
Feel the light, shining in the dark of night.... πΆπΆπ
Aku terbangun oleh bunyi dering ponselku. Ku ambil ponselku, melihat siapa yang menelpon. Mataku masih buram, aku berkedip-kedip mencoba menjernihkannya.
π (Peluit memanggil)
Setelah bisa melihat nama yang tertera di ponselku. Aku menarik nafas panjang, kemudian memilih menolak panggilan. Aku kembali berbaring dengan ponsel di atas tanganku.
Feel the light.... πΆπΆπ
Ponselku kembali berdering. Kulihat masih orang yang sama yang menelponku. Ku tolak lagi panggilannya.
Kling!
Kling!
Kling!
Bunyi pesan masuk berturut-turut. Kudiamkan. Kupejamkan mataku, rasanya masih mengantuk. Entah 5 menit atau 10 menit kemudian ponselku kembali berdering.
"Hah!" aku bangun, ku terima telepon di ponselku.
"Dimana kamu?!" ucap orang yang meneleponku.
"Apa sudah pulang? Kenapa tidak menjawab teleponku?! Ayahmu sudah mau pulang, sekarang sudah hampir jam setengah 5. Kamu udah mulai bersiap? Cepat bersiap dari sekarang!!" ucapnya lagi.
"Jangan samp... "
Klik!
Kumatikan sambungan teleponnya. Itu tadi Irma, dia memaksaku untuk segera bersiap untuk pergi ke undangan tuan Fatur. Kulihat jam di ponselku, jam 4 lebih 20 menit.
4.20 PM
π 3 panggilan tak terjawab
π¬ 9 pesan baru telah diterima
Semua panggilan tidak terjawab berasal dari Irma. Kubuka aplikasi pesanku, ada pesan dari temanku, asisten tuan Fatur, dan Irma. Ku hanya membuka pesan dari temanku.
...----------------...
Tok tok!
Ceklek!
Pintu kamarku dibuka, Ayah yang datang.
"Kamu belum selesai bersiap, sayang?" tanya Ayah.
Aku sedang duduk di tepi kasur sambil melihat tv ketika Ayah datang. Mendengar pertanyaan Ayah, aku langsung melompat berdiri dan tersenyum lebar.
"Udah!" ucapku sambil berputar.
"Udah?" tanya Ayah heran.
Aku menjawab dengan mengangguk-anggukan kepalaku, kemudian melipat tanganku di dada dan senyum manis dengan posisi kepalaku yang kumiringkan ke kanan.
"Mmmm.... " gumam Ayah sambil melihat-lihat penampilanku.
"Ya ya ya... Ayah tau..." ucap Ayah kemudian mendekatiku dan mencolek hidungku.
"Aku dah siap pergi," kataku.
"Sini, biar ayah bantu kamu buat sobekan di celanamu tambah besar dulu," ucap Ayah.
Aku mundur satu langkah sambil berkata, "Ih Ayah, ini tu baru, trend."
"Kamu kan mau makan malam Nak, bukan mau jalan-jalan sama temanmu," protesnya.
"Apa salahnya ini Yah? aku memang akan bertemu temanku kan, kalau dia masih muda dan mau berteman, kecuali... yaaa... tebakanku salah," belaku.
__ADS_1
Saat ini aku menggunakan blouse berwarna putih ΒΎ flounce sleeve dengan garis leher persegi dan β ripped jeans.
Sebenarnya aku tahu maksud Ayah. Dia mau aku mengganti pakaianku. Biasanya aku selalu memakai dress ketika ada acara dengan Ayah dan temannya. Kalau pergi hanya berdua dengan Ayah pun aku tidak pernah menggunakan celana seperti yang ku pakai sekarang ini, ripped jeans. Aku tau Ayah tidak menyukainya. Tapi kali ini aku sengaja berpakaian seperti ini, aku tak berniat membuat kesan baik di hadapan orang yang akan kutemui malam ini.
"Nggak, udah ganti celananya dulu! Ayah gak suka kamu pakai itu," ucap Ayah.
"Kenapa sih Yahhh.. " rengekku.
"Ayah tungguin disini, kamu ganti dulu sana," ucap Ayah sembari duduk di kursi belajarku.
Aku masih berdiri di tempatku.
"Eh, ayok! sana Nak ganti!" perintah Ayah.
"Iya, iyaa.. " jawabku sambil berlalu ke arah lemari pakaianku, mengambil salah satu rok kemudian ke kamar mandi untuk berganti.
Aku selesai berganti pakaian. Sekarang aku menggunakan rok denim asimetris berwarna biru muda dan atasan yang sama dengan yang tadi kupakai. Sebenarnya ini juga tidak begitu bagus untuk dipakai pada acaraku sekarang tapi... aku sengaja haha. Secara keseluruhan sih menurutku tampilan sekarang lebih manis dibandingkan yang tadi. Terlihat lebih girly. Lumayanlah.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Irma sudah ada di kamarku bersama Ayah. Dia kaget melihat pakaian yang aku pilih. Aku menghela napas panjang, menenangkan diri sebelum kesal karena mendengar celotehannya.
"Hah?! Kamu tidak memakai dress?!" ucapnya.
Dia datang menghampiriku, kemudian berkata, "aku bahkan bisa melihat ada dress yang bagus di dalam lemari itu, kamu tidak bisa melihatnya? Huh.. kenapa begini?!". Dia menunjuk ke arah lemari pakaianku. Ada bagian pintu yang terbuat dari kaca. Ku gantungkan beberapa dress disana.
Irma menyentuh bajuku. Kusingkirkan tangannya. Kemudian Ayah juga datang mendekat. Berdiri di antara kami berdua.
"Udah.. udah.. ini cukup baik," ucap Ayah mengomentari pakaianku sekarang.
Irma menatap Ayah tak setuju.
"Sayang... ini terlalu sederhana," ucap Irma kepada Ayah.
"Sudahlah... kamu bilang orang tuan Fatur sudah datang kan? Nggak baik kalau terdengar ribut-ribut," kata Ayah ke Irma.
"Huhf!" ucap Irma kesal, dia melirikku, memperhatikan dari atas sampai bawah.
"Sayang, kamu turun dulu deh, temenin tamu di bawah," pinta Irma.
"Aku juga akan turun, yuk Yah," ucapku.
"biar aku bantu make up," tambahnya.
"Aku tidak perlu, aku sudah melakukannya sendiri," ucapku.
Aku mengoleskan riasan tipis di wajahku. Entah kelihatan atau tidak. Aku menggunakan pewarna bibir berwarna nude orange. Aku menggunakan hampir full make up tapi memang natural style.
"Biar aku tambahkan sedikit ya? hihi Oke?!" dia bertanya sambil melotot ke arahku.
"Aku akan turun," ucapku.
Aku melepaskan genggaman Irma, mengambil sling bag ku dan jaket kulit berwarna biru muda yang hampir senada dengan rokku. Kemudian aku berjalan keluar kamar, meninggalkan Ayah dan Irma di kamarku.
Ketika turun, dari tangga aku melihat ada seorang laki-laki menggenakan celana bahan berwarna hitam dengan kaos dan jaket kulit coklat tua. Dia sedang duduk tegak dengan lututnya terbuka dan tangan berada di atasnya. Aku berjalan ke arahnya, kemudian berdiri di depannya. Dia melihatku lalu berdiri. Kelihatannya dia masih muda, ya mungkin lebih tua dariku sih, dia tinggi dan badannya tegap. Raut mukanya serius dan tegas.
"Sudah siap Nona?" tanyanya.
"Kamu Mizan?" tanyaku.
"Iya," ucapnya singkat.
"Mari minum teh dulu atau kopi?" ajak Ayah yang ternyata sudah berada di belakangku.
"Jika sudah siap, lebih baik kami segera berangkat. Ada festival di dekat Vinkeles, kemungkinan akan menyebabkan kemacetan." ucap Mizan.
"Iya, ada festival budaya di lapangan seberang Vinkeles. Katanya sangattt ramai," sahut Irma yang menuju ke arah kami, dia berdiri di sampingku, diantara aku dan Ayah.
"Lebih baik segera berangkat agar Tuan Fatur juga tidak terlalu lama menunggu, iya kan?" tambahnya.
"Aku akan menunggu di depan," ucapku singkat.
Aku melihat Irma dan Mizan sekilas, kemudian berjalan menuju pintu keluar. Aku berdiri di depan rak sepatu yang ada di samping koridor pintu keluar. Mengambil sneakers berwarna putih untuk ku pakai. Saat aku hendak mengganti sepatuku, Irma datang. Dia membawa crystal harpin ponytail holders dan berdiri di belakangku.
__ADS_1
"Diam, jangan bergerak," ucapnya sambil memegang rambutku yang ku kuncir kuda.
Dia menarik tali rambutku. Kemudian menggantinya menggunakan karet jepang dan memasang hairpin yang dia bawa.
"Aww.." teriakku, rambutku tertarik.
Aku hendak memegang rambutku, tapi tanganku ditampik Irma, "nggak usah dipegang, nanti rusak," katanya.
Kemudian Irma mengambil ankle strap heels berwarna peach milikku.
"Pakai ini!" ucapnya menyodorkan heels ke arahku.
"Nggak! aku akan pakai ini," jawabku memegang sneakers yang ku pilih, hendak ku pakai.
"Nak, sudah?" tanya Ayah yang menyusulku. Dia dan Mizan sudah berdiri di ujung ruang ganti sepatu di dekat pintu keluar.
"Iya Yah, sebentar."
Sebentar saja aku memalingkan mukaku ke Ayah. Ternyata Irma sudah menuangkan air ke atas sneakers ku. Entah darimana dia mendapat botol air minum.
"Oops sayang.." ucap Irma.
"Hah!?" teriakku refleks.
Ayah yang mendengar teriakanku langsung mendekat. Mizan juga mendekat beberapa langkah.
"Maaf tidak sengaja, pakai yang ini aja ya," tambah Irma sambil menyodorkan heels yang dipilihnya tadi.
"Kamu sengaja kan?!" tanyaku.
"Kenapa kamu bilang gitu, kenapa aku harus sengaja?" ucap Irma berlagak sedih.
"Jadi botol bisa membuka tutupnya sendiri dan membuang isinya tepat di sepatuku?!" tanyaku kesal.
"Aku mau minum sayang, nggak sengaja tumpah," elaknya.
"Huhf!" aku kesal.
"Udah, udah... Pakai yang lainnya ya," ucap Ayah.
"Pakai ini," ucap Irma menyodorkan pilihannya lagi.
Dia membuka genggaman tangan kirinya, ada sebuah kunci di sana. Itu kunci rak sepatu. Sepertinya dia mencoba mengatakan kalau aku tidak bisa memilih sepatu lain selain heels pilihannya, karna kunci rak ada dengannya.
"Pakai yang itu Nak?" tanya Ayah, melihat ke arah sepatu pilihan Irma.
Aku beradu pandangan dengan Irma.
"Nak?" tanya Ayah lagi.
Aku mengambil kasar sepatu yang dipegang Irma kemudian memakainya.
Theg!
Aku menghentakkan kakiku kemudian berdiri.
"Ayah, aku pergi," aku melangkah ke Ayah mencium tangannya kemudian Ayah mencium pipi kanan kiriku.
"Hati-hati ya Nak," ucap Ayah.
Aku melangkah mendekat ke Irma.
"Kau senang?" ucapku menatap Irma.
Dia hanya tersenyum puas, kemudian tiba-tiba memelukku. Aku kaget.
"Oh, sayang, bukankah gadis kita cantik sekali hari ini," kata Irma ke Ayah sambil memelukku.
Terlihat Mizan senyum tipis melihat kelakuanku dan Irma. Saat dia tahu aku melihatnya, wajahnya seketika kembali serius.
"Saya titip anak saya ya, tolong dijaga baik-baik, hati-hati di jalan, " kata Ayah ke Mizan.
__ADS_1
"Baik Tuan, itu tugas saya," jawab Mizan.
"Mari Nona," ucap Mizan kepadaku.