My Lovely Pangeran Playboy

My Lovely Pangeran Playboy
Bab 4-- Lelah Dengan Perasaan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aletta sudah terbangun untuk melakukan aktivitas rutinnya jika tidak ada mata kuliah. Gadis itu menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya. Kaus oblong berwarna abu-abu yang dipadukan dengan celana panjang berwarna senada. Aletta juga mengikat rambut panjangnya layaknya ekor kuda.


Setelah dirasa tidak ada yang kurang pada penampilannya, Aletta segera keluar dengan menenteng sepatu berwarna putihnya. Di ujung tangga, Aletta celingak-celinguk untuk memastikan orang tuanya dan abangnya itu tidak ada. Bukannya apa-apa, jika Aletta ketawan ingin berlari keliling komplek, pasti orang tuanya akan repot sendiri membekalinya minuman dan makanan.


Tentu saja Aletta malas sekali membawa makanan dan minuman yang diberikan orang tuanya. Seribet itu memang, orang tuanya terlalu berlebihan. Padahal Aletta hanya ingin berlari keliling komplek, bukannya berlari jarak jauh 5 kilo meter.


Aletta memasang sepatunya di ujung tangga, kemudian ia melangkah ke luar pintu dan menutupnya kembali. Aletta menghela nafas lega saat berhasil keluar tanpa ketawan orang tuanya. Ia pun mulai berlari mengitari komplek. Sesekali ia tersenyum saat bertemu orang di jalan.


Hawa sejuk begitu lembut menerpa tubuhnya. Ini yang Aletta sukai ketika berlari di pagi buta, hawa sejuk dan segar membuat Aletta merasa nyaman dan bebas.


Matanya memandang langit, kemudian tersenyum. Menjalani hiruk pikuk perkuliahan yang padat dan membuatnya pusing, menjadi salah satu alasan Aletta untuk bisa berlari barang sejenak saat hari libur. Karena dia butuh refreshing sejenak dari dunia yang menguras otaknya.


"Aletta!"


Aletta menghentikan kegiatan larinya, kemudian berbalik menghadap ke belakang. Di sana ia menemukan seorang laki-laki yang tengah melambaikan tangan padanya. Aletta tersenyum, ia menghampiri laki-laki itu.


"Raka, lo libur?" tanya Aletta saat berada di samping cowok berpostur tinggi itu.


Raka tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya yang begitu manis dan indah untuk dilihat. Sejak dulu Aletta selalu menyukai senyum itu, yang mana tidak akan pernah bosan untuk dipandang.


"Gue lagi gak ada mata kuliah, makanya gue pengen ngilangin stress buat lari keliling komplek. Lo sendiri?"


"Sama kayak lo," balas Aletta.


Raka mengangguk kecil. "Yaudah kita lari bareng aja," tukas Raka tersenyum simpul.


Aletta ikut tersenyum memandang Raka. Sudah sejak SMA Aletta menyukai Raka, tetapi ia tidak berani untuk mengucapkannya. Karena ia takut Raka justru menjauh darinya. Jadi Aletta lebih memilih memendam perasaannya, daripada ia harus kehilangan Raka.


"Ayok," ujar Aletta antusias.


Mereka berdua berlari bersisian dengan saling melempar obrolan. Bagi Aletta momen seperti ini sangat jarang ia dapatkan. Rumahnya dengan rumah Raka memang dekat, hanya beda komplek. Tapi keduanya yang sibuk dengan urusan masing-masing membuat mereka jarang bertemu. Maka dari itu Aletta memanfaatkan waktunya bersama Raka dengan sebaik-baiknya, karena belum tentu ia bisa seperti ini lagi.

__ADS_1


Raka Alvaro Aditama. Laki-laki yang sejak SMA menghiasi hari-hari Aletta. Raka yang merupakan sosok yang dewasa dan juga perhatian pada semua orang, berhasil membuat hati Aletta luluh. Namun sayangnya semenjak mereka lulus SMA, Aletta jarang bertemu dengan Raka lagi.


"Al, duduk di situ dulu yuk." Raka menunjuk kursi panjang yang ada di taman komplek.


Aletta mengangguk, ia melangkah mendekati kursi yang ditunjuk Raka. Sesampainya di sana, Aletta duduk tepat di samping Raka. Tangannya mengibas-ngibaskan wajahnya.


"Lo capek ya? bentar deh gue beliin minum dulu." Raka beranjak dari kursi yang didudukinya. Tapi tangannya langsung dicekal oleh Aletta.


"Raka gak usah," tahan Aletta.


Raka tersenyum ke arah Aletta. "Gakpapa, Al. Udah pokoknya lo tunggu sini aja," balasnya melepaskan cekalan Aletta dan berlalu dari hadapan gadis itu.


Di belakang Aletta tersenyum. Raka masih peduli seperti dulu, cowok itu tidak berubah sedikitpun. Andai saja ia bisa memiliki Raka sepenuhnya, pasti Aletta akan menjadi orang yang paling beruntung. Tapi sayangnya itu hanyalah harapan yang hanya akan menjadi angan-angannya semata.


Raka kembali dengan membawa dua botol air dingin, ia memberikan salah satunya pada Aletta. "Nih, Al minum dulu." Raka menyerahkan air dingin ditangannya, setelahnya ia kembali duduk di sebelah Aletta.


"Makasih ya, Ka." Aletta tersenyum tulus.


Aletta meneguk air minumnya hingga tersisa setengah. Rasanya ia sangat haus setelah berlari dari tadi. Ia menutup kembali tutup botol air dinginnya dan menaruhnya di sampingnya. "Ka, udah lama ya kita gak ketemu." Aletta membuka percakapan.


Raka yang juga baru meminum air dinginnya itu, menaruh airnya di sampingnya. "Iya, dulu waktu SMA kita sekelas, sering ketemu juga. Sekarang semenjak kuliah kita jadi jarang banget ketemu."


Aletta tersenyum tipis. "Gue kangen sama lo, Ka." Aletta membulatkan matanya saat menyadari perkataannya.


Aduh gue keceplosan. Gimana si lo, Al? gue harus ngomong apa sekarang?, batin Aletta.


Raka menoleh cepat, cowok itu bergeming menatap Aletta.


Sementara Aletta tertawa seketika. "Maksud gue, gue kangen bisa main bareng lo lagi. Lo 'kan temen gue," jelas Aletta.


Raka ikut tertawa, tangannya mengacak-ngacak pucuk kepala Aletta gemas. "Iya juga, ya. Kita 'kan temen."

__ADS_1


Perlakuan sederhana Raka, dapat membuat Aletta lagi-lagi terenyuh. Entah kenapa apapun yang Raka lakukan, walaupun hanya hal kecil sekalipun, tapi mampu menggetarkan hatinya.


Aletta memandang mata teduh Raka sendu. Pada kenyataannya Raka hanyalah menganggapnya teman, walaupun Aletta ingin lebih dari itu. Sampai kapanpun Aletta akan tetap mencintai sendiri, tanpa cinta itu terbalaskan.


"Al, lo ngelamun ya?" tanya Raka sembari melambaikan tangannya di depan wajah Aletta.


Aletta tersadar dari lamunannya, dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya. "Enggak, gue cuma gak nyangka aja bisa ketemu lo."


"Lebay lo," balas Raka merangkul bahu Aletta. "Kayak rumah gue jauh aja," lanjutnya terkekeh.


Lagi-lagi Aletta dibuat tidak berkutik dengan Raka. Tidak sadarkah Raka kalau perlakuannya pada Aletta, bisa membuat ia semakin berharap. Rasanya Aletta ingin menangis, saking menyakitkannya mencintai seorang diri.


"Ka, kita pulang yuk! gue capek," ujar Aletta tiba-tiba


Capek ngerasain sakit sendiri, lanjut Aletta dalam hati.


Raka mengangguk, ia melepaskan rangkulannya dan beranjak dari bangkunya. "Ayok," balas Raka.


Aletta bangkit dari bangkunya. "Yaudah gue duluan, ya. kita 'kan beda arah, jadi pisah di sini aja."


"Kenapa gak bareng aja? gue bisa muter kok nanti." Raka menyahut.


Aletta menggelengkan kepalanya. "Enggak, Ka. Gak usah nyusahin diri lo sendiri, deh. Udah ya, gue duluan." Tanpa menunggu balasan Raka, Aletta langsung berlari menjauh dari taman.


Air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya tumpah. Aletta menangis dalam diam, hanya bulir bening yang membasahi pipinyalah, yang mewakili apa yang Aletta rasakan. Mencintai teman sendiri itu tidak cuma menyakitkan, tapi juga melelahkan.


Dari SMA sampai saat ini perasaannya tidak jua menghilang, padahal Aletta sudah berusaha untuk bisa melupakan cintanya pada Raka. Tapi setiap kali Aletta bertemu Raka, rasa bahagia dan juga rasa sesak itu datang. Membuat Aletta lelah sendiri. Entah kapan perasaan itu akan hilang? Sampai kapan Aletta akan terus menahan rasa sakit ini? Aletta sendiri tidak tahu.


Tapi yang pasti Aletta akan terus berusaha, biarlah waktu yang perlahan-lahan mengikiskan perasaannya pada Raka.


***

__ADS_1


__ADS_2