
Gladys menyaksikan gundukan tanah yang masih basah bertabur bunga. Pemakaman neneknya
sudah selesai sekitar setengah jam yang lalu, namun dia belum mau beranjak dari
tempat itu.
“Pulang yuk, Dys?” ajak Meta, tetangganya. “Kamu izin dulu aja dari sekolah.”
Gladys menyeka sebelah matanya.
“Aku mau di sini dulu Met,” katanya. “Aku sih udah izin kok sama wali kelas kalo
masuk siang.”
“Masuk siang? Kek pegawai aja kamu,” komentar Meta. “Kamu yakin masih kuat sekolah?”
Gladys mengangguk meyakinkan temannya.
“Aku kan masuk sekolah itu susah payah dengan beasiswa, nenekku juga seneng banget
pas aku keterima di sana.” Pandangan Gladys menerawang jauh. “Jadi aku akan
tetep masuk hari ini.”
Meta tidak berkata apa-apa lagi, dia hapal betul kalau Gladys sudah memutuskan
sesuatu, maka siapapun akan sulit untuk membujuknya.
Setelah puas berdiam diri di depan pusara neneknya, Gladys bergegas berangkat ke
sekolahnya. Dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, neneknya tidak akan
senang jika melihatnya sampai terpuruk karena kepergiannya.
Gladys menggunakan sarana transportasi umum setiap berangkat dan pulang sekolah karena
dia tidak punya kendaraan pribadi. Kebetulan sekolahnya tidak terlalu jauh dari
rumah, sehingga jika sedang tak ada uang, maka Gladys cukup berjalan kaki.
Tak berapa lama kemudian, Gladys sampai di depan gedung SMA Palagan, salah satu
sekolah menengah atas yang sangat elit di Surakarta.
Gladys dikatakan beruntung bisa diterima melalui jalur beasiswa di sana, karena untuk
masuk ke SMA Palagan sangat susah bagi rakyat jelata seperti dirinya. Jika
ingin mendapatkan beasiswa pun perjuangannya juga tidak mudah, minimal harus
menyodorkan nilai rata-rata sembilan di semua mata pelajaran.
Gladys adalah murid kelas sebelas IPA 4, dan saat ini dia sedang terburu-buru berjalan
menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Saking terburu-burunya, dia tidak
melihat saat seorang murid cowok datang dari arah berlawanan.
Brak!
Tubuh kecil Gladys terpelanting bersama tasnya yang penuh buku, sementara murid cowok
itu hanya terhuyung mundur dengan seragam yang penuh tumpahan cokelat.
“Punya mata nggak sih lo?” katanya sambil menatap Gladys dengan dingin.
Gladys mendongak, dia menelan ludah saat matanya tertumbuk pada sosok Rivano Marvelo,
anak kelas dua belas sekaligus anak pemilik sekolah. Cowok penyandang gelar
paling tampan sekaligus paling galak satu sekolahan.
“Ma – maafin saya, Kak ...” cicit Gladys sambil menundukkan kepalanya. “Saya nggak
sengaja ....”
__ADS_1
“Maaf, maaf! Lo lihat nih seragam gue kotor kena tumpahan cokelat!” sembur Rivano
seraya menunjuk seragamnya.
Gladys memberanikan diri mendongak di tengah rasa takutnya.
“Saya nggak bawa cokelat kok, Kak ...” katanya pelan.
“Ck!” umpat Rivano sambil berdiri menjulang tinggi di depan Gladys yang terduduk di
lantai. “Gue tadi lagi bawa minuman cokelat pas elo tiba-tiba nabrak gue!
Sekarang lihat, seragam gue kotor gara-gara elo!”
“Maafin saya Kak, saya yang salah.” Gladys memutuskan untuk mengakui kesalahannya,
karena siapa pun tahu sifat sombong Rivano yang tak tertandingi. “Lain kali
saya akan hati-hati. Permisi Kak ....”
“Eh, siapa yang nyuruh lo berdiri?” seru Rivano ketika Gladys bangkit dari
posisinya. “Tetep di tempat lo, gue belum selesai!”
Gladys mengkerut seketika.
“Lo anak kelas berapa sih, berani banget jam segini baru nongol?” tanya Rivano
galak. Bukan karena dia adalah murid yang disiplin, dia hanya tidak suka jika
ada murid lain yang menyainginya dalam hal terlambat datang ke sekolah.
Sebagai anak pemilik sekolah, Rivano bebas mau datang telat sekehendak hatinya sendiri.
Tapi itu tidak berlaku untuk murid yang lainnya.
“Saya ... nenek saya baru selesai dimakamkan Kak,” jawab Gladys lirih. “Makanya saya
masuk siang, tapi saya udah izin sama wali kelas ....”
“Saya boleh pergi nggak, Kak?” tanya Gladys dengan mimik memohon. “Saya mau ngejar
pelajaran di kelas.”
“Enak aja,” sahut Rivano sambil menunduk memandang adik kelasnya. “Terus seragam gue
gimana urusannya?”
“...” Gladys tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak berani menyarankan Rivano untuk
membuka bajunya. Lagipula dia tidak mungkin meminta seniornya itu untuk hilir
mudik di sekolah dengan bertelanjang dada.
Bisa-bisa dia sudah dibunuh Rivano lebih dulu sebelum usulnya itu terlaksana.
“Ayo jawab!” gertak Rivano, membuat Gladys terlonjak.
“Saya minta maaf, Kak!” kata Gladys berulang-ulang. “Saya nggak sengaja nabrak Kakak,
sumpah ....”
“Lo kelas berapa, lo belom jawab tadi!” sergah Rivano tak sabar.
“Kelas sebelas, Kak.”
“Cih, junior aja belagu!” sembur Rivano lagi.
Beberapa murid yang lewat hanya melirik sebentar, namun tidak berani berhenti lama-lama.
Mereka takut jika Rivano menuduh mereka ikut campur urusannya.
Gladys membisu dengan ketakukan yang luar biasa. Dia sudah mendengar dari murid-murid
lainnya tentang kekejaman Rivano yang suka menindas orang-orang yang terlibat
__ADS_1
masalah dengannya. Namun baru kali ini Gladys merasakan sendiri api kemurkaan
Rivano membakarnya.
Dan ternyata rasanya jauh lebih menyeramkan daripada sekadar kata orang-orang.
“Lo tunggu di sini,” kata Rivano seraya mengambil ponselnya. “Awas kalo elo berani
geser satu senti aja.”
Kerongkongan Gladys tercekat ngeri ketika melihat Rivano menempelkan ponselnya di telinga.
Dia berpikir mungkin cowok itu akan memanggil teman-temannya untuk
mengeroyoknya ramai-ramai tak bersisa.
“Cepetan ke sini sambil bawa barangnya,” kata Rivano kepada seseorang melalui ponsel.
“Iya, warna putih polos. Jangan yang garis-garis, gue bukan tahanan! Buruan,
gue tunggu!”
Gladys menelan ludahnya berkali-kali ketika mendengar Rivano menyebut warna putih.
Pasti itu kain kafan yang akan digunakan untuk membungkusnya begitu dia sudah
habis dibantai.
Tidak berapa lama kemudian seorang bapak paruh baya menghampirinya sambil menyodorkan
sesuatu.
“Cuma ini yang ada, Mas.”
Rivano mendengus seraya melepas seragamnya yang terkena tumpahan cokelat, kemudian
dilemparkannya seragam itu ke wajah Gladys yang masih terduduk di lantai.
“Cuciin sampe bersih!” perintahnya semena-mena.
“Mas, biar saya yang ....”
“Lo diem,” potong Rivano ketika bapak tadi menawarkan diri. “Biar cewek ini yang
nyuci karena dia yang salah udah nabrak gue sampe cokelat gue tumpah.”
Bapak itu tidak berani membantah lagi. Rivano yang kini sudah bertelanjang dada,
buru-buru mengambil sesuatu yang dibawa oleh si bapak: selembar kemeja putih.
Dipakainya kemeja itu untuk membungkus bagian atas tubuhnya yang mulai
terbentuk.
Sungguh pemandangan yang indah, batin Gladys.
“Apa lihat-lihat?” gertak Rivano.
Seketika Gladys mengalihkan pandangannya. Di saat genting seperti ini, bisa-bisanya dia
mengagumi bodi seniornya.
“Nama lo siapa?” tanya Rivano tajam.
“Gladys Kak,” jawab Gladys.
“Ck, gue nggak nanya elo masih gadis apa enggak!” sergah Rivano. “Yang gue tanya itu
nama lo, nama! Ngerti nggak sih?”
Gladys melongo sejenak mendengar ucapan Rivano, sementara bapak tadi harus susah payah
menahan senyumnya.
Bersambung
__ADS_1
....