My Possessive Senior

My Possessive Senior
Akal Bulus Rivano part 1


__ADS_3

Untuk sesaat lamanya Gladys sampai tidak sanggup bicara apa-apa.


“Apa, nggak terima?” tantang Rivano.


Gladys bertukar pandang dengan Selvi.


“Seragam Kakak kan udah bersih,” kata Gladys bingung. “Kenapa saya disuruh nyuci lagi?”


Rivano berdiri dari kursinya dan menjatuhkan seragamnya sendiri dengan sengaja. Satu


kakinya menginjak seragam itu kuat-kuat hingga meninggalkan bekas sepatu yang


dipakainya.


“Nah kan, udah kotor lagi?” katanya kalem seraya memandang Gladys dan Selvi bergantian.


“Kak, nggak bisa kayak gitu dong.” Gladys tidak bisa jika tidak protes. “Temen saya


kan udah nyuciin seragam Kakak, kenapa Kakak sengaja ngotorin lagi?”


Gladys benar-benar tidak habis pikir dengan seniornya yang satu ini.


“Gue sengaja ngotorin seragam gue lagi, biar elo nyuci ulang dengan tangan lo


sendiri.” Rivano melipat kedua tangannya di dada. “Inget ya, pake tangan elo


sendiri. Awas kalo elo minta bantuan temen lo lagi.”


Gladys tidak menjawab.


“Dan elo.” Rivano ganti mengalihkan pandangannya kepada Selvi yang berdiri membeku.


“Jangan pernah lo gantiin tugasnya dia apa pun alasannya. Kalo sampe lo berani


bantuin dia sekali lagi, gue nggak akan segan-segan jadi mimpi buruk buat dia.”


“Iy – iya Kak, maaf!” Selvi buru-buru mengangguk.


“Bagus,” kata Rivano puas. Tangannya dengan sengaja menuang sisa kopi di atas seragamnya


yang teronggok di lantai. “Nih, cuci lagi sampe bener-bener bersih.”


Gladys menunduk memandang perbuatan seniornya yang semena-mena, sementara Rivano


berpikir bahwa Gladys akan lebih memilih keluar dari sekolah setelah


dipermalukan seperti ini. Dia tidak akan mau ambil pusing.


“Saya usahain Kak,” kata Gladys seraya membungkuk untuk memungut seragam Rivano.


Setelah itu dia cepat-cepat pergi sambil menggamit lengan Selvi, yang tampangnya


seolah diliputi penyesalan karena mengidolakan orang yang salah.


“Serem banget Dys,” komentar Selvi. “Ternyata Kak Vano nggak kayak ekspektasi gue sebelumnya.


Jauuuhh banget.”


“Gue kan udah bilang,” timpal Gladys.


Selvi bergidik ngeri sementara dia mengikuti Gladys berjalan kembali ke kelasnya.


***


Rivano tengah dilanda penasaran dengan sosok Gladys, yang sudah beberapa kali dia


permalukan namun masih bertahan untuk terus bersekolah di SMA Palagan. Padahal


sebelum ini, siapapun murid yang bermasalah dengannya lebih memilih hengkang


daripada mendapat teror setiap hari.


Alhasil Rivano selalu berhasil menyingkirkan ‘musuh-musuh’nya dengan sangat gampang

__ADS_1


seperti mengusir butiran debu.


Tetapi sayangnya Gladys berbeda dengan mereka, cewek itu lebih memilih bertahan dan


menghadapi semua tekanan yang diberikannya dengan sabar.


Siang itu tanpa sepengetahuan Gladys, Rivano diam-diam membuntutinya ketika dia


pulang mengendarai ojek yang ditemuinya di depan sekolah. Rivano sengaja


meminta sopirnya untuk mengikuti ojek yang ditumpangi Gladys.


Saat ojek itu berhenti di depan sebuah gang sempit, mobil Rivano ikut berhenti di


jarak yang lebih jauh.


Melihat Gladys berjalan masuk ke dalam gang, bapak sopir menoleh kepada anak


majikannya.


“Kayaknya Mas harus jalan kalo mau ngikutin mbak yang tadi.”


“Gue? Jalan kaki?” ulang Rivano sambil mengernyit.


“Mau gimana lagi Mas, mobilnya nggak bisa masuk.” Bapak sopir memberikan alasan.


“Atau kita pulang aja ke rumah?”


“Ck,” dengus Rivano sambil keluar dari mobil dan berlari menyusul Gladys yang sudah


lebih dulu masuk ke dalam gang.


Cowok yang memiliki perawakan mirip model itu berhasil membuntuti Gladys sampai di


depan rumahnya yang sangat sederhana, bahkan jauh dari kata layak.


Gladys yang tidak curiga sama sekali langsung membuka pintu dan masuk ke dalam


Kenangan tentang neneknya masih terasa sangat kuat saat Gladys masuk ke kamarnya untuk


ganti baju. Dia mengambil satu jepit rambut untuk menjepit rambutnya ke atas,


setelah itu dia keluar lagi dan terkejut bukan main saat melihat Rivano yang


tiba-tiba muncul.


“Kak Vano? Kakak ngapain?” seru Gladys kaget. “Kakak kok bisa ada di sini?”


Rivano


mengernyitkan keningnya dan memandang seisi ruangan dengan tampang tidak pergi.


“Lo seriusan tinggal di reruntuhan gempa bumi kek gini?” komentarnya, campuran


antara menghina atau merasa kasihan.


“Ini bukan reruntuhan gempa bumi,” kata Gladys. “Tapi saya emang tinggal di sini


sama nenek saya, dulu. Karena sekarang nenek udah nggak ada, jadinya saya


sendiri.”


“Kok lo nggak pindah ke tempat yang lebih manusiawi daripada ini?” tanya Rivano


heran. “Kalo nggak bisa beli rumah, minimal kan lo bisa sewa apartemen.”


Gladys memandang Rivano tanpa ekspresi, jika dia punya cukup uang untuk menyewa


apartemen, tentu dia tidak akan menggantungkan nasibnya kepada beasiswa


sekolahnya lagi.


“Kakak ada perlu apa ke sini?” tanya Gladys. “Saya kan nggak punya utang sama Kakak,

__ADS_1


kecuali soal seragam itu. Abis ini saya cuci kok.”


Rivano tidak menjawab, dia jadi tidak yakin dengan niatnya untuk menyuruh Gladys


mencuci seragamnya di tempat kumuh seperti ini. Menyewa rumah yang layak saja


dia tak mampu, apalagi membeli air bersih?


“Lo mau nyuci di mana?” tanya Rivano ingin tahu.


“Di sumur,” jawab Gladys kalem.


“Apa, di sumur?” ulang Rivano tidak percaya. “Kalo badan gue gatel-gatel gimana


setelah pake seragam yang lo cuci pake air sumur?”


“Airnya bersih kok,” kata Gladys yang ingin sekali mengatakan kalau seniornya ini


sangat lebay.


“Gue nggak percaya,” tukas Rivano. “Lo laundri aja deh kalo gitu, hukuman lo gue


ringankan.”


“Saya nggak punya duit,” kata Gladys jujur. “Kalo pun ada, itu buat makan saya hari


ini. Saya kan belum kerja, jadi nggak bisa bayarin laundri.”


“Lah, palingan cuma lima ribu perak.” Rivano memandang Gladys heran.


“Itu jumlahnya lumayan buat makan saya,” kata Gladys.


“Kalo elo nggak mampu bayar laundri, kok lo bisa sekolah di Palagan?” tanya Rivano


superheran. Setahu dia, biaya sekolah elit macam SMA Palagan hanya bisa


dijangkau oleh anak-anak kalangan orang berduit.


“Saya pake beasiswa,” jawab Gladys. “Makanya saya masih bisa sekolah di sana. Tapi


sejak nenek meninggal, tentu aja saya nggak tau mau makan dari mana


besok-besok.”


Rivano menganggukkan kepalanya, dia paham sekarang kenapa Gladys belum juga hengkang dari


sekolah sejak terlibat masalah dengannya. Mendadak sebuah seringai terukir di


wajahnya yang tampan.


“Terus seragam gue gimana urusannya?” Rivano pura-pura bertanya.


“Ini mau saya rendam dulu pake air sama sabun colek,” jawab Gladys.


“Nggak mau gue,” tolak Rivano. “Gue maunya pake air PAM sama deterjen merek paling


bagus.”


“Kakak kok sengaja mempersulit saya?” tanya Gladys heran.


“Kalo elo nggak mau, beasiswa lo gue cabut.” Rivano mengancam. “Lo tau kan gue ini


siapa? “


“Kakak nggak punya kuasa apa-apa buat nyampurin urusan beasiswa murid,” kata Gladys.


“Siapa bilang nggak bisa?” sahut Rivano sombong. “Kekuasaan gue itu luas, apa pun bisa


gue atur. Gue juga bisa ngatur biar elo jadi milik gue, dan nggak bakal ada


yang bisa nolongin elo.”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2