
Sebelum matahari berada diperaduannya, Bela sudah sampai disekolah, dia duduk di kelas sembari menatap kearah luar jendela, memperhatikan awan-awan yang terus bergerak. Kenapa semua manusia mau menjadi benar selamanya? walaupun salah mereka akan tetap berargumen dan bersikukuh bahwa apa yang ada didalam kepalanya lah yang paling benar dibandingkan dengan argumen atau pendapat yang lain? sebegitu pentingkah sebuah kesalahan yang dibenarkan? walaupun begitu tetap saja kita tidak bisa apa-apa, hanya saja pintar bersilat lidah itulah syaratnya.
Suara bel masuk pun berbunyi dan semua murid yang awalnya mengobrol diteras kelas menuju ke tempat
duduknya masing-masing,
“Teman teman semuanya, untuk hari ini Gue punya 2 pengumuman penting untuk kalian. Yang pertama adalah
Bu Eti tidak masuk dan sebagai gantinya kalian harus menyelesaikan pelajaran halaman 33 dan dikumpulkan sebelum jam 10. Yang kedua adalah paling penting yaitu Arsenia Isabel adalah pacar dari ketua osis kalian yang bernama Navin Arkana,” dengan nada yang jelas dan tegas,
Bela yang daritadi tidak menghiraukan suara bel dan riuh suara kelas, tiba-tiba terkejut dengan apa yang
sudah didengar oleh telinganya sendiri.
“Apa? Gue?” telunjuknya sontak menunjuk dirinya sendiri - merasa tak percaya dengan apa yang sekilas tadi dia dengar.
“Iya, kamu sudah resmi jadi pacar gue mulai dari jam dan tanggal sekarang, coba liat sekarang jam berapa?”
kata Navin menyuruh Bela melihat jam tangannya. Dengan polos Bela pun mengikuti perintah Navin.
“08:08 pagi, tapi tunggu deh, maksudnya apa sih?” raut mukanya tidak bisa tertahankan, mengernyitkan pelipisnya, antara bingung sama gak fokus karena terlalu sibuk memencarkan pikirannya.
“Mulai sekarang lu jadi pacar gue,” Jelasnya,
“apa-apaan sih? Ogah amat gue pacaran sama lu.” Tanpa banyak basa-basi, Bela pun pergi meninggalkan kelas. "Gila, kursi aja belum panas gue dudukin, terpaksa gue pergi daripada jadi bahan omongan tetangga sebelah."
Navin berhasil membuat riuh suasana kelas, dengan teriakan dan teriakan ala-ala kebon binatang yang penuh dengan siamang, mereka memegang kuat hukum rimba - menghakimi Navin yang sedang membual,
“Vin, kejar dong katanya itu pacar lo,” bisik Reyhan, teman Navin yang duduk di kursi paling depan.
Navin pun cepat pergi mengikuti Bela yang berjalan yang entah kemana, namun jalannya seperti tidak asing. Arah yang dituju oleh Isabel, Navin menebak bahwa dia akan pergi ke belakang sekolah. Dan ternyata benar, seorang siswi baru itu akan pergi mabal lewat pagar belakang sekolah.
“Bel, tunggu,” teriak Navin, berharap teriakannya didengar oleh Bela, tapi tidak ada respon dan tak dihiraukan sama sekali, terus berjalan.
“Lu mau kemana Bel?” teriaknya lagi.
“Keluar,” ketusnya.
“Lu mau kabur?”
“Iya, kenapa? Gak suka ?” Katanya, “awas aja kalo lu berani laporin ke guru,”
"galak amat, udah kayak monyet kelaparan aja lu," Navin pun cekikikan dengan candaannya yang krispi itu, sedangkan Bela menaikkan salah satu alisnya Yang ada dipikirannya adalah pertanyaan tentang bagaimana orang garing seperti ini bisa menjadi ketua osis, bruh.
Atas dasar kesepakatan, Navin tidak akan melaporkan Bela ke guru asalkan dia ikut kemanapun Bela pergi. Mereka berdua pun bolos sekolah bersama, walaupun ada rasa ragu dengan keputusannya, Navin terkesan
pemberani padahal dalam hatinya dia takut ketahuan guru lalu diskors satu minggu.
***
Semenjak mantannya mengajak balikan, Bela merubah sikapnya menjadi 90 derajat, dia menjadi tidak fokus pada
pelajaran disekolah. Hal ini membuatnya pindah dari sekolah asalnya, walaupun tanpa alasan yang jelas saat Arfid meminta putus padanya, namun Bela mencoba untuk menerima dan menganggap bahwa seolah-olah tidak terjadi apapun antara dia dan Arfid. Walaupun dalam hatinya terasa sakit, butiran air mata yang membendung dihadapan Arfid akhirnya keluar dengan deras dan semalaman dia menangisi orang yang pernah mengisi hari-harinya. Karena dialah yang mengenalkan Bela arti dari sebuah kesetiaan dan perselingkuhan.
Bela memutuskan untuk melupakan hal-hal yang berhubungan dengan Arfid dengan mencari kesibukan-kesibukan dan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Arfid.
Walaupun begitu Arfid masih mencoba berhubungan baik dengan Bela walaupun hanya sebagai teman, namun Bela tidak bisa menjalin hubungan pertemanan dengan orang yang pernah menyakiti hatinya. Terlebih lagi itu adalah mantan.Mungkin bukan tidak bisa tapi belum bisa menjalin, mana ada orang yang bisa menjalin pertemanan dengan mantan?
5 bulan lamanya, rasa sakit hati itu berangsur-angsur pulih dan bisa melupakan. Angin apa yang merasuki mencoba menjalin pertemanan dengannya, disaat itu pula Arfid mengajak balikan dan Bela tak mengerti apasih
yang ada dipikirannya? ini terasa aneh – walaupun putus nyambung sudah biasa dikalangan remaja. Yah, walaupun dalam relung hati terdalam, Bela tidak mau lagi balikan dan berjanji pada dirinya dan bersumpah demi ikan koi merah yang ada di kamarnya. Setelah dia mendengar pernyataan bahwa Arfid ngajak balikan, Bela pun berpikir untuk memberikan sedikit karma kepada mantannya itu, hal yang sangat ditunggu-tunggu itu tidak boleh disia-siakan. Tidak memberikan kepastian sehingga terus berharap untuk mendapatkan jawaban mencoba menyadari bahwa hati kecilnya masih ada rasa yang tersimpan walaupun tidak sebanyak dulu, tiba-tiba dia melihat Arfid jalan dengan seorang wanita dan bermesraan dijalanan, disaat itu pula hatinya sakit diikuti dengan pemblokiran dan
penghapusan kontak atas nama Arfid dari kontak telepon genggamnya.
Sejujurnya Bela tidak ingin melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu, tapi dia tidak bisa melakukannya seperti dahulu. Walaupun Arfid orang pertama yang membuatnya bisa membuka hati untuk kedua kalinya tapi akhirnya gagal, namun dia juga yang membuat Bela menutup hatinya untuk selamanya.
Tiba-tiba ada tangan mengipas-ngipas persis didepan mukanya, “husshhh,”.
“Bel, lu kesambet apa sih? bengong terus daritadi.” Navin mencoba menyadarkan Bela yang bengong dan diam
mematung.
__ADS_1
“Apa sih, gue kasih tau ya. Kalau lo cuma buat ganggu hidup gue disini tanpa ada aksi buat bikin bahagia,
jangan ngarep bisa dapetin hati putri Bela, Okay. Gue itu tipe cewek yang berpendidikannya akan tinggi dan elegan dan beretika tinggi terhadap dunia PHP (Pemberi Harus Pamrih),” mendongakkan kepalanya tanda kesombongan untuk membuat ilfeel Navin.
“Gue juga bukan orang yang PHP ko!” tegas Navin.
“Ga nanya sama sekali,”
“Terserah lo,” Navin beranjak dari tempat duduknya.
“Lo mau kemana Vin ?” tanya Bela dengan menaikan alisnya sebelah.
“Gue mau pesen makan, daritadi ngeliatin lu bengong. Lo kira gue gak laper.”
Bela hanya memperhatikan Navin yang beranjak dari kursinya lalu pergi ke meja kasir untuk memesan makanan. Bela tau bahwa dia belum bisa membuka hatinya untuk orang baru, yaitu Navin. Bela berpikir bahwa dia akan dibodohi oleh cowok lagi, dia tidak akan rela air matanya menetes karena kebodohannya sendiri.
Bela lalu berdiri dari tempatnya lalu menghampiri Navin, dia merasa lapar juga setelah berpikir hal yang belum terjadi.
“Vin gue juga laper, sini gue yang tulis, gue pesan roti bakar dengan selai stroberi tapi susunya jangan
banyak-banyak sama goreng kentang. Lo pesen apa Vin ? lama banget sih nulis aja”
“Pancake oreo dengan madu, minumnya jus apel mix sirsak.”
“Oke,” jawab Bela.
Mereka berdua pun kembali ke kursinya masing masing, di cafe memang sedang tidak banyak orang karena
masih pagi.
“Gue suka sama lo Bel, dari awal kita ketemu sampai sekarang,” kata Navin santai.
“Alasannya?” tanya Bela.
Navin pun tersenyum dengan mata yang berbinar-binar, lalu dia mencuri-curi pandang Isabel. Padahal Isabel
melihat gerak-gerik Navin seperti harimau yang siap menerkam buruannya, Navin tertunduk dan tak nyaman karena terus dilihat Bela. Navin terlalu pengecut untuk cinta. Mari kita lihat apa yang akan Navin katakan dan lihat bagaimana Bela meresponnya.
Bela terdiam dengan penjelasan Navin, dia menahan dagu dengan tangannya dan menatap ke arah Navin.
“Lo ga tau apa artinya cinta kan ?”
Navin mencoba menjelaskan secara rinci arti dari mimpinya itu, bahwa dia akan bertemu dengan jodohnya
dalam waktu dekat. Dan Bela terlihat antusias dengan penjelasan Navin atau mungkin dia tidak percaya dengan tabir mimpi.
“Gue sih gak masalah, kalau lo percaya sama yang begituan, lagian itu hak lo sebagai manusia.” Ujar Bela
dengan wajah polos, dia tidak ingin mengecewakan Navin dengan jawabannya
“Jadi gimana jawaban lo ?” tanya Navin.
“Gue pikir pikir dulu deh,” jawabnya santai.
Pesanan pun datang, setelah mereka menunggu cukup lama dan membuat Bela terbebas dari pertanyaan Navin.
“Setelah makan kita ke sekolah lagi ya,” Navin mencoba merayu Bela untuk kembali ke sekolah. Bela
menggelengkan kepalanya karena mulutnya sedang mengunyah makanan. Kapan lagi dia bisa bolos sekolah dan pergi bebas tanpa ada aturan?
***
Lonceng cafe berbunyi dan seseorang berjalan melewati meja Navin dan Bela, Rupanya Bela kenal dengan
wanita yg usianya kira kira sama dengannya, dia adalah orang yang dia lihat berjalan dengan Arfid. Ketika cewek itu duduk di belakang Bela, mulutnya pun tidak sabar untuk menyindir.
“Vin, pokoknya lu jangan selingkuh dan jangan mau jadi selingkuhan wanita mana pun ya, gue gak suka sama
perebut pasangan orang.”
Navin terdiam dan mukanya datar, matanya melihat Bela yang tidak jelas sedang berbicara apa.
__ADS_1
“Kalau gue sih ogah jadi selingkuhan orang, itu kan masih rentalan orang lain, masa gue embat, aduh engga banget. Mending cari yang milik gue sendiri sih, daripada rebut pacar orang.” Lanjut Bela semakin keras suaranya dengan harapan didengar oleh cewek itu.
Navin makin engga ngerti dengan tingkah Bela, dikira sedang kesurupan atau apa. Navin mendekatkan tangannya ke dahi bela, mengecek apakah Bela baik-baik saja.
“Suhu tubuh normal kok, lo kenapa Bel ?”
Sindiran bela menjadi-jadi membuat cewek tadi terganggu, lalu beranjak dari tempatnya menuju meja Bela.
“Mohon maaf kak, jangan terlalu berisik karena ini tempat umum. Atau mungkin lo nyindir gue ya?” ketusnya.
“Kalo iya emang kenapa? Gue tau kalo lo itu pacarnya Arfid kan?” tembak Bela.
Ternyata cewek itu bernama Berlian, dia tidak tahu apa yang sedang dia hadapi. Walaupun memang benar dia
adalah kekasih dari Arfid. Bela dengan gamblangnya mengatakan hal-hal yang selama ini dia simpan rapat-rapat, karena ulah pacar Berlian sendiri, yaitu Arfid.
“Lo kenapa bilang kayak tadi ke gue? gak ngerti lagi. Pertama kita baru ketemu disini dan kedua ada urusan apa dengan Arfid, kalo memang Arfid pacar gue terus masalah buat lo apa?“
“Lo itu perusak hubungan gue sama Arfid, coba pikir deh ko bisa sih ngerebut pacar orang terus berlaga pilon.” Kedua tangan Bela terlipat di dada, lalu menatap Berlian dengan tatapan jengkel dan buang muka.
“Maaf banget ya, lo ngomong apa tadi? Perusak hubungan? Hello, gue sama Arfid itu udah pacaran selama 5
bulan 2 minggu. Lo mikir gak sih gimana tanggapan Arfid kalo atau kelakuan lo kayak gini. Kalau misalkan udah mantan itu ya jangan dipikirin lagi sis.”
“Lo ga ngerti, karena…,” Bela menatap Berlian dengan seksama, seharusnya tidak seperti ini. Mungkin Berlian juga benar, Bela seharusnya melupakan Arfid. Tapi kenyataannya dia sendiri yang mencoba kembali untuk membuka luka itu dan mengobatinya.
“Mungkin, emang gue gak ngerti gimana lo bisa cinta banget sama Arfid, tapi…” Bela memotong pembicaraan
Berlian.
“Tunggu, bukan gue yang cinta banget sama Arfid. Tapi dia ngajak gue balikan dan gue masih gantungin
dia. Puas lo ?” mencoba membeberkan fakta yang ada.
Berlian diam, ia tersenyum tanpa dosa. Namun terlihat dari ekspresinya bahwa dia terkejut dengan omongan
yang baru saja terlontar dari cewek yang ada di depannya.
“Gue gak yakin dengan omongan lo, intinya gue gak ada niat buat nyakitin lo dan begitu juga sebaliknya,” ujar Berlian mencoba tersadar.
“Oke, fine. Tapi gue putus dari Arfid itu sudah 5 bulan 1 minggu, yang mana lu itu merusak hubungan gue, oke. Pernah ga sih lo liat kontak Arfid atau liat gelagat anehnya dia, kalo dia itu masih dalam hubungan gitu?”
“Maksudnya gimana? maaf otak gue ga bisa mencerna omong kosong. ”
“Lo kan cewek, masa gitu aja ga ngerti sih.”
“Maksud lo, gue harus tau kalo cowok yang jadi gebetan gue itu masih jadi pacar orang? Buat apa sih gue
mikir sampai segitunya, kalau cowok itu mau deketin gue terus gue suka dan nyaman sama dia kenapa harus mikir yang lain-lain? Toh masalah gue ga cuma itu aja, banyak yang harus gue pikirin. Jadi intinya lo gak berhak melarang cowok, eh maksudnya mantan lo itu deket sama siapa aja.”
“Terserah deh….,” Bela membuang muka dan mencoba fokus ke Navin yang dari tadi menikmati cekcok antara
dua cewek.
“Tolong banget lo jangan balikan lagi sama Arfid, kalo misalkan ngeyel, gue sih gapapa, mungkin gue
bakal ngelabrak lo kayak yang lagi lo lakuin sekarangtapi lebih dari ini, lalu gue cari cowok baru deh, lagian cowok di dunia ini masih banyak kok, ga cuma Arfid.” Berlian pun meninggalkan Bela dan Navin.
"Lo kenal cewek itu ? salut banget lo bisa ngelabrak dia tanpa ampun. Dia itu ga ada apa-apanya dari lo, cuma menang cantik, seksi sama modis aja." celotehnya dan masih bingung dengan apa yang telah terjadi tadi.
"Kenal cuma sekilas doang, ngerti ga sih, cewe mana sih yang ga kesel kalo cowoknya direbut cewek lain."
Bela coba menceritakan kenapa dia bisa menyindir cewek itu, yang pasti kenapa ada cewek yang mau merebut pacar orang, apakah ada kesan atau kenikmatan tersendiri kalau sudah mendapatkan pasangan orang lain ? aneh memang tapi banyak yang melakukannya, Demi Lovato atau demi apapun itu memang tidak termasuk
musyrik tapi menghina diri sendiri.
"Jadi ceritanya gitu doang ?" Menyepelekan kejadian yang sudah dialami Bela.
"Maksud lo ? gitu doang gimana ?"
__ADS_1
"Gara-gara cowok kalian beradu mulut kayak tadi ? sekeren apa sih cowok yang kalian rebutin, emangnya bisa jamin masuk Surga kalo lo dapetin dia, udah tahu bejad kenapa dipertahanin. Mendingan buang kelaut aja, toh masih banyakikan di luaran sana." Kata Navin mencoba menasehati Bela.