
Selamat membaca ...
...****************...
Setelah kepulangan sang dokter. Yola akhirnya memilih untuk memasak terlebih dahulu sebelum suaminya sadar. Setidaknya ia hanya butuh beras untuk memasak bubur. Ia tidak menyangka, jika suaminya punya alergi yang begitu mengerikan.
“Roy, sekarang aku akan menjaga mu dengan sangat baik. Aku sendiri yang akan memastikan hal itu,” gumam Yola sambil memasak.
Apartemen itu memang tidak terlalu besar, jika untuk dua orang. Roy benar-benar tidak berniat menikah sepertinya, karena Yola melihat apartemen itu isinya barang berharga semua. Yola berpikir jika menjual salah satu sofa yang ada di sana, pasti akan sangat mahal.
Yola kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bagaimana mungkin saat pemilik apartemen itu sedang sakit. Ia malah memikirkan uang dan berpikir untuk menjual sofa. Ah! Jiwa matre Yola mulai meronta. Sebagai seorang wanita, ia sangat menyukai uang.
Tak terasa akhirnya Yola sudah selesai memasak dan kembali ke kamar untuk mengecek sang suami yang sejak tadi tak sadarkan diri. Jujur, ia merasa sang bersalah terhadap pria malang itu.
Jika bukan karena makan bubur yang bertabur kacang, suaminya tidak akan sampai seperti sekarang. Apalagi, saat menuju apartemen, pria itu memaksakan diri untuk tetap menyetir dan terus menyembunyikan kebenaran darinya.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu kamar terbuka hingga menampilkan sosok pria yang terbaring lemah di atas tempat tidur yang berukuran king size.
“Eungh!” terdengar suara lenguhan berasal dari sang suami. Mendengar hal itu, Yola langsung menghampiri sosok pria lemah tersebut.
“Roy, apa kau merasa lebih baik?” tanya Yola yang merasa khawatir.
“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa cemas seolah aku mau mati sekarang,” ucap Roy dengan lirih. Sedangkan Yola hanya mendengus saat mendengar penuturan Roy.
Roy yang melihat Yola bertingkah seperti itu malah gemas dan ingin segera menggigit bibir seksi yang tengah mengomeli dirinya. Namun, yang bisa ia lakukan hanya terkekh kecil, karena ia belum sanggup dan belum cukup bertenaga.
“Kenapa kau malah terkekeh?” tanya Yola kesal.
“Aku hanya gemas saat melihat istriku yang begitu khawatir,” jawab Roy lirih. Pria itu sangat senang saat melihat istrinya yang masih peduli padanya.
__ADS_1
“Iiih ... aku serius,” rengek Yola karena kesal.
“Baiklah, baiklah. Aku percaya pada istriku yang cantik ini,” ucap Roy mengalah dan berusaha menahan senyuman yang merekah di bibir pucatnya.
“Oh ya, tadi aku masak bubur. Kau harus makan dulu ya agar sedikit bertenaga,” ucap Yola dengan lembut, sambil mengelus dahi milik sang suami.
“Lalu, jika aku sudah bertenaga, kita akan melakukan apa?” tanya Roy dengan tatapan menggoda, yang mana hal itu membuat wajah Yola memerah bagai udang rebus. Roy kembali tersenyum saat melihat raut wajah malu milik Yola.
Ah! Rasanya ia sedikit menyesal karena telat menikahi Yola lebih dulu. Jika saja ia tahu nikmatnya hidup satu atap dengan wanita yang sangat ia cintai. Pasti sudah sejak awal bertemu, Roy akan melamar Yola dan menikahi wanita itu secepat mungkin.
Tanpa menjawab apapun, akhirnya Yola bangkit dari duduknya dan segera keluar dari kamar dan menyiapkan bubur untuk suaminya.
“Yola, aku akan berusaha membuat mu benar-benar jatuh cinta padaku,” gumam Roy sambil tersenyum senang, sambil melihat punggung Yola yang menjauh ditelan jarak.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya