
"Jika tak ingin menurut, setidaknya Anda berhenti membuat orang-orang di sekitar Anda khawatir."
—S—
###
Gina kembali ke rumah tepat ketika jam menunjukkan angka dua belas lewat empuluh menit. Hal ini memang bukanlah sesuatu yang baru bagi gadis itu. Tepatnya semenjak kedatangannya kembali dari negeri orang. Penyebabnya tak lain adalah ia merasa tak nyaman setiap berada satu atap dengan orang-orang dari keluarganya. Keluarga? Masihkah ia anggap mereka keluarganya?
Walaupun sudah sering Gina terang-terangan mengatakan ingin tinggal sendiri di apartemen atau kost-kost an mungkin. Asal tak tinggal dengan mereka, terutama wanita muna yang tadi siang menambah rusak mood nya. Siapa lagi kalo bukan istri sang ayah. Silla Lidya.
Bahkan pernah sekali Gina tak pulang dan menginap di apartemen milik sahabatnya selama dua hari.
Siapapun pasti tak akan nyaman hidup satu atap dengan wanita yang selalu menilai salah apapun yang dilakukan Gina. Apa pun itu. Terlebih Gina yang tak pernah menyukai diperintah oleh orang lain. Di atur, apalagi. Ia benar-benar membenci keduanya.
Oke kembali ke waktu sekarang.
Gina yang berjalan masuk dari gerbang menuju pintu utama dengan langkah yang agak terhuyung. Hampir saja jatuh tersungkur ketika pintu utama tiba-tiba terbuka dari dalam. Dan tanpa aba-aba, si pelaku tadi menarik lengan gadis itu dan menamparnya. Wajah setengah sadar Gina seketika tersadar.
Tamparannya tak begitu sakit bagi seorang Gina. Namun, rasanya ada yang perih di dadanya.
Ia menyentuh sisi wajahnya yang agak kebas. Lantas menoleh pada orang yang melakukan hal itu padanya. Dengan mata yang memerah, ia menatap berani pada orang di hadapannya ini.
"Apa perilakumu ini mencerminkan perilaku seorang gadis terhormat!? DENGAN PULANG LEWAT TENGAH MALAM! DENGAN KEADAAN SEPERTI INI? JAWAB ARGINA! Apa ini yang saya ajarkan sama kamu selama ini, HAH!?" suara baritonnya menggema.
Sembari mengusap sudut bibirnya dengan kasar, Gina tersenyum sinis. "Ajaran mana yang Anda maksud?" ia menatap tajam pria setengah abad di hadapannya. Meski dari suaranya saja terselip kerapuhan di sana. "Katakan, didikkan yang mana yang pernah Anda ajarkan?" pria itu tampak bergeming. "KATAKAN!" kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.
"Argina...!" panggilnya tegas. Ia menatap wajah Gina dengan sendu, dan melupakan amarahnya tadi.
__ADS_1
"Bukankah Anda ikut andil juga menjadikan saya seperti ini?" sungguh ia tak menyukai sorot terluka dari wajah Gina, putrinya. "Ah, maaf maaf. Anda tak salah kok. Itu bukan kesalahan Anda. Saya yang salah. Karena melakukan kesalahan. Saya dikirim ke keluarga Bunda. Hahaha, saya yang salah..." terdengar suara tawa sumbang Gina.
Dilayangkannya tatapan sinis pada pria itu, "Jika memang Anda seorang ayah yang peduli terhadap anaknya. Pasti dia masih tetap berada di rumah ini, 'kan?" Setelah mengatakan itu, Gina melangkahkan kakinya. Bukan ke kamarnya, tapi keluar rumah. Panggilan sang ayah dibiarkannya begitu saja. Tidak peduli. Mungkin malam ini, ia akan menenangkan dirinya di suatu tempat.
"Karena papa tidak ingin kejadian yang sama terulang padamu, nak."
°°°°
Sosok itu ikut menghentikkan laju kendaraannya ketika orang yang sedari tadi di ikutinya juga berhenti, sekitar lima puluh meter dari tempat ia berhenti. Sejenak ia memperhatikan sekitarnya. Gedung tua? Untuk apa orang itu ke sini?
Sejak menandatangani kontrak kerjanya dengan si klien beberapa bulan lalu, ia harus selalu siap untuk mengikuti kemana pun orang yang di maksud kliennya pergi. Apalagi pekerjaannya berlaku dua puluh empat jam. Hingga ia kerap sekali, tidak tepatnya hampir setiap malam ia tak tidur. Penyebabnya tentu saja karena orang yang sedang di awasinya selalu saja keluar malam, setiap hari.
"Hafffhh..." terdengar desahan panjang dari bibir pucatnya. Kalau bukan karena gajinya besar, ia takkan mungkin mengorbankan waktu tidurnya seperti ini.
Sosok itu masih enteng duduk di balik kemudi dengan minuman bersoda yang selalu setia di dalam mobilnya. Walau sesekali menguap, tapi masih bisa ia tahan. Hampir saja ia tersedak ketika beberapa mobil sedan hitam dari arah berlawanan, menghentikan lajunya tepat di gedung tua itu.
Dengan terburu-buru ia membuka pintu mobil dan keluar, tak lupa tongkat bisbol kakaknya ia bawa juga. Sebenarnya ia sangat malas malam-malam begini harus lari, jadi dia hanya jalan santai saja. Lagi pula, orang yang dilindunginya itu jago bela diri. Jadi ia tak perlu terlalu khawatir.
Dan dengan langkahnya yang semakin malas, ia membawa kedua kakinya. Tidak lebih tepatnya menyeret sepasang kakinya. Mendaki tangga yang berhasil membuatnya mandi keringat begitu sampai di akhir tanjakan. Ia berhenti dan duduk di dekat tangga. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah di rasa cukup, ia kembali berdiri. Namun, saat ia mencoba membuka pintu. Ternyata pintunya agak macet.
Haishh...Menyebalkan.
Sembari melakukan pemanasan sebentar, ia mundur beberapa langkah ke belakang. Dan dalam sekali hentakkan, pintu itu akhirnya terbuka. Walau daunnya terhempas mengenaskan dan hampir mengenai kepala seseorang.
'Astaga, kupikir dia bakal unggul. Tumben sekali....'
Untuk beberapa saat para pria berpakaian serba hitam di depannya mengalihkan perhatian mereka. Salah satu dari mereka bersuara ketika sosok itu perlahan maju. "Apa!? Kau mau jadi sok pahlawan juga!? Haha, mending kau pulang ke rumah dan tidur."
__ADS_1
'Bacot!'
Dan tanpa babibu, sosok itu mengayunkan tongkat bisbol di tangannya ke arah kepala-kepala mereka. Gerakannya yang super gesit, membuat para pria itu tak sempat menghindar. Daaan, dalam waktu setengah menit saja orang-orang berjas hitam tergelak tak berdaya di lantai. Mungkin pingsan.
Ditatapnya tubuh penuh lebam yang terbaring lemah di lantai. Lalu, dengan hati-hati ia memapah tubuh itu. Menuruni setiap anak tangga dengan super hati-hati. Hingga mereka sampai di depan mobil sedan hitam milik kakaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
∞O∞
"Saya hanya membalas apa yang pernah mereka lakukan kepada saya dulu. Saya tidak akan pernah melepaskan atau memaafkan mereka. Kapan pun, tidak akan pernah."
–Argina Khaislova A.
__ADS_1