My Misterius Boy (Pria Misterius Ku)

My Misterius Boy (Pria Misterius Ku)
Membunuh Siluman Untuk Hidup


__ADS_3

Malam udah cukup larut, mereka masih berjalan di alun-alun kota sambil bercerita. Adnan sengaja tidak ingin membiarkan Qaireen pulang dulu sebab dia ingin lebih lama bersama.


"Ada banyak hal diluar sana yang mungkin bisa saja kita salah persepsi mengenai hal itu" ucap Adnan dengan perasaan sedih.


"Maksudnya" tanya Qaireen heran mengapa Adnan tiba-tiba membahas hal itu.


"Seperti anggapan manusia tentang siluman"


"tentang siluman yang menakutkan" ulang Qaireen sambil menghentikan langkahnya di depan Adnan.


Mereka bertemu, jantung Adnan mulai berdetak kencang. Dia takut matanya membiru sebab itu dia kembali mengatur perasaannya saat itu.


"Ja-ngan berhenti tiba-tiba" ucapnya gugup.


"Siluman pasti punya kehidupan sendiri sama halnya seperti manusia, aku percaya itu"


"Jadi kau gak takut dengan siluman" jawab Adnan dengan mata berbinar-binar.


"Bukan begitu. Aku percaya saat kita tidak mengganggu, mereka juga gak akan ganggu juga" jelas Qaireen.


"Tapi mungkin saja mereka ingin berteman"


"Berteman? mungkin saja tapi bagaimana caranya. Kita di dunia yang berbeda"


Adnan terdiam setelah mendengar kalimat terakhir dari Qaireen. Kalimat itu bagai tamparan keras untuknya, bahwa dia dan Qaireen gak akan pernah bisa bersama sama halnya dengan siluman-siluman lain yang pernah jatuh cinta pada manusia. Qaireen berjalan mendahului Adnan yang masih diam, setelah cukup jauh berjalan dia melambai-lambaikan tangan agar Adan mengikutinya.


...****************...


Adnan berdiri di atas gedung yang cukup tinggi, tidak sengaja dia melihat seorang pemburu sedang mengejar siluman dengan cepat. Adnan mengikuti, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah gedung kosong yang cukup kotor.


"Lepaskan dia" perintah Adnan.


"Siluman lain ikut campur rupanya" ucap pemburu itu sambil menyeringai.


"Lepaskan dia" ulang Adnan marah.


Dengan cepat Adnan sudah ada di hadapan orang itu. Kuku tajamnya sudah siap untuk menusuk leher pemburu itu kalau saja pemburu itu tidak melepaskan siluman yang baru saja dia tangkap.


"Kenapa kau memburu siluman" tanya Adnan dengan marah.


"Bukannya jantung kalian akan membuat umur manusia panjang" jawab orang itu mengejek.

__ADS_1


"Brengsek, jantung kami bukan barang yang seenaknya bisa kau ambil. Bagaimana jika jantungmu yang ku ambil sekarang" ancam Adnan.


Pertarungan pun terjadi, Adnan dan pemburu itu bertarung di tanah dan juga di udara. Udara dingin malam itu sudah tidak terasa lagi. Kuku tajam Adnan berhasil menyobek topeng pemburu itu. Sehelai kain hitam jatuh menyentuh lantai.


"Kau" ucap Adnan marah.


"Kenapa terkejut? kau udah tahu aku pemburu"


"Hentikan omong kosongmu dan berhenti mengambil jantung siluman hanya untuk menyambung hidup" ejek Adnan.


"Akhirnya kau tahu, Setengah siluman sepertiku butuh jantung siluman lain untuk tetap hidup"


"Apa maksudmu" tanya Adnan bingung.


"Kau bisa tanya leluhurmu tentang itu jangan paksa aku menjelaskan"


Adnan melepaskan genggamannya, membiarkan Adha jatuh ke lantai. Adha terbentur cukup keras, dia menjerit pelan sebab menahan rasa sakitnya. Adnan berjalan ke pinggir gedung tanpa peduli pada Adha yang berlumuran darah dan juga kesakitan. Lalu dia menghilang begitu saja.


...****************...


Amira terkejut melihat Adnan yang terluka di kamarnya, lukanya cukup parah. Amira menghampiri Adnan dengan rasa cemas, biasanya siluman tidak butuh waktu lama untuk memulihkan luka di tubuh mereka.


"Kau beri mutiara kehidupan pada Qaireen" duga Amira.


"Kau bodoh, mutiara kehidupan sangat penting untuk siluman di dunia manusia. Apalagi pemburu itu sedang mengejar kita" ucap Amira semakin cemas.


"Kau harus pulih dengan cepat dalam situasi seperti itu" tambah Amira lagi.


"Begini juga udah cukup" jawab Adnan begitu tubuhnya pulih seperti semula. Lukanya hilang gak berbekas sama sekali.


"Aku cuma ingin tahu kenapa setengah siluman butuh jantung siluman untuk tetap hidup" tanya Adnan penasaran.


"Kau memang bodoh, seharusnya sebagai penerus tahta siluman kau harusnya pintar sedikit dan jangan malas belajar" ejek Amira sebab kesal dengan kebodohan Adnan.


"Tentu saja dia butuh energi siluman lebih banyak karena di dalam tubuhnya energi manusia selalu menghisap energi silumannya setiap saat, karena itu siluman dilarang bersama manusia. Aku gak tahu itu begar atau gak, tapi itu rumor yang sering ku dengar" Amira menjelaskan sambil duduk di sofa sambil melihat buku yang ada di tangannya sekarang.


"Gak ada cara lain untuk menghentikannya" tanya Adnan lagi.


"Untuk apa kau tahu, kau ingin membantu pemburu itu, tapi aku pernah dengar para tetua siluman membicarakan hal itu tapi aku lupa"


"Aku butuh bantuan mu untuk mencari tahu hal itu"

__ADS_1


"Baik, kalau sempat pasti aku bantu"


...****************...


Amira penasaran dengan kehidupan sekolah Adnan. Dia sengaja datang ke sekolah Adnan dengan sembunyi-sembunyi. Amira melihat Qaireen yang sedang berjalan di koridor kelas, semua mata tertuju padanya karena kecantikan dan daya tariknya.


"Tentu saja manusia-manusia itu tertarik padanya, mutiara itu membuat dia lebih cantik dari manusia-manusia lain" gerutu Amira.


Amira melihat senyum sumringah Adnan begitu jumpa dengan Qaireen. Baru kali ini Amira melihat senyum Adnan selebar itu semenjak mereka lahir. Akhirnya Amira memutuskan untuk pergi dari sana. Amira terkejut begitu berbalik dia melihat laki-laki tampan sedang di hadapannya sekarang.


"Siluman lagi, akhir-akhir ini siluman berkeliaran disekitarku" ucap Adha sambil tersenyum sinis.


Amira semakin terkejut begitu melihat tag name laki-laki itu yang bertuliskan Adha.


"Pemburu itu? kenapa setampan ini" ucapnya dalam hati.


"Pergi dari sini sebelum aku mengambil jantungmu" usir Adha.


"Aku tahu masalahmu kenapa kau membutuhkan jantung siluman sepertiku" jawab Amira, seketika rasa takutnya pada pemburu hilang karena paras tampan Adha.


"Apa maksudmu" tanya Adha penasaran.


"Kau tahu, selain jantung siluman ada hal lain yang bisa membuatmu terus hidup" pancing Amira sambil tersenyum penuh arti.


"Hentikan omong kosongmu dan pergi dari sini" usir Adha tidak suka dengan Amira.


"Tunggu dulu, aku serius" ucap Amira lagi mencoba menarik perhatian Adha.


Adha tidak peduli, dia melangkah pergi tanpa menghiraukan pernyataan dari Amira barusan, walau sebenarnya ada rasa ingin tahu pada dirinya walau hanya sedikit. Amira masih disana, menunggu Adha berbalik padanya. Dia yakin Adha akan melakukan itu. Benar saja baru beberapa detik Adha kembali padanya.


"Aku ingin tahu caranya"


"Dekat denganku"


"Apa maksudmu" ucap Adha mulai marah.


"Kau butuh energiku, jika kau di dekatku energi akan terserap olehmu tanpa kau sadari karena itu kau akan tetap hidup. Aku bersedia jadi energimu" Amira menjelaskan dengan serius membuat Adha mempertimbangkan tawarannya.


"Gak perlu setiap saat kau harus menempel padaku. Cukup sekali sehari. Kita bisa bertemu dimana saja" ucap Amira lagi sambil tersenyum manis.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, tinggalkan komentar, serta vote untuk mendukung author agar lebih bersemangat.


Selamat membaca.


__ADS_2