
Gladys menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau sudah menyangkut urusan beasiswa, mau
tidak mau dia harus menuruti kemauan seniornya.
Karena dia tidak mungkin putus sekolah begitu saja.
“Terserah Kakak,” katanya. “Yang jelas saya nggak mampu kalo permintaan Kakak aneh-aneh
kayak tadi.
“Kalo elo nggak mampu beli karena nggak ada duit, lo kerja aja di rumah gue.” Rivano
menawari. “Lo jadi punya gaji buat makan lo sehari-hari. Dan meskipun gue
sanggup beli seragam baru lagi, lo tetep punya kewajiban buat nyuciin seragam
gue itu. Gimana?”
Gladys tidak begitu saja percaya dengan omongan Rivano barusan.
“Kerjaannya apa dulu?” tanya Gladys curiga.
“Jadi asisten pribadi gue,” jawab Rivano. “Di rumah dan juga di sekolah. Gimana,
gajinya gede lho, bahkan mungkin lo bisa bayarin duit kuliah lo sendiri kalo
elo kerja.”
Sampai di sini Gladys jadi berpikir panjang, apa yang Rivano katakan itu ada benarnya.
Meskipun neneknya sudah meninggal, bukan berarti mimpi Gladys harus terhenti
sampai di sini. Apalagi dia punya mimpi, cita-cita. Dia juga butuh makan, yang
tentu harus pakai uang.
“Jam kerja saya hari apa aja, Kak?” tanya Gladys lagi.
“Dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu,” jawab Rivano enteng.
“Kakak mau bunuh saya?” tukas Gladys. “Kapan saya punya waktu buat belajar?”
“Elo kan bisa belajar di sekolah,” kata Rivano. “Ya kalo elo nggak mau, beasiswa lo
gue cabut.”
Gladys ternganga dengan mulut lebar. Ini sih bukan penawaran, tapi pemaksaan.
“Kalo nggak mau ya udah,” ucap Rivano.”Gue pergi aja, lo pikirin tuh gimana caranya
biar bisa makan.”
Rivano memutar tubuh tegapnya dan berjalan pergi meninggalkan Gladys sendirian.
***
Sepanjang malam itu Gladys tidak hentinya berpikir soal pekerjaan yang ditawarkan Rivano
untuknya, yakni menjadi asisten pribadi senior sombong itu.
Namun mengingat karakternya yang ribet, Gladys tidak yakin kalau dia akan kuat
bekerja dengan Rivano. Tapi sayangnya dia tidak punya pilihan lain, dia harus
mau kerja atau beasiswanya akan dicabut paksa.
Gladys memandangi foto neneknya kemudian bergumam sendiri.
“Nek, kayaknya aku harus nerima tawaran kerja dari seniorku,” katanya sambil
memejamkan mata.
Tidak berapa lama kemudian, dia terlelap tidur sampai pagi.
__ADS_1
Keesokan harinya, Gladys bertekad bulat menemui Rivano untuk membicarakan soal penawaran
kerja kemarin. Dia menemukan seniornya itu sedang nongkrong di kantin bagaikan
raja, dengan banyak gelas minuman dan makanan ringan tersebar di mejanya.
“Kak Vano,” panggil Gladys seraya berjalan mendekat.
“Hmm?” sahut Rivano tanpa menoleh.
“Saya ... saya mau kerja,” kata Gladys takut-takut.
“Yakin?” tanya Rivano sambil meneguk sebotol teh dingin.
“Iya Kak,” jawab Gladys. “Saya kan tetep butuh makan dan minum. Setelah nenek saya
meninggal, nggak ada lagi yang bisa kasih makan saya.”
“Napa lo nggak minta-minta aja sono?” sahut Rivano sengak.
“Saya nggak pernah dididik buat minta-minta,” kata Gladys tegas. “Saya sehat dan
diberi kemampuan, jadi saya mau makan dari hasil kerja keras saya sendiri.”
Saat itu Rivano baru menolehkan wajahnya ke arah Gladys.
“Oke, gue hargai prinsip lo. Pulang sekolah lo langsung ikut gue buat bahas kerjaan,”
katanya dengan nada ngebos. “Nggak usah ngajak temen, karena ini urusan gue
sama elo.”
“Ikut ke mana, Kak?”
“Rumah gue lah, ke mana lagi?” sahut Rivano. “Kalo elo nggak dateng, beasiswa lo
langsung melayang.”
cuma dia yang bisa menolongnya agar dia memiliki uang untuk biaya makan dan
hidupnya sehari-hari.
“Kita ketemu nanti di halaman sekolah,” perintah Rivano lagi.
“Siap Kak, saya permisi mau ke kelas.” Gladys berpamitan.
“Serah,” sahut Rivano seraya memalingkan wajahnya kembali.
Gladys membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkannya dengan langkah-langkah
lesu. Walau mungkin penuh risiko, tetapi menurutnya ini adalah keputusan yang
paling baik yang bisa diambilnya.
“Seriusan Dys, lo mau kerja sama Kak Vano?” bisik Selvi tak percaya. “Udah lo pikirin
baik-baik belum?”
“Udah semalem suntuk,” kata Gladys. “Mau gimana lagi, gue butuh duit buat makan.”
“Nggak kebayang gue kalo elo punya majikan kayak Kak Vano gitu,” komentar Selvi. “Galaknya
nggak ketulungan, suka semena-mena juga sama orang.”
Gladys menghela napas.
“Gue nggak punya pilihan lain Sel,” keluhnya. “Gue bocah SMA, perusahaan mana yang
mau mempekerjakan gue yang belum lulus ini? Satu-satunya kesempatan ya gue kerja
jadi asisten pribadinya Kak Vano.”
“Duh, apalagi jadi asisten pribadi. Setelah tau karakter aslinya, gue sih lebih milih
__ADS_1
pindah dari Palagan ke sekolah lain.” Selvi bergidik.
“Gue kan pake beasiswa,” ujar Gladys. “Hidup gue itu nggak punya banyak pilihan
kayak elo, Sel.”
“Yang sabar ya, Dys? Semoga Kak Vano nggak ngejahatin kamu,” kata Selvi sambil
mengusap pundak Gladys. “Kalo ada apa-apa, lo cerita aja sama gue.”
“Makasih ya, Sel?” Gladys menganggukkan kepala.
***
Sepulang sekolah, Gladys cepat-cepat meninggalkan kelasnya dan pergi ke halaman sekolah.
“Lo telat lima detik,” kata Rivano begitu Gladys tiba. “Ngapain aja?”
“Kok ngapain aja? Ya nungguin pelajarannya selesai lah,” sahut Gladys.
“Berani ngejawab lo?” ucap Rivano tersinggung. “Belum mulai kerja aja udah ngelunjak.”
“Maaf,” kata Gladys cepat-cepat.
“Ikut gue,” perintah Rivano sambil berjalan mendahului.
Gladys menarik napas dan berusaha mensyukuri keadaannya. Betapapun menyebalkannya
Rivano, cowok itu berniat memberinya pekerjaan demi dirinya bisa makan.
Bukankah itu luar biasa?
“Masuk,” suruh Rivano sambil menunjuk tempat duduk belakang di mobilnya.
Gladys menurut dan langsung masuk ke mobil Rivano tanpa banyak bicara,
Setelah memastikan Gladys sudah masuk mobil, Rivano menutup pintunya dan sopir pribadi
Rivano langsung tancap gas menuju ke rumah.
Gladys terpesona ketika mobil yang ditumpanginya sampai di pelataran rumah mewah
berlantai tiga yang sangat luas. Rivano mendahului keluar sementara Gladys
tetap di tempat duduknya.
“Buruan,” suruh Rivano seraya membuka pintu mobilnya dan menyuruh Gladys keluar. “Ikut
gue.”
Lagi-lagi Gladys tidak berani membantah. Dia ikut saja ke manapun Rivano melangkah.
“Ini rumah gue, tugas lo nyiapin semua keperluan gue dari bangun tidur sampe mau
tidur.” Rivano menjelaskan sambil masuk ke dalam rumah. “Pagi hari lo mesti
nyiapin gue air hangat buat mandi, seragam yang mau gue pake, sepatu, buku-buku
pelajaran, semua deh pokoknya.”
Gladys membelalakkan kedua matanya.
“Itu berarti ... saya harus ...?”
“Iya, lo harus tidur di sini.” Rivano mengangguk kalem. “Hampir semua asisten rumah
tangga pada nginep karena rumahnya jauh-jauh. Lo kan udah sebatang kara, jadi
nggak masalah kan kalo elo tidur di sini?”
Gladys tidak segera menanggapi perkataan Rivano barusan.
Bersambung ....
__ADS_1