My Darkness Girl

My Darkness Girl
04. Tidak Peduli!


__ADS_3

          Dua wanita yang merupakan sepasang ibu dan anak itu spontan menatap sinis ke arah Gina. Dengan terang-terangan mereka menunjukkan ketidaksukaannya kepadanya yang sekarang tengah melempar tatapan tajam kepada mereka.


Gina mengalihkan tatapannya ke arah ke enam maid  yang sekarang menunduk hikmat. "Jangan tundukkan kepala kalian." meski ragu, akhirnya mereka mengangkat pandangan menatap takut ke arah kedua wanita itu. "Jangan takut, kalian boleh kembali ke belakang." dan setiap kalimat yang keluar dari mulut Gina pasti akan dipatuhi oleh semua para pelayan di istana ini.


Melihat hal itu, Silla merasa kedudukannya lebih rendah dari seorang anak kecil, "Berhenti! Atau kalian saya pecat semua!" ia kembali membentak.


Para maid  itu menatap Gina meminta pertolongan. Gina menutup matanya sejenak dengan anggukkan kecil. Menerima tanda dari sang majikan, mereka semua memilih untuk pergi.


Bagus, sekarang mari kita saksikan bersama-sama drama bodoh ini.


Kedua tangannya bersendekap menampilkan wajah tanpa ekspresi nya seperti biasa.


"Kamu!" tunjuknya Gina, kilat amarah di kedua matanya menjelaskan betapa marahnya wanita itu. "Apa hak kamu di rumah ini!?" Gina tetap diam menunggu kalimat dari orang ini. "Kamu! Tak lebih dari seorang penumpang disini! Perusak kebahagiaan orang lain! Anak tak tahu berterimakasih! Untuk apa kamu kembali lagi ke rumah ini!? Hei jawab!" raut wajah Gina tetap sama sedari tadi, hingga membuat Silla bertambah emosi.


      Nisa menatap sahabatnya yang temperamen itu kini berdiri tenang. Tak ada tanggapannya yang berarti. Gina melirik jam di tangan kirinya. Kemudian menatap kembali dua wanita di depannya.


"Sa, kita berangkat sekarang." ujarnya, beranjak dari sana. Nisa yang agak bingung hanya mengikuti dari belakang.


         Terdengar pekikkan dari dalam rumah, "ARGINA!!SAYA BELUM SELESAI DENGAN KAMU!!"


Bodo amat!


∞O∞


          Nisa yang tengah mengendarai mobil sport-nya, sesekali menatap aneh ke arah gadis yang duduk di samping jok pengemudi dengan mata terpenjam. "Mm, Gin. Kita beneran ke tempat itu? Bukannya kemarin lo abis kena marah ya sama bokap lo?" akhirnya, setelah beberapa detik bergelut dengan egonya Nisa bertanya juga.


"Hmm."

__ADS_1


"Tapi..."


"Sa, please. Saya tidak mau kita kecelakaan sekarang."


          Dan setelahnya, mereka diam. Hening. Hingga mobil Ferarri itu berhenti di depan gedung yang cukup terkenal di kalangan berduit atau orang-orang yang butuh hiburan malam, tempat yang menjadi tujuan mereka.


∞O∞


###


Tiga hari setelah Argina kembali ke Indonesia....


"Argina. Malam ini kita akan menemui keluarga mereka. Bersiaplah." suara bariton dari Arnold menyapa Gina yang baru saja memasuki rumah.


Lagi?


····


19.47


Keluarga Gina dan orang yang akan dijodohkan dengannya sudah berkumpul di dalam restoran. Salah satu restoran mewah di kota? Tentu saja. Apalagi ini merupakan pertemuan dua keluarga yang memang berpengaruh di kota, bahkan dunia?


Semuanya sudah datang, kini mereka tengah menunggu dua orang yang  menjadi tujuan pertemuan.


"Mi, yakin tadi udah diberi alamat  yang benar sama Arya?" Aksa berbisik pada istrinya, Vanila. "Udah benar, kok." Vanila balas berbisik.


"Lalu, mengapa dia lama sekali..."

__ADS_1


"Nah, itu Arya...!" Semua menoleh pada pria berkacamata minus yang baru saja masuk. Malam ini, Arya tampak gagah dengan balutan pakaian formal. Ia lantas membungkuk sedikit, dan mengucap salam untuk semua. Tak lupa permintaan maaf atas keterlambatannya.


Kini tinggal seorang lagi yang belum datang. Sambil menunggu, mereka terlibat perbincangan ringan. Seperti bagaimana Arya di sekolah? Tak lama kemudian, datang seorang gadis dengan pakaian yang sontak membuat semua mata membelalak. Bagaimana tidak, gadis yang mereka tunggu sedari tadi itu datang dengan pakaian santai. Kelewat santai untuk orang yang sekadar makan malam di tempat semewah ini.


Gina, gadis berwajah dingin itu...sengaja. Yah, untuk mengerjai ayahnya tentu saja. Lihatlah, pak Arnold yang terkenal dengan kewibawaannya di kalangan pengusaha...harus menanggung malu untuk kelakuan putrinya malam ini.


T-shirt putih yang dibalut dengan jaket denim, untuk bawahannya Gina memandukan dengan celana levis yang sobek di beberapa bagian. Memakai topi dan sepatu berwarna putih dengan merek tanda cetang.


What??


Tanpa menghiraukan reaksi apalagi ekspresi orang-orang di meja yang di tujunya, Gina mengambil kursi dan duduk tepat berhadapan dengan Arya. Tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik, sebelum Gina mengalihkan pandangannya.


"Argina! Kamu apa apaan pake baju seperti ini." Suara yang selalu dia anggap tawon tiba-tiba angkat suara. Gina tak menghiraukan teguran Silla, istri ayahnya. Memandangnya? Gina lebih baik memandangi lumut di tembok dari pada wajah munafiknya itu. Wanita yang selalu berlaku korban  di depan Arnold.


"Well, sebaiknya kita percepat urusan ini. Sungguh kalian membuang waktu berharga kalian hanya untuk hal tak penting ini." Untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Indonesia, Gina berbicara panjang lebar di hadapan keluarganya.


Arnold baru saja akan mengambil alih, harus kembali diam setelah dengan lancang Gina mengangkat suara lagi. "Jujur saya hadir di sini karena merasa kasihan pada orang-orang tua di keluarga saya yang suka memaksa ini." Aksa dan Vanila juga diam, menyaksikan keberanian Gina. Hingga kalimat selanjutnya, membuat semua kembali tercengang. "Yeah, atas paksaan mereka saya di haruskan datang dan menemui Anda-Anda. Tuan dan Nyoya Febian. Maaf, tapi perjodohan ini tak bisa di lanjutkan. Saya menolak perjodohan ini. Maaf." Usai mengatakan kalimat panjangnya, Gina tiba-tiba berdiri dan sedikit menunduk sebelum pergi.


Panggilan dari ayahnya diabaikan Gina begitu saja. Jangan lupa ancaman dari sang papa. Gina benar-benar sudah tak peduli.


Bodo amat!


∞O∞


"Alasan terbesar saya tetap hidup. Yah, karena saya ingin hidup. Saya bukan orang bodoh yang harus mengakhiri hidupnya hanya karena tekanan batin. Maaf saya bukan mereka."


–Argina Khaislova A.

__ADS_1


__ADS_2