My Lovely Pangeran Playboy

My Lovely Pangeran Playboy
Bab 2-- Aletta Anastasya


__ADS_3

Baginya ada dua hal yang sangat Aletta hindari. Pertama kecoa. Mungkin terdengar sepele, tapi tidak bagi Aletta. Serangga yang satu itu begitu menyeramkan menurutnya, apalagi saat kecoa itu menggerakkan sayapnya bersiap untuk terbang. Huh, lebih lebih menyeramkan.


Selain kecoa, ada lagi yang begitu Aletta hindari. Cowok playboy! baginya berurusan dengan cowok playboy membuatnya muak. Mereka dengan mudah mempermainkan hati perempuan tanpa mempedulikan perasaan kaum hawa. Maka dari itu setiap kali ada cowok playboy, entah di kampus atau dimanapun itu. Aletta lebih memilih menjauh, daripada mendengarkan rayuan klise mereka yang membuatnya ingin muntah.


Dulu saat SMA Aletta pernah menemukan cowok playboy yang begitu gencar mendekatikanya, hingga rasanya ia ingin cepat-cepat lulus. Dan saat kelulusan SMAnya, Aletta bahagia setengah mati karena terbebas dari cowok playboy di sekolahnya yang bernama--Irwan. Jangan kalian berpikir Irwansyah aktor dan penyanyi yang tampan itu, bukan! beda jauh sekali Irwan di sekolahnya dengan Irwansyah yang jelas-jelas tampan itu.


Aletta tahu pasti kenapa Irwan tidak berhenti mengejarnya hingga tiga tahun, alasannya tidak jauh karena Irwan yang biasanya mudah untuk menggaet cewek sana-sini dan tiba-tiba ditolak olehnya. Jadi Irwan berusaha untuk bisa meluluhkan hatinya, tapi untungnya Aletta tidak ikut terlena layaknya perempuan lain.


Dan saat Aletta akhirnya berkuliah, ia harus kembali menemukan cowok playboy yang mengandalkan tampang. Dari awal melihat saja Aletta sudah benci dengan cowok itu. Saat ini ia tidak mau lagi berurusan dengan cowok playboy, cukup Irwan! Aletta tidak mau ada lagi.


Aletta menutup laptopnya, akhirnya selesai juga tugasnya. Ia meletakkan laptonya di atas meja belajarnya dan kembali berbaring du ranjangnya. Tangannya meraih ponsel yang ada di atas nakas, dan mengaktifkan data internetnya. Tepat saat itu banyak pesan masuk yang kebanyakan dari grup kelasnya dan grupnya bersama teman-temannya.


Karena malas membuka grup kelas yang tidak jauh-jauh membahas tentang tugas, Aletta memilih membuka grup bernama '4 Codet'. Jujur saja Aletta pun tidak menyukai nama grup yang ditulis Adit--salah satu temannya. Tapi ia malas berkomentar, karena Adit pasti punya banyak seribu satu alasan agar nama grupnya tidak diganti.


4 Codet


Adit


Woi gue bosen sumpah tugas mulu, kenapa gak libur aja yang dibanyakin. Otak juga perlu liburan kali


Sella


Kalo lo gak mau ada tugas, balik lagi sono ke tk. Setidaknya tk tugasnya gak nguras otak.


Zidan


Gue setuju sama Sella wkwk


Aletta menggelengkan kepalanya melihat percakapan teman-temannya. Melihat ulah mereka selalu bisa membuat Aletta terhibur, terlebih sikap Adit yang konyol.


Me


Ululu kasian Adit gak ada yang bela


Adit


Tau emang, parah kalian berdua. Mending kita temenan berdua aja yuk, Al. Gak usah sama Zidan, Sella.

__ADS_1


Aletta tertawa melihat tingkah Adit, ada-ada saja tingkah cowok itu.


Zidan


Jangan mau, Al. Nanti lo ikutan miring otaknya kayak Adit.


Me


Eh parah lo, Dan. Kayak otak lo udah lurus aja.


Sella


Hmm, skakmat haha


Adit


Mantab, Al


Zidan


Puas lo semua _-


Tanpa melihat grup percakapan teman-temannya lagi, Aletta segera mematikan ponselnya dan mematikan lampu kamarnya. Kemudian Aletta menarik selimut hingga menutupi dadanya, tak lama matanya pun terpejam sempurna.


***


Pantulan sinar mentari yang begitu terang membuat Aletta menyipitkan matanya, ia mengarahkan tangannya menutupi wajahnya. Aletta mengedipkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.


"Woi kebo bangun! Tidur mulu lo," pekik seseorang di sampingnya.


Mata coklat tua milik Aletta akhirnya terbuka dengan sempurna. Gadis itu menoleh ke arah seorang laki-laki yang duduk di tepi ranjangnya. "Bang, jam berapa?" tanya Aletta masih dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Jam tujuh kurang sepuluh menit," balas Aldi--abang Aletta santai.


Mata Aletta membulat seketika. "Apa?! Abang kok baru bangunin?!" Dengan cepat Aletta menyibak selimutnya asal dan melompat turun. Ia meraih handuk yang tergantung di samping kamar mandi dan menutup pintu dengan cepat.


Aldi yang melihat tingkah adiknya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aletta yang bangunnya kesiangan, Aldi yang disalahin. "Al, awas telat!" seru Aldi setengah berteriak.

__ADS_1


Sementara Aletta dari dalam kamar mandi menggerutu kesal. "Emang udah telat," balas Aletta kesal.


Aldi justru tertawa puas, ia melangkah keluar dari kamar Aletta dan menutupnya perlahan.


Aletta keluar dari kamar mandi dan melangkah cepat menuju lemarinya. Ia mengambil asal pakaiannya dan memakainya dengan cepat. Setelahnya Aletta mengambil tasnya, dan berlari menuruni tangga.


"Bang bilangin Mama, gue berangkat ya. Gak sempet izin gue, bye," ucap Aletta yang melihat Aldi di ambang pintu. Tanpa menunggu jawaban Aldi, Aletta langsung menyalakan motor maticnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


"Woi jangan ngebut-ngebut!" teriak Aldi dari depan gerbang.


Aletta tidak membalas, ia fokus mengendarai motornya. Di kondisi seperti sekarang sedikit saja melakukan kesalahan, akan berbahaya untuknya. Dalam hati Aletta berharap agar dia tidak terlambat, karena ini semua demi nilai. Kalau saja bukan karena nilainya, Aletta tidak akan ngebut-ngebut dan mempertaruhkan nyawanya sendiri.


"Aduh semoga Pak Dito belom masuk kelas," ujar Aletta pada dirinya sendiri.


Sepuluh menit terlewati, akhirnya Aletta sampai juga di kampusnya. Ia memarkirkan motomya di tempat parkir khusus motor, setelahnya ia mematikan mesin motor maticnya. Dalam hati Aletta bersyukur karena ia sampai di kampusnya dengan selamat. Setelah memastikan motornya aman, Aletta kembali berlarian menuju kelasnya.


Di sepanjang koridor, Aletta dapat melihat dadi sudut matanya jika orang-orang memperhatikannya. Walau sebenarnya malu, tapu Aletta memilih untuk tidak peduli. Yang penting tujuannya saat ini untuk bisa sampai di kelas tepat waktu. Sebenarnya tidak mungkin juga, karena Aletta bahkan sudah telah 10 menit. Tapi Aletta tetap berusaha untuk cepat-cepat berada di kelasnya, siapa tahu dosennya berbaik hati padanya dan membolehkannya untuk dapat mengikuti pelajaran.


Aletta membuka pintu kelasnya perlahan, ia mengintip dari celah pintu untuk memastikan apakah dosennya sudah datang atau belum. "Gak ada, aman," ucap Aletta senang. Ia membuka pintu santai dan melangkah ke arah tempat duduknya.


"Sel, Pak Dito gak dateng apa belum dateng?" tanya Aletta pada Sella yang duduk di sebelahnya.


Sella menggigit bibir bawahnya, matanya mengisyaratkan Aletta untuk menengok ke belakang. Walau bingung Aletta menengok ke belakang, dan mendapati wajah pria berkepala tiga yang tengah menatapnya tajam.


Aletta tertawa hambar. "Eh, Bapak. Makin cakep aja Pak, itu rambutnya klimis bener kayak iklan di tv."


Tanpa membalas ucapan Aletta, Pak Dito justru melangkah menghampiri gadis bertubuh mungil tersebut. Membuat jantung Aletta berpacu seiring dengan langkah Pak Dito yang semakin mendekat.


Tepat saat Pak Dito berada di samping meja Aletta, dia memandang Kintan seolah menyiratkan peperangan. "Kamu udah telat, pake pura-pura gak tahu lagi. Telatnya gak nanggung-nanggung pula, sepuluh menit."


Aletta mati kutu seketika. Ia pasrah jika memang Pak Dito menyuruhnya keluar dari kelasnya.


"Sekarang juga kamu keluar dari kelas! gak usah ikut pelajaran saya." Nada tegas dan tajam keluar pula dari mulut Pak Dito.


Aletta yang sudah tahu ini akan terjadi, lebih memilih mengalah. "Iya, Pak." Aletta meraih tasnya dan beranjak pergi dari kelasnya.


Begitulah Aletta, kadang suka ceroboh. Seperti kemarin, ia lupa mengatur alarm hingga akhirnya Aletta kesiangan dan berakhir ketinggalan satu mata kuliah. Aletta juga kadang kekanak-kanakkan, kadang pula bersikap dewasa. Namun hanya di saat-saat tertentu saja sikap dewasanya muncul.

__ADS_1


Aletta memilih memasuki perpustakaan. Niat Awalnya untuk mempelajari materi yang tertinggal hari ini, tapi karena kondisi perpustakaan yang sepi dan dingin membuat Aletta mengantuk. Hingga akhirnya Aletta memejamkan matanya dan ia pun menyelami alam bawah sadarnya.


***


__ADS_2