My Darkness Girl

My Darkness Girl
03. Duniaku(1)


__ADS_3

"Maaf, melakukan hal apa aja untuk keluarga takkan pernah menjadi salah satu list dalam hidup saya."


-_-


Setelah suntuk dengan kegiatan sekolah selama berjam-jam, Nisa tiba-tiba menarik Gina untuk berkunjung sebentar di salah satu caffè milik keluarganya. Dan untungnya, kali ini tak ada penolakan dari mulut Gina. Gadis itu dengan pasrah mengikuti.


"Eh, bentar. Itu bukannya si Wahid yaa." Ujar Nisa saat melihat penampakan dua sejoli di meja pojok caffè. Nisa menatap Gina yang tampak tidak peduli. "Lo gak cemburu atau gimana gitu?" tanya Nisa hati-hati. Yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari si bule nyasar. "Eh eh, sorry sorry. Tapi, lo benar gak papa nih?" pertanyaan kedua yang membuat wajah Gina semakin geram.


***


"Ngemeng-ngemeng tetang si Arril. Apa kabar sama bocah sok itu. Masih sering gangguin lo di kelas?" tanya Nisa, melirik Gina sebelum menyeruput latte miliknya. Gina mengangkat bahu acuh. Toh, pertanyaannya gak penting-penting amat juga.


"Gin, gue boleh tanya sesuatu gak?" Nisa membuka suara saat keheningan melanda.


"Apa?." tanya nya balik. Sembari mengunyah red velved kesukaannya dengan tatapan tajamnya pada Nisa.


Nisa berdehem sebentar sebelum mengatakan sebuah kalimat yang sukses membuat cewek didepannya tersedak. "Gin, lo gak lesbian kan?"


Itu pertanyaan? Atau tuduhan?


"Uhuk uhuk..." buru-buru Gina meraih segelas air yang disodorkan Nisa. Setelahnya, ia memberi tatapan tak suka pada Nisa.


Nisa terkekeh, "Hehehe, sorry...abisnya, lo gak pernah dan gak mau dekat sama cowok sih. Jadinya, gue beranggapan gitu."


"Sa, kamu mau tidak saya jadikan red velved? Kayaknya enak kalo kamu jadi makanan." pernyataan Gina tadi sukses membuat Nisa bergedik ngeri. "Saya kalo suka sama sesama cewek, pasti orang pertama jadi percobaan yah kamu." Gina melanjutkan makannya tanpa peduli pada Nisa yang semakin menatapnya takut.


"Lagipula, kenapa kamu percaya informasi bodoh seperti itu." imbuhnya.


Nisa mengerutkan alisnya, "Apanya?" Gina memiringkan kepalanya.


Pertanyaan macam apa itu.


"Tok tok...kamu masih di bumi 'kan?" Yah tentu saja, sahabatnya itu pasti sedang melamun.


Gina mendekatkan minuman dinginnya ke sebelah pipi Nisa, "Sa?"


"Giiinaa, ih. Dingin tau." ujarnya dengan bibir di maju-majukan. "Auhk!" ringisnya, Gina menyentilnya.


"Siapa suruh melamun." seperti biasanya, Gina berkata dalam mode flat on.


"Gue gak melamun kok." elaknya.


"Ya, terserah."


"Jadi, lo beneran normal 'kan?" Gina menatap Nisa. "Oh ok ok. Lupakan."

__ADS_1


∞O∞


Gina turun begitu mobil yang dikendarai sahabatnya itu berhenti di depan rumah mewah dengan pagar yang menjulang tinggi. Ia sebenarnya malas pulang sekarang. Hah.


Gadis itu mengangkat alis kirinya. "Mengapa masih di sini?" tanya nya heran, mengapa sahabatnya masih di sana.


"Lo gak mau nawarin masuk gitu?" ditatapnya rumah di balik pagar tingginya. "Kayaknya bibi Rumi masak sesuatu yang enak deh. Hmm, baunya sampe ke sini. Wah, gue tiba-tiba jadi lapar..." Gina memutar bola matanya malas.


"Jadi, gue boleh masuk gak?" tanya nya penuh harap. Matanya mengerjap lucu.


"Terserah." ucapnya lantas masuk meninggalkan Nisa yang menunjukkan raut kecewanya.


Tak lama gerbang terbuka lebar. Nisa masih di sana. "Kalau kamu tidak mau masuk saya tutup lagi nih pagarnya."


***


Kedua gadis cantik yang baru saja masuk ke dalam rumah, disambut oleh wanita paruh baya kesayangan Nisa. Bik Rumi. Kepala pelayan sekaligus juru masak rumah keluarga Amisthon.


"Assalamu'alikum bi Rumi..." Nisa menyalami wanita itu.


"Wa'alikumsalam." sebenarnya bik Rumi merasa tidak enak ketika teman nonanya bersikap seperti itu padanya.


"Wah, bibi lagi masak yah?" tanya Nisa dengan tak tahu malunya telah berjalan menuju dapur meninggalkan Gina dan bik Rumi.


***


"Ayo, sini Gin. Bi Rumi masak masakan kesukaan lo nih." Nisa yang memang kadar *********** kurang dari duapuluh satu persen sudah duduk dan asyik menyantap hidangan yang ada di meja makan.


Astagfirullah. Kenapa Gina bisa sahabatan dengan cewek macam Nisa, ya Allah.


Bahkan cara makannya saja layaknya orang yang tak pernah makan selama sebulan. Lihatlah, beberapa maid yang berdiri tak jauh dari meja makan, menatap ngeri ke arah Nisa. Walau mereka sudah terbiasa dengan kelakuan sahabat dari nonanya itu, tapi tetap saja kelakuan bin ajaibnya mampu membuat mereka. Ah sudahlah, lagipun siapa yang berani menegur putri dari keluarga Nugraha?


Gina mengambil tempat tepat di hadapan Nisa. Salah satu maid yang hendak mengambilkan makanan untuknya terpaksa kembali saat telapak tangan gadis beriris biru itu terangkat.


Nisa yang melihat tindakan sahabatnya barusan tidak berkata apapun. Seperti itulah Gina. Yang tak pernah suka dengan sesuatu yang berlebihan. Ia sudah terbiasa mandiri.


"Gin, lo harus cobain ikan Gorame nya. Ini enak banget serius." Nisa yang tak suka keheningan mencoba mencairkan suasana. "Sayurnya juga enak."


"Sejak kapan kamu suka sayur?" pertanyaan itu membuat Nisa meringis seraya terkekeh. Setiap kalimat datar binti sarkasme yang keluar dari bibir tipis sahabatnya selalu saja membuat hatinya agak nyeri. Tapi gak papa sih, itu memang ciri khas Gina. Selalu sarkastik. Dan takkan pernah lembut.


"Hehehe....segaja, biar ada dialog gitu. Ehm, bi Rumi!" yang di panggil segera menyahut. "Bi Rumi mau gak Nisa bawa pulang?" tanya nya ambigu.


"Maksudnya, non?"


"Ini makanannya bik." bi Rumi ber-oh panjang. "Dibungkus ya bik. Karetnya tiga." candanya, masih dengan senyum cantik andalannya.

__ADS_1


Gina mengeleng pelan, ada-ada saja temannya ini.


"Mm, kakak-kakak. Kalian udah makan belum? Kalau belum, yuk makan sama-sama. Ini makanan nya banyak banget kalau Gina makan sendiri pasti gak bakalan habis. Ya 'kan Gin?" Gina hanya menanggapi dengan dengu-man sebab ia sedang mengunyah. "Tuh, Gina aja izinin. Ayok duduk!"


Namun, tak ada yang berani maju. Semua tetap bergeming. Salah satu dari mereka bersuara, "Aduh, gak usah non. Kami pasti makan kok setelah ini."


Gina meraih gelas air mineral di samping piringnya. Lalu meneguk airnya hingga tandas. Ia mengambil piring beserta gelas yang di gunakannya, membawanya ke arah dapur. "Kalian makan saja. Tidak akan ada yang berani memarahi kalian jika makan di meja ini." kalau sudah sang majikan yang meminta, mana berani menolak mereka. Apalagi ini Gina. Seseorang yang tak pernah mau dibantah.


Sepeninggal Gina, para maid itu dengan canggung akhirnya duduk di meja makan khusus untuk anggota keluarga. Nisa tersenyum lebar ketika salah satu dari mereka menoleh padanya.


.....


Tak lama kemudian datang seseorang yang menghentikkan gerakan mereka semua yang tengah menyuap. Sontak mereka semua berdiri dari kursi yang mereka duduki tadi.


"Apa apaan ini! Kenapa kalian duduk makan di sini!? Siapa yang menyuruh kalian?!" bentak nya pada enam orang maid di hadapannya.


"Saya yang menyuruh mereka." Gina muncul bersama Nisa dibelakangnya. Keduanya mendengar keributan dari dapur tadi.


Dua wanita yang merupakan sepasang ibu dan anak itu spontan menatap sinis ke arah Gina. Dengan terang-terangan mereka menunjukkan ketidaksukaannya kepada sang gadis setengah bule yang sekarang tengah menatap tajam kepada mereka.


∞O∞


Bersambung....


####


Vanila menatap anak sulungnya yang baru saja pulang dari sekolah. Lalu tatapannya beralih pada sang suami yang sedari tadi diam.Vanila benar-benar tak tahan berada dalam kesunyian seperti ini.


"Pi, tadi katanya mau ngomongin sesuatu sama Arya. Papi gimana sih." Vanila benar-benar tak tahan berada dalam kesunyian seperti ini.


Aksa mengalihkan perhatiannya pada sang istri, berdehem sebelum menatap Arya serius. Arya yang ditatap oleh kedua orangtuanya, hanya duduk diam. Sesekali membenarkan letak kacamata minusnya.


"Langsung pada intinya saja ya. Oke, jadi...."


Arya dengan sikap tenangnya, menjawab peryataan panjang ayahnya dengan anggukan.


"Jika itu adalah keputusan papi. Arya terima." jawaban darinya sontak membuat kedua orang dewasa di depannya tersenyum.


"Baiklah, sudah di putuskan....."


'Mungkin ini yang terbaik untuk keluargaku.'-bisik Arya dalam hati.


∞O∞


Mohon maaf atas ketidak nyambungan cerita ini🙄

__ADS_1


__ADS_2