My Enemy Handsome Boss

My Enemy Handsome Boss
Dia kan ....


__ADS_3

Karin selesai dengan penjelasannya. Semua yang disampaikannya masuk akal. Tak terkecuali Tania. Dia tersenyum dengan pendapat Karin. Meski basic Karin desain, dia ingin Karin masuk ke bagiannya di Seni dan Interior. Jarang bisa menemukan pelamar baru yang pemberani, berbakat, sekaligus bergender wanita.


"Ok, kalau begitu, diantara kami berempat, menurutmu siapa yang sekiranya menggagas ide gedung baru sayap kiri?", Akbar bertanya pada Karin.


"Mohon maaf, bukan saya lancang, tetapi kemungkinan beliau orang yang sangat mendetail dan perfeksionis, karenanya, mungkin yang paling tepat adalah Direktur departemen Seni desain interior."


Akbar mengangkat alisnya mendengar jawaban Karin.


"Apa kamu pikir aku tidak perfeksionis?" Akbar mencecar jawaban Karin.


"Cukup pak Akbar, dia sudah menjelaskan detailnya dan Anda jelas sudah mendengar jawaban yang Anda inginkan", Tomi, sang manager departemen AnD ingin segera menyudahi perbincangan di luar wawancara ini.


Karena dia paham betul watak Akbar yang seorang playboy. Tidak boleh melihat cewek cantik sedikit saja, jika ada celah dia akan terus maju tanpa melihat situasi dan kondisi.


Tiba-tiba pintu tempat para pewawancara datang tadi terbuka dan keluar dua orang lelaki berparas tampan dari sana.


Karin yang sedari tadi masih berdiri untuk menjawab pertanyaan langsung terduduk lemas ditempatnya. Pipinya merona merah. Bukan karena malu tetapi lebih karena amarah. Entah kenapa jantungnya seperti habis dibawa lari sprint 100 meter. Nafasnya tersengal tak beraturan.


Dia..


Dia kan...


Astaga...kenapa dia disini?


Batin Karin histeris.. ingin bersembunyi tapi dimana? ingin pergi tetapi dia butuh pekerjaan ini? Nama baiknya dipertaruhkan disini.


Disana tepat di depan Karin, di depan meja para bawahannya, William berdiri didampingi Alex selaku tangan kanan Will. Para peserta jelas tau siapa Will, seantero negeri ini siapa tak kenal Will. Mereka yang baru datang ke perusahaan ini dengan banyak membawa harapan untuk bekerja disini tersenyum dan menegakkan duduknya. Hanya Karin yang terlihat cemas, bahkan tidak memandang Will.


Sebetulnya Will dan Alex telah lama menyaksikan wawancara tadi melalui kamar rahasia yang kacanya tembus pandang dari ruang di sebelah tempat wawancara. Dari situlah biasanya Will mengetahui karakteristik seperti apa para pelamarnya itu. Tak terkecuali Karin.


Karin tidak takut pada Will. Hanya saja rasa bencinya terhadap laki-laki itu masih ada. Bukan karena Will yang pernah hampir menyakiti sahabatnya, tetapi lebih karena sikap Will yang selalu berpikir semua bisa jadi miliknya.


Karin membenci sifat seperti itu. Dia hidup dalam keluarga yang terbilang mampu, bahkan bisa dikatakan orang tuanya berada di kalangan kelas atas. Tetapi Karin sangat bersyukur karena keluarganya selalu hidup dalam kesederhanaan.


Keluarga Karin tidak ikut berpartisipasi dalam party-party dari kalangan atas, tetapi sibuk dalam menyantuni para dhuafa dan anak yatim. Ayah Karin selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepada mereka. Untuk tidak melihat ke atas tetapi ke bawah. Banyak orang diluaran sana bahkan sangat susah mencari makan, bahkan mungkin tidak makan dalam sehari dua hari..


"Panggil dia kemari", Will berbisik pada Alex.


Sementara itu, Tania dan kawan-kawannya terheran-heran melihat sikap Will. Tidak seperti biasanya Will akan langsung masuk saat sesi wawancara sebelum wawancara tersebut berakhir.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?", Tania bertanya dengan sopan.

__ADS_1


"Wawancara belum selesai, karenanya masih banyak peserta disini.", jelas Tania.


Tania sebetulnya teman dekat Will dan memendam perasaan terhadapnya. Tetapi di dalam pekerjaan Tania sangat profesional. Dia tidak akan membuat suatu kesalahan yang akan membuat Will marah atau kecewa atas pekerjaannya. Dan Tania tau betul Will tidak suka dekat dengan banyak orang, atau dipelototi banyak orang seperti saat sekarang. Kecuali, semua peserta wawancaranya adalah para wanita. Tania pun paham betul watak Will yang playboy.


"Tidak perlu. Aku sudah tau siapa yang akan bekerja denganku. Kau, dia dan dia", Will menunjuk dengan anggukan di kepalanya. Dia memilih Bram, Anastasya dan Karin.


Seketika ruangan penuh desahan nafas mereka yang tidak terpilih. Mereka kecewa tetapi menyadari kemampuan William dengan pilihannya tidak sepenuhnya salah.


"Tenang saja, sebentar lagi akan ada perekrutan baru untuk cabang baru majalah ini. Silakan gunakan waktu menunggu kalian untuk memperbaiki style desain kalian." Alex angkat bicara. Dia tidak ingin image perusahaan rusak karena mood bosnya.


"Untuk itu sekarang silakan keluar dari ruangan ini, melalui pintu yang tadi kalian masuki. Jaga diri kalian. Kami tunggu performa terbaik kalian lain waktu." Alex mempersilakan para peserta yang gugur untuk keluar ruangan.


Karin yang sedari tadi menunduk pun tidak mengetahui bahwa dirinya terpilih dalam wawancara. Dia ikut berdiri dengan yang lain dan mencengkeram tasnya kuat-kuat seolah tasnya adalah pijakan supaya jalannya tidak oleng.


"Hei kau, mau kemana?!", Will mengeraskan suaranya. Mereka yang berjalan keluar seketika berhenti dan menoleh ke arah Will.


Mata Will jelas-jelas tak lepas memandang Karin, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Karin belum juga menoleh.


Will mendekat ke arah Karin.


Deg... deg...deg...


"Apa kamu tuli? Atau kamu mengabaikan saya?!", bisik Will tepat di telinga Karin. Will berdiri di belakang Karin. Dada bidangnya menyentuh punggung Karin sesaat. Dadanya berdesir, tiba-tiba Karin berkeringat dingin dan merasa takut.


"Pak Alex, minta mereka semua keluar dari ruangan ini. Tanpa terkecuali."


Tanpa mendengar perintah Alex, Billy, Tania dan rekan yang lain serta Bram dan Anastasya segera keluar dari ruangan. Akbar mengumumkan sebelumnya dia menginginkan Anastasya untuk bekerja untuknya dan Tania ingin Karin masuk ke departemennya. Tetapi Billy menyanggahnya dengan mengatakan Karin lebih tepat masuk dibawah naungan departemennya.


Dengan pertimbangan, Tania mengijinkan Billy membawa Karin ke departemennya, tetapi dengan syarat Tania diperbolehkan untuk meminta bantuan Karin untuk bagiannya kapanpun Tania membutuhkan Karin. Dan Billy menyetujuinya. Mereka melakukan kesepakatan itu dengan berbisik sebelum meninggalkan ruangan.


Anastasya mengekor Akbar menuju kantornya. Bram mengikuti Tania dan Billy serta Tomi pergi ke ruangan masing-masing.


Di dalam ruangan wawancara hanya tinggal Karin, Alex dan Will.


Karin mengarahkan pandangannya ke arah bahu Will, belum berani menatap langsung ke dalam matanya. Karin membelakangi dinding di samping pintu masuk. Will berjalan pelan ke arahnya dan menopangkan satu tangannya menutupi jalan keluar Karin.


Tangan kanannya mengambil untaian rambut Karin yang jatuh ke dadanya.


"Aku hampir tidak mengenalimu tadi." Dipandangnya mata Karin yang tidak mau menatapnya.


"Kamu tidak mau menatap Bos mu? Berani sekali!"

__ADS_1


"Maaf Pak, saya pikir saya tidak terpilih tadi, jadi saya memutuskan untuk keluar." jawab Karin terbata.


"Jangan lancang kamu! Tatap mata saya kalo lagi ngomong!"


"Maaf, Pak." Karin menatap ke dalam mata Will. Alex hanya duduk diam mendengarkan obrolan mereka. Dia hanya ingin mencegah Will melakukan hal yang bisa dia sesali.


Deg


Jantung Will serasa berhenti sedetik.


Matanya.. kenapa matanya mengingatkanku akan seseorang... matanya.. indah dan bulu matanya lentik bahkan tanpa bulu mata palsu..


Karin menyadari Will memandanginya dengan intens. Dan Karin tidak suka dengan sikap Will.


"Maaf, Pak, jika sudah selesai, apa saya boleh permisi? Saya akan menemui kepala departemen saya?", Karin bertanya dengan tegas, membuyarkan lamunan Will.


"Menurutmu, kamu akan bekerja dengan siapa disini? Kau sudah tau?" Will menyeringai.


Karin menelan ludah, gawat, dia belum diberitahu oleh siapapun yang barusan keluar ruangan.


"Kamu pikir mereka menerimamu? Hah?!"


Will meninggikan suaranya. Karin tersentak.


"Kamu akan bekerja denganku. Sebagai sekretarisku. Atau lebih tepatnya, asistenku, yang akan seruangan denganku dan setiap hari kita akan selalu bertemu". Seringai Will makin lebar.


"Saya mendaftar sebagai desainer disini, bukan untuk menjadi asisten Anda atau apapun itu. Jika saya diterima disini saya hanya akan bekerja disini sesuai ketentuan awal, tidak ada jabatan lain yang saya inginkan." Karin menjawab dengan tegas.


Will menatap tajam ke arah Karin.


"Kau akan bekerja untukku. Tidak ada kata tidak dalam kamusku. Jadi jangan membantah," Will mempertegas kekuasaannya.


"Tapi, Pak.." belum selesai Karin bicara bibir Will meluncur ke arah bibirnya. Will mencium Karin dengan lembut. Karin tersentak dan spontan mendorong tubuh Will menjauh lalu


plakk.. tamparan keras mendarat di pipi kiri Will.


Karin segera berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu. Dia menutupi bibirnya tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Will menciumnya? Yaa Tuhan... itu bahkan ciuman pertamanya yang dia jaga untuk kekasihnya nanti.


👋👋👋 hai dear readers...mohon maaf kelamaan up-nya 🙏🙏🙏🙏 something big happen.. mudah-mudahan masih ada yang suka sama cerita Karin dan Will ya..


kira-kira, gimana yaa nasib Karin setelah menampar Will?

__ADS_1


Apa dia akan bekerja dengan Will? atau Will akan mengusir Karin dari kota itu? atau dia justru bakal menghukum Karin lebih mengerikan lagi??


terus support MEHB yaa dengan like, vote dan komen 💞💞💞😘😘😘


__ADS_2