My Darkness Girl

My Darkness Girl
7. Emosi


__ADS_3

          Asyila baru saja membuka pintu apartemennya ketika melihat orang yang di tolongnya semalam, berjalan ke arah dapur. Mata sayunya mengawasi orang itu. Ia mengerjap beberapa kali, lalu berdehem. Orang itu menoleh, menaikkan alisnya sebelah.


"Udah baikkan?" pertanyaan dari Asyila membuat Gina yang tengah membuka kulkas kembali menatapnya.


"Yeah, seperti yang Anda lihat." ujarnya, mengambil botol air kemudian menutup lagi kulkasnya.


Asyila hanya mengangguk, lantas meninggalkan Gina ke kamarnya.


'Gini ya ternyata ngobrol sesama yang irit ngomong.'–batin Gina. Gadis itu kini tengah meminum air dingin yang di bawanya tadi sembari menunggu empunya apartemen. Berniat pamit?


           Sepuluh menit kemudian Asyila sudah ikut duduk di hadapan Gina. Untunglah tadi Asyila tidak tidur di toilet seperti yang sudah-sudah. Ingatlah, Asyila adalah salah satu orang yang selalu tertidur di mana pun tempat ternyaman menurutnya. Bahkan di toilet pun, apalagi di bathup salah satu tempat favorit Asyila selain ranjangnya tentu saja. Eh, kenapa malah bahas tentang si Asyila-Asyila ini. Oke back to topic.


           Asyila masih menatap Gina dengan sesekali menguap. Keheningan seperti ini membuatnya ingin menutup kedua matanya. Gina berdehem sebentar. Ia sebenarnya agak kesulitan untuk mengatakan kata yang memang jarang bahkan tak pernah dia ucapkan pada orang lain.


"Ehm, saya mau pamit. Mm...Sorry udah ngerepotin. Dan...Ekhem. Terimakasih sudah me-menolong saya semalam." Asyila mengangguk, sekali lagi dia menguap.


"Mm, kalau begitu saya permisi." setelah mengatakannya Gina lantas beranjak, di ikuti Asyila. Untuk kesopanan?


           Ketika mereka sudah di depan pintu, Gina kembali membalikkan badannya dan membungkuk sedikit. Yang di balas anggukkan sekali dari Asyila. Setelahnya Gina benar-benar pergi dari sana.


∞O∞


           Gina menghentikan kendaraannya tepat di depan rumah megah milik keluarga Nugraha. Rumah orang tua Fanisa. Ia sebenarnya tidak mau ke sini, terlebih dia masih marah terhadap sahabat gilanya itu. Tapi, mau gimana lagi. Dia malas pulang ke rumah dengan wajah babak belur. Apalagi orang yang membuatnya seperti ini ada di rumah itu.


Hufft, menyebalkan...


.....


Kemarin...


           Fanisa masih tetap membujuk Gina untuk ikut bersamanya ke acara ulang tahun kakak sepupunya, Liana. Namun Gina tetap tak mau, meski Fanisa telah memberi beberapa penawaran yang cukup menggiurkan.


"Gin, please. Di sana kita gak bakal ngapain-ngapain. Dan gue gak bakal paksa lo buat pake gaun. Yah, yah....Entar gue kasi apa pun yang lo minta deh." Kalimat terakhirnya mampu memunculkan senyum setan dari gadis yang tengah duduk di hadapannya ini.


"Apa pun, huh?" Fanisa mengangguk bodoh.


"Yeah, selama gue masih bisa menyanggupinya."


"Ok." Fanisa mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Ok untuk apa?" tanya nya. Bodoh.


"Saya ikut." sontak jawaban itu membuat Fanisa terpekik senang. Dan ulahnya juga berhasil menyita perhatian semua pengunjung kafe. Fanisa tak menghiraukan.


Gina menggeleng pelan, sahabatnya ini benar-benar.


Lagipula tak ada yang bisa ia lakukan dirumah.–pikir Gina.

__ADS_1


.....


           Acara yang ia kira akan berlangsung baik dan kondusif, berujung pesta menyebalkan bagi orang seperti Gina. Walaupun lama tinggal di negeri orang, tak sekalipun ia membuang waktu berharganya hanya untuk pesta semacam ini.


           Musik yang memekakkan telinga, minuman beralkohol, tubuh-tubuh dengan balutan kain kurang bahan berseok-seok dilantai dangsa. Bahkan salah satu di antara mereka ada sahabatnya yang juga memakai busana yang sama seperti mereka.


Apa-apaan ini!–jerit nya dalam hati.


           Oh astaga, harusnya ia sudah menduga hal ini. Nisa sialan. Dengan langkah berat ia mendekati meja bar dan duduk di salah satu kursi tinggi. Sembari matanya mengawasi sahabat bodohnya dari sini.


           Tapi tanpa disadarinya seseorang mencoba mengajaknya ngobrol, namun tak ditanggapinya. Matanya masih fokus ke depan tanpa menoleh sedikit pun. Melirik pun tidak. Akhirnya, karena kesal pemuda yang mengajaknya ngobrol tadi melenggang pergi.


           Iris biru gelapnya menangkap pemandangan yang seketika membuat darahnya mendesir. Ia lekas turun dari kursi bar dan terburu-buru mendekati subjek yang berhasil memancing amarahnya tadi.


           Dicengkramnya kerah belakang baju sang pelaku dengan kuat. Lalu dengan sekuat tenaga ia berhasil membuat tubuh jangkung itu terpental di lantai. Sontak hal itu membuat keadaan menjadi hening. Apalagi kilatan penuh amarah dari iris birunya. Tanpa babibu, ia menghantam wajah orang itu dengan bogeman mautnya. Brengsek!


           Bagaimana emosi Gina tak terpancing, melihat sahabatnya yang rada ***** itu di cium paksa oleh pemuda yang sama sekali tak di kenalinya ini. Brengsek! Apalagi sekelabat bayangan masa lalu tiba-tiba muncul. Membuat kemarahannya semakin menjadi. Bahkan Nisa hampir saja menjadi korban bogemannya, jika saja dia tak cepat mengontrol emosi.


"Pulang!" hanya kata itu yang terakhir kali ia dengar, sebelum sang sahabat yang memang temparamen melenggang pergi dengan sejuta ke-ngeriannya.


          Ditatapnya tubuh seseorang yang menjadi sasaran amukan sahabatnya tadi. Lalu langkahnya membawanya ke hadapan sang pemilik pesta. "Lia, sorry karna buat acara lo kacau. Gue minta maaf atas nama sahabat gue. Gue duluan yah. Sekali lagi maaf." Nisa meringis ketika melewati beberapa temannya. Ia segera pergi setelah mendapat anggukan dan tatapan 'tak masalah' dari sepupu nya tadi.


'Gin, sorry...'–bisiknya lirih.


∞O∞


Nisa mengernyit saat melihat ponselnya. Pesan dari Gina?.


Gina : Sy d luar


Nisa  : Tumben. Ngapain?


Gina : 🙄


Nisa  : Iya. Iya. Gue ke bawah. Tunggu...😁 ✌


....


"Wih, tumben nih. Marahannya udah selesai. Padahal belum nyampe seminggu nih." ujar Fanisa ketika mereka sudah di kamar cewek itu. Yah, seperti itulah Gina. Jika marah pasti mendiamkannya seminggu. Tapi sekarang kok beda?


           Gina menatapnya malas. Malas menanggapi. Beberapa detik kemudian Gina harus menutup kupingnya karena pekikkan Fanisa.


"ASTAGANAGA OMPONG! MUKA LO KENAPA BISA GINI. YA AMPUN!" pekikkan Nisa seketika menggema di ruangan itu. Untungnya kamar Fanisa kedap suara, coba gak. Pasti para pembantu di rumah ini bakal panik.


           Gina menatap Fanisa dengan ekspresi datar. "Oke, tunggu bentar gue ambilin kotak P3K dulu." kemudian menghilang ke balik pintu kamar mandi. "Ya ampun, Gina. Kamu itu abis ngapain sih sampe kek gini." sambil mengomel, Fanisa membersihkan luka-luka Gina dengan alkohol kemudian mengolesinya dengan salep. Sesekali terdengar ringisan dari mulut Gina. "Auw, sakit yah?" tergambar jelas guratan kekawatiran pada wajah cantiknya.


           Setelah menempelkan plester pada beberapa bagian luka di wajah Gina, Fanisa kembali membereskan kontak yang di gunakannya tadi dan membawanya kembali ke tempat semula. Sekembalinya Fanisa dari kamar mandi, ia langsung memberondong Gina dengan pertanyaan. "Cepet ceritakan kronologisnya gimana!" pintanya.

__ADS_1


Gina menatapnya sejenak kemudian mengangguk kecil, "Saya di datangi sama orang." akunya.


"Kok bisa?" Fanisa kembali menuntut.


"Mana saya tahu." 'kan si Gina ikutan nyolot juga jadinya. Risih.


"Berapa orang?"


"Sepuluh."


"OMG! Tapi, kenapa lo bisa kalah. Sepuluh doang 'kan?" perkataan manis dari sahabatnya berhasil mendapat tatapan super datar dari Gina.


"Saya lagi capek."


"Yah...Mm, tapi lo masih ingat gak wajah-wajah mereka?" tanya nya lagi.


"Gak usah. Lagipula saya juga sudah tahu siapa yang ngirim." si Gina tumben kalimatnya panjang.


"Si wanita itu?" tanya Fanisa hati-hati. Gina menganggukkan kepalanya.


"Dan saya akan balas lebih dari ini." katanya dengan senyum miring. Seringai licik? Fanisa yang melihatnya sampe merinding. Ia menatap takut ke arah Gina.


"Lo gak bakal bunuh orang, 'kan?" tanya nya sambil menelan ludah dengan susah payah.


Gina menatapnya sejenak, senyum miringnya masih tercetak. Lalu kembali mengalihkan pandangannya. "Liat aja nanti."


'Si kampret...sereem bener....iih.'


∞O∞


"Gin, kuy makan malam!" panggil Fanisa, kepalanya mengembul dari balik pintu kamar.


Gina mengangguk saja, lantas turun dari ranjang dan mengikuti Fanisa yang sudah duluan turun ke bawah.


....


           Usai makan malam bersama kedua orang tua Fanisa yang pasti di warnai canda tawa, akhirnya Gina bisa beristirahat dengan tenang di kamar tamu. Tepat di samping kamar Fanisa. Ia agak merasa iri pada keharmonisan keluarga Fanisa. Hufft. Sejak kepulangannya ke Indonesia, ia tak pernah sekali pun makan bersama keluarganya.


Pandangannya menerawang, kapan yah keluarganya bisa kayak dulu lagi. Kapan dia bisa kumpul lagi dengan papa, oma, dan dia? Hah....


∞O∞


'Kata seandainya dan kemustahilan itu sudah seperti saudara yang selalu menemani manusia-manusia yang sering berputus asa. Hanya sering berandai-andai tanpa ada usaha."


—S—


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2