar Lia mengigau..
" Jangan..jangaaan..pukul bapak..kalian jahat..kenpa kalian pukul bapak..?" Gumam nya Lirih. Dia terlihat ketakutan, keringat dingin membanjiri tubuh nya.
" Lia, Lia.." Bisikku lembut sambil menggoyangkan tangan nya.
Dia terbangun dan membuka mata nya..
Aku mencoba tersenyum padanya, tapi dia malah terlihat ketakutan..
" Jangan..!..Jangan..Jangan bu..!..Lia gak mau, Lia sakit bu..Jangan biarin dia nglakuin nya bu..Lia sakit..Lia gak mau. rasa nya sakit sekali..buu..Lia gak mu..gakk..gakkk..jangannn." Teriak Lia histeris membuat ku semakin panik.
" Lia, tenang sayang..ini kak Mona ..sayang..ini kak Mona..lihat lah baik baik Lia..!" Aku mencoba menjelaskan ditengah kepanikanku.
Tapi dia malah semakin histeris ..sampai terdengar oleh suster dan mereka langsung bergegas menenangkan Lia dengan memberi nya obat penenang.
__ADS_1
" Sabar ya mbak, sebaik nya mbak keluar saja dulu..nanti kalau sudah tenang, mbak tengok lagi." Ujar suster menenangkanku.
Dengan langkah gontai, aku dan Erni keluar dari ruang ICU.