My Enemy Handsome Boss

My Enemy Handsome Boss
Ruang Interview


__ADS_3

Jam 9 tepat ruang interview dibuka. Lalu ada seorang sekretaris memanggil nama para pelamar satu persatu masuk ke sana termasuk juga Karin.


Ini serius ruang interview? Kok kayak kelasku kuliah? Karin membatin.


Mereka semua dipersilakan duduk di kursi yang sudah disiapkan. Ada tiga tingkatan meja dan kursi untuk para pelamar. Karin berada di ujung baris ke dua.


Sementara itu, sekretaris menjelaskan mekanisme interview kali ini. Bahwa mereka diminta menyiapkan sketsa gedung baru di sayap kiri perusahaan yang sedang dibuat untuk dipertimbangkan oleh para pewawancara nanti, dan mereka boleh menggunakan semua alat yang telah mereka bawa.


"Maaf Bu," Karin menyela, "saya tidak membawa alat apapun untuk menunjukkan kemampuan saya. Apakah ada yang disiapkan oleh perusahaan?"


Karin memberanikan diri bertanya, daripada pusing karena tidak bawa apa-apa, sama sekali.


"Siapa namamu?", tanya sekretaris tersebut.


"Karina Maharani", Karin menjawab lantang karena merasa mungkin dia dinilai cukup berani, dan berani dalam soal bisnis itu sikap yang bagus.


"Poinmu sudah berkurang di mata saya. Kamu tidak jeli mendengarkan saat saya menjelaskan di telepon bahwa saya minta untuk menyiapkan segala kemungkinan, bukan? Kamu sama sekali tidak menyimak apa yang saya sampaikan. Bahkan belum diterima kamu sudah sombong dan tidak mendengarkan calon atasan kamu!"


Cih, galak banget ni cewe? Paling usianya ga jauh dari aku?


"Saya mohon maaf, tetapi setau saya dimana-mana interview ya isinya tanya jawab? Antara HRD ke pelamar, manager ke pelamar, atau bahkan direktur dan pemilik perusahaan ke pelamar?", sanggah Karin tak surut rasa beraninya, "lah ini apa? Kok malah diminta bikin sketsa?".


"Kamu, sudah salah malah ngeyel! Berani bantah omongan saya kamu ya?! Huh! Jangan harap kamu bisa lolos tes ini!".


Lalu dari pintu lain yang berada di seberang pintu Karin masuk tadi, keluar beberapa orang berjas rapi, tiga laki-laki dan satu perempuan. Manager bagian departemen art and desain, direktur departemen majalah Star, direktur departemen Seni desain interior, dan General manager majalah Star.

__ADS_1


"Tugas kamu sudah selesai sampai disini. Biar saya ambil alih". salah seorang petinggi yang bicara.


Karin bengong. Kok kaya kenal? Tapi siapa? Sampai dahinya berkerut, dan yang barusan bicara berpaling pada Karin lalu mengedipkan matanya.


Astaga.. Mas Billy? Hah? Kok beda banget?? pikir Karin. Perasaan tadi dia pake celana belel sepatu olahraga sama kaos?? Terus ini apa?


Setelan jas, berdasi, sepatu mengkilat. Dan apa katanya tadi pagi? Dia cuma remahan di perusahaan ini sampai-sampai dia yang harus beliin kopi untuk departemennya? Ngapain dong dia disini?


"Baik Pak." lalu si sekretaris meninggalkan ruangan.


"Baik, silakan lanjutkan apa yang sudah ditugaskan pada kalian. Lalu presentasikan. Kami nantikan hasilnya." Billy dengan tegas meminta para pelamar melanjutkan aksi mereka dengan masing-masing board nya sebagai ajang unjuk diri dalam bidang arsitektur.


Karin menatap Billy dengan penuh tanda tanya. Banyak pertanyaan di kepala Karin.


Duh.. ini gimana aku bisa kerja orang aku ngga bawa apa-apa... cuma ada hp aja.. ini mas Billy juga ngapain nambah-nambah negasin buat dibikinin itu sketsa??


"Silakan yang sudah siap untuk maju presentasi sekaligus perkenalkan diri kalian." Tania, cewek sendiri di antara para cowok tampan di depan itu yang bicara. Memang mereka berempat benar-benar good looking. Yang ceweknya cantik, anggun, khas wanita karir, sementara yang cowok nya juga ganteng-ganteng dan terbilang muda. Semuanya kelihatan seumuran.


Salah satu maju ke depan. Dan memperkenalkan diri.


"Perkenalkan, nama saya Rasendra Bramono Agung, biasa dipanggil Bram. Saya ....


Bram...jadi itu namanya.. Karin malah bengong, bukan karena ketampanan Bram.. Melainkan dari sekian pesaing cuma Bram yang senyum ke Karin duluan. Dan Karin merasa Bram orang yang baik, beda dari yang lainnya.


Semua sudah presentasi. Tinggal giliran Karin.

__ADS_1


"Perkenalkan, saya Karina Maharani. Panggil saja Karin. Saya tidak membuat apa yang diminta sebelumnya.


Karena saya pikir untuk apa membuat sketsa yang jelas-jelas gedungnya sudah jadi?


Kecuali saya diminta, untuk membuat interior atau merubah tampilan luar gedung atau menggambarkan dalam skala tertentu, saya bisa lakukan.


Tetapi maaf, gedung yang sudah dibuat sedemikian bagus dan cantik saya yakin arsiteknya pun bukan orang sembarangan?


Jadi saya tetap pada pendirian saya untuk tidak membuatnya. Dan lagi, ini interview, kita bukan sedang berada dalam lomba menggambar seperti anak SD. Sekian dan terimakasih."


Billy dan dua rekan lainnya terbahak kecuali Tania.


Karin tetaplah Karin.. dia selalu pemberani.. dan nekad.. Billy terkagum dengan kegigihan dan keberanian Karin..


"Apa maksud kamu? Jelaskan dengan detail apa yang kamu tahu dari gedung baru itu?"


Akbar sang Direktur departemen, meminta penjelasan sekaligus menguji Karin.


Karin pun menjelaskan asal-usul gedung sayap kiri dibuat, hingga penataan dan peletakkan ruang serta interiornya, yang sekiranya bagus berada di dalam gedung tersebut. Akbar hanya manggut-manggut mendengar penjelasan itu..


Ini cewek harus jadi milikku.. batin Akbar..


Hai readers... 💕💕


Maafin baru sempet nyapa...lama banget baru nge-up lagi maafin ya.. author punya bocil 😂

__ADS_1


Plis tinggalin like, fav, dan komentar disini yaaa buat semangat up 😉😉😉


terimakasih 😆😆😆 and happy reading all 💖💖


__ADS_2