My Enemy Handsome Boss

My Enemy Handsome Boss
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Keluar dari ruangan interview, Karin setengah berlari menuju lift kantor. Billy ternyata kembali kesana dan mengecek kondisi Karin, sekaligus ingin mengajak Karin ke ruang kerjanya karena besok Karin resmi bekerja di bawah departemennya.


Tetapi melihat Karin demikian Billy terhenyak..


Karin kenapa? kok kayak nangis gitu?


Billy melihat pintu ruang interview dan Will keluar bersama dengan Alex.


Astaga... apa mereka melakukan hal yang tidak-tidak pada Karin? Aku harus menanyakannya.


Karin tiba di pintu lift, matanya berkaca-kaca sambil tangannya menutupi mulutnya, seolah menyembunyikan sesuatu yang tak ingin siapapun tau.


Dukk


"Aduh, maaf maaf saya ngga sengaja.." Bahu Karin menumbuk bahu seorang wanita paruh baya yang berdiri di balik lift.


"Ngga apa-apa. Lain kali hati-hati ya mba", jawab wanita tersebut sambil berjalan keluar dari lift.


"Eh, sebentar, kamu sakit? Kok wajahnya pucet banget?", sambil memeriksa wajah Karin.


"Oh, ngga kok Bu, saya dari pagi belum sarapan, habis interview tadi jadi sekarang lemes", bohong Karin sambil tersenyum.


"Ya sudah kalau gitu. Mari", sambil berlalu dari lift dan Karin masuk ke dalam lift.


Sementara Billy sedang berbincang dengan Will dan Alex menanyakan kejadian barusan.


"Will, kamu apain si Karin? Kok nangis gitu?!", cecar Billy..


"Serius dia nangis? wah wah, harusnya aku lihat ya cewek tomboy sombong itu nangis."


"Aku serius Will, kamu apain dia? Aku tau banget Karin kaya apa. Jadi nggak mungkin dia nangis perkara masalah sepele. Kamu pecat dia sebelum dia mulai kerja disini? Kamu bilang tadi kamu milih dia?", sahut Billy.


"Udahlah biarin aja. Besok juga paling dia balik lagi kesini. Kan udah diterima," Alex menyeringai.


"William.. ", panggil seseorang dari belakang mereka.


"Oma? Kok Oma disini?", Will terkaget dengan kedatangan Oma, lalu berjalan memeluk Omanya.


"Oma," sapa Alex dan Billy bersamaan.


"Oma tadi ke kantor pusat, tapi kamu ngga ada disana. Terus Oma tanya ke sekretaris kamu katanya kamu disini."

__ADS_1


"Kita ngobrol di kantorku aja ya Oma," Will menggandeng tangan Oma sambil berjalan ke arah lift.


"Aku balik dulu. Oma, aku ke ruanganku dulu ya," ucap Billy sambil mencium tangan Oma.


"Ya. Oh ya, Billy, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Oma.


Billy menatap Oma, bingung dengan pertanyaannya.


"Belum Oma."


"Kamu ni udah diusia bapak-bapak. Cepat cari istri. Udah pantes. Kasian kan ibu kamu sendirian di rumah ngga ada yang nemenin. Oma aja pengin cucu dari Will."


Will memberi isyarat tangan pada Billy supaya cepat pergi dari sana. Karena kalau Oma sudah berkhutbah tentang pernikahan dan cucu ujungnya bakalan lama.


"Eh, iya Oma. Iya nanti saya cari pacar. Eh, cari istri." Billy berjalan menjauhi mereka, sambil di dalam hati merasa kasihan terhadap Will dan Alex yang nanti pasti akan diceramahi Oma.


Oma adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam hidup Will. Oma lah yang menginspirasi Will dalam setiap langkah yang dia ambil sebelum merencanakan bisnis tertentu. Dari Oma Will belajar tentang ketegaran saat ditinggalkan orang yang paling dicintai dalam hidupnya. Oma kehilangan putra semata wayangnya, dan Will kehilangan ayah yang begitu dicintainya dalam sebuah kecelakaan pesawat saat ayahnya tengah menempuh perjalanan bisnis.


Pesawat yang ditumpangi ayah Will disabotase sekelompok *******, bahkan ayah Will dengan penjagaan ketat para bodyguard nya, tumbang bersama para bodyguardnya itu saat mencoba melindungi penumpang lain dari berondongan peluru. Lima orang ******* tersebut diduga bunuh diri dengan bom setelah membunuh seisi pesawat dengan pistol. Saat pesawat meledak hampir seluruh badan pesawat remuk di atas samudra Pasifik. Tetapi blackbox pesawat tersebut ditemukan oleh perahu nelayan dan dijadikan barang bukti. Hingga kini siapa dalang dibalik kejadian tersebut belum tertangkap karena jaringan yang begitu banyak dan tertutup.


"Seandainya ayah berangkat dengan pesawat pribadinya, pasti ayah tidak akan mati kan, Oma?" tangis Will sesenggukan, Will saat itu berusia 18 tahun tepat setelah Will masuk universitas.


"Kamu paham betul bagaimana ayahmu. Dia begitu merakyat dan sangat sederhana. Sekaya apapun ayahmu, pergi antarkota dan perjalanan bisnis kemanapun dia gunakan transportasi umum, karena disanalah dia merasakan betapa manusianya dirinya. Dan disana pula ayahmu bertemu dengan ibumu." Kenang Oma sambil mengusap-usap kepala Will.


Will mempersilakan Oma duduk. Will duduk berhadapan dengan Oma nya, Alex duduk disebelah Will. Mereka siap menghadapi apapun yang akan dilontarkan oleh Oma kesayangannya itu.


🍃🍃🍃


Di bawah pohon tempat Karin memarkir mobilnya, ada sebuah bangku yang biasanya digunakan para karyawan berteduh sambil menunggu jemputan. Karin duduk disana dan memikirkan apa yang terjadi barusan.


Will menciumnya!


Gila kan tu orang! Demi apa coba dia lakuin itu? Di depan Alex pula? Terus aku harus gimana? Aku butuh kerjaan ini, karena aku tau aku juga mampu dan kerjaan ini yang aku inginkan.. tapi disini bosnya gila!!! Aaargghhhh... rutuk Karin sambil memukul-mukul tempat kosong disebelahnya.


"Aw.. sakit.. aduh... sialan", Karin terlalu bersemangat memukul bangku hingga tangannya sendiri terasa sakit.


"Ya iyalah, sakit..siapa suruh pukul kayu keras-keras?", kata seseorang sambil cekikikan.


Karin menoleh dan mendapati Bram sedang melihat ke arahnya.


"Apaan si ikut campur urusan orang?",

__ADS_1


"Hei, tenang, relaks.. aku nggak mau gangguin kamu.. tapi, kalo mau main pukul-pukulan, aku tau tempat yang pas itu dimana." Bram tersenyum ke arah Karin. Niat baiknya justru membuat Karin makin jengkel.


"Kamu ngeledek?" Karin menaikkan kedua alisnya.


"Aduh.. serba salah nih.. ya udah, gue cabut dulu deh..apes disini", Bram mengurungkan niatnya berkenalan dengan layak pada Karin.


Tampaknya, Karin sedang tidak mood siang ini. Apalagi tadi dia ditahan bos besar di ruang interview. Siapa yang tau apa yang terjadi disana, ya kan? Bram meyakinkan diri.


Bram tadinya berpikir Karin cewek baik-baik, tetapi melihat bos memperlakukannya begitu, mungkin dia tak sebaik yang orang lihat.


Bram berlalu menuju mobilnya, saat Karin kemudian memanggil namanya.


"Bram.." dan Bram menoleh.


"Apa?!"


"Sori.. aku bukannya marah sama kamu. Tapi sama si bos kurang ajar itu.. oh iya, kenalin, aku Karin." Karin mengulurkan tangannya.


Bram melihat uluran tangan itu lalu menyalaminya.


"Bram"


"Kamu di departemen mana? Apa aku juga sudah ditempatkan akan dimana?" tanya Karin.


"Loh, kamu nggak dikasi tau? atau belum dikasi tau? Kamu tu primadona. Mereka hampir semua ributin kamu, rebutan biar dapat kamu di bidang mereka. Nah, akhirnya, Pak Billy yang dapetin kamu, tapi secara rutin kamu juga bakal bolak balik antara departemen pak Billy sama Bu Tania. Bu Tania keukeh pengin kamu jadi anak buahnya. jelas Bram panjang lebar.


"Kok tugasku banyak banget si?" belum apa-apa sudah ngeluh. Bram menyadarkan Karin tentang posisi dan tanggung jawabnya sebagai karyawan magang. Karin cuma menghela nafas.


Lalu Bram pamit dari sana. Karin pun masuk ke mobilnya. Baru akan menstarter mobilnya, pintu kaca mobilnya diketuk. Seseorang sedang menunggu Karin membuka kaca mobilnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


**Halo pembaca yang masih setia.. terimakasih sudah mendukung, like dan vote karya ini 👍👍


kira-kira.. siapa ya yang ketuk kaca mobil Karin?


A. Bram


B. Billy


C. Alex, atau

__ADS_1


D. Will


hayooo kira-kira siapa?? 😙😙😂😂😂**


__ADS_2