
Kinara melangkah dengan cepat, menyusuri jalan setapak yang kian ramai.. Dinginnya malam merasuk setiap helai rambutnya,dan setiap inci tubuhnya, napasnya terengah - engah karena menahan dinginnya udara malam, di tambah bajunya yang sedikit tipis, membuat udara dingin dengan bebas menerpanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, seperti biasa kinara baru saja pulang bekerja, sebagai salah satu putri dan juga tulang punggung keluarga, ia harus bekerja ekstra, dan ekstra kerja keras untuk mendapatkan uang, bukan karena kelurganya tidak mampu tapi dia hanya tidak ingin menjadi beban orang tua.
Kinara adalah seorang guru di salah satu sekolah luar biasa bagi anak-anak tuna runggu. Selain itu ia juga mengajar les bahasa asing 4 kali dalam seminggu, dan baru-baru ini dia di terima bekerja di sebuah Perusahaan besar di kota itu, tentu membuat dirinya sangat senang.
Di kenal sebagai pribadi yang ceria dan cerdas, di tambah wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang ideal bak putri kerajaan dalam dongeng membuatnya di senangi banyak orang, di tambah dia memiliki sahabat-sahabat yang selalu mendukung dan juga tetap menerima apa adanya dirinya.
Kinara bergegas untuk menuju halte bis, sebelum bis terakhir pergi. Dan dia juga harus melawan dinginnya malam, di tambah hujan rintik-rinntik yang tak kunjung ingin usai.
"kenapa aku tidak bawa jaket tadi.. Seharusnya aku tahu kalau sekarang musim hujan"
Sesalnya dalam hati,yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak membawa payung ataupun jaket.
Udara semakin dingin, tapi dia belum juga sampai di apartemennya, bus yang sering ia tumpangi sepertinya sudah berangkat 10 menit yang lalu.
"ibu guru"
Sapa seseorang dari belakang membuat kinara hampir berteriak karena terkejut.
"astaga, bu lastri mengaggetkanku saja" katanya pelan sambil mengusap dada karena terkejut, bagaimana tidak dia yang sedang berdiri di halte bis dengan konsentrasi penuh, tiba-tiba di tegur dengan suara pelan dari belakangan.
"maaf bu guru, ibu guru mau pulang.. bareng saya saja"
Tawaran dari bu sri, wali murid dari salah satu siswanya tak kinara tolak, lagian jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, akan sangat sulit menemukan bus apalagi taksi yang melintas di daerah sekitar sana.
"bu kinara kenapa berhenti mengajar les, padahal anak saya bilang sangat suka di ajarin sama bu guru ". Katanya memulai pembicaraannya.
" saya sekarang kerja kantoran bu Sri jadi nggk bisa bagi waktu, titip salam saja sama eina". Balas kinara sopan.
"begitu rupanya, owh yha buk.. sebaiknya ibu guru kinara kalau pulang minta di antarkan saja, saya dengar di daerah sini sedikit rawan, apalagi bagi perempuan ". Tütürnya lagi dengan serius.
Kinara tersenyum mendengar cerita dari bu sri, yang tak membuatnya gencar sedikitpun, di tambah di usianya yang sekarang dia tidak akan takut pada apapun selain pada tuhan.
" memangnya kenapa bu, biasanya kan saya setiap hari lewat sini" (katanya lembut seperti tak percaya apa yang barusan dia dengar)
"tapi kan tidak malam bu guru, beberapa hari yang lalu.. Di dekat sini, ada penemuan mayat perempuan.. Seluruh badannya di ikat, terus mulutnya di plester di tambah tubuhnya telanjang, ngeri kan bu guru"(tutur bu Sri dengan semangat)
"ah ibu bisa saja, kok saya tidak dengar ada cerita seperti itu"
Jawab kinara untuk menenangkan hatinya yang mulai merasa ketakutan.
"di tambah ibu guru kan cantik..., dan yang saya dengar beberapa tahun yang lalu juga ada seorang guru yang di temukan tewas di sekitar sini bu"(tambah bu Sri meyakinkan guru dari anaknya itu)
Namun lambat laun ceritanya bu sri membuat kinara bergidik ngeri.
Setelah sampai di apartemennya, kinara berterima kasih dengan tulus kepada bu sri.
"terima kasih bu Sri atas tumpanganya".
__ADS_1
"sama-sama bu guru ".
Perkataan dan cerita bu sri membuat kinara terus terbayang-bayang bagaimana mengerikanya perempuan itu di bunuh, dan tentu saja membuat bulu sekujur tubuhnya bergidik ngeri ketakutan.
Baru beberapa langkah dia berjalan, hpnya bergetar..
" siapa sih yang nelpon,.. ". Seketika raut wajahnya menjadi ceria ketika melihat layar hp, ternyata itu adalah sahabatnya.
Namun Kinara mempercepat langkahnya ia tak ingin rasa takutnya itu menjadi kenyataan dan memilih untuk tidak menjawab ponselnya, ketika keluar dari lift kinara menuju apartemennya.. Dia melihat pintunya terbuka sedikit dan tidak terkunci, ia teringat apa yang di ceritakan oleh bu sri padanya tadi, membuatnya sedikit was-was, apakah (ada penjahat di rumahku) batihnya dalam hati.
Semakin dia masuk ke dalam apartemennya, suara keletak - keletok terdengar dengan jelas membuat kinara semakin bergidik ngeri, dia mengambil sapu yang ada di belakang pintu depan.. Dan benar saja ada seseorang di dalam, ia tak bisa melihatnya dengan jelas karena dia berjalan sambil memincingkan mata, ia pun berteriak dan ingin memukul sesosok yang ada di depannya.
"yaaa "
Terlambat saja gina berbalik badan, sudah pasti sekarang tubuhnya sudah penuh dengan luka memar karena di pukul oleh kinara.
" ya kia , kau mau membunuhku "
Gina mengatur napasnya dan berteriak ke arah sahabatnya itu.
" kau yang mau membunuhku, kenapa tidak memberitahuku kalau kamu akan datang, hampir saja"
Pekik kinara, sambil mengacungkan sapu itu ke arah gia, yang terlihat masih terkejut.
"aneh sekali,.. Aku kan memang tidak pernah memberitahumu kalau aku mau datang jangan - jangan "(kata gia sambil memicingkan mata, penuh dengan arti)
Gia tersenyum, lalu berjalan ke arah pintu, dan memeriksa semua kamar dan juga orang di luar membuat kinara kebingungan dengan sahabatnya itu.
" kau kenapa? "
" kamu tidak sedang menyembunyikan laki-laki dariku kan ?"(kata gia sambil mencolek kinara)
Ucap gia santai dan tersenyum penuh arti ke arah kinara. Yang tentu saja membuat kinara tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang yang ada di depannya ini.
"gia.. Gia, memangnya kamu pikir aku wanita apaan sampai - sampai menyembunyikan laki-laki di rumahku " (sindir kinara sambil menuju sofa depan tv untuk merebahkan tubuhnya)
" siapa tahu... Awas saja kalau kamu menyembunyikan laki-laki tanpa sepengetahuanku, aku akan langsung menelepon paman di desa"
Timbal gina lagi, yang masih sama tersenyum penuh arti ke arah kinara.
"lagian tadi aku sudah menelepon mu, tapi kamu tidak angkat ".(kata gia santai) (kinara menebak raut wajah gia)
" bertengkar lagi yha sama tante di rumah? Kamu ini sudah sebesar ini masih saja suka bertengkar ". Tebak kinara yang tahu persis perangai sahabatnya yang suka sekali bertengkar dengan orang tuanya, yang ujungnya dia akan mengungsi ke apartmannya kinara.
" bagaimana aku tidak marah coba, mama itu menyuruh ku menikah.. Memangnya aku siti nurbaya ".katanya dengan sedikit agak kesal
" kamu kan bisa ngomong dulu sama tante.. ". Belum selesai kinara bicara gına langsung memotongnya.
" aku sudah menyiapkan air panas untukmu mandi, aku yakın kamu lelah setelah seharian bekerja sebagai gadis kantoran.. Ayo mandi sana".(gia memotong perkataan kinara, dia hanya tidak ingin mendengar perkataan kinara yang menceramahi nya)
__ADS_1
"baiklah "
Setelah selesai mandi, kinara masih tidak percaya kalau sahabatnya ini baru saja kabur dari rumah karena hal sepele.
" kin, kamu nggk berniat menikah di usia muda? "
Kinara menarik napas berat, mendengar apa yang di katakan oleh sahabatnya.
"memikirkan laki-laki saja aku tidak mau, apalagi harus punya suami .... Ibu dan ayahku masih sangat membutuhkanku, "(kata kinara pelan)
" apa salahnya punya pacar atau suami.. Memangnya kamu mau menjomblo seumur hidup ".protes gia, yang sontak membuat kinara memincingkan mata ke arahnya, Seolah-olah tidak setuju terhadap perkataan sahabat nya.
" paman dan bibi juga tidak butuh uangmu.. Mereka punya usaha sendiri.. Aku heran saja, kenapa kamu memilih untuk tinggal di kota, apa kamu punya pacar disini ".sambung gia
" apa işi kepalamu itu isinya hanya tentang laki-laki.. Aku hanya tidak mau berakhir seperti kakakku ".jawab kinara dengan agak enggan.
Beban keluarga adalah salah satu alasan kenapa kinara memilih untuk bekerja jauh dari keluarga besar, ayahnya memiliki perusahaan biasa di desa sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga, dan kakaknya seorang dokter yang bekerja di kota,untuk itulah dia menyusul kakaknya kekota untuk memastikan kalau dia baik-baik saja, setelah menghindari pernikahan dan juga kabur dari rumah.
"tidak ada yang salah dengan itu, terkadang kita juga harus memikirkan laki-laki, kita ini bukan makhluk individual, kita akan tetap membutuhkan pendamping atau pasangan" (imbuh gia lagi)
"kalau gitu kenapa kamu tidak Terima saja perjodohan mu itu" perkataan kinara tadi membuat kinara tertawa..
"karena aku memikirkan laki-laki makanya tidak mau di jodohkan, lagian kita ini bukan hidup di zaman siti Nurbaya yang mau saja di jodohkan.. kita ini wanita moderan,dan Denger ya kia, paman sama bibi kan punya perusahaan, dan kak kinan yang entah di mana itu punya pekerjaan juga, apa salahnya menikah ".(imbuh gia lagi dengan sedikit penekanan)
" lalu kamu kenapa tidak menikah... Apa kamu mau main-main terus, sudah tidak bekerja, pengangguran, beban kelurga lagi.. Nikah sana"(elek kinara, dan gına malah terkekeh mendengar ucapan kinara)
"dengar ya nona kia, aku punya perusahaan Mode, merrek pakaian perusahaanku adalah no satu di dunia, mana mungkin aku menjadi seorang beban kelurga "(katanya dengan bangga)
" walaupun begitu kamu kan masih tinggal dengan om dan tante "(sindir kinara)
" yha itu karena aku tidak suka tinggal sendiri, lagian kalau aku punya rumah, apartemenmu ini akan kesepian karena aku tidak ada"(katanya sambil memeluk kinara yang membuat kinara menjadi geli)
"aku belum mandi.. Jadi jangan dekat dekat "
" bukanya kamu baru selesai mandi, jangan ngadi-ngadi yha". Kata gia kesal.
Kinara memperhatikan dokumen di atas mejanya yang menumpuk, dia memilih mengerjakan pekerjaan Kator di rumahnya, karena dia khawatir kalau harus lembur di perusahaan..yang dimana jarak perusahaan sangat jauh dari apartmannya.
"kin kenapa sih kamu kerja kantoran, jadi guru les aja gajimukan sudah lumayan ".sambung gia lagi, yang melihat sahabat nya menjadi gila kerja setelah bekerja menjadi wanita kantoran.
" apa salahnya kerja kantoran.. Siapa tahu dapat jodoh di sana, jadi papa sama mama tidak perlu menjodohkan aku lagi ".jawab kinara asal-asalan.
" katanya nggk mau mikirin cowok".(gia protes lagi)
"setelah ku pikirkan ternyata tidak ada salahnya memiliki seorang pacar atau suami, setidaknya nanti kamu akan kesulitan menemukan tempat untuk kabur". Ejek kinara.
" tenang saja aku masih punya stok sahabat satu lagi, owh yha mima belum menghubungimu yha, kenapa anak itu semakin aneh".protesnya pada kinara yang kini tengah di sibukkn dengn dokumen di depanya.
*****
__ADS_1