My Avocado Boss

My Avocado Boss
Episode 2


__ADS_3

Bel jam pulang sekolah sudah berbunyi dan murid-murid merapihkan buku-buku untuk pergi ke rumahnya masing-masing, sementara Isabel masih berada dikelas menunggu Reta, mereka berdua sudah memiliki rencana setelah pulang sekolah untuk pergi ke perustakaan.


"Tok... Tok..." Suara pintu diketuk, "Halo Bel," lanjut Reta.


"Eh, darimana aja Ta ? gue tunggu dari tadi loh, mana sendirian lagi dikelas." Gerutunya sambal beranjak dari tempat duduknya.


"Lo kan ga sendiri bel, itu ada Navin masih dibelakang lo," menegaskan bahwa temannya itu tidak sendirian, karena


terlalu serius dengan catatannya sampai tidak sadar ada Navin di belakangnya.


"Seriusan ? kok gue ga nyadar ya ??" sambil melihat kearah belakang untuk memastikan bahwa memang ada orang di belakangnya. Dan benar saja disana ada Navin yang sedang tertidur.


"Gue bangunin aja kali ya, atau kita tinggal dikelas aja kan lucu kayak prank gitu loh, hehehe,"Ucap Isabel


dengan ekspresi jahilnya.“ Usil amat sih Lu, jangan kasihan.” Reta pun mencoba menepis kata-kata Isabel,


"Seriusan ? wah, parah banget sih lu. Biar Gue aja yang bangunin,"


Kemudian Reta berjalan mendekati Navin dan bersamaan dengan itu, dia terbangunkan oleh suara jendela kaca yang terkena angin padahal belum disentuh oleh Reta.


"Pada ngapain sih, berisik tau. Ganggu gue belajar aja."Gumamnya seperti bangun dari jam pelajaran di mimpinya, lalu melanjutkan tidurnya dengan tas sebagai bantalannya.


"Eh, ini jam berapa ya ? gue lupa ga bawa jam," Lanjut Navin sambil mengelus tangannya yang lupa memakai jamnya.


"Jam 2 siang," celetuk Isabel, padahal dia hanya ngasal ceplos aja.


"Beneran ? waduh, setengah jam lagi ada les piano lagi,"Katanya sambil memasukan buku pelajaran terakhir dan buru-buru pergi meninggalkan Isabel dan Reta yang saling melirik satu sama lain.


"Apaan sih tu orang, langsung aja kuy,"Ajaknya yang diikuti anggukan dari Isabel, berarti setuju dengan


ajakan Reta.


***


Setibanya di perpustakaan mereka berdua pun berpisah, Isabel langsung menuju rak sajak sajak lama dan benar saja dia menemukan buku kumpulan sajak Jalaluddin El Rumi, dan saat bukaan acak pertama dia langsung tertuju pada satu sajak.


"Karena cinta segalanya menjadi ada. Dan hanya karena Cinta pula, maka ketiadaan nampak sebagai

__ADS_1


keberadaan."


Tanpa berpikir panjang, Isabel pun mengerti tentang bait dari sajak tersebut. Untuk kepandaiannya menerka sebuah sajak atau puisi memang sudah tidak diragukan lagi, jika kebanyakan wanita seumurannya menyukai puisi tentang Cinta Monyet. Lain halnya dengan gadis ini.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Isabel yang sedang serius membaca buku yang ditemukannya,


"Serius amat, Bel."Kata Reta yang menepuk pundak Isabel.


"Sssshhhh...."gumamnya sambil memonyongkan bibir dan mendekatkan telunjuknya, kode untuk tidak berisik


ditempat itu. Karena kebetulan sekali di perpustakaan ada banyak orang yang berkunjung, tidak seperti biasanya.


"Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu."Lanjut


Isabel mengutip sajak dari buku yang sedang dibacanya.


"Gue nemuin novel bagus banget bel, liat deh,"bisik Reta sambil memperlihatkan buku ciptaan Dewi Dee yang berjudul Aroma Karsa.


"Novel apaa...? wow, ko ada udah ada disini sih. Baik banget sih yang inventariskan buku ini di perpustakaan. Gue salut banget, gue pinjam yah, gue duluan plis." Rengeknya agar bisa dipinjam duluan dari Reta.


Kemudian Reta pun mengiyakan permintaan temennya dengan mengangguk,


Tak terasa waktu menunjukan pukul 4 sore, namun terasa sangat cepat untuk Bukuholic seperti Isabel, padahal dirumahnya dia mempunyai dua laci ukuran sedang berisi kumpulan buku-buku yang dia kumpulkan sejak dari smp. Untuk hobi satu ini orang tuanya tidak menghalangi.


"pulang yu, Bel."Ajak Reta sambil memegang tangan temannya yang masih mencari buku menarik untuk dibacanya selama satu minggu kedepan.


"Emang baru jam berapa ?"lirik Isabel ke arah Reta lalu fokus mencari buku lagi.


Reta pun menunjukan jamnya persis ke depan muka cewe yang masih mencari mangsa untuk disantap selama satu minggu.


"What ?? jam 4 sore, kita harus cepat pulang, aduh kenapa ga ngasih tau sih Ta, hmm...."Sibuknya sambil memilih


buku yang akan dipinjamnya.


"Rusuh banget sih, temen gue ini. Gue udah ngingetin kali Bel, haha." Goda Reta sambil membantu temannya yang sedang memilih buku. "Ayo, kita pulang." lanjutnya.


Mereka berdua pun pergi ke meja tempat tadi menitipkan kartu dan berpindah menjadi meminjam buku, ada 3 buku yang dipinjam Bela.

__ADS_1


***


"Duh, gue laper banget nih, makan dulu yuk, Oh, iya lu pulang lewat mana Bel ?"Tanya Reta.


"Gue ke Angkrek, emang lu kemana ta ?" Sahutnya, "Sama gue juga laper nih, tapi gue harus cepet pulang Ta, gapapa kan ? kapan kapan deh kita makan-makannya,"


"Oh, ya udah deh, gue duluan ya."sambil melambaikan tangan dan berjalan pergi.


Dipertengahan jalan menuju angkot, Isabel melihat mantan pacarnya ada dijalanan Mayor Abdurahman, padahal orang itu baru mengajaknya balikan pas malam tadi.


‘Walaupun gue belum pernah merasakan pacaran sama para cowok yang tinggal di bumi ini, Tapi semua cowok kayaknya sama aja. Tak akan pernah tinggalkan Kamu sampai Aku amnesia, cuih rujit pisan (jijik Sekali).’


“Mana nih angkotnya, lama banget.” Ujarnya kesal karena belum ada angkot yang lewat.


Bela pun berjalan mondar mandir dan “brug,….”menabrak seseorang.


“Apa-apaan nih ?” Teriak orang tua itu, “Upami leumpang teh sing leureus atuh neng (kalo jalan itu yang bener jangan liat hape terus), emang salah Bela sih, tapi..


“Iya pa, tapi bapak juga salah, kenapa malah jalan di samping bukan ditengah trotoar,”tapi kepalanya belum melihat muka bapak itu dan ternyata pas dia liat bukan bapak bapak, tapi pria berusia 24 tahun,


“Yoga? maneh Kamana wae (Kamu kemana aja) ?” Sontak Bela kegirangan, ternyata itu bukan seorang bapak berumur 45 tahun seperti yang bela pikirkan, tapi dia adalah Yoga teman kecilnya waktu di sumedang.


“Ah, aya wae (ada aja), Bela yang kemana aja.” Katanya membalikan pertanyaan Bela tentang kemana aja selama ini, padahal Yoga juga tau Bela pergi ke Bandung dan itulah yang namanya basa basi.


“Kamu mau pulang bel ? ko gelisah banget mukanya.”


“Iya, tapi angkotnya ga lewat terus nih.”


“Bareng Aku aja Bel, soalnya angkotnya lagi demo, biasalah demo kayak gini kan suka mogok kerja alias mogok


narik,”menjelaskan kenapa tukang angkot tidak terlihat hilir mudik.


“Oke, motornya dimana emang ga ?” lalu Yoga pun menunjukan motornya yang diparkir deket warung jus, “kamu mau jus ga ? Aku masih inget loh jus kesukaan kamu, ahay,”


“Emang apa jus kesukaan Aku ?” godanya sambil senyum senyum mengingat masa lalu.


“Jus Alpukat,”Jawab Yoga.

__ADS_1


“Ish mantap sekali,” tepuk tangan mengapresiasi orang lama yang masih mengingat jus apa yang dia sukai, padahal itu sudah 14 tahun yang lalu.


__ADS_2