
Gadis dengan rambut terurai panjang itu melangkah melewati koridor kampus. Matanya menelisik keramaian di tepi koridor. Tapi kemudian ia kembali memandang lurus ke depan.
Wajahnya masih santai hingga saat ia membelokkan langkahnya, matanya menemukan Kenzi yang tengah menggoda adik kelas yang baru semester satu. Ia menatap keduanya jengah, sebenarnya ia kasihan dengan perempuan yang terlihat masih polos itu.
Tepat saat Aletta melewati mereka, Kenzi mengalihkan pandangannya menatap Aletta. Sedangkan Aletta justru mempercepat langkahnya menuju kelasnya. Melihat Kenzi saja sudah membuatnya muak, ditambah lagi saat cowok itu tengah menggoda perempuan.
Setengah terkejut Aletta pun menghentikan langkahnya, matanya menatap tajam Kenzi yang tiba-tiba sudah ada di depannya. "Lo ngapain sih ngikutin gue?!" ketus Aletta.
Kenzi memasukkan sebelah tangannya pada saku celananya. "Lo udah bisa marah-marah gini, berarti udah sembuh 'kan?"
"Siapa yang sakit?! Gue baik-baik aja tuh. Yang ada tuh perasaan lo yang sakit, sampe-sampe lo bisa nyakitin banyak perempuan tanpa ngerasa kasihan. Atau mungkin hati lo udah mati? Gue rasa perlu diperiksain tuh." Aletta memandang Kenzi sinis.
Tanpa sadar Kenzi tertawa sinis. "Perasaan gue emang sakit," lirih Kenzi pelan.
Aletta mampu mendengarnya, tapi ia cepat-cepat menggeleng. "Gue minta lo gak usah ya deket-deket gue, gue muak ngeliat tingkah lo. Mendingan lo cari target yang lain, selain gue!" seru Aletta memperingati. Ia pun melewati Kenzi begitu saja, setelah mengatakan itu.
Sementara Kenzi tampak bergeming, masih di tempatnya berdiri tadi. Wajahnya terlihat sendu, dengan tangan terkepal kuat. Hanya bertahan beberapa menit, sebelum akhirnya Kenzi berlalu setelah mengontrol ekspresi dan perasaannya.
***
"Dan, gue bareng ya!" seru Aletta menepuk bahu Zidan.
Cowok yang tengah menyeruput minumannya itu menoleh. "Lo kok tahu gue di kantin?" tanya Zidan bingung.
Aletta ikut duduk di hadapan Zidan. "Cuma cari tahu lo ada dimana mah gampang." Aletta menarik gelas minuman Zidan. Ia mengambil sedotan baru dan menyeruput es teh manis milik Zidan.
Zidan yang melihat itu menggerutu kesal. "Lo mah kebiasaan," gerutu Zidan.
Aletta tertawa melihat wajah Zidan yang sudah kesal. "Yaelah cuma minta dikit aja, kalo gue habisin tuh baru lo marah."
Zidan memutar bola matanya malas. "Dikit menurut lo mah beda, Al. Udahlah yuk pulang, keburu gak mood nih." Zidan beranjak dari bangkunya dan menyampirkan tasnya pada kedua bahunya.
Aletta ikut bangkit dari kursinya, dan melangkah menghampiri Zidan. "Eh tapi gue gak mau pulang dulu, masih jam dua juga. Gue mau lo temenin gue nyari makanan di pinggir jalan." Aletta tersenyum manis, untuk membuat Zidan menyetujui ajakannya.
__ADS_1
Zidan menghela nafas panjang. "Yaudah iya," balas Zidan pasrah.
Aletta melompat-lompat kegirangan. Tangannya mencubit pipi Zidan gemas. "Makasih Zidan, lo emang sahabat gue yang paling baik."
Zidan meringis pelan, ia melepaskan cubitan Aletta pada wajahnya. "Kebiasaan banget sih lo, nyubit pipi gue. Pipi gue tuh bukan bakpao ya," kesal Zidan.
Aletta terkekeh pelan. "Ya maap, gue refleks tadi. Udah ah ayok, keburu sore. " Aletta sudah melangkah mendahului Zidan.
Zidan tersenyum kecil melihat tingkah Aletta yang kadang seperti anak kecil. Tapi Zidan senang karena Aletta bersikap apa adanya, tanpa dibuat-buat. Cowok itu akhirnya melangkah menyusul Aletta yang sudah berada di depannya.
Sesampainya mereka di parkiran, Aletta pun memilih menunggu Zidan di depan parkiran. Ia memandang Zidan yang tengah mengeluarkan motornya. Dalam diam Aletta tersenyum tipis, Zidan adalah sosok orang yang dewasa dan juga penyabar yang pernah Aletta kenal.
Di saat Aletta sering kali membuat Zidan kesal, cowok itu tidak pernah benar-benar marah padanya. Bahkan tidak jarang pula ia menyebabkan Zidan terkena masalah, tapi dia tidak pernah menceritakannya. Seperti saat Aletta terlambat masuk ke kampus, Zidan yang juga terlambat berusaha berbicara pada satpam kampus agar Aletta dapat memasuki kelas. Alhasil Aletta pun diperbolehkan masuk. Sedangkan Zidan mendapatkan dua hukuman, satu hukumannya dan satu lagi hukuman yang seharusnya diberikan pada Aletta.
Zidan Tidak memberi tahunya akan hal itu, bahkan Aletta mengetahui itu dari orang lain. Zidan sangat baik dan bisa diandalkan, itulah yang membuat Aletta nyaman bersahabat dengannya.
"Woi, ngelamun aja!"
Aletta tersadar dari lamunannya, ia terkejut melihat Zidan yang sudah berada di sampingnya. Dengan cepat Aletta menaiki motor Zidan dan duduk di belakang cowok itu. Tidak lama motor besar berwarna merah itu melaju menjauhi gerbang kampus.
Zidan yang melihat wajah murung Aletta dari kaca spionnya, mengembuskan nafas paniang. Tapi kemudian ia tersenyum saat terbesit sebuah ide cemerlang. Cowok itu tiba-tiba mempercepat laju kendaraannya.
Membuat Aletta terkesiap, bahkan hampir saja terjungkang ke belakang jika saja ia tidak melingkarkan tangannya pada pinggang Zidan. "Zidannn! Lo mau bunuh gue?!" seru Aletta setengah berteriak.
Bukannya merasa bersalah, Zidan justru tertawa melihat ekspresi Aletta. Ia kembali mengubah laju kendaraannya menjadi stabil. "Lagian lo ngelamun mulu sih. Ngelamunin apasih lo? Gue?" gurau Zidan sembari terkekeh.
Aletta memukul bahu Zidan sedikit keras. Hingga ia dapat mendengar ringisan Zidan, tapi Aletta tidak peduli dengan itu. "Pede banget lo! Udah mulai ketularan Adit ini sih."
Zidan hanya tertawa kecil membalasnya. Ia memarkirkan motornya di sebuah tempat yang berjejer penjual makanan, yang mana di seberang para penjual makanan tersebut terdapat danau yang cukup luas.
Aletta turun dari motor Zidan dengan antusias. Ia bahkan sudah menatap danau di depannya dengan mata berbinar. "Zidan, lo tahu tempat kayak gini darimana?" tanya Aletta penasaran.
Zidan melepaskan helm full face-nya dan menggantungnya di kaca spion motornya. "Gue 'kan sering main, jadi ya gue tau banyak tempat-tempat kayak gini."
__ADS_1
Aletta semakin antusias mendengar ucapan Zidan. "Lain kali ajak gue dong, gue juga mau tau."
Zidan terkekeh pelan, ia mengusap pucuk kepala Aletta pelan. "Kapan-kapan ya. Tapi awas ya kalo lo ngeribetin gue, gue tinggalin lo di tengah jalan."
Aletta memberengut kesal. "Jahat," balas Aletta kesal.
"Bercanda kali, eh lo tunggu di sini ya. Gue mau beli makanan dulu, jangan kemana-mana."
"Gue mau sate," ucap Aletta semangat.
Zidan mengangguk pelan. "Oke, lo tunggu sini." Setelah mengatakan itu, Zidan berlalu dari hadapan Aletta.
Sementara Aletta kembali memandang pemandangan di depannya. Di tepi danau tersebut banyak pohon-pohon besar, yang menjadikan suasana lebih teduh dan nyaman. Selain menikmati danau yang bersih itu, para pengunjung juga bisa sambil menikmati makanan yang dibeli dari para penjual, yang berada di seberang mereka.
Rasanya Aletta jadi ingin berlama-lama di sini, ia juga tidak sabar menikmati sate sambil duduk di bawah pohon besar dengan pemandangan danau yang indah di depannya. Pasti akan sangat menyenangkan sekali.
"Al, duduk yuk."
Aletta berbalik dan mendapati Zidan yang sudah membawa dua porsi sate ayam. Dengan mata berbinar, Aletta mengambil satu porsi sate ayam di tangan Zidan. "Ayok," balasnya sembari berjalan mendahului Zidan, ia duduk di salah satu pohon besar.
Zidan ikut duduk di samping Aletta. Mereka berdua pun menikmati makanan yang ada, ditemani dengan suasana yang terasa damai. Dalam diam Zidan memandang Aletta yang tampak bahagia, ia tersenyum lega karena Aletta tidak lagi terlihat murung. Walaupun mungkin tindakannya tidak akan menghapuskan kesedihan Aletta yang mampu datang kapan saja, tapi setidaknya Zidan bisa membuat cewek itu melupakan sejenak masalahnya.
"Zidan, makasih ya. Gue seneng banget hari ini, gak salah gue ngajak lo nyari makanan." Aletta berucap sembari tersenyum memandang Zidan.
Zidan ikut tersenyum tulus. "Gue lebih suka liat lo yang suka senyum kayak gini, Al. Daripada ngeliat lo yang suka ngelamun dengan muka sedih. Lo makin jelek kalo lagi sedih," ledek Zidan.
Aletta menatap tajam cowok di sampingnya itu. "Lo lebih nyebelin kalo sifat 'suka ngeledek' lo kumat."
"Nyebelin tapi ngangenin, 'kan?" goda Zidan tersenyum jail.
"Iya, sampe rasanya gue pengen ninju muka lo saking ngangeninnya."
Lalu keduanya tertawa bersamaan. Ini yang membuat Aletta nyaman bersahabat dengan Zidan. Selain karena ia sudah lama kenal dengan Zidan dari SMA, cowok itu juga mempunyai kepedulian dan perhatian yang tinggi. Hampir sama seperti Raka, bedanya Zidan lebih bisa mengerti perasaannya.
__ADS_1
Dan juga Aletta selalu nyaman dan merasa aman berada di samping Zidan, karena dia sangat menjaganya dari hal apapun. Termasuk dari hal yang membuat Aletta sedih.
***