
Kenzi melangkah santai menyusuri koridor. Hari ini kebetulan ia kebagian kelas siang, tapi kelasnya masih mulai 1 jam lagi. Alhasil Kenzi memilih untuk ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mengembalikan buku yang kemarin ia pinjam.
Langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya. Kenzi pun menoleh ke sampingnya, dan tersenyum saat mendapati perempuan yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.
"Ken, mau kemana?" tanya perempuan itu saat dia sudah berada di samping kenzi.
"Perpus, mau ngembaliin buku yg dipinjem kemaren." Kenzi membalas, tak lupa diiringi senyum manisnya yang mampu membius para kaum hawa.
Perempuan bernama Lisa itu mengangguk kecil. "Oiya nanti kita jadi pulang bareng, 'kan?" tanya perempuan itu tersenyum senang.
"Jadi dong, 'kan biar aku bisa jagain kamu." Kenzi kembali melemparkan ucapan manis, yang membuat pipi gembul Lisa memerah karena merasa malu.
"Emm, yaudah kalo gitu aku duluan ke kelas ya. Nanti kalo kamu udah pulang kabarin ya," ujar Lisa.
Kenzi mengangguk pelan. "Nanti aku kabarin, kalo perlu aku samperin ke kelas kamu."
Wajah Lisa kembali memerah mendengarkan perkataan Kenzi. "Yaudah, aku duluan ya." Lisa tersenyum sembari melambaikan tangannya.
Kenzi ikut melambaikan tangannya, setelah Lisa hilang dari pandangannya barulah Kenzi melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda.
Sesampainya di depan perpustakaan, ia membuka pintu tersebut dan memasukinya. Kenzi berjalan ke arah seorang pria paruh baya yang tengah terduduk sembari melihat-lihat buku catatan di hadapannya.
"Pak, saya mau ngembaliin buku yang kemaren," ujar Kenzi sembari mengeluarkan buku yang ada di tasnya.
Pak Tono-- penjaga perpustakaan tersebut menaruh buku yang tadi dipegangnya ke hadapan Kenzi. "Kamu catet di sini, terus balikin ke tempatnya. Awas, jangan asal naro."
"Tenang aja, Pak. Nanti saya taro di raknya semula. Rapih, aman, tertata kalo sama saya mah." Kenzi terkekeh di ujung kalimatnya. Ia menyerahkan kembali buku catatan peminjaman buku pada Pak Tono, setelah mencatat tanggal pengembaliannya.
"Halahh," balas Pak Tono sembari memutar bola matanya jengah.
Kenzi tertawa pelan, sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Pak Tono. Ia mencari-cari rak yang sesuai dengan buku yang dipinjamnya. Setelah menemukannya, Kenzi menaruh buku yang dipegangnya ke sela-sela buku yang ada.
Tepat saat Kenzi berbalik, ia menemukan seorang perempuan yang tengah tertidur dengan buku yang menutupi wajahnya. Kenzi melangkah mendekati meja dimana perempuan itu tertidur.
__ADS_1
Seketika terlintas pikiran jailnya untuk membangunkan perempuan itu, lagipula Kenzi penasaran dengan wajah yang ditutupi buku tersebut.
Saat Kenzi sudah berada di sampingnya, barulah Kenzi melancarkan aksi jailnya. Karena tidak diperbolehkan berisik di perpustakaan, Kenzi memutuskan untuk berbicara tepat di telinga perempuan itu. Agar dia mendengar suara Kenzi yang pelan.
"Woi, banjir ... banjir," bisik Kenzi tepat di telinga perempuan itu.
Dan seperti dugaannya perempuan itu langsung terbangun dengan wajah panik. "Hah? dimana banjirnya? dimana?"
Kenzi tertawa puas. "Banjir iler maksud gue, liat tuh iler lo kemana-mana."
Perempuan yang tidak lain adalah Aletta itu meraih ponselnya untuk melihat wajahnya. Seketika wajahnya merah padam, menahan kesal. "Apaansih lo, gak lucu!" balas Aletta ketus. Malas berlama-lama dengan cowok seperti Kenzi, Aletta memilih untuk berlalu dari hadapan cowok itu.
Tapi baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh Kenzi. Membuat Aletta berbalik sambil melepaskan tangan Kenzi kasar. "Gak usah pegang-pegang gue," tegas Aletta menekankan setiap kalimatnya.
Kenzi menaikkan sebelah alisnya. "Lo itu cewek yang kalo ngeliatin gue sinis, 'kan?" tanya Kenzi saat menyadari wajah Aletta yang familiar.
Aletta melipat tangannya di depan dada. "Kenapa? lo gak suka?" sinis Aletta.
"Ya, biasa aja sih, cuma gue heran sama lo. Perasaan gue gak kenal sama lo, gak pernah buat masalah juga sama lo, terus tiba-tiba lo ngeliat gue seakan-akan lo benci." Kenzi bingung, dari sekian banyak perempuan. Perempuan di hadapannya ini yang paling aneh, di saat perempuan lain menatapnya dengan tatapan kagum. Perempuan di hadapannya justru memandangnya penuh kebencian.
"Apa lagi sih?!" kesal Aletta yang tidak tahan ingin cepat-cepat pergi dari sini.
Kenzi tersenyum sinis. "Gue cuma mau bilang hati-hati-"
"Gue gak butuh kata-kata manis lo, gak bakal mempan di gue." Aletta memotong cepat.
Kenzi terkekeh pelan. "Lo jangan kegeeran, maksud gue tuh hati-hati lo suka sama gue. Gue bilangin dari sekarang, jangan terlalu benci sama gue entar yang ada berbalik jadi suka lagi."
Aletta tertawa hambar. "Gue bukan kayak cewek lain yang gampang suka sama lo, jadi jangan mimpi!" Aletta kembali melangkah menjauhi Kenzi.
Kenzi membiarkan Aletta pergi, tanpa menahannya lagi. Ia menatap punggung Aletta bingung. "Kenal juga enggak, tapi udah benci aja tuh cewek. Aneh dasar," ucap Kenzi sembari menggelengkan-gelengkan kepalanya.
***
__ADS_1
Aletta menyeruput es teh manis yang dipesannya dengan wajah kesalnya. Bertemu dengan Kenzi membuat perasaannya memburuk. Apalagi wajah cowok itu yang seakan-akan tidak peduli dengan ucapannya.
"Al, lo kenapa dah? Daritadi muka lo ditekuk gitu?" tanya Adit.
Sella mengangguk setuju, menunggu jawaban dari Aletta. "Apa gara-gara dikeluarin dari kelas Pak Dito?" tanya Sella memastikan.
"Lo dikeluarin? Wow, seorang Aletta dikeluarin dari kelas?" ledek Zidan yang kini sudah tertawa dengan Adit.
Aletta berdecak kesal. "Gue juga manusia, yakali gak pernah buat kesalahan."
"Ya, 'kan lo itu perfeksionis orangnya." Adit kembali memancing tawa yang tadi telah terhenti.
"Gak gitu juga kali. Lagian yang bikin gue kesel bukan itu," tukas Aletta.
"Terus?" tanya Sella, Adit dan Zidan kompak.
Aletta menghela nafas panjang. "Tadi gue ketemu Kenzi di perpustakaan, dan yang lebih ngeselinnya lagi dia ngerjain gue pas gue lagi tidur. Kurang ngeselin apa lagi coba." Aletta mengaduk-ngaduk es tehnya kesal.
Sella terkekeh melihat wajah kesal Aletta. "Udah nikmatin aja, Al. Kapan lagi coba diisengin Kenzi," balas Sella tersenyum.
Bukannya membuat Aletta terhibur, Sella justru membuatnya semakin kesal. "Sella, buka dong mata lo, Kenzi itu playboy. Ah, kenapa sih semua cewek pada kesemsem sama cowok kayak Kenzi. Pake pelet kali ya tuh orang," kesal Aletta.
Zidan tertawa di ujung kalimat Aletta. "Tau ya, daripada Kenzi cakepan gue lah kemana-mana."
"Cakepan gue lah, secara muka gue sebelas dua belas sama Manu Rios." Adit tersenyum bangga.
Baik Aletta, Zidan dan Sella menyoraki Adit dengan kesal. "Jauh," balas mereka kompak.
"Dasar manusia halu," sengit Sella. Tidak terima idolanya disamakan dengan wajah Adit, yang berbeda jauh menurutnya.
Adit menggerutu kesal. "Sirik aje lo semua."
Aletta tertawa pelan. Sahabatnya selalu bisa membuatnya terhibur. Rasa kesalnya pun sekarang telah lenyap entah kemana. Walaupun pertemuannya tadi dengan Kenzi membuatnya kesal, tapi setidaknya kini Aletta bisa melupakannya karena sahabatnya.
__ADS_1
***