My Enemy Handsome Boss

My Enemy Handsome Boss
Interview


__ADS_3

Hari ini cerah, langit biru dengan sedikit awan yang menutupi membuat warnanya terlihat sangat cantik.


Karin telah lulus dari kuliahnya dan pernah beberapa kali mengikuti interview kerja di perusahaan dan sempat menjadi pekerja kontrak selama 6 bulan. Hanya saja Karin merasa kurang cocok disana dan membuatnya tidak memperpanjang masa kerja. Namun, wawancara hari ini agak berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Pagi ini jam 7 tepat Karin mendapat panggilan dari nomor kantor yang belum dia simpan, yang intinya menerima pengajuan kerja Karin dan memanggil Karin dalam wawancara kerja dua jam ke depan. Karin tidak ingin terlambat, dia segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah selesai mandi Karin berdandan dengan setelan terbaiknya, kemeja putih lengan panjang yang ditutup setelan blazer warna navy kesukaannya, dengan bawahan selutut. Rambutnya yang hitam bergelombang tersisir rapi dan jatuh persis dibawah bahunya. Tubuhnya terlihat anggun dalam balutan busana kerja dan warna kulitnya yang terang membuatnya terlihat sangat menawan. Setidaknya dia punya enam mantan dulu, jadi Karin berpikir dia cukup cantik.


Karin menyambar dua lembar roti tawar dan mengolesnya dengan selai strawberry, meminum segelas susu lalu membaca draft yang dipersiapkan untuk menjawab pertanyaan interview yang banyak dikumpulkannya dan sering terlontar dalam wawancara kerja. Dia sadar dia profesional. Karin juga tidak lupa mempelajari berbagai hal tentang perusahaan yang akan dimasukinya itu.


Sesaat dia terhenti di halaman pertama sebuah majalah, tempat dimana dia ingin bekerja sebagai karyawan kontrak bidang desain dan arsitektur itu.

__ADS_1


Dia murid terpandai, bahkan dalam hal wanita sekaligus. Dia paralel nomor satu dalam angkatannya, pintar bela diri, olahraga, puisi, melukis, berenang, punya orang tua kaya raya, dan jelas, playboy. Serta, Karin menambahkan dalam kamusnya sendiri, sangat menyebalkan.


Pikiran Karin kembali ke kenyataan, bahwa dia nantinya hanya akan menjadi karyawan dari lelaki bodoh itu di salah satu bagian bisnisnya yang terbilang mendunia. Dia pemilik dari seantero perusahaan ternama yang ada di negara ini, majalah Star yang ternama itu hanya tak sampai sepersepuluhnya dari ke semua perusahaan yang dimilikinya.


Karin mematut diri di depan meja riasnya, meyakinkan diri bahwa dalam interview perusahaan tidak mungkin bos besar nya akan turun tangan. Betul kan? Apa yang nanti akan disampaikannya pada bosnya itu? Atau tepatnya, dia pasti akan lupa dengan semua yang dipelajarinya tentang bisnis di bidang itu kalau sampai melihat wajah William terpampang jelas di depannya. Kalaupun iya, satu-satunya harapan cuma adalah William melupakan peristiwa saat di SMA dulu, atau lebih baik, William sama sekali tidak mengingatnya.

__ADS_1


Karin melihat jam, sudah jam 8 pagi. Perjalanan hanya memakan waktu 30 menit dari rumah kecilnya di area perumahan kota, itupun bahkan jika macet. Jika lancar hanya 15 menit. Salah satu pilihan Karin memilih kerja disana karena tempatnya cukup dekat dengan tempat tinggalnya.


Karin memakai stockingnya lalu berjalan ke rak sepatunya, memakai salah satu dengan heels sedang, mengambil kunci mobilnya dan bersiap untuk interview yang sangat diharapkannya. Semoga semuanya berjalan sesuai harapannya. Dalam hati, dia mengaminkan.


__ADS_2