
Selamat membaca ...
...****************...
Tak butuh waktu lama kini Yola sudah kembali ke dalam kamar, dengan membawa semangkuk bubur dalam nampan. Wanita itu mendengus kesal saat melihat suaminya tertidur kembali.
"Roy, bangunlah! Aku bawakan bubur untuk mu. Ayo makan dulu, nanti kau harus minum obat." Wanita itu menggoyangkan tubuh Roy secara perlahan. Bahkan, Yola sesekali mengelus dahi milik suaminya dengan lembut, karena tidak ada tanda-tanda jika pria itu akan segera bangun.
'Apa Yola sedang mengkhawatirkan aku?' tanya Roy dalam hati. Jujur saja ia merasa sangat bahagia karena perhatian kecil yang diberikan oleh istrinya.
"Roy cepat bangun, atau aku akan membawa bubur ini kembali ke dapur," ancam Yola yang sudah mulai kesal. Dengan secepat kilat roi akhirnya membuka mata dan bersandiwara.
"Maaf aku ketiduran," ucap Roy dengan lirik dengan menampilkan raut wajah tak enak hati. Yola hanya menghalangi pasti panjang, dan tak ingin memperpanjang masalah.
"Sudahlah, cepat duduk dan makan duduk ini!" Titahnya dengan tegas, hingga membuat Roy tanpa sadar mengikuti perintah Yola.
__ADS_1
"Aku masih merasa lemas. Apa kau bisa membantuku untuk makan?" Tanya Roy dengan memelas. Lagi Dan lagi Yola dibuat tak berkutik oleh suaminya sendiri. Akhirnya Yola membantu sang suami untuk makan, hingga makanan yang ada dalam nampan tersebut habis tak tersisa.
"Cepat minum obat mu, dan langsung istirahat!" Roy begitu kesal saat istrinya sangat kaku dan begitu tegas saat memberi perintah padanya yang sedang sakit. Padahal Ia hanya ingin sedikit dimanja oleh Yola.
"Jangan Pergi! Aku tidak bisa tidur, mungkin karena tadi aku pingsan sangat lama. Aku mohon," pinta Roy dengan memelas.
"Aku tidak akan pergi. Aku di sini untuk menemani kamu." Akhirnya Yola meraih mangkuk berisi bubur yang ia masak, dan segera menyiapkan bubur tersebut ke dalam mulut Roy dengan hati-hati.
"Aku senang karena kau sudah mengkhawatirkan aku," kata Roy dengan santai sambil tersenyum lembut, dengan wajah yang masih pucat pasih. Yola terpaku saat melihat sebuah senyum yang terbit dari bibir suaminya, yang tidak pernah ditampakkan di khalayak umum.
"Apapun untukmu. Bahkan kau bisa menjual apartemen ini jika kau mau." Mendengar hal ini wajah Yola terlihat sangat memerah. Sial! Kenapa pria ini justru menggodanya kembali. Padahal ia hanya ingin menghilangkan rasa canggung saja.
"Jika aku menjualnya, kau mau menjadi gelandangan?" Tanya Yola kesal.
"Menjadi gelandangan bersamamu, aku akan senang." Sumpah demi apa pun, ingin rasanya Yola menggigit bibir suaminya itu.
__ADS_1
"Sudah, sekarang minum obat mu!"
"Siap istriku."
Roy menatap istrinya dengan lekat, hingga ia tak mampu untuk berpaling sedikit pun dari sosok wanita yang ada di hadapannya. Tak dapat ia pungkiri, jika hatinya merasa tak tenang setelah mengetahui akan ancaman yang diberikan oleh ayahnya sendiri.
Bagaimana pun caranya, ia akan tetap melindungi Yola, hingga ayahnya sekali pun tak akan mampu untuk menyentuh istrinya walau hanya seujung kuku.
"Apa aku boleh meminta vitamin ku?" Tanya Roy secara tiba-tiba, hingga membuat Yola mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti.
"Vitamin? Dokter tadi tidak memberi vitamin apapun!"
"Vitamin ku yang ini." Yola membulatkan matanya dengan sempurna, tatkala tangan Roy sudah menyentuh dua bukit himalayanya. Dia tidak menyangka, jika pria itu bisa berbuat messum.
"Roy, kau messum!!!"
__ADS_1