My Enemy Handsome Boss

My Enemy Handsome Boss
Pertemuan Setelah Sekian lama


__ADS_3

Karin tiba di tempat parkir kantor majalah Star. Dia memarkir mobilnya di bawah pohon. Karin sengaja memilih datang lebih awal, dia lebih suka begitu untuk melihat situasi dan seringkali untuk menimbang kecerdasan lawannya.


Karin membuka pintu mobil dan menguncinya, lalu berjalan mendekati pintu utama kantor. Salah satu security menyapanya, lalu mendengar jawaban Karin dia menunjukkan gedung lantai tempat wawancara dilaksanakan. Dan tiba-tiba Karin merasa ada yang memanggil namanya.


" Karin, hei.. Karina Maharani" ujar suara itu.


Deg. Jantung Karin berdegup semakin kencang. Tidak mungkin secepat itu dia bertemu dengan si Boss itu kan?! Suara itu semakin dekat. Dari tempat Karin berdiri dan menunduk di dekat lobi tadi, terlihat sebuah sepatu running yang bergaya dan celana jeans.


Dengan hati-hati Karin mendongak, melihat si pemilik suara. Deg deg deg. Makin tak karuan degup jantungnya. Billy.


" Hai.. emmm.. mas Billy, bukan ya?", memastikan takut salah orang.


Billy, kakak tingkat Karin saat SMA. Saat Karin baru kelas 1 Billy kelas 3. Orangnya ramah, kocak, dan cukup tampan. Bukan dalam level saingan William, hanya saja sifat periang dan humorisnya menambah daya tarik tersendiri dari seorang Billy. Dan sesuatu pernah terjadi di antara mereka.


" Benar. Ini aku, Billy. Senang sekali bisa ketemu lagi denganmu. Karin, kamu sungguh tambah cantik", sambil mengulurkan tangan yang kosong. Tangannya yang lain penuh dengan box kopi dan cemilan.

__ADS_1


" Eh, iya. Terimakasih mas. Mas kerja disini? Sudah berapa lama?"


" Yep, aku cukup tua disini, hahaha.. Hei, ngomong-ngomong apa kamu kesini untuk interview?" mereka bicara sambil berjalan.


" Iya. Apa ada tips untuk pemula?"


" Hahahaha, Karin, kamu masih lucu seperti dulu. Hmmmm... rasanya, kamu perlu aku beri tips. Hei, sebentar, kalo tidak salah jadwal interview adalah jam 9. Ini baru jam 8 lewat 25. Masih banyak waktu. Apa kau sudah sarapan? Aku bisa mengajakmu ke kantin kantor. Mumpung kita belum naik."


Billy tersenyum. Khas Billy. Bibirnya yang tipis berwarna pink itu terlalu mencolok di wajah putih pucatnya.


" Aku sudah sarapan dan sedang bosan di rumah jadi aku datang lebih awal." Karin berbohong.


" Terimakasih banyak mas, tidak perlu repot-repot. Aku ingin melihat situasi dan para pesaingku dulu. Aku yakin semua pekerja disini super sibuk." Sambil melirik Billy, takut yang disebelahnya ini tersinggung karena Billy tampak sangat santai dilihat dari penampilannya.


Apa dia kurang bernilai disini sampai membeli sekotak kopi dan dari perkataannya dia senior tadi?

__ADS_1


" Tenang saja. Aku punya alasan mengapa aku menemanimu disana."


" Oya?" tambah penasaran apa sebenarnya jabatan Billy.


" Tentu saja kan. Mana mungkin aku membiarkan wanita cantik sendirian sambil menunggu?" Oh... Karin tidak bisa berkata-kata.


Billy bukan playboy, setidaknya ketika mereka kenal dulu. Tapi sepertinya dia banyak berubah? Mereka sudah berada di dalam lift dan hampir sampai di lantai empat gedung itu.


" Ambil kanan lalu ke kiri, disana ada ruang tunggu untuk peserta interview." Billy menunjuk tempat yang dimaksud sambil menahan pintu lift menutup.


" Terimakasih banyak mas. Do'akan aku." Karin tersenyum melihat Billy. Billy balas tersenyum lalu naik satu lantai.


Karin berjalan menyusuri gedung dan tiba di tempat yang tadi ditunjukkan Billy. Dia memilih duduk di dekat jendela di bagian tengah ruangan. Sambil masih melihat sekeliling dia baru sadar bahwa tadi dia tidak menyinggung soal William. Sial. Dia sama sekali lupa! Karin melupakan sesuatu yang sangat penting untuk interview nanti.


Apakah William seringkali datang untuk interview remeh salah satu anak perusahaannya? Apakah para eksekutor nanti galak-galak? Biasanya siapa yang punya wewenang untuk mewawancarai calon karyawan baru?

__ADS_1


Sementara Karin masih berkutat dengan pikirannya, para pesaingnya mulai berdatangan. Ada yang membawa gulungan kertas ukuran A3, ada yang membawa lebih besar lagi, ada yang membawa sketchbook, dan yang lainnya.


Karin melongo, apa ini serius? Apa seserius itu sampai untuk wawancara mereka butuh membawa alat perang begitu? Bukannya dari kantor ini sudah disediakan? Untuk apa membawa semua itu? Belum selesai karena memikirkan kecerobohannya tadi saat bertemu Billy, Karin mulai panik dengan pikiran baru. Saat ini dia teringat Billy dan berharap laki-laki itu datang untuk menolongnya.


__ADS_2