My Lovely Pangeran Playboy

My Lovely Pangeran Playboy
Bab 1--Kenzi Alviano


__ADS_3

Memiliki wajah tampan adalah suatu kebanggaan dari seorang cowok bernama Kenzi Alviano. Bahkan sering kali ia memanfaatkan ketampanannya untuk mendekati cewek-cewek yang ada di kampusnya. Parahnya lagi, Kenzi hanya mempermainkan mereka untuk kepuasannya semata.


Tidak pernah ada seorang pun yang menolak didekatinya, walaupun mereka sendiri sudah tahu seperti apa sikap Kenzi. Hal itu menjadikan Kenzi semakin merasa muak dengan perempuan yang hanya memandang fisik semata.


"Woi, Ken!"


Cowok yang tengah mencatat tulisan yang terpampang di papan tulis putih itu tidak mengalihkan pandangannya barang sejenak, justru ia semakin fokus dengan kegiatan mencatatnya.


Melihat Kenzi yang tidak menghiraukan panggilannya, membuat Fero-- sahabat Kenzi berdecak kesal. Ia yang semula hanya berdiri di depan pintu, kini melangkah cepat mendekati meja Kenzi. "Woi, lo gak tuli 'kan?" sindir Fero sembari menepuk bahu Kenzi keras.


Kenzi meletakkan pulpen yang dipegangnya dengan kesal, ia memandang sahabatnya itu tajam. "Lo gak liat gue lagi sibuk? sabar kek," balas Kenzi ketus.


Fero menarik bangku di samping Kenzi dan duduk di sana. Matanya menoleh memandang papan tulis di depannya. "Ah elah, lo masih aja nyatet tuh pelajaran. Gue aja yang liatnya enek duluan."


"Itukan elo," ujar Kenzi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tulisnya.


"Lagian lo aneh deh, Ken. Muka keliatan kayak bad boy gitu, gak cocok lo serius sama pelajaran." Fero menggelengkan kepalanya pelan.


Kenzi menaruh pulpen dan juga bukunya ke dalam tas miliknya. Kemudian ia menyampirkannya di kedua bahunya. "Orang cakep mah mau ngapain aja cocok, bro." Kenzi bangkit dari bangkunya.


Fero memutar bola matanya malas, ia melangkah menyusul Kenzi. "Eh Ken, gue diteror terus sama cewek-cewek yang minta nomer lo. Ah elah, kenapa dari sekian banyak cewek, gak ada yang minta nomer gue ya. Padahal muka lo sama gue aja gantengan gue." Fero berucap ngawur.


Seketika Kenzi tertawa kencang. "Lo jadi cowok yang cool dikit makanya. Ikutin gaya gue, kalo perlu belajar dulu sama gue." Kenzi kembali tertawa di ujung kalimatnya.


"Males banget. Bagi gue jadi diri sendiri itu lebih baik," balas Fero tersenyum bangga.


"Yaudah terserah lo sih." Kenzi mengangkat bahunya acuh.


Mereka melangkah di koridor dengan ditemani obrolan ringan, tak jarang Kenzi tersenyum saat ada perempuan yang menyapanya. Semuanya masih berjalan normal, hingga seseorang dari belakang menarik tangannya.


Kenzi berbalik dan mendapati seorang perempuan yang tengah tersenyum memandangnya. Mau tidak mau Kenzi ikut tersenyum membalasnya. "Hai, El."


"Hai, Ken." Perempuan itu tersenyum malu-malu.


Fero yang ada di samping Kenzi memutar bola matanya jengah. Jika ia sudah berada di situasi seperti ini, ia sudah mengerti apa yang harus dilakukannya. "Gue duluan, ya." Fero menepuk bahu Kenzi pelan.

__ADS_1


"Hati-hati, bro." Kenzi menoleh ke arah Fero yang membalasnya dengan anggukan kecil.


Cowok dengan kaus putih polos yang dipadukan dengan kemeja merah itu kembali memandang perempuan bernama Ellena, orang yang sudah beberapa hari ini didekatinya. Dengan lembut ia menggenggam tangan Ellena dan duduk di tepi koridor.


"Kamu belom pulang, El? Ini udah sore lho." Kenzi membuka percakapan.


Perempuan berambut coklat gelap itu menggeleng kecil. "Aku kan nungguin kamu. Kita bareng ya?"


"Yaudah yuk, keburu gelap." Kenzi bangkit dari duduknya diikuti Ellena. Mereka melangkah santai masih dengan tangan mereka yang saling bertautan.


Di parkiran Kenzi memberikan helm pada Ellena yang ada di sampingnya. Kemudian Kenzi menaiki motor besar berwarna hitam miliknya dan menyalakan mesinnya. Setelah Ellena naik dan duduk di belakangnya, barulah Kenzi melajukan motornya.


"El, Kamu jangan senyum terus kalo ada di deket aku," ucap Kenzi di sela-sela perjalanan.


Ellena mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa?" tanya Ellena.


Kenzi tersenyum tipis. "Entar aku meleleh," balas Kenzi.


Seketika wajah Ellena memanas, ia tersenyum sembari menundukkan pandangannya. "Apaansih, emang kamu lilin bisa meleleh." Ellena tertawa pelan.


Sementara wajah Ellena sudah sangat merah layaknya kepiting rebus. "Dasar gombal," balas Ellena masih tidak bisa mengontrol wajahnya.


Kenzi tertawa renyah. Ia masih meluncurkan perkataan-perkataan manisnya, hingga akhirnya komplek perumahan Ellena sudah terlihat. Cowok itu menghentikan motornya tepat di depan rumah Ellena.


"Kamu hati-hati ya," ucap Ellena setelah turun dari motor Kenzi.


"Iya, aku duluan ya." Kenzi tersenyum manis sebelum akhirnya melajukan motornya kembali.


Kenzi mengendarai motornya menuju rumahnya yang tidak terlalu memakan banyak waktu di perjalanan. Lima belas menit kemudian motor hitam miliknya sudah mendarat di pekarangan rumah bernuansa putih. Ia mematikan mesin kendaraannya dan segera memasuki rumahnya.


Rumah dua lantai yang halamannya begitu asri itu, selalu berhasil membuat Kenzi betah berada di rumahnya. Apalagi perhatian dari orang tuanya yang begitu besar padanya, yang membuat Kenzi ingin terus-terus ada di rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Kenzi saat melihat wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa.


"Wa'alaikumussalam," balas Dian-- mama Kenzi. Wanita paruh baya yang masih terlihat muda diusianya itu tersenyum lembut.

__ADS_1


Kenzi menyalami punggung tangan mamanya dan duduk di sampingnya.


"Kamu capek banget kayaknya?" tanya Dian yang memperhatikan wajah lesu Kenzi.


Kenzi mengembuskan nafas panjang. "Banyak tugas di kampus, udah gitu lagi banyak event juga." Kenzi membalas sembari menyenderkan bahunya pada sofa.


Dian tersenyum maklum. "Yaudah Mama ambilin minum dulu ya, tadi kebetulan Mama udah buatin jus mangga."


Mendengar jus mangga, seketika mata Kenzi berbinar. Dari tadi rasanya ia lelah sekali, dan sedikit jus mungkin bisa memulihkan tenaganya. "Iya, Ma."


"Yaudah, bentar ya." Dian beranjak dari sofa dan berlalu ke arah dapur.


Sementara Kenzi memandang penasaran televisi yang tengah ditonton mamanya tadi. Namun saat melihatnya, Kenzi jadi tidak niat untuk menonton. Kenzi bingung dengan Mamanya, kenapa mamanya sering sekali menonton sinetron yang alurnya tidak jauh-jauh dari pelakor dan perselingkuhan. Kenzi saja yang tidak pernah menonton, hanya melihat sekilas, bosan.


Seperti sekarang ini, sinetronnya menceritakan tentang suami yang ditinggalkan istrinya saat sang suami bangkrut. Kenzi mengembuskan nafas panjang, ia meraih remot dan menggantinya. Dan tepat sekali saat Kenzi tengah mencari acara televisi yang bagus, ada pertandingan bola negaranya melawan Thailand. "Ini baru seru," ucap Kenzi senang.


Semenjak kesibukannya kuliah, Kenzi jarang sekali menonton pertandingan bola di televisi. Padahal dulu saat masih SMA ia mempunyai banyak waktu untuk itu, bahkan untuk bergadang pun Kenzi masih bisa.


Tapi sekarang jangankan bergandang menonton bola, yang ada dia justru bergadang mengerjakan tugas yang bertumpuk.


"Kenzi kenapa diganti? itu tadi lagi seru." Dian yang baru datang langsung berucap tidak terima. Setelah menaruh jus mangga untuk Kenzi di atas meja, Dian duduk di samping putranya itu sambil berusaha merebut remot ditangan Kenzi.


"Ih, Ma. Aku jarang nonton tv, sekarang aku dulu ya." Kenzi tersenyum manis berusaha meluluhkan Mamanya agar mengalah.


"Kamu abis kuliah bukannya mandi dulu sana, ini malah nonton tv." Dian tidak mau mengalah begitu saja.


Kenzi dan Dian saling melemparkan kata-kata untuk membuat salah satunya mengalah. Tapi karena ucapan Mamanya yang membuat Kenzi pusing sendiri, alhasil cowok itu mengalah dan memilih meminum jus mangganya.


"Nah gitu dong, mending kamu abis minum langsung mandi. Badan kamu bau tuh, muka kamu juga udah kucel begitu. Malu kalo ada tamu dateng."


"Iya-iya," balas Kenzi pasrah. Berada di dekat mamanya memang harus banyak-banyak sabar, karena hobi Dian yang sukanya mengoceh. Walau begitu Kenzi tetap menyayangi mamanya, bahkan bangga. Karena mamanya tidak pernah mengeluh, walau saat kelelahan sekalipun.


Dengan keluarganya Kenzi merasa nyaman, ia bersyukur memiliki keluarga yang hangat dan harmonis, sementara di luar sana banyak orang-orang seusianya yang broken home karena keluarga mereka yang tidak harmonis.


Dibalik sikapnya yang suka mempermainkan perempuan, sebenarnya Kenzi orang yang baik. Hanya saja dirinya yang salah menyikapi rasa sakitnya akibat peristiwa masa lalunya. Kenzi tahu apa yang dilakukannya salah, tapi untuk saat ini ia masih belum bisa menghentikannya. Setidaknya sampai ia bisa menghapuskan rasa sakitnya. Hanya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2