Morgan

Morgan
Haruskah Aku Datang?


__ADS_3

Prakk!


Dua tumpuk uang lima puluh ribuan dilempar ke mejaku. Aku hanya meliriknya, tak peduli, kemudian kembali melanjutkan melukis.


"Hei, ambil ini!" kata Irma singkat.


Aku tidak memperdulikannya dan melanjutkan kegiatanku.


"Cepat ambil!" ucapnya lagi sambil menoyor belakang kepalaku.


Lukisanku jadi tercoret karenanya.


"Apalagi yang kamu butuhkan sekarang?!" ucapku kesal.


Dia terus saja menggangguku dari tadi pagi sekali. Menyuruhku ini dan itu, jika tidak kulakukan, dia akan terus berisik memanggilku. Suaranya dapat didengar dari seluruh sudut rumah. Sangat menyebalkan.


Sekarang sudah hampir jam setengah 2 siang. Baru saja aku mau memulai kegiatanku sendiri, dia sudah datang lagi saja di hadapanku. Membawa begitu banyak uang, entah apa yang akan dia minta aku lakukan sekarang.


Dia berdiri menyender ke dinding di sebelahku sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia melihatku dan berkata, "Ambil itu dan pergilah belanja. Cari baju yang bagus dan berdandan sedikit."


"Oh! bukan sedikit, banyak, hm, hehe" tambahnya sambil menyenggir dan tertawa tipis.


Aku hanya memandangnya, malas menanggapi. Sekilas aku memandang uang yang dia lempar ke mejaku, jumlahnya banyak, apalagi dia bilang untuk beli pakaian. Apa aku salah dengar. Apa sebenarnya maksudnya. Dia tidak pernah memberiku uang sebelumnya. Apalagi sekarang kami sedang mengalami masalah keuangan. Darimana dia mendapat uang sebanyak itu dan tumben memberikannya padaku. Aku kembali melihatnya, menunggu apa yang akan dia katakan lagi.


"Malam nanti jam 8 pergilah ke Vinkeles, tuan Fatur mengundangmu makan malam. Dandan yang cantik supaya dia tidak malu makan denganmu," lanjut Irma.


"Hah? Aku tidak akan meninggalkan rumah hari ini. Aku akan bersantai, seseorang yang berisik terus menggangguku dari tadi pagi," jawabku sekenanya.


Aku kembali fokus pada kegiatanku, aku sedang mencampur warna dengan kuas. Sesaat setelah aku menjawab, Irma merebut kuasku dan membuangnya ke tempat sampah di sebelahnya.


"Apa kamu punya hak membuang barang orang lain sesukamu?" tanyaku kesal.


"Apa begitu caramu menjawab undangan orang lain? Kamu tidak bisa asal menolak, ini undangan dari tuan Fatur," tanyanya balik.


"Kau saja yang pergi. Ambil uang ini, dan jangan ganggu aku lagi," ucapku berusaha tetap tenang.


"Hah dasar! Kau harusnya bersyukur ada yang mau mengajakmu berkencan!" kata Irma.


"Pergilah!" ucapku.


"Entah apa yang tuan Fatur lihat dari gadis sepertimu, sampai-sampai dia ingin sekali kencan denganmu. Lihat muka itu! Tidak menarik! Bajumu? Hm apa kamu mau tidur? Ada apa dengan raut wajahmu? Oh! Apa kamu tidak bisa senyum? Haha setidaknya cobalah terlihat sexy kalau tidak bisa senyum. Huh benar-benar payah. Aku tidak percaya kamu anak...." ucap Irma panjang lebar.


"Kalau kamu begitu mengagumi tuan Fatur itu. Silakan, kamu saja yang pergi! Aku tidak tertarik sama sekali. Aku tidak akan pergi!" potongku sebelum dia bicara lebih banyak.


"Kalau kamu tidak pergi maka Ayahmu yang harus menanggung malu, harga dirinya akan jatuh di mata kolega kerjanya. Entah kesulitan apalagi yang akan dia dapat. Oh kasian sekali suamiku, " ucap Irma penuh drama.

__ADS_1


Ya, Irma Raveda, dia adalah ibu sambungku. Ayah menikah dengannya sekitar 4 tahun yang lalu, ketika aku duduk di kelas 2 SMA. Ibuku meninggal ketika aku kelas 6 SD karena kecelakaan. Aku dan Irma terpaut selisih umur 11 tahun. Meski begitu kami terlihat seperti kakak-adik yang hanya selisih sekitar 3 tahun. Kami selalu berselisih dan adu argumentasi. Kami bahkan sering berdebat dengan hal-hal sepele seperti anak kecil. Kami tidak pernah menemukan kecocokan. Terlepas dari semua itu, satu hal yang aku senangi dari dia dan berharap dia tidak akan pernah berubah adalah dia sangat sayang dan perhatian dengan Ayah.


"Apa kamu pikir aku takut dengan gertakanmu itu?!" ucapku setengah emosi.


"Aku tidak melakukan apapun. Apa kamu merasa tertekan? Hahaha aku hanya menyampaikan pesan Ayahmu. Kalau kamu bilang iya dari awal, maka obrolan kita akan berakhir dengan cepat dan menyenangkan.. hm?" ucap Irma sok manis.


"Jangan melewati batas! Apa kamu pikir aku tidak tahu kalau bukan Ayah yang menginginkan ini, tapi kamu?!" jawabku.


Tut.. tut... tut...


Irma sekilas melihatku, entah dia mendengarkan jawabanku atau tidak, kemudian dia melihat ke ponselnya. Dari suaranya sepertinya dia menelpon seseorang.


"Halo," ucap orang yang Irma hubungi.


Sepertinya Irma menyalakan fitur loudspeaker pada teleponnya, ku dengar seperti suara Ayah yang menjawab.


"Halo, sayang.. Gimana makan siangnya?" kata Irma.


"Aku sudah memakan semuanya. Terimakasih sayang, aku menikmatinya, enak.. Kamu memasak roti untuk karyawan juga?" tanya Ayah.


Ternyata dia memang menelpon Ayah. Ayah sedang berada di kantor saat ini.


"Iya, apa mereka suka? Aku membuatnya pagi ini bersama gadis baik kita. Dia membantuku, bahkan dia yang membeli bahan-bahannya," jelas Irma kemudian memberikan flying kiss padaku.


[Iyuh, jangan bersikap sok manis di depanku]


"Hmm itu bagus, mereka menyukainya," jawab Ayah.


"Sayang, aku bersama gadis kita sekarang, dia bilang dia akan mengabaikan undangan makan malam tuan Fatur. Aku sudah membujuknya dengan sabar tapi sepertinya dia tidak mau mendengarkan aku. Aku harus bagaimana?" ucap Irma ke Ayah.


Aku menghentikan kegiatanku, kesal mendengar ucapan Irma. Aku melotot ke arahnya keheranan.


[apa yang dia katakan, sabar? yang benar saja.]


"Ohh… bisa aku bicara dengannya?" pinta Ayah.


Irma meletakkan ponselnya di meja lukisku.


"Apa Ayah menyanggupi undangan ini?" tanyaku langsung ke Ayah.


"Maaf Nak, Ayah menyanggupinya tanpa bertanya dulu padamu," jawab Ayah.


"Apa ada yang memaksa Ayah?" tanyaku lagi sambil melirik ke Irma.


"Ayah pikir ini hanya makan malam. Jadi kamu tidak akan keberatan," jelas Ayah.

__ADS_1


"Bukankah Ayah tahu aku sudah menolak lamarannya? Bahkan Ayah setuju denganku? Sekarang apa ini Yah?" tanyaku sedikit kesal, tak mengerti dengan tindakan Ayah.


"Iya, Ayah mengerti. Ayah harap kamu tidak salah paham. Bukankan dengan ini kalian bisa saling mengenal lagi. Selanjutnya nanti Ayah serahkan kepada kalian. Tapi setidaknya kalian sudah saling mengenal," jawab Ayah.


Hening sebentar, aku tidak suka situasi ini. Aku kesal, merasa Ayah menyembunyikan sesuatu. Apakah Ayah tidak benar-benar menolak lamaran itu untukku kemarin? Apa secara halus Ayah memaksakannya kepadaku untuk setuju? Oh! ya ampun, apa makan malam ini imbalan dari dana yang Ayah terima tadi malam? lalu apa yang harus kulakukan kalau iya? Haruskah aku pergi?


"Nak, maukah kamu datang? Apa kamu sangat keberatan?" tanya Ayah memecah keheningan.


Deg! Hatiku rasanya sakit mendengar Ayah bertanya seperti itu. Kalau tebakanku benar, apa Ayah akan dapat masalah jika aku menolak undangan itu. Apa aku terlalu egois kalau menolak permintaan Ayah.


[Hmmm... aku harus mencari tau maksud sebenarnya orang itu]


"Ayah bisa berusaha membatalkan pertemuanmu dengan tuan Fatur kalau kamu benar-benar tidak mau," tambah Ayah.


"Aku sangat tidak ingin Yah…" ucapku.


Irma maju satu langkah mendekatiku, kaget aku tetap pada pendirianku.


"tapi aku akan berusaha datang, bukan untuk hal lain, untuk Ayah, " tambahku.


Terlihat dari sudut pandanganku Irma tersenyum. Belum selesai Ayah menjawab, Irma mengambil ponselnya, kemudian menutup teleponnya.


"Terimakasih N…" ucap Ayah


"Sayang, gadis kita setuju, dia akan datang. Sampai ketemu nanti di rumah, aku tutup telponnya, gadis kita juga perlu siap-siap dari sekarang. Bye sayang, " tutup Irma.


"Karna kamu sudah setuju, silakan bersiap. Banyak yang harus kamu lakukan. Pilihlah baju yang bagus. Make-up… rambut… ahh… sepatu… pikirkan dengan baik semuanya. Ah, apa kamu bisa pilih yang benar-benar bagus? Hmmm… apa perlu ku bantu?" celoteh Irma.


Aku memandanginya tak habis pikir, dia bicara begitu cepat.


Aku memang jarang sekali berdandan. Apalagi ketika di rumah. Hanya menggunakan lotion, parfum, deodoran, lipbalm, dan moisturizer kalau sedang ingin. Itulah kenapa Irma selalu mengejekku dan mengataiku tidak menarik.


"Bisa kamu pergi sekarang?" ucapku dengan penuh penekanan.


"Tidak mau? Oke. Jangan memilih gaya yang norak. Ingat itu! Jika kamu memakai sesuatu yang aneh, aku akan menggantinya dengan gayaku. Jangan mempermalukan aku, ah hm Ayahmu, " celotehnya lagi.


Kali ini aku hanya menjawabnya dengan gesture tanganku, mempersilakannya keluar dari kamarku.


Tapi lagi dan lagi, dia masih saja terus bicara, "Kamu akan dijemput sama orang tuan Fatur, mungkin sekitar jam 7, pastikan sebelum itu kamu sudah siap."


Tak tahan dengan celotehannya, aku mendorongnya perlahan agar segera pergi dari kamarku.


"Jangan menyentuhku!" ucap Irma di depan pintu kamarku.


"Dasar anak kecil!! perhatikan tanganmu saat menyentuh sesuatu, bajuku jadi bermotif karenamu," protesnya setelah melihat ada noda cat lukis warna orange di sekitar bahunya dimana tadi tanganku menempel untuk mendorongnya.

__ADS_1


Aku segera menutup pintu kamar begitu dia sudah di luar. Terdengar dia terus mengerutu di depan pintu kamarku, karena bajunya yang tak sengaja ku kotori.


__ADS_2