
"Akan lebih baik Anda diam, tak perlu merepotkan diri mencampuri urusan orang lain."
—_—
Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya. Gina membolos. Gadis itu memang tak pernah menyukai kegiatan belajar mengajar. Tidak, sebenarnya sejak ia menginjakkan kaki di sekolah ini. Semua terasa tak begitu menarik perhatiannya. Apalagi beberapa guru yang mengajar di kelasnya, sering membuatnya jengkel setengah ******.
Seperti guru yang hari ini mengajar di kelasnya. Bu Faridah, guru bahasa. Cerewet, gendut, suka nyinyir, dan salah satu guru pemilik suara dengan oktaf tertinggi seantero sekolah. Dan kebetulan lagi, beliau adalah salah satu guru yang sangat di hindarinya.
∞O∞
Beberapa menit yang lalu.....
Nisa tengah bermain game on line, saat Dito dan beberapa teman kelasnya masuk dengan terburu-buru ke dalam kelas. Hal itu membuat Farah~murid cewek paling bijak di kelas~ bertanya.
"Ada apa? Kenapa kalian pada panik gitu?" tanya nya.
Si Jaldi~salah satu cowok playboy di SMA Neverland~ yang jawab, "Cegu besar datang...." katanya. Tak berselang lama, yang tak di tunggu-tunggu pun akhirnya menampakkan diri.
Sosok wanita berhijab, dengan kumpulan daging berlebih di beberapa bagian tubuhnya. Tak lupa kaca mata yang selalu bertengker di hidung mancung ke dalamnya.
Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru kelas, ketika beliau baru saja mendaratkan beban tubuhnya ke kursi~meja guru~di depan kelas. Lalu pandangannya berhenti pada satu bangku di pojok kelas.
Tempat duduk yang hanya satu orang saja duduk di sana. Bangku yang diduduki cewek yang cukup terkenal di kalangan murid-murid SMA Neverland bahkan para guru SMA ini pun pasti kenal dengannya. Siapa yang tak mengenal sosok yang menjadi buah bibir sejak kedatangannya ke sekolah ini. Apalagi peristiwa beberapa hari yang lalu. Kejadian yang di alami oleh tiga siswi tingkat akhir karena mengusik gadis bernama Argina.
Yeah, gadis itu tak lain adalah Argina Khaislova. Cewek yang paling banyak mendapat tatapan ngeri dari sebagian warga sekolah. Dan tatapan kagum dari murid-murid cowok. Hampir seluruh murid cowok begitu memuja paras seorang Gina, yang katanya cantik bagai bidadari dari kutub.
Oke balik ke sosok gumpalan di depan sana.
"Wah, berasa hidup di negeri dongeng ya. Dimana seorang putri tidur yang menunggu sang pangeran datang dan membangunkannya. Wah, kisah yang menarik..."
Sementara bu Faridah berceloteh. Nisa dengan keberanian sebiji jangung berusaha mencolek-colek lengan gadis di sebelahnya.
Ya Allah, tolong lindungi Nisa dari amukan hulk. Aamiin....
__ADS_1
"Gin...Plis bangun. Gin..." panggilnya lirih. Bukan karena apa, Gina kalau di bangunin secara tiba-tiba apalagi saat dia lagi nyenyak-nyeyak nya pasti ngamuk. Dan kalian pasti tau seperti apa amukan cewek hulk kek Argina Khaislova.
Dan.........
Benar saja,
Merasa terganggu, Gina langsung membuka matanya yang agak merah efek baru bangun tidur. Semua teman-teman kelasnya menatap ngeri ke arah Nisa. Entah apa yang akan di alami Nisa nanti.
Bagai dalam adegan sebuah film horor. Semua tegang ditempat duduk masing-masing. Takut terkena amukan singa baru bangun tidur.
"Kenapa kalian pada diam? Lagi mengheningkan cipta?" tanya nya, namun tak ada satu pun yang berani bersuara.
Gina masih menatap tajam Nisa. "Sorry..." ucapnya dengan dua jari di sisi wajahnya. Seraya meringis ia melanjutkan, "Plis, jangan marah....g-gueee tadi cuuman bangunin lo, karna a-ada g-guru yang...." penjelasan Nisa langsung terhenti, ketika Gina menegakkan badan. Matanya masih merah. Sorot yang berhasil membuat beberapa pasang mata yang tadi menatapnya sontak tertunduk takut.
"Uhh, udah bangun ya ternyata. Gak mau lanjutin tidur cantiknya?" Iris biru gelapnya langsung terarah pada sosok yang baru saja bersuara. Matanya menatap datar. "Kenapa diam? Sudah tidak bisa berbicara lagi? Kenapa mendadak kek orang bisu gitu? Pita suara kamu udah putus ya? Atau...."
Suara Gina segera menginterupsi, "Anda terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain. Diam lebih baik dari pada banyak bicara. Urusi. Hidup. Anda. Sendiri." setelah mengatakan hal itu, Gina bangkit dari duduknya lalu segera pergi. Mood nya benar-benar hancur sekarang.
Bodo amat.
∞O∞
Gina tengah menghantam keras samsak tinju saat Nisa masuk ke dalam ruangan latihan (yang dulunya adalah gudang tak terpakai dan disulap jadi ruang latihannya dengan dilengkapi alat-alat pendukungnya). Nisa yang melihat amarah di mata Gina, menelan ludah dengan susah. Hah, gimana cara bilangnya ya?
"Ekhem....Gin..." sebenarnya Gina sudah menyadari kedatangannya, sejak sahabatnya itu berdiri kek patung di ambang pintu.
Karena tak mendapat respon, akhirnya Nisa menyampaikan tujuannya. "Gin, lo dipanggil kepseeek...A–" belum juga selesai ngomongnya udah pergi aja. Kuatkanlah Nisa ya Allah...
Gina segera keluar, masih menggunakan pakaian yang sering dia pakai saat berlatih boxing.
Yang tentu saja hal itu membuat beberapa pasang mata di sepanjang koridor menatapnya. Apalagi para kaum lelaki.
Ah, nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?
__ADS_1
Dibukanya pintu coklat itu. Pandangannya disambut dengan punggung seseorang yang membelakanginya. Pak Wisnu yang menyadari kehadirannya, lantas menyuruhnya untuk duduk lewat tatapan.
"Argina, apa kamu tahu tujuan saya memanggil kamu?" tanya nya setelah Gina duduk.
Anak itu tak mengangguk ataupun menggeleng. Tetap datar. Terlalu datar. Untung bukan papan triplek.
Lagipula ia tak berniat berbasa basi dengan orang di depannya. Terlalu menyita waktu.
Pak Wisnu menghela napas lelah. Menghadapi keponakannya memang sesulit ini.
'Mengapa Arnold mewarisi sifat buruknya ke putrinya sih'–pak Wisnu.
"Argina, mulai besok kamu akan belajar bersama Arya. Dia yang akan jadi guru privat kamu." jeda beberapa saat. "Dan kamu tidak boleh menolak."
Gina masih bergeming di tempatnya. Sebelum mengangguk kaku. Detik ini pun, ia masih enggan menoleh ke seseorang di sampingnya yang juga diam sedari ia muncul.
"Saya menerima dengan syarat, jadwal belajarnya akan menyesuaikan dengan jadwal saya." seperti biasa Gina selalu berbicara kaku dan tegas. Seperti ayahnya.
Pak Wisnu mengangguk-ngangguk. "Namun sebelumnya, akan lebih baik kalau kamu saling mengenal dulu dengan siapa yang akan belajar denganmu." ujarnya melirik pada siswa yang masih enggan bersuara di hadapannya.
"Tidak perlu. Saya sudah tahu nama dan orangnya." netranya menatap lurus pamannya. "Jika tidak ada lagi. Saya permisi." lantas ia berdiri dan meninggalkan dua orang itu.
Hingga kini, Wisnu selalu memaklumi sifat dan sikap keponakannya itu. Bahkan caranya berbicara yang memang sebelas duabelas dengan kakak sepupunya. Namun, satu hal yang masih di syukuri dari keponakannya itu. Gina akan sangat menghormati orang yang juga menghormatinya. Terlebih orang yang lebih tua.
"Saya juga pamit pak. Assalamu'alikum." Pak Wisnu seketika menghentikan lamunannya. Menatap salah satu murid yang berprestasi di depannya. Ah sampe lupa dia.
Lantas beliau menyambut tangan murid itu yang akan menjabat tangannya. "Waalaikumsalam." jawab Pak Wisnu.
Kemudian murid tadi beranjak begitu saja dan hilang di balik pintu. Hah, padahal 'kan dia belum mendengar jawaban dari permintaannya tadi. Beliau tidak mau murid tadi melakukan permintaannya dengan tidak ikhlas.
∞O∞
Mohon maaf atas ketidak nyambungan cerita di atas😁
__ADS_1