
Aku masih bingung mengapa Adha membantuku tadi. Belum pernah sekalipun orang seperti dia mau dan senang hati berada di dekatku. Aku berpikir keras mengapa dan apa alasan di balik sikapnya itu sambil menyuapkan nasi ke mulutku.
Aku menggoyang-goyangkan kakiku yang berada di bawah meja. Jam istirahat hanya aku yang ada di kelas, aku memang sengaja membawa bekal dari rumah untuk berhemat. Mereka berempat menghampiriku tiba-tiba, ya mereka yang menatapku dengan sinis sejak kami bertatapan.
Wajah mereka begitu congkak, sama dengan orang-orang yang ada di kelas ku saat aku masih SMP dulu. Aku takut dan mulai menunduk, tapi kulihat Adnan di ambang pintu dan mengisyaratkan agar aku tegar dan tidak takut pada mereka berempat. Aku mengangguk pelan dan dia tersenyum padaku. Entah kenapa senyumnya membuat ketakutanku berkurang dan lebih berani menghadapi empat manusia itu.
"Kami tidak perlu memperkenalkan dirikan, kau pasti tahu siapa kami" ucap salah seorang dari mereka.
"Pasti tahu dong chel, siapa yang gak tahu dengan geng kita "Racheler" Iya gak" jawab salah seorang lagi dari mereka.
Aku bingung dan semakin bingung harus bagaimana. Aku bahkan tidak pernah mendengar nama geng itu.
"Dia masih bingung atau pura-pura" kata seorang lagi yang berambut pendek.
"Asal kau tahu, kami adalah geng Racheler. Seperti namanya yang diambil dari nama Rachel ketua geng ini. Cantik, pintar, kaya, yang jelas gak seperti kamu"
"Langsung saja ya, Adha itu milik Rachel di mulai saat pertama dia melihatnya. Jangan coba-coba deketin Adha hanya karena kau mendapatkan nilai tertinggi kau punya alasan mendekatinya"
"Aku gak kenal Adha" ucapku setelah memberanikan diri melihat mata yang katanya bernama Rachel.
" Bagus kalau begitu, jangan coba kenal dia" ucap salah seorang lagi dari mereka.
"U, matamu menakutkan Cil, aku takut dia malah kencing di celana"
Mereka malah mengolok-olokku dan memojokkan aku sampai terjepit, terus saja aku bertemu orang seperti mereka. Tidak hanya saat SMP saat ini juga mereka ada.
Mereka keluar ruangan, perasaanku sedikit membaik saat mereka hilang dari pandanganku.
"Kenapa? Kau kembali di bully" ucap Adnan yang entah sejak kapan sudah ada disitu.
"Itu biasa buatku"
"Kau ingin aku membalas mereka" tawar Adnan
"Bagaimana caramu membalas mereka, memukul? mengerjai? atau membully mereka juga" gerutu Qaireen.
"Aku punya banyak cara" jawab Andan percaya diri.
"Kau tidak punya pekerjaan lain, kau terus terusan berada di sekitarku"
"Itu pekerjaanku, berada disekitarmu"
Qireen akhirnya keluar kelas meninggalkan Adnan yang masih menatapnya. Adha menarik tangan Qireen begitu dia keluar dari kelasnya dan membawanya ke ruang OSIS.
"Jangan macam-macam" ucap Qireen tampak ketakutan.
"Kau pikir aku akan ngapain"
"Aku gak tahu"
"Oke. Aku cuma ingin mengajakmu masuk OSIS sebagai sekretaris" ucap Adnan menawarkan.
"Kenapa harus aku"
"Aku melihat potensi di dalam dirimu"
__ADS_1
"Aku menolak"
"Posisi itu sangat berguna untukmu nanti"
"Aku menolak" ucap Qireen lagi.
"Kalau begitu setidaknya beri aku nomor handphone mu"
"Aku tidak punya"
"Kebohongan apa itu, siapa--
"Aku orangnya, karena seperti yang sudah kubilang aku tidak punya orang yang ingin menelponku begitu juga sebaliknya" jawab Qaireen sambil berjalan menjauh dari Adha.
***
"Benar kau tidak punya hp" ucap Adnan
"Kau mengikutiku"
"Sepertinya"
"Iya, aku tidak punya"
"Harusnya kau punya"
"Untuk apa"
"Untuk membuat hidupmu lebih berwarna, jangan menolak jauh dari Adha"
"Bukan urusanmu"
Qireen berhenti berjalan tiba-tiba dan berbalik. Adnan terkejut dan membuat dia terdiam melihat tatapan Qireen padanya.
"Sejak kapan matamu berwarna biru, kau pakai lensa" tanya Qireen heran dengan perubahan warna mata Adnan.
"I-iya. Itu lensa. Baru saja"
"Baru saja aku pakai" tambahnya lagi.
Qireen pergi kali ini Adnan tidak mengejarnya. Dia memegangi dadanya yang berdetak cukup kencang dan terasa sedikit sakit.
"Ada apa ini, kenapa tiba-tiba" dia bertanya pada dirinya sendiri.
...****************...
Adnan duduk berdua dengan seorang gadis cantik di sebuah restoran mewah. Dia menatap gadis itu dengan sinis. Gadis itu juga melakukan hal yang sama terhadapnya.
"Ada apa" ucap gadis itu memulai pembicaraan.
"Jadi kau berjumpa dengannya disini, aku melihat dengan jelas ini tempatnya"
"Iya, ini tempat pertemuan kami"
"Karena dia kau meninggalkan semua dan juga diriku. Dia cukup hebat. Aku akan mencoba sehebat apa dirinya nanti"
__ADS_1
"Jangan mencoba untuk menyakitinya"
"Ada apa denganmu? matamu membiru yang artinya kau mulai menyukai seseorang" tebak gadis itu.
"Seseorang yang bukan diciptakan untukmu" tambah gadis itu.
"Apa maksudmu"
"Kau terus mengejekku mengenai hubungan yang ku bangun dengannya dan sekarang itu terjadi padamu"
"Kau jatuh cinta padanya, seseorang yang bukan ditakdirkan untukmu" ucap gadis itu tegas.
"Omong kosong apa ini"
"Aku tidak perlu menjelaskan, matamu tidak dapat berbohong begitu juga dengan tubuhmu. Sebab itu kau ingin berjumpa. Jawaban itu sudah cukup untukmu" jawab gadis itu lagi dengan banyak teka-teki.
"Apa maksud semua ucapanmu"
"Lama-lama juga kau tahu, saat butuh pencerahan jangan segan-segan untuk bertanya padaku" ucap gadis itu sambil berlalu.
...****************...
"Maaf tuan, saya harus membersihkan meja ini sekarang. Kami hampir tutup" ucap pelayan yang suaranya tidak asing bagi Adnan.
"Kau? Kau kerja disini" ucapnya terkejut begitu melihat Qaireen di depannya.
"Kau ada acara apa disini? Memakai jas dan--
"Acara keluarga" jawab Adnan berbohong.
"Oh, kalau begitu aku akan bersihkan mejanya sekarang"
"Silahkan, aku juga sudah mau pergi"
"Oke, hati-hati" ucap Qireen setengah berteriak saat Adnan sudah cukup jauh.
Adnan membasuh wajahnya di wastafel toilet. Dia memandang matanya yang memang berubah warna. Dia bingung dengan ucapan gadis tersebut dan mengapa matanya semakin biru saat melihat Qireen. Dia mencoba membuka semua teka-teki tersebut namun dua enggan tahu jawabannya.
"Gak mungkin, mana mungkin aku dengan Ireen. Sejak kapan aku memanggilnya Ireen" ucapnya frustasi.
Bagaimanapun Adnan tidak ingin seperti gadis tadi yang rela meninggalkan semua hanya karena seseorang. Dia tidak ingin mengikuti jejak gadis itu.
"Aku mana mungkin, itu tidak akan pernah terjadi. Aku harus cepat-cepat membantu Qireen lalu menghilang dari hidupnya. Iya hal pertama yang harus aku lakukan adalah dia harus punya kekasih" ucapnya pada dirinya sendiri di depan kaca.
Adnan keluar dari toilet dan melihat Qireen juga baru keluar dari toilet wanita. Qaireen tersenyum dan berjalan ke arah Adnan.
"Belum pulang juga" tanya Qireen.
"Iya, a-aku perlu ke toilet tadi"
"Kalau begitu ayo keluar bersama" ajak Qaireen.
"I-iya" jawabnya terbata-bata.
Adnan mengikuti Qaireen dari belakang dan mencoba menenangkan detak jantungnya.
__ADS_1
"Ada apa ini" ucapnya dalam hati.
Bersambung...