My Misterius Boy (Pria Misterius Ku)

My Misterius Boy (Pria Misterius Ku)
Manusia dan Siluman


__ADS_3

"Aku gak setuju menikah dengan Adnan apapun alasan kalian. Aku memang bodoh menyukai seseorang manusia yang tidak bisa apa-apa dan kalian anggap sebagai makhluk yang lemah, tapi itu bukan salahku. Aku jatuh cinta" ucap Amira dengan semangat berapi-api.


Dia tidak peduli dengan semua mata yang sekarang menatap benci padanya, terutama Adnan yang tidak ingin mendengar alasan apapun dari Amira. Dia menyukai Amira tapi Amira malah menyukai seorang manusia. Bangsa siluman harusnya tidak jatuh cinta pada manusia.


"Kau bisa mati kalau dekat terus dengan seorang manusia" ucap tetua di bangsa mereka.


"Aku tidak butuh hidup kekal seperti kalian" jawab Amira tegas.


"Cepat atau lambat kematian akan menjemputmu begitu energi silumanmu habis. Kau tidak takut" ucap tetua itu lagi mencoba menasehati Amira.


"Butuh waktu 100 tahun untuk menghabiskan energi siluman di dunia manusia dan saat itu tiba aku siap untuk mati" jawab Amira tidak takut.


"Jika kau beruntung kau bisa hidup 100 tahun dan jika orang yang kau cintai tidak langsung menerima mu sebagai siluman saat itu juga kau mati atau yang lebih menyakitkan beberapa manusia bisa menyerap energi siluman tanpa sadar"


"Maaf, aku tetap pada pendirianku"


Adnan terbangun dari lamunannya, dulu dia mengejek Amira yang menyukai seorang manusia dan sekarang dia takut jatuh cinta pada manusia. Jelas sekali dalam ingatannya bahwa dia dulu tidak sanggup menyerahkan hidup abadinya hanya karena manusia dan sekarang kenapa dia mulai menyerah?


Jika dipikir-pikir umurnya sekarang sudah 200 tahun lebih tapi dia masih berwajah anak remaja di dunia manusia. Menjelang umur ke 200 dia berkunjung ke dunia manusia karena Amira menolaknya, dia hanya ingin membuktikan bahwa manusia itu tidak lebih baik darinya.


Namun dia terjebak pada kehidupan Qaireen yang tampak menyedihkan. Selalu sendiri dan sendiri, membuat dia tidak bisa mengacuhkan Qaireen begitu saja.


"Seharusnya aku mengacuhkan dia dari dulu, aku salah" ucapnya pada dirinya sendiri.


...****************...


Rapat OSIS dimulai, semua mata tertuju pada Qaireen yang baru saja tiba. Bagaimana tidak tanpa Qaireen sadari dia sangat cantik karena tangan Adnan. Dia cantik walau tidak berdandan sekalipun.


"Siapa dia, siapa dia" bisik-bisik terdengar jelas dari sana-sini.


"Baik, perkenalkan dia Qaireen. Sekretaris OSIS baru yang saya rekomendasikan" ucap Adha sambil berjalan ke arah Qaireen.


Rachel langsung bangkit dari tempat duduknya dan memandang benci pada Qaireen.


"Kenapa dia? Aku sudah lama mengincar posisi itu demi dekat dengan Adha" ucapnya dalam hati.


Rachel langsung keluar ruangan dengan wajah kesalnya tanpa disadari orang lain. Dia melempar buku yang ada di tangannya begitu sampai di depan teman-temannya segengnya.


"Kenapa chel, seharusnya wajahmu ceria sekarang karena kau akan terus dekat dengan-


"Diam, aku benci orang yang bernama Qaireen atau Ireen itu. Bisa-bisanya dia dipilih jadi sekretaris OSIS"

__ADS_1


"Serius? tanya salah seorang temannya bernama Cecil.


"Apa aku nampak berbohong, aku harus segera balas dendam pada Ireen. Apa dia bilang waktu itu? gak kenal Adha? Dasar manusia munafik" gerutu Rachel.


"Iya Chel, orang seperti dia harus dikasih pelajaran"


"Iya, kau benar. Kalian semua tolong bantu aku"


"Oke"


...****************...


"Setelah ini kau ingin kemana? Makan siang bersama? "


"Maaf, seperti biasa aku bawa bekal" jawab Qaireen sambil tersenyum.


"Seperti biasa? kau selalu membawa bekal?"


"Orang sepertiku harus berhemat"


"Kalau aku traktir" bujuk Adha lagi.


"Maaf lagi, aku akan makan sendiri di kelas"


Qaireen membuka bekal makan siangnya dan dia terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Aaaaa" Qaireen menjerit sambil meloncat setelah melihat ulat yang cukup besar di dalam bekalnya.


Adnan muncul tiba-tiba dan berlari ke arah Qaireen. Qaireen gemetar hanya karena ulat itu bahkan wajahnya lumayan pucat. Adnan meraih tangan Qaireen yang gemetar itu dan menggenggamnya kuat.


"U-lat, ada ulat" ujar Qaireen sambil menunjuk bekal makan siangnya.


"Setakut itu kau pada ulat"


"Aku phobia ulat" jawab Qaireen cepat.


"Pho apa" Adnan tidak mengerti dengan istilah tersebut membuat dia bertanya lagi.


Qaireen tidak menjawab, Dia terdiam di tempatnya untuk menenangkan dirinya. Adnan akhirnya menyadari ketakutan Qaireen yang amat sangat, dia membawa Qaireen ke tempat yang aman sambil memeluknya pelan.


Adnan kembali ke meja Qaireen dan menyentuh bekal makan siang itu. Sekali sentuh adegan geng Rachel yang sedang mengerjai Qaireen muncul begitu saja layaknya flim di benaknya.

__ADS_1


"Jadi mereka" ucap Adnan sambil tersenyum licik.


Adnan kembali ke tempat Qaireen dan dia sudah mulai membaik.


"Terimakasih" ucapnya begitu Adnan duduk disampingnya.


"Untuk"


"Udah datang tepat waktu dan membuatku tenang"


Adnan tersenyum bahagia mendengar kalimat yang dilontarkan Qaireen barusan. Matanya kembali membiru, apalagi sekarang Qaireen sedang menatapnya.


"Boleh aku bertanya" ucap Adnan Ragu.


"Silahkan"


"Misalkan, ini cuma seandainya ada. Misalnya orang yang kau kenal selama ini bukan manusia seperti yang kau bayangkan dan kau baru mengetahuinya, apa yang akan kau lakukan" ucap Adnan penuh harap, berharap mendapat jawaban yang baik dari Qaireen.


"Maksudmu siluman atau hantu" jawab Qaireen tidak percaya dengan pertanyaan Adnan barusan.


"Ya, I-tu bisa saja terjadi"


"Walaupun itu mustahil tapi aku akan jawab, aku akan lari secepat mungkin menjauh darinya saat itu juga"


"Kenapa harus lari, memang kenapa kalau siluman" jawab Adnan terbawa perasaan.


"Tentu saja aku takut dimakan sama siluman itu, siluman itu menyeramkan kau akan tahu kalau bertemu dengan mereka"


"Siluman gak makan manusia, kau bahkan tidak perasaan pada mereka. Setidaknya kau harus mendengarkan mereka dulu" Adnan semakin terbawa perasaan.


"Lagi pula itu mustahil, siluman tidak ada sama sekali. Kita hentikan saja pembicaraan yang tidak berfaedah ini" Qaireen tidak ingin berdebat dengan Adnan hanya karena siluman.


"Tidak berguna? Jadi menurutmu yang berguna cuma Adha (karena dia manusia)" Adnan semakin tidak bisa mengontrol dirinya sekarang.


"Adha, kenapa dia"Qaireen heran dengan sikap Adnan yang berubah tiba-tiba.


"Siluman itu ada, bisa saja sekarang dia ada di dekatmu"


Qaireen tertawa mendengar kalimat Adnan. Adnan mendekat dan meraih kedua bahu Qaireen, menariknya sampai cukup dekat pada tubuhnya sendiri.


"Siluman itu bisa lebih baik dari manusia bahkan lebih baik dari Adha" ucap Adnan tampak sangat serius.

__ADS_1


Qaireen terkejut sampai tidak bisa bicara lagi, apalagi dia sedekat itu dengan Adnan. Bahkan napas hangat Adnan terasa di pipi kirinya. Adnan menatap Qaireen lekat dan matanya semakin membiru.


Bersambung...


__ADS_2