
Ace lalu berjalan keluar dari ruangan Ruby untuk pulang ke rumahnya. Saat Ruby hendak berjalan menuju kursi kerjanya, dia melihat sesuatu barang milik Ace yang tertinggal di sofa tersebut. Ruby lalu mengambil barang tersebut yang merupakan sebuah gelang dengan liontin yang sama seperti kalung milik Ace tadi. Ruby lalu berlari mengejar Ace ke depan boutique tetapi dia tidak bisa menemukannya di sekitar sana. Seolah - olah Ace telah lenyap di telan bumi karena sepertinya tidak mungkin jika dia hilang begitu saja sedangkan Ruby dan Ace memiliki selisih waktu yang tidak terlalu jauh ketika dirinya mengejar Ace ke depan. Seharusnya Ace masih berada di sekitar boutique miliknya tetapi ketika Ruby mencari kesana kemari tidak menemukannya juga. Dia sebenarnya manusia atau bukan karena dia terlalu aneh sebagai seorang manusia biasa, begitu kira - kira gumam Ruby. Karena tidak bisa menemukan Ace, Ruby akhirnya menyimpan gelang tersebut di saku blazer miliknya dan kembali ke ruangan kerjanya.
Ace adalah seorang pangeran di istana bulan. Dia merupakan putra kedua dari Raja Mois dan Ratu Celena. Ace mempunyai kakak laki - laki bernama Amaris dan adik perempuan yang bernama Mona. Sebelumnya sebelum bertemu dengan Ruby, Ace sedang memperhatikan keadaan bumi bersama guru Badar. Saat sedang fokus memperhatikan dan mempelajari apa yang terjadi di bumi, pandangan Ace tiba - tiba tertuju pada suatu wanita yang sangat cantik dan memiliki aura yang bersinar. Semenjak saat itu Ace tidak bisa berhenti untuk memikirkan wanita tersebut hingga saat pelajaran bersama gurunya, Ace terus menerus memikirkannya. Sampai di setiap waktu luangnya, Ace pergi ke ruangan pelatihannya untuk melihat wanita pujaannya. Ace menjadi jarang bermain bersama kakak dan adiknya hingga menghabiskan waktu bersama keluarganya. Semua anggota keluarganya merasa penasaran dengan tingkah Ace tersebut hingga mencari tau penyebab mengapa Ace menjadi sangat berbeda. Hingga suatu hari saat dia sedang belajar dengan guru Barda, Ace mulai bertanya sesuatu kepada gurunya tersebut.
"Guru Barda, apakah aku bisa pergi menemui seorang di bumi?" tanya Ace.
Guru Barda merasa terkejut.
"Mengapa tiba - tiba kamu bertanya seperti itu Ace?"
"Aku ingin menemui seseorang yang selalu membuatku tidak berhenti untuk memikirkannya."
Guru Barda tersenyum.
"Apakah kamu sedang jatuh cinta kepada seseorang?"
"Apa itu jatuh cinta guru?"
"Jatuh cinta itu adalah perasaan dimana tiba - tiba kamu terus menerus memikirkannya dan yang membuat hatimu berdegup dengan kencang saat kamu melihatnya, tetapi jatuh cinta juga bisa di definisikan dengan rasa kagum terhadap seseorang karena sesuatu hal."
"Benarkah begitu?"
"Ya kira - kira sepengetahuan saya begitu sih."
Ace mengangguk paham.
"Oh seperti itu."
"Memangnya siapa yang membuatmu jatuh cinta Ace?" tanya guru Barda merasa penasaran.
Ace lalu menggunakan kekuatannya untuk mengamati bumi kembali, seperti yang sudah diajarkan oleh guru Barda.
"Mana ya, kok tidak ada?"
"Coba cari kembali dengan lebih teliti!" perintah guru Barda.
Tiba - tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan pelatihan Ace.
"Hai Ace ayo main, eh ada guru Barda."
"Putra mahkota Amaris, bagaimana dengan pelajaranmu hari ini?" tanya guru Barda saat menoleh ke arah Amaris.
"Ya begitulah guru, itu Ace sedang apa?"
"Pangeran sedang mencari seseorang yang berasal dari bumi."
__ADS_1
"Oh begitu," jawab Amaris sembari mengangguk.
"Ini dia, sudah ketemu!!" teriak Ace yang matanya masih tertuju kepada wanita tersebut.
Guru Barda dan Amaris lalu melihat ke arah yang di tunjuk oleh Ace, lalu mereka bertiga mengamati wanita tersebut.
Amaris kemudian bertanya.
"Siapa wanita itu, dan kenapa kamu mencarinya?"
"Sepertinya aku mulai jatuh cinta kepadanya kak, lihat saja tubuhnya yang bersinar dengan terang serta wajahnya yang cantik mempesona."
"Ah kamu ini Ace. Jadi akhir - akhir ini kamu menjadi aneh gara - gara wanita itu?"
"Sepertinya begitu kak. Guru Barda, tolong beritahu aku untuk menemuinya."
"Tidak bisa, kamu harus meminta izin kepada ayah dan ibu terlebih dahulu sebelum pergi Ace," ucap Amaris.
"Ucapan pangeran mahkota Amaris benar, kamu harus meminta izin terlebih dahulu kepada Raja dan Ratu," ucap guru Barda mengingatkan Ace.
"Baiklah, nanti aku akan meminta izin terlebih dahulu kepada ayah dan ibu saat makan malam."
Setelah itu pelajaran dari guru Barda telah selesai dan guru Barda pamit untuk pulang. Amaris lalu mengajak Ace untuk bermain di halaman istana seperti biasanya. Setelah itu mereka berdua memancing ikan di kolam istana sembari bercerita satu sama lain, dan Ace mulai menceritakan tentang wanita pujaannya tersebut kepada Amaris. Beberapa jam kemudian saat makan malam, semua anggota keluarga berkumpul dan menikmati hidangan makan malam masing - masing. Mereka semua menyantap hidangan tersebut dengan tenang dan damai. Setelah selesai makan malam, Ace merasa jika ini waktu yang tepat untuk menyampaikan keinginannya kepada kedua orang tuanya yaitu meminta izin untuk pergi ke bumi menemui seseorang.
"Ayah, ibu aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting kepada kalian."
"Aku ingin ke bumi."
Semua orang terkejut mendengar ucapan Ace, terkecuali Amaris yang sudah mengetahui niat adiknya tersebut.
Raja lalu bertanya kepada Ace.
"Memangnya ada apa di bumi sampai kamu ingin pergi kesana?"
"Ada seseorang yang ingin aku temui ayah," ucap Ace merasa gugup.
"Siapa orang itu?" tanya raja sedikit membentak.
Ratu Celena mencoba menenangkan raja.
"Tenanglah dulu suamiku, kita tanya pelan - pelan agar Ace mau menjawabnya."
Raja Mois menghela nafasnya.
"Baiklah, coba ceritakan siapa orang itu dan kenapa kamu sangat ingin menemuinya."
__ADS_1
"Aku belum mengetahui namanya, tetapi sepertinya aku mulai jatuh cinta kepadanya ayah."
"Jangan bodoh kamu, bagaimana kamu bisa berfikir seperti itu?"
"Aku juga tidak tau kenapa aku bisa seperti ini ayah, dan andaikan aku mempunyai jawabannya pasti sudah aku jawab pertanyaan ayah. Tolonglah ayah, izinkan aku untuk menemuinya sekali saja dan setelah aku mengetahui namanya aku pasti akan pulang."
"Ayah akan memikirkannya terlebih dahulu." Setelah itu Raja Mois pergi meninggalkan ruang makan bersama dengan Amaris.
"Baiklah ayah," ucapnya merasa sedikit lega.
Ratu Celena lalu menghampiri Ace dan bertanya kepada Ace.
"Seperti apa wanita yang ingin kamu temui?"
"Dia sangat cantik dan tubuhnya memiliki aura yang sangat bersinar seperti bulan purnama ibu."
"Terus?"
"Aku akhir - akhir ini selalu memikirkannya sejak pertama kali aku melihat wajahnya. Apakah aku mulai jatuh cinta kepadanya ibu?"
Ratu Celena berfikir sejenak
"Sepertinya begitu, lagipula kamu juga sudah menginjak usia yang cocok untuk mengalami jatuh cinta."
"Kalau begitu tolonglah aku untuk berbicara kepada ayah."
"Baiklah nanti ibu akan mencoba berbicara kepada ayah."
Setelah itu Ratu Celena pergi menemui Raja Mois untuk membicarakan hal tersebut kepadanya, sedangkan Ace pergi ke kamarnya. Ratu Celena lalu menghampiri Raja Mois yang sedang duduk di tepi ranjangnya.
"Aku tau ini pasti sangat sulit untuk memutuskannya."
"Kamu benar istriku, aku hanya takut jika dia tidak akan kembali lagi atau bahkan dia di sakiti di sana oleh orang - orang yang jahat."
"Iya aku tau, tetapi kita tidak bisa membiarkannya untuk bersedih dan merasa penasaran kan?"
"Lalu aku harus bagaimana?"
Ratu Celena lalu tersenyum
"Izinkannya untuk pergi menemui wanita itu hanya untuk sebentar, dan jika dia tidak mau kembali aku sendiri yang akan membawanya untuk pulang"
"Baiklah aku akan mengizinkannya, dan aku akan meminta salah satu orang kepercayaanku untuk memantaunya."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Ya apa boleh buat jika kamu sudah berbicara kepadaku seperti itu."