Morgan

Morgan
Aku Harus Sembunyi!


__ADS_3

"Wah ini gila," ucapku.


Ada beberapa pelayan yang keluar dari ruang sebelah. Aku bersembunyi di antara mereka. Berjalan bersama mereka menuju koridor. Aku berhasil sampai di ujung ruang VIP tanpa mereka ketahui. Setelah melewati koridor, aku akan sampai ke ruang biasa dan dekat dengan pintu keluar restoran.


Ketika berjalan di koridor aku terlalu terburu-buru, aku menabrak hand sanitizer gantung yang ditempelkan di dinding koridor. Penyangganya copot dan hand sanitizer-nya jatuh. Bunyi dari penyangganya lumayan nyaring. Aku segera jongkok mengambil penyangganya dibantu pelayan yang tadi jalan bersamaku.


"Mbak gapapa? Gimana kok bisa nabrak?" ucap pelayan yang membantuku.


Aku melihat ke arah Mizan, khawatir mereka mendengar keributan dan melihat ke arahku. Ternyata benar! Mizan dan temannya melihatku. Hanya tinggal mereka yang terlihat di luar ruang. Aku beradu pandang dengan Mizan sekilas kemudian aku berbalik arah.


"Aduh maaf ya mas, nggak sengaja, saya buru-buru, saya harus ganti berapa mas?" tanyaku bersalah sembari mencoba membuka tasku.


"Udah nggak usah mbak, ini cuma lepas, bisa di pasang lagi. Botolnya juga nggak rusak," jawabnya.


"Ya udah, saya permisi ya mas, terimakasih," ucapku kemudian berdiri beranjak pergi.


Dari sudut mataku terlihat Mizan dan temannya mulai berjalan ke arahku. Aku kemudian mempercepat langkahku.


Aku berhasil keluar dari restoran. Mencoba mencari taksi di pinggir jalan tapi sepertinya tidak terlihat tanda-tanda kedatangan taksi. Aku hendak memesan taksi online tapi tiba-tiba.


Drett~


drett~

__ADS_1


Ponselku bergetar, tadi sempat ku ganti ke mode getar saat di toilet. Ada telepon masuk.


📞(08448000xxxx memanggil)


Ku matikan.


Drett~ ........ drett~


📞(08448000xxxx memanggil)


Ku lihat ke arah pintu keluar restoran, terlihat teman Mizan. Aku panik. Memesan taksi online pasti memerlukan waktu untuk sampai ketempatku, keburu ketahuan. Aku nggak mungkin lari juga. Mereka akan bisa mengejarku. Kemudian aku terpikir pergi ke tempat festival budaya, di seberang restoran. Pikirku di tempat ramai akan sulit mencari seseorang.


Jalanan sangat ramai oleh lalu lalang kendaraan yang hendak ke festival budaya. Sulit sekali untuk menyeberang jalan. Aku menunggu lalu lintas jalan sepi di balik sebuah mobil.


Drett~ ........ drett~


📞(08448000xxxx memanggil)


📞"Nona, Anda mau kemana?" tanya Mizan tanpa basa basi.


📞"Aku sudah pulang dengan taksi. Aku tidak bisa menunggu orang terlalu lama," jawabku mencoba setenang mungkin supaya dia percaya dan tidak mencariku lagi.


📞"Kembalilah, akan saya antar Anda pulang nanti," ucap Mizan.

__ADS_1


📞"Tidak per.... "


PEP!!


Dari sebelah kanan ada bis yang lewat dan mengklakson segerombolan orang yang memenuhi jalanan hendak menyeberang. Bis itu mengklakson di dekatku, suaranya sangat keras.


📞"akh!" aku kaget mendengar bunyi klakson bis itu.


📞"Nona masih disini?" tanya Mizan.


Tentu saja dia mendengar klakson bis itu juga.


Segera aku bergabung dengan gerombolan orang yang diklakson bis tadi untuk menyeberang bersama. Aku menyelinap di tengah gerombolan supaya tidak terlihat. Mereka sepertinya hendak ke tempat festival budaya. Yaudah seperti rencana awal saja, pikirku. Aku ke festival budaya. Bersembunyi di sana sambil menunggu taksi datang. Tapi saat aku sampai di seberang, aku menemukan Mizan dan temannya berada lebih dekat dengan festival budaya. Sepertinya mereka juga menemukanku. Aku berjalan mundur beberapa langkah, karena malas berurusan dengan mereka lagi. Aku berlari entah kemana menyusuri pinggir lapangan. Berusaha secepat mungkin.


Aku sepertinya sampai di belakang lapangan tempat festival budaya. Disana terdapat jalan aspal kecil. Aku berjalan menyusuri jalan itu. Ada 3 rumah yang kulewati. Kemudian sebuah lahan kosong yang cukup luas. Setelahnya ada bangunan besar, sepertinya bukan rumah. Lampu di dekatnya redup, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku bersandar di dinding pagarnya, kecapekan, berkeringat. Melihat ke arah ujung jalan, tidak ada siapa-siapa. Ada sedikit rasa takut, namun lebih ke lega mengetahui Mizan dan temannya tidak terlihat. Mungkin kehilangan jejakku. Aku mengatur nafasku dan melihat sekeliling, mencari sebuah papan nama alamat atau penunjuk jalan. Tidak ada, suasana juga sepi. Tiba-tiba,


📞"Nona!"


Aku kaget sekaget-kagetnya. Ternyata suara itu dari teleponku, telepon Mizan masih terhubung. Dan yang lebih mengejutkan, mode teleponnya berubah menjadi video call. Sepertinya terpencet saat aku lari tadi.


📞"Nona dimana? mohon tunggu disitu, akan saya jemput, beritahu saya lokasinya,"


Tut!

__ADS_1


Aku matikan sambungan teleponnya.


__ADS_2