
Setiap anak berhak mengenyam pendidikan, baik itu pendidikan umum ataupun pendidikan agama.
Begitu juga dengan anak jalanan. Mereka juga berhak mengenyam pendidikan, baik itu formal, maupun non formal. Walaupun untuk mengenyam pendidikan formal masih sangat sulit bagi anak jalanan.
Untuk menempuh pendidikan formal, setiap orang tua harus menyerahkan berbagai dokumen. Hal itulah yang menjadi kendala bagi anak jalanan dan anak terlantar karena pada umum nya mereka sama sekali tak mempunyai identitas diri. Jangan kan akte kelahiran, orang tua saja mereka jarang yang punya.
Hal itu lah yang membuatku terenyuh dan bertekat untuk membantu mereka. Walaupun aku tak bisa membantu semua anak jalanan, tapi setidak nya aku bisa mengurangi beban sebagian dari mereka.
" Om, Mobil nya om aja yang bawa pulang ke rumah ku ya, Mona nanti nelfon pak Hamid buat jemput Mona" Ujar ku pada paman setelah ku sampai di tempat ku mengajar.
" Assalamualaikuuum semuaaa"
Sapa ku pada semua anak anak yang ada di ruangan.
Ruangan yang sengaja ku bangun di atas tanah yang ku beli sendiri. Tanah dan bangunan ini ku beli dari hasil tabunganku selama di SMA. Aku juga mengajak Nisa dan beberapa teman lain untuk mengajar di sini. Dan soal gaji mereka, aku serahkan pada mama.
" Wa alaikum salam kak Monaaaaa" Jawab semua anak anak dan guru yang ada di situ.
" Aduuh Mon, lama amat sih..kemana aja sih ? " Nisa mulai mengomeliku.
Aku cuma tersenyum.
" Biasa, kan aku melayat dulu ke rumah mbak yang meninggal di kampus kemaren" Jawabku seraya duduk di kursi.
Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah dan ku absen semua murid ku walaupun absensi nya cuma dalam hati.
" Lia dan opan mana?" Tanya ku pada mereka saat ku tak menemukan dua orang murid ku di ruangan.
" Lia sakit, kak." Jawab mereka serempak.
" Innalillahi, ya udah nanti setelah selesai belajar , kita tengok Lia bareng bareng ya..oh ya, kalau Opan gimana?"
" Opan tadi mau kesini, tapi..." Jawab Andri namun masih menggantungkan kata kata nya.
" Kenapa Ndri?" Tanyaku lagi.
" Tadi..dia mau kesini, tapi gak dibolehkan sama ..om om yang itu in dia " ..Jawab andry masih menggantung.
Membuat ku kesal .
" Itu Mon, kan si Opan itu tinggal nya sama preman preman..jadi dia gak dibolehin ngaji sama mereka." Sahut Erna, salah satu guru di situ.
" Innalillahi, di mana tempat mereka, Biar nanti aku kesana temui mereka?" Aku bertanya lagi.
__ADS_1
Mereka terlihat khawatir dan serempak melarangku.
" Jangan kak! " Ujar mereka bersamaan.
" Mon, mereka itu preman dan gank motor juga..lebih baik jangan kesana. Terlalu berbahaya bagi kamu, Mon" Timpal Rania.
" In sha Allah kakak akan baik baik saja, pokoknya nanti setelah selesai belajar, tolong anter kakak ya..ayo, siapa yang tau tempat opan? Kasih tau kakak" Aku tetap bersikukuh untuk pergi ke tempat Opan. Akhirnya mereka mengalah dan mau mengantar ku.
" Ok, sekarang kita mulai belajar dulu ya.. kali ini kita akan membahas tentang aurat , baik itu aurat wanita ataupun laki laki.
Ayoo...siapa yang faham apa itu aurat?" Dengan penuh semangat, aku mulai mengajar.
Anak anak itu menggeleng kepala ..
Aku tersenyum.
" Ok , sekarang kakak jelasin ya..
Aurat itu singkat nya adalah bagian tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh terlihat. " Tutur ku pada mereka.
"Kalau Aurat laki laki , atau bagian tubuh laki laki yang harus ditutupi dan tdk boleh terlihat adalah dari puser sampai lutut..
Sedangkan kalau perempuan itu seluruh tubuh nya kecuali wajah dan telapak tangan..Nah jadi kita sebagai perempuan wajib menutup seluruh tubuh kita kecuali wajah dan telapak tangan.. adapun caranya ya dengan pakai hijab dan pakaian seperti memakai gamis dan rok panjang...
Apa bisa dimengerti adik adik kakak yang maniiis?" Aku menjelaskan panjang lebar.
" Maaf kak Mona, kami gak ikut ya ... Lia itu kan anak preman kak..bapak nya Lia itu suka mabuk mabukan dan mukuli orang kak..jadi kami takut " Jawab mereka.
" Apa Lia nya juga suka mukul orang? " Aku bertanya lagi.
" Gak sih kak..bahkan kata tetangga nya..Lia dan ibunya yang sering dipukuli, kak" Tutur mereka.
Aku terdekat mendengar perkataan mereka.
" Innalillahi..kalau begitu kita tengok dia ya..nanti kita sekalian nasehati bapak nya Lia biar gak nyakitin Lia dan orang lain lagi, itung itung kita melaksanakan amar ma'ruf nahyi mungkar ya.." ..
Anak anak mengangguk angguk pertanda mereka memahami pelajaran yang ku bahas hari ini.
Setelah berkemas, Aku ditemani anak anak dan para guru bergegas berangkat ke rumah Lia.
Kami menyusuri gang kecil dan sempit saat menuju rumah nya orang tua Lia.
Di depan kami kini terlihat
__ADS_1
rumah kontrakan yang yang berukuran 4 kali 7 meter.
" Biar kak Mona dan Kak Erni dulu yang mengetuk pintu ya..kalian nunggu di sini aja" Aku menyuruh mereka menunggu sementara
Aku dan Erni bergegas memasuki halaman rumah mereka dan mengetuk pintu.
Tok tok tok ..Assalamualaikum.
Aku mengetuk rumah mereka. Tapi tak ada jawaban. Berkali kali aku mengetuk, namun sama sekali tak ada jawaban.
Sayup sayup ku dengar suara rintihan di dalam sana...
Tok tok tok..
Aku kembali mengetuk.
Aaaahkhkh. Ah ah ah.. Suara jeritan laki laki itu makin terdengar jelas. Suara nya terdengar bukan seperti suara orang kesakitan, tapi Justru..ahh Kenapa aku jadi berprasangka buruk begini, tapi..suara itu.."
Aku terus bertanya tanya dalam hati.
" Mon, kamu dengar gak ?"
Erni berbisik.
" Iya, sepeti suara jeritan laki laki..tapi bukan kesakitan..kaya jeritan apa ya? " Jawab ku penuh keheranan.
Karena menunggu lama, aku pun menggedor pintu.
Dug..dug..dug..
Setelah agak lama, terdengar suara ingin membuka pintu.
Seorang laki paruh baya keluar dari dalam kontrakan dengan tampang berantakan. Rambut nya acak acakan, keringat nya bercucuran seperti seorang yang habis kecapean.
" Ada apa? Kenapa kamu mengetuk pintu orang sembarangan?" Teriak orang itu lantang.
Benar benar tak sopan ni orang.
Aku bnar bnar kesal dibuat nya..namun aku tetap berusaha sopan.
" Maaf pak, saya cuma mencari Lia, Lia nya ada pak? Saya guru nya Lia" Aku masih berusaha sopan.
Tapi dia malah membentak .
__ADS_1
" Gak ada..gak ada Lia..Pergi sana..! " Bentak nya membuat ku geram. Karena kesal aku membalikan badan dan melangkah pergi. Tapi sebelum melangkah, aku justru mendengar suara rintihan lagi. Kali ini sepertinya suara rintihan kesakitan , dan sperti suara anak kecil. Apa jangan jangan itu Lia...
"Ahkk ya Allah, apa yang harus ku lakukan sekarang? Pergi atau memaksa masuk" ..Aku kebingungan sendiri.