Morgan

Morgan
Pesan Yang Menyebalkan


__ADS_3

Saat aku sedang melamun...


Kling!


Ada pesan masuk ke ponselku. Memecahkan lamunanku.


💬 (Ayah💙) Meskipun kamu ke Vinkeles karena Ayah. Ayah harap kamu bisa bersenang-senang untuk dirimu sendiri.


Kling!


💬(Ayah💙) Ayah titip uang ke mama 1,5juta. Kamu bisa gunakan untuk membeli keperluanmu, sudah lama Ayah nggak ngajak kamu belanja.


💬(Pesan terkirim > Ayah💙) Makasih yah ❤❤❤


[Hm ternyata uang ini dari Ayah. Syukurlah kalau gitu]


Aku mengambil tas selempangku dan memasukkan uang pemberian Ayah ke dalamnya. Sesaat kupandangi uang itu tanpa sadar. Lalu pandangan mataku mengelilingi seluruh benda yang ada di dalam tas kecilku, hingga berhenti lagi pada uang yang baru saja ku masukkan. Ada dua tumpukan uang disitu. Aku berpikir,


[bukankah satu tumpuk biasanya berisi sepuluh lembar?]


Seketika aku membuka kembali pesan Ayah.


[Ayah bilang 1,5 juta]


Kuambil lagi uang itu sambil tersenyum geli. Kuhitung jumlahnya, satu tumpukan berisi 9 lembar dan satu untuk mengikat, jadi 10. Dua tumpukan berarti sejumlah satu juta.


"Hem.. " aku tersenyum.


[Orang itu... dia melakukan hal seperti ini lagi... haha Liat aja, akan ku kerjai, dia harus**nya minta ijin dulu kalau mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya.]


...****************...


...Flashback tadi pagi....


Aku baru saja pulang membeli bubur. Entah kenapa rasanya pengen makan bubur pagi ini. Berpapasan dengan Ayah di gerbang depan rumah. Ayah hendak ke kantor. Setelah menyapa Ayah dan melihat mobilnya pergi, aku menaruh sepedaku dan hendak masuk rumah. Ada Irma yang menutupi pintu masuk rumah.


"Mau sarapan ya? Yaudah gih cepat!" ucapnya setelah melihat bungkusan bubur di tanganku.


Dia kemudian menyingkir dari jalan masuk, pergi ke dalam rumah.


[apaan sih tuh orang] pikirku.


Aku masuk rumah dan menuju ruang makan. Kulihat Irma sudah duduk di ruang tamu sibuk dengan ponselnya kemudian menulis sesuatu di buku.


Makananku masih sekitar 3 suap. Irma datang menghampiriku dan duduk di sebelahku.


"Ada paha atas ayam bakar disana, ayahmu bilang itu kesukaanmu, dia menyisihkannya untukmu," ucapnya sambil menunjuk tudung saji di meja sebelah.


"Hm, akan ku makan nanti," jawabku.


Sret! Irma menggeser sebuah kertas ke arahku.


"Belikan ini setelah makan," ucapnya singkat.

__ADS_1


Kulihat sepintas, ada daftar panjang tertulis disana. Sebagian besar sepertinya bahan-bahan membuat kue.


"Aku tidak bisa, aku harus mengerjakan designku hari ini," jawabku.


"Ini masih pagi, kalau kamu cepat pergi, kamu juga akan cepat kembali," ucapnya.


"Pakai jasa belanja online aja," ucapku sekenanya.


"Ada kamu disini, kenapa kamu tidak mau membantuku?" tanyanya.


"Aku sudah bilang alasanku, lalu kenapa tidak pergi sendiri?" kataku balik bertanya.


"Ada banyak peralatan yang harus disiapkan. Aku akan membuat banyak kue. Itu harus matang sebelum jam 11. Kalau aku pergi belanja setelah menyiapkan peralatan atau sebaliknya, itu akan memakan waktu yang lama dan bisa matang lebih dari jam 11. Jadi akan terlambat. Kalau aku belanja dan kamu yang menyiapkan peralatan. Emangnya kamu bisa? Kamu tau semua peralatan yang diperlukan? Kamu pasti bingung kan?" ucapnya panjang lebar.


[Hah?! kenapa aku harus menyiapkan peralatan? emang aku bilang akan membantu? ] batinku sambil menyelesaikan makananku.


"Makanya kamu saja yang belanja. Sambil menunggu kamu pulang, aku akan menyiapkan segala peralatan yang diperlukan. Oke?" tambahnya sambil menaruh kertas tadi di telapak tanganku, kemudian dia melangkah pergi.


"Cepat pulang ya, kita terburu-buru," ucapnya sambil berlalu.


Aku memberesi alat makanku dan pergi ke kamarku. Jam 7 kurang 15 menit. Aku menyiapkan baju ganti dan hendak mandi.


"Putri! Cepat!" terdengar suara teriakan Irma dari kamar.


Dia memanggilku Putri karena menurutnya, Ayah terlalu memanjakan aku seperti seorang Princess.


"Putri!"


"Putri! Kenapa kamu sangat lambat!".


"Baru juga 10 menit, dia sudah mengataiku banyak hal," ucapku ketika melihat jam dan itu baru menunjukkan 10 menit berlalu sejak aku masuk ke kamarku.


Setelah berpakaian aku keluar dan menemukan Irma di ruang tengah sedang melihat video tutorial packing kue. Dia melihatku datang kemudian berdiri, menungguku mendekat.


"Kenapa lama sekali, ini uangnya, cari bahannya cepat dan kembali," ucapnya sambil mendorong-dorong badanku pelan.


"Udah jam segini, kenapa dia siap-siap lama sekali," gerutunya sambil kembali duduk dan melihat video tadi.


Kemudian dia kembali melihatku yang masih berdiri di sampingnya, "sudah cepat pergi, ingat jangan lama-lama."


"Hemh!" desahku beranjak pergi.


"Sudah menyuruh dengan paksa, terburu-buru, masih juga menggerutu, harusnya kan aku yang begitu," gerutuku di dalam mobil.


Aku memasukkan catatan barang yang harus dibeli ke dalam dompet uang yang tadi Irma berikan kepadaku. Kemudian aku menghitung jumlah uang yang diberikan. Ada 500 ribu.


...Flashback selesai....


...****************...


Aku bukan tanpa alasan berprasangka kalau Irma mengambil sebagian uang yang dititipkan Ayah kepadanya untukku. Dia melakukan ini juga sebelumnya.


Saat itu aku akan berbelanja dengan teman-temanku, Ayah memberiku uang dan menitipkan padanya. Dan jumlah uang itu tidak sama dengan yang Ayah sebutkan. Saat pulang belanja teman-temanku mampir ke rumah dan Irma memasakkan begitu banyak makanan. Saat aku ke dapur ada kardus berisi roti dan kantong es krim sekitar 5 buah. Bungkus roti dan es krim itu sama dengan yang anak-anak makan tadi di gang depan rumah. Anak-anak yang melihatku di gang tadi juga memanggilku dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Padahal aku tidak ulang tahun. Teman-temanku yang mendengarnya pun tertawa melihat wajah bingungku.

__ADS_1


Setelah teman-temanku pulang. Aku tanya ke Irma, kenapa uang yang diberikan Ayah berkurang jumlahnya. Karena aku tidak suka dengan orang-orang yang berbohong.


Dengan enteng saat itu dia hanya menjawab, "Kamu masih muda dan belum bisa menghasilkan uang. Jangan menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli hal yang tidak penting. Itu bisa dibelikan makanan untuk berbagi atau hal bermanfaat lainnya."


Aku setuju dengan perkataannya tapi bukankah caranya mengambil uang orang lain tanpa ijin juga salah? Kami pun berdebat saat itu.


Kejadian hari ini mirip dengan kejadian saat itu, jadi aku berprasangka bahwa dia mengurangi lagi uang belanjaku dari Ayah. Mungkin kali ini uangnya dia gunakan untuk modal membuat kue yang dia bagikan di kantor Ayah.


Kling!


Suara ponselku membuatku tersadar, aku dari tadi sibuk dengan pikiranku sendiri.


Ada sebuah pesan dari nomor yang tidak ku simpan. Pop-up notifikasi pesannya tidak sengaja ku hapus. Jadi langsung ku buka pesan itu tanpa tahu sepenggal isi pesannya. Mataku melotot melihat isi pesan itu.


[dari mana dia tahu nomorku?]


💬 (08448000xxxx) Selamat siang nona Livi, perkenalkan saya Mizan, asisten tuan Fatur.


Terkejut melihat pesan itu langsung ku letakkan kembali ponselku ke meja.


[ah kenapa tadi langsung ku buka pesannya]


Satu pesan masuk lagi, dan langsung terbaca. Aku lupa mengeluarkan aplikasi pesannya setelah ku baca tadi.


💬(08448000xxxx) Saya yang bertugas menjemput Nona nanti malam. Saya akan datang pukul 7. Harap Nona sudah selesai bersiap.


[Ah!]


💬(Pesan terkirim > 08448000xxxx) Siapa yang bilang aku akan datang?


💬(08448000xxxx) Sampai berjumpa nanti malam Nona.


💬(Pesan terkirim > 08448000xxxx) Tuanmu itu sangat sibuk bukan? Kenapa memanfaatkan waktu luangnya untuk hal tidak penting seperti ini?


💬(Pesan terkirim > 08448000xxxx) Bilang padanya lebih baik istirahat di rumah saja malam ini.


💬(08448000xxxx) Acara ini telah dijadwalkan. Sampai berjumpa nanti malam Nona.


💬(Pesan terkirim > 08448000xxxx) Aku tidak akan datang.


💬(08448000xxxx) Sampai berjumpa nanti malam Nona.


💬(Pesan terkirim > 08448000xxxx) Apa kau ini robot?!


"Ish, menyebalkan!" ucapku.


"Kepalaku jadi pusing," keluhku sambil memukul pelan pada pelipisku.


Aku mencoba melanjutkan lagi lukisanku, tapi moodku hilang. Konsentrasiku buyar. Beberapa kali campuran warna yang kubuat salah dan jelek.


"Ah gimana sih, kok gini!" protesku pada diri sendiri setelah gagal lagi mencampur warna.


"Pusing banget," ucapku sambil menaruh palet warna ke meja.

__ADS_1


Aku mencuci tanganku, mengambil ponsel dan meletakkannya ke meja sebelah kasur. Aku berada di kasur sekarang. Kepalaku rasanya berdenyut. Detak jantungku juga cepat. Rasanya seperti ketika aku tidak tidur seharian lebih. Aku memejamkan mataku supaya bisa tenang dan pusingnya hilang. Tak terasa aku pun tertidur.


__ADS_2