Morgan

Morgan
Menunggu


__ADS_3

Aku sedang berada di perjalanan menuju ke Vinkeles. Sekarang masih berada di daerah sekitar rumahku. Jika perjalanan lancar, dari rumah ke Vinkeles memerlukan waktu sekitar 20 menit.


Aku hanya berdua dengan Mizan di dalam mobil.


Suasana di mobil sunyi, tidak ada yang memulai pembicaraan diantara kami. Aku mengerakkan bola mataku melihat sekeliling mobil. Kemudian pandanganku terhenti, menatap sebuah amplop surat yang ada di atas laci mobil. Di situ tertulis nama Fatur Effendi. Melihat nama itu, aku jadi terpikirkan apa yang akan terjadi 20 menit ke depan. Apa yang akan kulakukan. Meskipun aku tidak tertarik dengan acara ini, tapi aku tetap saja nervous membayangkan seperti apa orang yang akan kutemui. Apa yang akan kita bicarakan.


[Fatur Effendi..]


Aku membaca lagi nama yang tertera pada amplop di depanku. Aku mengingat-ingat apakah aku pernah mendengar namanya sebelumnya.


[*Dia terkenal punya banyak usaha yang sukses, tapi kenapa bisa semisterius ini orangnya. Bahkan di kalangan koleganya.]


[Oh my god! kenapa aku tidak searching di google tadi ya, siapa tau ada informasi tentangnya*.]


Aku mengambil ponselku, hendak mencari informasi tentang orang bernama Fatur Effendi itu. Aku sudah membuka aplikasi pencarian. Tersadar kalau aku duduk di sebelah orang yang bilang merupakan asistennya. Aku jadi dilema mau ku cari atau tidak informasinya. Kalau aku ketahuan apa yang akan dipikirkannya. Aku sedang memikirkan pilihanku. Tiba-tiba Mizan mengatakan sesuatu, aku kaget. Refleks ku pencet matikan ponsel.


"Kami dalam perjalanan Tuan," ucap Mizan mengagetkanku.


Aku melihat ke arah Mizan, menanti suara jawaban orang yang diajaknya bicara bisa terdengar. Dia menatapku balik sekilas, kemudian mengambil ponselnya dan menekan tombol kirim. Ternyata dia hanya mengirim pesan dengan fitur voice typing.


Mizan kembali melihatku, aku membuang muka.


"Mau kunyalakan musik Nona?" tanyanya kembali fokus ke kemudi.


"Apa kamu dapat kabar terbaru dari orang yang akan kutemui nanti? Apa dia tidak bilang untuk membatalkan pertemuan ini?" tanyaku balik.


"Tidak Nona, Anda akan bertemu dengan Tuan Fatur segera," jawabnya.


"Mungkin saja dia lupa kalau ada acara lain," ucapku.


"Makan malam ini sudah tertulis dalam jadwal, jadi tidak akan tumpang tindih dengan acara yang lain," jawab Mizan dengan jelas.


Aku enggan untuk bertanya lagi. Mizan menjawab pertanyaanku seperlunya. Raut mukanya tidak begitu ramah. Aku merasa sedikit terintimidasi dengan auranya. Tapi rasa penasaranku tidak bisa ditahan. Menurutku, dia orang yang tepat yang bisa menjawab sebagian rasa penasaranku. Jadi kuberanikan diri bertanya lagi.


"Bagaimana kalau aku tidak datang? Aku menolak undangannya?" tanyaku.


"Nona datang," jawabnya singkat.


[Iya bener juga sih.. kenapa aku tanya itu dipertengahan jalan gini, konyol]


Mendengar jawabannya aku jadi tambah deg-degan. Kali ini bercampur kesal. Dia benar-benar hanya menjawab dengan dua kata.


"Kenapa dia mengundangku makan malam?" tanyaku lagi memancing obrolan yang lebih panjang.


"Saya tidak tahu," jawab Mizan.

__ADS_1


[Bohong!]


Aku merasa dia berbohong.


"Ini tidak ada hubungan dengan bisnisnya kan?" tanyaku.


"Bisnisnya baik-baik saja, sehingga dia tidak perlu membicarakannya dengan seorang mahasiswa," jawab Mizan.


[Hah?! Iya, memang, tapi maksudku bukan itu! Bisnis Ayah, apa ini ada hubungannya dengan dia yang membantu bisnis Ayah. Tapi gimana aku tanyanya sih?]


"Hah?! Apa?!" tanyaku kesal tak percaya dengan jawaban ketusnya.


Mizan diam tak menjawab. Membuatku semakin kesal. Aku jadi ingin membuatnya juga merasa kesal.


"Aku sudah menolak lamarannya! Kamu tau itu kan? Kenapa dia masih mau makan malam denganku? Apa tidak ada wanita lain? Seperti apa memangnya dia? Dia bukan pria tua yang suka memaksa wanita muda untuk menikah dengannya kan? Apa ini semua ada hubungannya dengan uang? Apa dia akan melamarku lagi? Aku akan menolaknya!" ucapku panjang lebar dengan kesal.


Ssttttt!


Mizan mengerem mendadak. Kita sudah hampir sampai di Vinkeles.


"Nona, Anda tidak boleh melewati batas. Bersikaplah lebih sopan," ucap Mizan sambil menatapku tajam.


Tatapannya cukup membuatku takut. Sesaat ku pikir aku memang sedikit kelewatan. Aku harusnya bisa bertanya lebih sopan, tapi aku kebawa emosi. Aku diam. Aku mengalihkan pandanganku ke depan mobil.


Mizan kembali melajukan mobil menuju Vinkeles.


...----------------...


Seorang pelayan mengantarkan kami ke sebuah ruangan yang telah dipesan. Ini merupakan ruang bagi pelanggan VIP. Aku pernah beberapa kali kesini bersama dengan Ayah. Namun baru kali ini menggunakan ruang VIP. Dinding dari ruangan VIP terbuat dari kaca es. Satu sisi dindingnya terbuka, jadi tidak ada pintu. Terdapat 4 ruang VIP di restoran ini. Jarak antar ruangannya tidak begitu dekat. Dipisahkan oleh hiasan patung kaca dan bunga-bunga, ada juga lukisan dan aquarium. Jarak antara ruang VIP dengan yang ruang biasa bisa dibilang lumayan jauh, dipisahkan oleh sebuah koridor.


Ketika aku dan Mizan sampai ke tempat yang dipesan. Di depan ada seorang laki-laki yang menggunakan pakaian serba hitam. Ketika melihat kami dia menunduk, memberi salam hormat Mizan dan aku. Kemudian dia berbisik sesuatu ke Mizan. Aku tidak mendengar apapun.


"Nona, mari duduk dulu," ucap Mizan mempersilahkan aku duduk.


"Dia belum datang?" tanyaku.


"Tuan terkena macet, sebentar lagi akan sampai. Mohon tunggu disini Nona," ucap Mizan.


Ruangan ini sepertinya sudah di custom, hanya ada 2 kursi dengan meja yang lumayan besar, nuansanya elegan romantis. Ruang sebelumnya yang kulewati terdapat banyak kursi, sekitar 8 atau 10. Mejanya juga berbeda, jauh lebih besar.


Aku duduk di kursi yang dipilihkan Mizan. Dia berdiri di depanku, di sebelah kursi di seberang. Pria yang tadi menunggu kami berdiri di samping belakangku. Sesekali dia keluar menerima telepon dan berbicara berbisik dengan Mizan.


"Dia tidak bisa datang?" tanyaku setelah melihat Mizan dan temannya kembali berbisik, membicarakan sesuatu.


Ini sudah 15 menit sejak aku duduk menunggu.

__ADS_1


"Tuan akan segera sampai Nona, jangan khawatir," ucap teman Mizan.


[aku justru senang kalau dia tidak datang, kenapa aku perlu khawatir]


"Oke," jawabku singkat.


15 menit kemudian, orang yang mengundangku belum juga terlihat. Meskipun lama menunggu, ada rasa senang di hatiku. Aku akan bahagia jika akhirnya dia tidak bisa datang hehe.


"Aku akan ke toilet," ucapku sembari berdiri.


"Saya akan mengantarmu, Nona" ucap teman Mizan yang ada di belakangku.


"Kamu akan ke toilet wanita? Aku bisa sendiri. Itu dekat, kamu bisa menunggu disini," ucapku.


Aku berjalan menuju toilet yang ada di sebelah utara, terpisah oleh satu ruang VIP. Belum jauh aku berjalan kudengar Mizan dan temannya berbincang.


"Apa aku harus mengikutinya Tuan?" tanya teman Mizan.


"Tidak usah, kita tunggu saja disini," ucap Mizan.


Deg. Aku refleks memperlambat langkahku mendengar pembicaraan mereka. Setelah tersadar, aku bergegas untuk sampai ke toilet. Aku berdiri di depan westafel.


[Tuan?]


[Dia memanggil Mizan, Tuan? Bukankah dia temannya? Kenapa memanggil Tuan? Apa mungkin dia itu.... tidak tidak... tapi gimana kalau iya? Tapi kenapa bersandiwara kalau iya? Buat apa? ]


Pikiranku kemana-kemana. Tadi aku mendengar teman Mizan memanggil Mizan dengan sebutan Tuan. Aku jadi berpikiran apakah mungkin Mizan ternyata orang yang mengundangku. Aku jadi teringat ketika di mobil, Mizan mendapat voice note yang berbunyi, "Selamat malam Tuan Fatur, reservasi Anda malam ini pukul 8 malam sudah siap. Harap konfirmasi kedatangan Anda. Terimakasih,". Eh, tapi itu bisa aja terjadi, aku juga pernah reservasi atas nama Ayah dengan nomorku dan konfirmasi pesanannya juga mirip begitu.


Tapi tadi saat menunggu, Mizan terus saja memandangiku dengan tajam. Kenapa dia begitu? Apakah memang mungkin dia orangnya.


Aku mengeluarkan ponselku. Hendak melanjutkan pencarianku yang tadi sempat tertunda. Tapi tidak bisa, sinyalnya putus-putus. Akhirnya aku memantapkan diri akan menanyakan langsung saja ke Mizan. Apakah dia yang mengundangku atau bukan.


Aku keluar toilet. Ruangan sebelah toilet sudah ditempati oleh beberapa orang, sepertinya sebuah pertemuan. Dari luar toilet terlihat ruang yang dipesan untukku. Tidak ada orang di sana.


[Kok kosong?]


Aku kemudian menggeser pandanganku. Ternyata Mizan dan temannya ada di luar ruang, mereka sedang membungkuk memberi salam kepada seseorang. Aku melangkah ke samping untuk melihat siapa yang mereka sapa. Kemungkinan jika bukan Mizan orang yang mengundangku, mungkin orang yang sedang berbincang dengan Mizan lah orangnya.


Ada 4 orang di sana. Terlihat 1 orang laki-laki berpakaian seperti teman Mizan, 1 wanita mengenakan long dress dan jas berdiri di belakang. Dua orang lainnya terlihat sebagian, tertutup oleh laki-laki yang seperti temannya Mizan. Mizan sedang bersalaman dengan seseorang yang tertutup. Mizan berbicara dengan gesture sopan. Aku terus memperhatikan dari jauh. Saat orang yang seperti teman Mizan bergeser. Terlihat 1 orang juga berpakaian serba hitam. Dan orang yang tadi bersalaman dengan Mizan, orang yang mungkin mengundangku. Aku terkejut melihatnya.


Dia sudah tua, entah berapa umurnya, tapi kelihatannya lebih tua dari Ayah. Dia menggunakan topi beret. Memakai jas abu-abu dan celana kain berwarna senada.


Aku terkejut, tapi aku mencoba tenang, bisa jadi itu cuma kenalannya. Aku menunggu, setelah hampir, mungkin 2 menit, mereka seperti hendak pergi. Aku agak lega, tapi ternyata mereka berjalan dan berhenti tepat di tengah jalan masuk ruang yang tadi ku duduki. Aku kembali terkejut saat melihat Mizan memberikan gesture untuk memasuki ruang. Wanita yang berada di rombongan itu langsung masuk kemudian ku lihat dia mencium bunga yang ada di ruang itu. Sementara, laki-laki yang sudah tua melihat ke kanan dan kiri jalan masuk, seperti mencari seseorang. Sontak aku langsung jongkok di tempat.


[Wah! aku sudah pernah membayangkannya akan begini, tapi wah! ini sedikit menakutkan. Aku tidak bisa balik lagi ke sana.]

__ADS_1


__ADS_2