
Betul saja ternyata di Ruang osis sudah berkumpul semua anggota, sudah ada bendahara,sekertaris dan para seksi-seksi sudah ikut berkumpul kecuali seksi acara masih di luar mengumpulkan vote yang sudah dibagikan kepada ketua murid (KM) di kelas, tentang acara apa yang lebih dipilih oleh para murid untuk pensi kali ini. Untuk acara pensi kali ini yang dijadikan pilihan adalah prom night, band acoustic indie dan panggung acara
adat.
Tak lama kemudian Tuti dan anggota seksi acara datang membawa kotak berisikan pilihan murid-murid untuk pensi kali ini.
“Guys, Gue sama tim acara udah bikin vote dan setelah kami hitung, yang menang ternyata prom night sama band acoustic hasilnya seri, jadi gimana ?” Ucap Tuti. Semua orang yang ada di Ruang Osis lalu membuat statement setuju dan tidak setuju, kebanyakan dari mereka lebih memilih prom night untuk kelas 3 dan panggung acara adat dalam rangka kenaikan kelas 1 dan 2.
"Kalo gue sih kelas 1 dan 2 kita adakan panggung acara adat dan kelas 3 baru prom night, gimana ?" Lanjut Tuti.
“Gue lebih setuju sama Bunda Kepala sih, selain memperkenalkan kebudayaan kita juga bisa menjadikan ini kenangan yang indah dengan budaya.” Jawab Navin dengan percaya diri, selain pecinta sastra dia juga pecinta kebudayaan dan pariwisata.
“Oke Ketua sudah menentukan kebijakan ini, apakah ada yang punya beragument lain ? jika ada silahkan angkat dan suarakan saran kalian sekarang,” Kata Tuti kepada semua anggota osis, sepertinya semua sudah setuju dengan ide dari Navin.
Setelah mendapatkan idenya, anggota osis pun berkumpul sesuai dengan bidangnya masing-masing untuk menentukan konsep, pemain yang akan diikutsertakan dan lain sebagainya. Sebagai seorang ketua osis, Navin harus pulang lebih akhir dari yang lainnya untuk memeriksa ide-ide yang sudah dibuat oleh teman-temannya. Navin tidak melihat anggota lain sebagai bawahannya, sebaliknya, dia menganggap anggota yang lain sebagai teman atau partner, biar lebih enak dan santai.
Jam menunjukan pukul 18:00 WIB, sudah waktunya pulang ke rumah dan Navin pun bersiap-siap pulang dengan sepeda motornya yang terparkir dekat pos satpam. Angin berhembus malas, suara riuh dedahanan pohon dengan saat sedang memanaskan mesin motor, seseorang menepuk pundaknya dan dia kaget setengah mati karena lampu yang remang-remang dan jam segini sudah dipastikan tidak ada orang berlalu lalang di sekolah, kecuali penjaga sekolah.
__ADS_1
“Vin,” Terdengar suara dari belakangnya, lalu ada tangan menyentuh pundak membuatnya bergidik. Tubuhnya refleks bergerak.
“Siapa lo,” Teriaknya sedikit rasa takut menghantui.
“Bwa..” Mang Diman mengagetkan Navin dengan loncat dari bawah, yang sedari tadi dia jongkong memanggil nama Navin.
“Kirain siapa, Gue udah siap kuda-kuda nih, haha,” jawab Navin menenangkan dirinya,
“tumben baru pulang, sBundak banget yah jadi osis itu ?” Tanya keheranan, padahal dia sering liat anak ekstrakulikuler lain pulang malam lebih dari jam 21:00 untuk persiapan lomba dan pentas
“Biasa ajalah, namanya juga bikin kesBundakan biar engga jenuh di rumah.”
“Saya duluan ya kang,” ucap Navin lalu meninggalkan Mang Diman di parkiran.
Navin pun mengendarai sang kuda besi yang sudah menemaninya selama 2 tahun lamanya, motornya adalah warisan dari kakeknya, Vespa GS 150 berwarna merah. Dan umurnya pasti lebih tua darinya, selain itu dia rawat motornya itu seperti keluarganya sendiri.
Sesampainya di rumah dan memarkirkan motornya, dia pun pergi ke kamar dan membersihkan diri.
__ADS_1
“Buenas Noches (selamat malam), Aden Bagus.” Sambutan hangat yang berasal dari Bi Neir, Navin memanggilnya Bi Nair. Pekerja rumah tangga yang sudah dianggapnya Bunda kedua dan teman diskusi bahasa spanyolnya, karena Bi Nair pernah jadi TKW di Spanyol.
“Buenas (malam), Mami sama papi belum dateng bi ?” Tanya Navin sambil melihat ke sekitarnya. “Malam ini pasti tidak akan datang lagi, padahal janjinya hari ini akan pulang ternyata bohong, “ Ucapnya dalam hati, Navin sepertinya terbiasa dengan bualan dari kedua orang tuanya.
“Makanannya sudah tersedia di meja makan, kesukaannya Aden loh, pokonya maknyus,” Ucapnya sambil menirukan chef Bondan Winarno. “Bibi ke belakang dulu ya, mau baca kamus spanyol-indonesia persiapan debat bareng Aden,” lalu menghilang dari area meja makan.
“Semangat Bibiku tersayang,” tak lama kemudian Navin memanggil Bi Nair untuk menemaninya makan,
“Bi, kesini sebentar, temenin makan dulu.”
“Iya Den,” Bi Nari setuju dan tidak menolaknya.
“Bi, kenapa di rumah sebesar ini aku masih merasa hampa ya ? padahal orang orang sepertinya menginginkan istana ini, tapi aku sebaliknya,” Kata Navin lalu melahap masakan bibi yang beneran enak.
“kenapa berpikiran seperti itu ?” sahutnya Bi Nair coba untuk membuka pandangan Majikannya yang sudah dianggap anak, karena sedari kecil Navin bersama dengannya. Disisi lain Bi Nair kesal dengan ucapan Navin karena tidak tahu bagaimana merasakan tidak punya tempat tinggal, dan tinggal beratapkan langit, disisi lain dia mengerti kenapa Navin begitu.
“Sudahlah, sepertinya aku sedang banyak pikiran. Makan yang banyak bi,” Navin mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
Suara angin malam kemarau dengan baunya yang khas masuk ke dalam kamar Navin, melalui ventilasi udara diatas jendela kamarnya, Suara Jared Leto yang melantunkan lagu from yesterday.