Morgan

Morgan
Flashback Malam Itu


__ADS_3

Setelah Irma pergi. Aku kembali ke tempatku melukis tadi dan termenung di sana. Aku memikirkan keputusanku untuk datang ke undangan tuan Fatur. Aku berdoa semoga dia tidak tertarik padaku dan memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana lamarannya yang sempat ku tolak. Atau jika dia punya niat yang lain, ku harap itu bukan hal yang buruk.


...****************...


...Flashback kemarin malam....


Aku sedang menikmati udara malam dan makan mie cup di teras belakang rumah. Ayah datang dan duduk di sampingku.


"Anak Ayah disini rupanya," sapa Ayah.


"Iya Yah, lagi menikmati suasana baru. Itu Ayah sendiri tadi yang milih cat temboknya?" tanyaku.


"Iya, sama Pak Pur kemarin sore sekalian beli itu (menunjuk lampu taman), lampu bawahnya kemarin ada yang mati, biar dipasangin sekalian," jelas Ayah sambil berdiri di depanku melihat sekeliling halaman belakang.


"Pak Pur semua itu yang ngecat (menunjuk arah tembok), cepet juga nggak sampe sehari dah selesai," tambahnya.


"Pak Pur dah ahli Yah, sat set sat set jadi," komentarku.


"Bagus nggak itu warnanya? Tadinya mau putih lagi, tapi biar beda, nyoba yang baru, Ayah lihat kok ada warna yang kelihatannya bagus. Apa itu namanya? cokelat, cokelat muda ya?" tanya Ayah sambil berjalan hendak duduk di sebelahku.


"Lebih ke krem sih itu Yah, bagus, kemarin putih pas kena lampu kayak terang banget, sekarang lebih nyaman dilihat. Bunga-bunganya juga banyak yang lagi mekar, tambah kelihatan cantik," jawabku.


"Tadi pagi Ayah lihat Bunga Wijaya Kusuma yang disebelah sana banyak banget kuncupnya yang udah besar," kata Ayah.


"Iya, tadi aku sempet lihat udah ada yang mau mekar, baunya juga dikit-dikit udah kecium nih Yah sekarang, wangi banget," jelasku.


"Yah, mau dibikinin mie? Buat anget-anget," tanyaku, sedari tadi kami ngobrol dan aku sendirian yang makan hehe, sedangkan Ayah menikmati secangkir besar kopi susu.


"Ayah dah kenyang. Makan yang banyak biar ada dagingnya," ucap Ayah sambil memijat-mijat lembut bahuku.


Aku hanya tertawa mendengarnya, sambil menyeruput jus manggaku.


Aku dan Ayah menikmati suasana halaman belakang bersama. Kami membicarakan banyak hal, mulai dari yang hal yang sepele, nostalgia masa kecilku, sampai hal yang serius.


"Yah makasih ya, Ayah udah setuju menolak lamaran kemarin itu," ucapku.


"Hm? ...." ucap Ayah.


"Tuan Fatur itu, orang yang hebat, usahanya banyak yang sukses, Ayah pernah satu kali berada di forum besar yang sama dengannya, tapi Ayah belum pernah bicara secara langsung dan berdekatan. Ada teman Ayah yang pernah berhubungan langsung mengatakan kalau dia ini orang yang tegas dan berwibawa," ucap Ayah.

__ADS_1


"Ketika tuan Fatur mengirimkan lamaran ke kamu ada sedikit rasa senang di hati Ayah. Ayah memang berharap kamu mendapatkan suami yang bisa memenuhi kebutuhanmu. Selain itu, Ayah harap dia orang yang bisa menyayangimu dan berperilaku baik. Meskipun tuan Fatur ini disegani banyak orang dan banyak juga yang memuji keberhasilannya. Jika dia mau menikahi anak Ayah, maka Ayah berhak untuk menilai dulu sikap dan perilakunya, apakah baik dan bisa membuat nyaman anak Ayah. Karena Ayah belum tahu itu dan katamu kamu juga masih belum mau memikirkan pernikahan. Jadi Ayah rasa kita tidak perlu terburu-buru," kata Ayah lebih lanjut.


"Terimakasih Yah, terimakasih udah setuju menolaknya untuk aku," ucapku sambil memandangi Ayah.


"Teman Ayah bilang kalau tuan Fatur ini orang yang pantang menyerah. Dia akan berusaha keras untuk semua yang diinginkannya hingga tercapai. Ayah khawatir dia juga akan memaksakan lamarannya ke kamu begitu saja, tapi ya mungkin saja itu hanya berlaku untuk masalah pekerjaan. Ketika Ayah bilang kamu belum siap dan belum bisa menerima lamarannya, dia bilang bisa mengerti itu. Jadi Ayah sedikit lega," kata Ayah.


"Ayah udah bertemu dengannya?" tanyaku.


"Belum, dia sedang rapat penting saat Ayah ke tempat kerjanya untuk memberitahu jawabanmu. Siangnya, ada orang kepercayaannya yang datang ke kantor Ayah menyampaikan pesan kalau dia bilang dia bisa mengerti keputusanmu," kata Ayah.


"Apa dia sesibuk itu sampai mengurusi masalah pribadinya saja melalui orang lain," protesku.


"Ayah belum pernah bertemu dengannya kan? Gimana kalau ternyata dia itu sudah lansia dan staminanya udah menurun, makanya banyak hal yang harus diwakilkan orang lain agar supaya dia tidak kelelahan? Ayah mau, menikahkan aku dengan orang yang sudah lebih tua dari Ayah?" celotehku.


"Hush kamu ini, ada-ada aja hahaha. Ayah pernah melihatnya di forum, dia muncul sebentar saat itu tapi karena itu forum besar, tempatnya juga luas, ditambah tempat duduk Ayah jauh dari tempat dia, Ayah tidak bisa melihat dengan jelas. Kalau dari postur tubuhnya, Ayah rasa dia masih jauh lebih muda dari Ayah," cerita Ayah


"Postur doang... Ayah udah punya anak sebesar aku juga badannya masih bagus. Masih suka dikejar mbak-mbak cantik di luar sana. Gak ada yang tau, Ayah aja juga nggak yakin kan?" celotehku lagi.


"Hush, kamu ini, kalau mama kamu denger, salah paham nanti dia. Pusing nanti Ayah diberondong pertanyaan," jawab Ayah.


Hahahaha aku ketawa mendengar jawaban Ayah dan melihat muka paniknya. Irma memang sedikit posesif dengan Ayah. Mungkin karena di tahu banyak wanita yang suka menggoda Ayah dan dia juga salah satunya dulu, jadi dia terlalu khawatir suaminya akan tergoda wanita lain.


"Hmm??" jawab Ayah.


"Ini semua nanti tidak akan berpengaruh dengan perusahaan Ayah kan?" tanyaku memastikan.


Hening.. Ayah sedang berpikir.


..........,.............................


Ayah menjalankan usaha di bidangPerusahaan Ayah sedang mengalami kesulitan


......................................


"Orang yang profesional pasti akan tahu cara memisahkan urusan bisnis dan pribadi. Kamu tidak usah khawatir,," jawab Ayah menenangkan aku.


"Hmmm... aku akan segera bekerja dan membantu Ayah," ucapku sambil memeluk Ayah.


"Iya, kamu pasti akan mendapat pekerjaan yang kamu inginkan. Tapi, meskipun kamu masih muda, cepat atau lambat kamu akan menikah. Kamu udah cukup usia untuk berpikir ke arah pernikahan. Meskipun pekerjaan itu penting tapi mulailah memikirkan kehidupan pribadimu (rumah tangga) juga. Kalaupun nanti kamu mau bekerja, jangan karena Ayah, jangan terlalu memikirkan Ayah, Ayah masih muda! Ayah masih kuat, Ayah akan terus berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga kita," ucap Ayah menasihatku sambil menepuk-nepuk pelan bahuku.

__ADS_1


Mungkin sekitar 2 jam aku dan Ayah mengobrol. Udara malam juga semakin dingin.


"Udah malam, anginnya semakin dingin, yuk masuk sayang," ajak Ayah.


"Iya, aku beresin ini dulu Yah," ucapku.


Banyak barang yang tadi aku bawa keluar, notebook, alat tulis, i-pad dan ponsel. Aku juga harus membereskan bungkus snack dan alat makan yang ku pakai tadi, juga gelas.


"Ayah kesana dulu ya, periksa lampu yang baru dipasang tadi," ucap Ayah, berjalan ke halaman belakang.


"Iya," jawabku.


Aku sedang membereskan barang-barang yang ada di meja dan...


Dret... dret...


Ada pesan di ponsel Ayah. Aku tidak berniat membaca, tapi pas sekali ponsel Ayah ada di bawah pandangan mataku, ponselnya juga otomatis menyala saat ada notifikasi. Dari pop-up notifikasinya aku bisa membaca sebagian pesan. Itu pesan layanan dari bank yang Ayah gunakan. Memberitahukan bahwa rekening Ayah menerima sejumlah transferan dana. Satu menit kemudian ada pesan lagi.


💬 (Asisten Tn. Fatur) Kami telah melakukan transaksinya Tn Imam. Silakan diper.......


Deg! Aku tahan napas membaca kata Tn. Fatur.


[sepertinya kerjasamanya masih berjalan, syukurlah kalau bisnis Ayah dengannya masih berjalan dengan baik.]


...Flashback berakhir...


...****************...


Apa yang bisa aku lakukan untuk menghasilkan uang dan membantu Ayah. Jika benar orang itu telah memberikan bantuan dana untuk perusahaan Ayah dalam jumlah yang besar dan dia akan melamarku lagi kemudian memaksaku menikah dengannya dengan alasan balas budi, maka satu-satunya cara supaya aku bisa tegas menolak adalah dengan membayar hutang itu.


Tapi... ah gimana caranya... Aku sekarang sedang fokus dengan kuliahku. Meskipun aku bergabung di sebuah perusahaan pembuatan gaun pernikahan. Statusku bukan pekerja tetap. Perusahaan itu milik ibu temanku, Bianka. Aku sering mengajukan design gaun pengantin buatanku disana, apalagi kalau sedang masa libur kuliah begini. Bisa dibilang aku seorang freelance, jika design gaunku tidak diterima ya aku tidak dapat uangnya. Uangnya lumayan banyak sih kalau buat keperluanku pribadi, tapi kalau untuk membantu Ayah, itu tidak akan cukup. Perlu banyak design yang harus disetujui. Hmmmm....


.


.


.


Kling!

__ADS_1


Ada pesan masuk ke ponselku. Memecahkan lamunanku.


__ADS_2