My Darkness Girl

My Darkness Girl
01. Dia Yang....


__ADS_3

"Harapanku sangat sederhana, cukup kamu jangan pernah mencoba menjangkauku. Dan jangan coba bertanya sebab mengapa aku seperti ini."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


      Sebuah mobil sport putih mendadak menghetikan lajunya ketika sebuah motor muncul dari sebuah gang, yang menyebabkan motor beserta pengendaranya jatuh. Si pengendara motor tadi lalu menghampiri mobil itu. Sedang seseorang yang tengah duduk dibalik kemudi menatap malas ke arah luar. Pria yang masih berseragam SMA tadi mengetuk kaca mobil, sembari memberi isyarat untuk pemilik mobil turun dari mobil.


"Ck ck...Ya ampun. Tuh orang pake acara nyamperin lagi...." Decakan itu berasal dari gadis lain yang duduk disebelahnya, Nisa.


"...."


      Kaca mobil perlahan turun, menampilkan wajah datar cewek yang duduk dibalik kemudi. Menatap pada cowok yang tampak tertegun, terpukau menatap ciptaan tuhan yang waw banget.


"Ekhem." cowok itu berusaha mengontrol dirinya dari keterpukauan. "Hai. Kenalin gue Rayhan. Nama lo siapa?"tanyanya setelah terdiam beberapa detik.


"...." cewek beriris biru tersebut diam tak menanggapi, tetap menatap Rayhan dengan malas.


"Gak usah diladenin deh, Gin. Kita cabut aja, keburu telat nih."


Gina menatap tajam pada Nisa, dia paling tidak suka diperintah. Nisa yang sadar telah melakukan kesalahan segera mengucap maaf kepada Gina dengan cengiran bodohnya.


"Sorry, sorry...."


"...." Tanpa mengatakan apapun, Gina menancap gas. Meninggalkan Rayhan dengan wajah syok.


"Anjay di kacangin gue ." Gumamnya, lalu sebuah seringaian tercetak di bibinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


     Semua mata memandang pada mobil sport putih yang dikendarai Gina tepat ketika sang ratu es turun dari mobilnya. Seluruh warga sekolah masih enggan mengalihkan perhatian mereka dari dua cewek yang salah satu dari keduanya telah menjadi buah bibir warga sekolah tiap harinya. Di koridor pun, yang tadinya ramai mendadak sepi. Semua diam, membuka jalan seakan mereka adalah pagar hidup.


     Semua itu tak luput dari perhatian seorang cowok yang baru saja keluar dari ruang guru. Namun, beberapa saat setelahnya sosok itu pergi. Tak ingin membuang waktunya untuk hal-hal yang kurang berfaedah.


∞O∞


Kantin


     Baru beberapa menit yang lalu bel istirahat menggema, kantin sudah dipadati oleh kaum-kaum kelaparan setelah bertempur dengan mata pelajaran hari ini. Tak terkecuali dua gadis cantik yang sedari tadi menjadi pusat perhatian.


"Lo mau pesan apa, Gin?" tanya Nisa pada sahabatnya, Gina.


"Apa aja, terserah."


"Oke deh. Tunggu bentar, ya."


Baru saja Gina mengambil tempat duduk, seseorang sudah lebih dulu. Ditatapnya cowok berkacamata itu dengan tatapan mengitimidasi. Berbeda dengannya, Arya  bahkan tak menatapnya. Memilih mengabaikan, dan fokus pada makanannya sendiri.

__ADS_1


Gina masih saja menatap Arya dengan tajam, sebelum menutup matanya sejenak. Lalu menarik kursi tepat dihadapan cowok itu. Sebab, memang tinggal meja itu yang tersisa. Hari ini, kantin benar-benar penuh.


Tak lama kemudian, Nisa datang dengan dua mangkok bakso dan segelas es teh serta segelas susu coklat kesukaan Gina.


"Nih, sorry sengaja lama tadi. Hehehe...."ujarnya. Seperti biasa, Gina tak banyak berkomentar.


Menyadari ada seorang makhluk lain di meja mereka, Nisa menolehkan kepala ke depannya. Dan detik itu, matanya membelalak tak percaya ditambah kondisi jantungnya yang menggila.


Astaga! Bagaimana cowok yang ditaksirnya bisa nyangkut disini. Ya ampun.


'Ini gue mimpi atau apa?'


"Napas, Sa." Nisa menoleh kesamping, kemudian menampilkan senyum bodoh khasnya.


Dan mereka melanjutkan makan dalam diam, namun sesekali Nisa mencuri pandang ke arah Arya dengan malu-malu tikus. Idih🙄


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


"Gin, tadi kok bisa si Arya nyangkut di meja kita?" tanya Nisa saat mereka berada di koridor menuju kelas, senyumannya masih tercetak.


"Udah penuh tadi." Seperti biasa muka flat mode on selalu menemani.


"Oh gitu yaaa...Ah, baru kali ini gue bisa dapat kesempatan emas duduk bareng pangeran gue... Aahhhh." Ujar Nisa dengan wajah berbinar.


Selama di koridor maupun di kelas, tak ada sapaan yang mereka dapatkan. Tak ada satupun yang berani mendekat. Itupun jika mereka masih ingin tetap aman di sekolah. Masih terekam jelas di ingatan mereka bagaimana Gina mempermalukan kakak tingkatnya dihadapan seluruh warga sekolah.


∞O∞


Saat Itu....


Gina yang tengah menikmati bakso tiba-tiba di datangi tiga orang cewek. Salah satu dari mereka mendobrak meja yang di tempati Gina. Namun, Gina tak peduli dan tetap makan.


"Woi! Minggir lo. Ini meja kami." ujar si  cewek rambut sebahu. Gina? Dia masih tak acuh, menunduk menyantap semangkuk baksonya.


"Lo budek?" bentak si cewek dengan eyeliner tebal.


Gina tetap bergeming. Tiba-tiba cewek yang sedari tadi bersendekap menghentakkan sendok berisi kuah bakso. Alhasil kuah tadi menumpahi seragam putihnya. Gina menatap nanar pada bajunya. Tatapannya beralih ke cewek dihadapannya.


"Apa? Gak terima?" Ia tersenyum sinis. Bahu Gina tampak naik turun. "Wah, dia marah guys...Ahahaha!" tawa ketiganya berhasil membuat Gina semakin emosi. Digebraknya meja itu hingga dua kaki penyangganya patah. Sontak tawa mereka lenyap seketika. Suasana kantin tiba-tiba menjadi tegang. Mereka menatap ngeri pada gadis yang menjadi pusat perhatian. Beberapa juga melongo melihat kaki meja yang patah hanya satu gebrakan dari seorang Gina. Wow.


Nisa yang baru saja kembali dari toilet, memandang bingung ke arah pengunjung kantin. 'Kenapa mendadak sunyi gini.' Lalu matanya mengikuti arah pandang mereka semua. 'Astaganaga!' Buru-buru ia berjalan mendekat.


"Gin..."panggilnya lirih. Sebenarnya dia juga takut, apalagi melihat mata Gina yang tak lepas dari Sania. Dengan ragu, Nisa memegang bahu gadis itu lalu mengusapnya. "Gin, tenang...." ucapnya. Dan berhasil, perlahan napas Gina kembali normal.


Gina memejamkan matanya sebentar. Detik kemudian, ia memberi tatapan tajam kepada ketiga gadis yang sudah pucat. "Kalian bertiga! Ikut saya ke kantor sekarang juga!" perintah seorang guru dari pintu kantin.

__ADS_1


Ketiganya kemudian mengikuti bu Lina, sang guru killer, dengan kepala tetunduk takut. Salah satu dari mereka menoleh ke arah Gina. 'Siapa sebenarnya anak baru itu?'


"Berhenti!" Gina menatap orang-orang di depannya dengan datar. "Siapa yang suruh Anda boleh membawa mereka?" tanyanya sarkastik.


Bu Lina memandang remeh pada siswi yang kurang ajar ini. "Kamu memerintah ibu?"


"Tinggalkan mereka di sini. Saya belum selesai dengan mereka." Gina kembali berujar tanpa menghiraukan perubahan mimik sang guru.


"Gin..." Nisa berusah menegurnya namun, telapak tangan Gina kembali membuatnya diam.


"Kamu berani sama saya?" kini bu Lina bertanya dengan nada sarkastik.


"Bukan. Urusan. Anda." ujarnya dengan penuh penekanan. "Sekarang Anda tinggalkan mereka di sini, atau Anda yang akan saya buat minggat dari sekolah ini?" lagi-lagi perkataan yang keluar dari mulut Gina, membuat bu Lina semakin naik pitam.


"Kamu!" Bu Lina tak bisa melanjutkan perkataannya ketika suara bariton dari belakangnya menginterupsinya.


"Ada apa ini?" ternyata pemilik suara itu adalah kepala sekolah SMA Neverland.


Bu Lina langsung menunjuk Gina, "Anak ini, sudah berani kurang ajar sama saya pak." adunya.


Pak Wisnu menatap Gina dan bu Lina bergantian. "Argina?" panggilnya.


"Saya tidak butuh Anda percaya. Saya hanya perlu menyelesaikan urusan saya dengan tiga cewek ini."


"Baik. Bu, Anda boleh meninggalkan mereka di sini." tentu saja pernyataan dari sang pimpinan sekolah, membuat bu Lina mengernyit tapi tak urung juga beliau pergi dari sana dengan kedongkolan. Menyebalkan.


Sedang pak Wisnu segera berlalu dari sana. Kini kantin kembali tegang.


"Kalian ikut saya atau tetap disini."


Dengan keberanian yang udah sangat tipis, Sania menolak dengan tegas. "Di sini aja." Yang membuat Gina mengangguk, "Oke."


Ia melangkah ke arah salah satu penjual di kantin, "Pak, saya minta air kotornya." pinta Gina dengan wajah selempeng tembok.


"I-iya, tunggu sebentar ya neng." pak Mamat masuk ke dalam dan kembali dengan seember air bekas cuci piring.


Tanpa mengatakan terimakasih Gina membawa ember itu. Dan tanpa aba-aba, Gina mengguyur ketiga cewek tadi. Sontak semua penghuni kantin dibuat melongo.


"Itu balasan atas apa yang Anda lakuin ke baju saya. Dan karena berani mengusik saya." Dipandangnya ketiganya satu per satu. "Ah, ya satu lagi. Ini terakhir saya melihat wajah-wajah Anda." Sekarang, Gina sudah seperti seorang psiko. Ya ampun.


"Gin..." panggil Nisa. Ia takut Gina akan melakukan ancamannya. Segera ia meraih tangan Gina dan membawanya dari sini. Syukurlah Gina mau pergi juga.


∞O∞


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2