My Enemy Handsome Boss

My Enemy Handsome Boss
Karina Maharani


__ADS_3

William dalam perjalanan menuju kantor Majalah Star, bersama dengan partner sekaligus sahabatnya, Alex. Alex dijadikan tangan kanan William, karena dia tahu betul bagaimana watak William sedari kecil.


Alex berwajah tampan, punya pemikiran yang matang, tanggap dan berlidah tajam. Karenanya Will menjadikan Alex orang kepercayaan demi meyakinkan para klien bisnisnya serta untuk kemajuan perusahaan. Alex laki-laki yang pintar.


Jika menyangkut keselamatan, sebetulnya Will pun jago bela diri, dia ditingkat yang sama dengan Alex karena mereka mengenyam sekolah bela diri bersama. Hanya saja sudah terbiasa bagi Alex melindungi Will karena dialah bos besarnya. Dan Alex menghormati Will. Jadi tidak mungkin seorang Will harus turun tangan demi hal-hal remeh seperti memukuli orang yang mengganggu bisnisnya atau mereka yang mengganggu keluarganya.


"Apa kau yakin dengan kata-katamu tadi Lex?", Will memecah kesunyian di dalam mobil. Will membiarkan Alex yang menyetir mobilnya tanpa supir karena jarak kantor utama perusahaan Will dengan gedung majalah Star tidak terlalu jauh.


" Sebetulnya belum seratus persen. Bagaimanapun aku cuma membaca nama laporan pelamar yang datang untuk interview hari ini. Karina Maharani. Itu baru sekedar nama, tapi tidak salahnya kita lihat kan?" Alex mencoba meyakinkan Will yang terlihat resah.


Will sebetulnya tidak pernah menyimpan dendam pada seseorang, termasuk para mantan yang sampai sekarang masih mengantri untuk masuk kembali dalam hati Will. Masih berusaha merayu Will jika bertemu dan ada kesempatan. Kecuali wanita yang satu ini. Ya. Dialah Karina Maharani, yang bahkan tidak melirik Will sedetik pun. Bahkan mungkin menganggap Will bukan laki-laki. Will sempat berpikir dia gadis yang sinting. Tidak waras. Gila. Dan kawan-kawannya.


" Hah! Karin..Gadis sialan itu... dia yang berani melawanku. Cuma dia, satu-satunya." Sambil geleng-geleng kepala, masih tidak habis pikir dengan isi otak gadis itu.


" Jangan terlalu berharap kau akan menemukan Karin yang itu. Siapa tau dia berubah? Yang jelas dia cukup berani datang ke kandang singa. Kecuali dia buta dan tuli sekaligus sehingga tidak tau kau akan jadi bosnya."


" Aku tidak peduli dia berubah atau tidak. Yang aku ingat, dia mempermalukanku di depan mata semua warga sekolah. Jika benar itu dia, aku akan benar-benar membuat perhitungan kali ini."


" Hei, aku ada ide. Bagaimana kalau, kita manfaatkan dia selagi dia bekerja dengan kita? Kau tau maksudku kan? Jika kau ingin mempermalukannya, maka buat dia berada di dekatmu, buat dia merasa sangat malu sudah berani masuk ke perusahaanmu." Alex membuat usulan, yang tanpa mereka sangka akan membuat mereka tercengang esok hari.


" Belum pernah aku mendengar kau seantusias ini Lex? Hahahaha... Apa kau masih ingat betapa sombong dan angkuhnya dia kala membentakku?", Will balik bertanya. Seolah-olah dunia hanya miliknya saja. Dia bahkan tidak peduli tatapan tidak suka para siswi di sekolah itu.



Senin, 21 April 2011



Upacara bendera hari Senin kali ini dibawakan oleh para siswi karena bertepatan dengan hari Kartini. Para siswi sedang bersiap di posisi masing\-masing, dan sebagai pemimpin upacara berdiri dengan tegak Karina Maharani. Karin saat itu kelas X, dan dia paling berani di angkatannya. Di bawah arahan pembina dan dewan OSIS, upacara berjalan lancar.



Seluruh warga sedang sibuk mempersiapkan perlombaan yang disusun oleh OSIS dan seluruh siswa yang berpartisipasi di dalamnya, lalu saat terdengar bunyi yang cukup keras di pengeras suara, semua aktivitas itu berhenti.



" A a a.. tes tes.. cek.. ", terdengar dengung dari mic speaker MC upacara tadi pagi. Will yang bicara disana sekarang.



" Pengumuman," Will berdeham, "mulai hari ini, anak X 2 yang bernama Maya Nurani adalah pacarku. Pacar William Chatteriss. Tidak ada yang boleh mengganggunya, menyentuhnya, dan apalagi diam\-diam memacarinya. Yang demikian jelas akan berhadapan denganku. Terimakasih." Begitu saja, pengumuman singkat dan menyebalkan dari Will. Sontak seluruh warga yang mendengar bersorak untuk Will.

__ADS_1



Karin yang saat itu dekat posisinya dengan Maya, langsung menyambar lengannya dan bertanya.


" Benar May apa yang ku dengar tadi? Kamu pacaran sama William? Sejak kapan?", bukan tanpa alasan Karin bertanya. Bukan, bukan cemburu. Tapi karena Karin tau pasti Maya seperti apa.



"Ngga Rin, aku juga baru dengar itu barusan". Karin juga melihat betapa was\-wasnya Maya saat ini, bibirnya pucat dan tangannya yang sedang memegang kantung plastik bergetar. Jelas, seisi sekolah mungkin tidak mengenal siapa dia, tetapi dalam upacara tadi Maya sebagai pembawa bendera bagian tengah bahkan dibacakan namanya oleh MC. Dia seangkatan dengan Karin. Karin lah sahabatnya selama masuk SMA ini.



" Ayo kita kesana. Kita ngomong sama Will sialan itu apa maunya. Kenapa dia kurang ajar sekali. Tanpa ada alasan apa\-apa, tanpa bertanya pada yang dimaksud mau atau tidak malah ngomong nggak penting".



Karin menarik tangan Maya. Maya menampik tangan Karin, dan memandang sekeliling. Semua disekitarnya sekarang adalah mayoritas siswi, maka dia semacam buron yang siap disergap dan masuk ke dalam sel.



Karin bingung dengan sikap Maya, Maya cuma geleng\-geleng kepala. Antara takut dengan Will, takut dengan tatapan seisi sekolah yang dia rasa semua mata tertuju padanya saat itu juga padahal tidak.




Sekarang ganti Maya yang mencengkram tangan Karin. " Jangan!" Maya melihat Karin bertanya di wajahnya, "jangan sekarang. Malu Karin banyak orang."



Tangan Maya ditepis, " Yang harusnya malu tuh dia. Bukan kamu. Kamu ni aneh. Ah, atau jangan\-jangan, kamu mau jadi pacarnya? Iya? Jadi bonekanya Will? Mau?"



Maya geleng\-geleng kepala lagi. Hmmmm....



*Ok. Lihat aja Will. Kakak kelas sok kecakepan. Dipikir semua cewe bakal takluk apa sama dia*?


__ADS_1


Saat Will berbalik meninggalkan mic yang masih menyala dia mendengar namanya dipanggil dari kejauhan oleh suara cewe. Cuma kok sepertinya Will familiar dengan suara itu.



"Kak William.. William.. Hei Will..!" Karin berlari dari tengah lapangan menuju panggung MC. Dia melompat tanpa sadar tiga anak tangga sekaligus, tanpa kesulitan.



Will beserta rombongannya berhenti dan menoleh tepat saat Karin melompat. Mereka tercengang. Karin berjalan mendekati Will.



" Maaf Kak, bisa bicara sebentar." Karin berdiri berhadapan dengan Will, dia mendongak karena Will 20 senti lebih tinggi darinya. Karin tepat sedada Will.



Will menatapnya lekat\-lekat.



"Apa? Mau ngomong apa?" Alex yang bicara.



" Maaf, kakak ini siapa ya? Saya mau ngomong sama yang tadi nembak Maya."



Will terkekeh. Ini cewek siapa si. Lucu banget. Rambutnya cepak kaya cowo, bisa terbang, dan ngga kenal sama Alex? Ckckck.



" Mau ngomong apa? Maya nerima aku kan? Udah, ga usah diperjelas, aku dah tau kok." Will nyengir. Manis banget sampai gula aja kalah. Cewek normal manapun bisa pingsan dibuatnya. Tapi Karin berbeda..



" Eh, Kak. Maaf ya. Aku tau kamu kakak tingkat, kamu mungkin keren, cakep, mobilnya bagus, pinter, tapi hargai dong privasi orang? Kamu gak nanya gimana perasaan Maya? Kamu gak tau dia jadi takut bahkan gak berani sekolah kalo sampe jadi pacar kamu? Hah?!" sewot juga Karin, melotot matanya dan nada bicaranya meninggi.



*Ngiiiiiing*....

__ADS_1



Dan itulah, momen seisi sekolah tau, bahwa Will juga manusia biasa dan bahkan bisa kena bentak cewek yang cuma adik kelasnya.


__ADS_2