My Lovely Pangeran Playboy

My Lovely Pangeran Playboy
Bab 5-- Serba Salah


__ADS_3

Kenzi tertawa kecil memperhatikan perdebatan antara mamanya dan papanya di meja makan. Dari orang tuanya, Kenzi menjadi tahu kalau hubungan itu bisa dijaga dengan suka melontarkan candaan ringan. Seperti papanya yang suka menjaili mamanya. Dan apabila mamanya sudah kesal, papanya akan berusaha meluluhkan hati mamanya kembali.


Sederhana, tapi dengan itu mampu membuat hubungan orang tuanya harmonis. Bahkan diusia mereka yang tidak muda lagi, orang tuanya masih suka melemparkan kata-kata manis layaknya anak muda.


"Ihh, Mah. Kamu kok makin gemuk ya," canda Gio--papanya.


Mendengar itu mamanya yang sedang makan, langsung menatap tajam suaminya. "Terus kenapa? Papah gak suka?" ketus mamanya.


Gio terkekeh pelan melihat reaksi istrinya. "Bercanda sayang, kamu itu baper banget sih. Lagian mau kamu gemuk juga, aku tetep sayang kok."


Kenzi menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan rayuan papanya. Matanya melirik mamanya yang wajahnya tampak memerah.


"Apasih kamu, malu tau." Mamanya berucap pelan.


Gio kembali tertawa. "Udah tua kok masih aja malu."


Kenzi yang telah menghabiskan makanannya, segera meneguk air minumnya hingga kandas. "Pah ... Mah, jangan bikin aku jadi nyamuk deh." Kenzi berucap kesal, setelah menghabiskan air minumnya.


Lantas Gio dan mamanya terkekeh melihat kekesalan anaknya. "Makanya nikah," balas Gio dan mamanya kompak.


Kenzi mengerutkan dahinya. "Ih enggak mau, apaan sih orang aku aja masih kuliah."


"Papah juga dulu nikahin Mama pas masih kuliah. Tapi nyatanya kita bahagia aja tuh, Papah juga bisa ngasih nafkah buat Mama kamu." Gio membalas sembari tersenyum ke istrinya.


"Itukan Papah. Lagian aku masih mau ngejar cita-citaku, kalo nikah 'kan semuanya jadi terhambat." Kenzi tetap teguh pada pendiriannya.


Kali ini mamanya ikut menyahut, "Nikah itu bukan halangan cita-cita lagi. Dulu Mamah sama Papah tetep bisa ngeraih cita-cita kita setelah nikah. Malah jadinya enak ada yang nyemangatin sama bantuin, jadi gak ngerasa sendiri."


"Pokoknya aku tetep gak mau! Ini kenapa jadi bahas nikah sih, udah ah aku mau ke kamar." Kenzi beranjak dari bangkunya dan berlalu dari hadapan orang tuanya.


Sementara di belakang, Gio dan mamanya memandang Kenzi dalam diam.


Gio yang mengerti kecemasan mamanya, mengusap lembut bahu mamanya. "Udah tenang aja, nanti Kenzi pasti ngerti."


Mamanya memandang Gio khawatir. "Tapi aku takut kalo-"


"Jangan takut, aku yakin semuanya akan berjalan lancar nantinya." Gio tersenyum meyakinkan istrinya.

__ADS_1


Mamanya mengangguk pelan. "Semoga," balasnya.


***


Kenzi terduduk di tepi kamarnya. Ia mengambil ponselnya di atas nakas. Kemudian membuka aplikasi berlambang telephone berwarna hijau. Terdapat banyak pesan yang kebanyakan oleh perempuan di kampusnya, yang meminta untuk berangkat ke kampus bersama.


Kenzi yang malas membukanya, akhirnya menaruh kembali ponselnya. Karena bosan, Kenzi memilih untuk pergi ke luar untuk sekedar membeli makanan. Ia pun meraih kunci motornya dan mengambil jaket kulit berwarna hitamnya. Setelahnya Kenzi melangkah keluar dari kamarnya.


Ia berhenti sejenak tatkala melihat papanya di ujung tangga. "Pah, aku mau keluar sebentar ya. Nyari makanan," ucap Kenzi sembari menyalami punggung tangan Gio.


"Jangan pulang kemaleman nanti! Besok kamu ada kuliah pagi soalnya," balas Gio memperingati.


"Siap, Pah." Kenzi tersenyum meyakinkan.


Gio memutar bola matanya jengah. "Yaudah, hati-hati."


Kenzi mengangguk, setelahnya ia pun berlalu dari rumahnya. Cowok itu memasang helm full face-nya dan menaiki motor berwarna hitamnya. Tidak lama motornya melaju membelah jalanan ibu kota.


Di sepanjang jalanan, Kenzi melihat-lihat sekelilingnya. Untuk menentukan makanan apa yang ingin dibelinya. Saat menemukan apa yang ingin dibeli, Kenzi menghentikan motornya tepat di depan kedai tersebut.


Kenzi menghela nafas panjang tatkala melihat ramainya pembeli kedai martabak tersebut. Berhubung Kenzi sangat menginginkan martabak coklat keju, alhasil ia terpaksa menunggu antrian pembeli tersebut.


"Jangan lupa pesenannya, Pak. Saya tingga dulu sebentar," ujar mengingatkan sang penjual.


"Siap, Mas." Penjual itu menyahut dari balik kedai martabak tersebut.


kenzi pun kembali menyalakan mesin motornya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Di sepanjang jalan matanya menemukan kedai-kedai yang berjejer di pinggir jalan, yang mana semuanya padat akan pembeli. Padahal hari ini bukanlah hari libur, dan juga waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.


Laju kendaraan Kenzi sudah cukup jauh, bahkan kedai-kedai yang tadi sudah tidak terlihat lagi. Berbeda dengan jalanan yang penuh keramaian tadi, kali ini jalanan lebih terlihat sepi dan gelap.


Kenzi memelankan laju kendaraannya, tatkala sayup-sayup terdengar suara orang yang meminta pertolongan. Cowok itu mengarahkan motornya menuju sumber suara. Semakin lama suara yang tadi hanya terdengar samar, kini semakin besar seiring jarak motornya pada sumber suara tadi yang semakin dekat.


Kenzi mengembuskan nafas lega saat menemukan seorang perempuan yang tadi ia dengar suaranya, perempuan itu tampak didekati oleh tiga orang laki-laki.


Melihat itu lantas Kenzi segera mematikan motornya dan berlari ke arah perempuan itu. Sesampainya di sana, Kenzi langsung melompat dan menendang salah satunya hingga membuat laki-laki itu tersungkur.


Kemudian Kenzi menghantam wajah laki-laki lain dan menyikutnya kencang. Lalu Kenzi kembali melompat dan menendang tepat di bagian wajahnya.

__ADS_1


Tiga laki-laki yang tadi tersungkur, kembali bangkit dan menyerang Kenzi. Dengan gerakan cepat Kenzi melompat dan menendang tiga laki-laki itu bersamaan. Kemudian Kenzi memukuli tiga laki-laki yang sudah tersungkur kembali itu hingga babak belur.


"Ampun," ucap salah satu laki-laki yang diangguki oleh kedua laki-laki yang lain.


Kenzi menghentikan pukulannya. "Oke, saya gak bakal ngelanjutin. Tapi, sekarang juga kalian pergi!" balas Kenzi tegas.


Ketiga laki-laki itu langsung bangkit dan berlari kocar-kacir.


Setelah memastikan ketiga laki-laki tadi telah benar-benar pergi, barulah Kenzi berbalik menghadap perempuan yang tampak ketakutan itu.


"Udah, lo aman sekarang." Kenzi berusaha menenangkannya.


Perempuan itu lantas menyingkirkan rambutnya yang tadi menutupi wajahnya. Ia terkejut saat melihat orang yang tadi menolongnya. Ingin rasanya marah, tapi tenaganya sudah habis karena ketiga laki-laki yang mengganggunya itu.


Sementara Kenzi pun ikut terkejut saat melihat wajah perempuan itu. Dia adalah perempuan yang waktu itu berkata benci padanya di perpustakaan kampus. "Jadi, yang digangguin itu lo."


Ya, perempuan itu adalah Aletta. Dengan kondisinya yang masih lemas dan ketakutan, tidak memungkinkan Aletta untuk melawan Kenzi. Alhasil Aletta memilih pergi dari tempat itu, tapi tangannya ditahan oleh Kenzi. Dengan malas Aletta berbalik. "Please, biarin gue pergi. Gue lagi males berdebat sama lo," lirih Aletta.


Kenzi sebenarnya sedikit kasihan pada perempuan dihadapannya ini. Perempuan yang biasanya terlihat galak dan tegas, kini justru terlihat lemas dan menyedihkan. "Eh, lo sadar gak sih kalo disini itu bahaya. Lo mau kejadian kayak tadi keulang lagi?!" balas Kenzi ketus.


Aletta melepaskan tangan Kenzi kasar. Wajahnya yang masih pucat mendongak menatap Kenzi. "Gue gak butuh peduli lo! Gue bukan cewek-cewek di kampus yang bakal luluh sama perhatian lo. Jadi percuma, gue gak terpengaruh sama cowok playboy kayak lo." Aletta berucap pelan, berusaha menekankan kalimatnya.


Kenzi justru tertawa pelan. "Lo masih aja ya bahas itu. Lagian lo tenang aja, cewek yang gue deketin itu cuma yang punya kriteria tertentu yang gue mau. Dan cewek pendek yang mukanya bocah kayak lo gak termasuk." Kenzi berucap sembari menatap tubuh Aletta yang hanya sebahunya.


Aletta kesal bukan main, ia tahu tubuhnya tidak terlalu tinggi. Tapi juga tidak terlalu pendek menurutnya. Dan lagi wajahnya itu baby face bukannya layaknya anak kecil. "Terserah lo," balas Aletta, ia kembali melangkah menjauhi Kenzi.


Dan kali ini Kenzi membiarkannya. Ia segera menaiki kembali motornya dan melajukan kendaraannya untuk mengikuti Aletta dalam diam. Kasihan juga sebenarnya kondisi Aletta. Kenzi bermaksud untuk menolongnya, tetapi perempuan itu bersikeras untuk pergi sendiri. Ia jadi merasa serba salah. Menolong salah, tidak menolong juga salah.


"Tuh cewek gak belajar dari pengalaman apa, masih aja ngeyel." Kenzi menggerutu pelan.


Kenzi menghentikan motornya tatkala Aletta menaiki taksi yang lewat di depannya. Cowok itu mengembuskan nafas lega melihat perempuan itu telah berada di dalam taksi.


"Dia aman," ujarnya sembari tersenyum tipis.


Setelah puas dengan keadaan Aletta yang sudah aman, Kenzi pun kembali melajukan motornya menuju tempatnya membeli martabak tadi. Pasti pesanannya sudah jadi saat ini, Kenzi jadi tidak sabar untuk cepat-cepat sampai di sana.


Sebenarnya dibalik sikap playboynya, Kenzi sangat peduli jika melihat siapapun terkena masalah ataupun bahaya. Tapi sayangnya orang lain hanya melihat sisi buruknya saja, tanpa mengerti sisi baiknya. Orang lain tidak mengerti penyebabnya, jadi Kenzi tidak mau mengambil pusing. Biarlah orang lain berpikiran apapun tentangnya, karena yang paling tahu tentang dirinya adalah Kenzi sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2