
Untuk sesaat lamanya Gladys sampai tidak sanggup bicara apa-apa.
“Apa, nggak terima?” tantang Rivano.
Gladys bertukar pandang dengan Selvi.
“Seragam Kakak kan udah bersih,” kata Gladys bingung. “Kenapa saya disuruh nyuci lagi?”
Rivano berdiri dari kursinya dan menjatuhkan seragamnya sendiri dengan sengaja. Satu
kakinya menginjak seragam itu kuat-kuat hingga meninggalkan bekas sepatu yang
dipakainya.
“Nah kan, udah kotor lagi?” katanya kalem seraya memandang Gladys dan Selvi bergantian.
“Kak, nggak bisa kayak gitu dong.” Gladys tidak bisa jika tidak protes. “Temen saya
kan udah nyuciin seragam Kakak, kenapa Kakak sengaja ngotorin lagi?”
Gladys benar-benar tidak habis pikir dengan seniornya yang satu ini.
“Gue sengaja ngotorin seragam gue lagi, biar elo nyuci ulang dengan tangan lo
sendiri.” Rivano melipat kedua tangannya di dada. “Inget ya, pake tangan elo
sendiri. Awas kalo elo minta bantuan temen lo lagi.”
Gladys tidak menjawab.
“Dan elo.” Rivano ganti mengalihkan pandangannya kepada Selvi yang berdiri membeku.
“Jangan pernah lo gantiin tugasnya dia apa pun alasannya. Kalo sampe lo berani
bantuin dia sekali lagi, gue nggak akan segan-segan jadi mimpi buruk buat dia.”
“Iy – iya Kak, maaf!” Selvi buru-buru mengangguk.
“Bagus,” kata Rivano puas. Tangannya dengan sengaja menuang sisa kopi di atas seragamnya
yang teronggok di lantai. “Nih, cuci lagi sampe bener-bener bersih.”
Gladys menunduk memandang perbuatan seniornya yang semena-mena, sementara Rivano
berpikir bahwa Gladys akan lebih memilih keluar dari sekolah setelah
dipermalukan seperti ini. Dia tidak akan mau ambil pusing.
“Saya usahain Kak,” kata Gladys seraya membungkuk untuk memungut seragam Rivano.
Setelah itu dia cepat-cepat pergi sambil menggamit lengan Selvi, yang tampangnya
seolah diliputi penyesalan karena mengidolakan orang yang salah.
“Serem banget Dys,” komentar Selvi. “Ternyata Kak Vano nggak kayak ekspektasi gue sebelumnya.
Jauuuhh banget.”
“Gue kan udah bilang,” timpal Gladys.
Selvi bergidik ngeri sementara dia mengikuti Gladys berjalan kembali ke kelasnya.
***
Rivano tengah dilanda penasaran dengan sosok Gladys, yang sudah beberapa kali dia
permalukan namun masih bertahan untuk terus bersekolah di SMA Palagan. Padahal
sebelum ini, siapapun murid yang bermasalah dengannya lebih memilih hengkang
daripada mendapat teror setiap hari.
Alhasil Rivano selalu berhasil menyingkirkan ‘musuh-musuh’nya dengan sangat gampang
__ADS_1
seperti mengusir butiran debu.
Tetapi sayangnya Gladys berbeda dengan mereka, cewek itu lebih memilih bertahan dan
menghadapi semua tekanan yang diberikannya dengan sabar.
Siang itu tanpa sepengetahuan Gladys, Rivano diam-diam membuntutinya ketika dia
pulang mengendarai ojek yang ditemuinya di depan sekolah. Rivano sengaja
meminta sopirnya untuk mengikuti ojek yang ditumpangi Gladys.
Saat ojek itu berhenti di depan sebuah gang sempit, mobil Rivano ikut berhenti di
jarak yang lebih jauh.
Melihat Gladys berjalan masuk ke dalam gang, bapak sopir menoleh kepada anak
majikannya.
“Kayaknya Mas harus jalan kalo mau ngikutin mbak yang tadi.”
“Gue? Jalan kaki?” ulang Rivano sambil mengernyit.
“Mau gimana lagi Mas, mobilnya nggak bisa masuk.” Bapak sopir memberikan alasan.
“Atau kita pulang aja ke rumah?”
“Ck,” dengus Rivano sambil keluar dari mobil dan berlari menyusul Gladys yang sudah
lebih dulu masuk ke dalam gang.
Cowok yang memiliki perawakan mirip model itu berhasil membuntuti Gladys sampai di
depan rumahnya yang sangat sederhana, bahkan jauh dari kata layak.
Gladys yang tidak curiga sama sekali langsung membuka pintu dan masuk ke dalam
Kenangan tentang neneknya masih terasa sangat kuat saat Gladys masuk ke kamarnya untuk
ganti baju. Dia mengambil satu jepit rambut untuk menjepit rambutnya ke atas,
setelah itu dia keluar lagi dan terkejut bukan main saat melihat Rivano yang
tiba-tiba muncul.
“Kak Vano? Kakak ngapain?” seru Gladys kaget. “Kakak kok bisa ada di sini?”
Rivano
mengernyitkan keningnya dan memandang seisi ruangan dengan tampang tidak pergi.
“Lo seriusan tinggal di reruntuhan gempa bumi kek gini?” komentarnya, campuran
antara menghina atau merasa kasihan.
“Ini bukan reruntuhan gempa bumi,” kata Gladys. “Tapi saya emang tinggal di sini
sama nenek saya, dulu. Karena sekarang nenek udah nggak ada, jadinya saya
sendiri.”
“Kok lo nggak pindah ke tempat yang lebih manusiawi daripada ini?” tanya Rivano
heran. “Kalo nggak bisa beli rumah, minimal kan lo bisa sewa apartemen.”
Gladys memandang Rivano tanpa ekspresi, jika dia punya cukup uang untuk menyewa
apartemen, tentu dia tidak akan menggantungkan nasibnya kepada beasiswa
sekolahnya lagi.
“Kakak ada perlu apa ke sini?” tanya Gladys. “Saya kan nggak punya utang sama Kakak,
__ADS_1
kecuali soal seragam itu. Abis ini saya cuci kok.”
Rivano tidak menjawab, dia jadi tidak yakin dengan niatnya untuk menyuruh Gladys
mencuci seragamnya di tempat kumuh seperti ini. Menyewa rumah yang layak saja
dia tak mampu, apalagi membeli air bersih?
“Lo mau nyuci di mana?” tanya Rivano ingin tahu.
“Di sumur,” jawab Gladys kalem.
“Apa, di sumur?” ulang Rivano tidak percaya. “Kalo badan gue gatel-gatel gimana
setelah pake seragam yang lo cuci pake air sumur?”
“Airnya bersih kok,” kata Gladys yang ingin sekali mengatakan kalau seniornya ini
sangat lebay.
“Gue nggak percaya,” tukas Rivano. “Lo laundri aja deh kalo gitu, hukuman lo gue
ringankan.”
“Saya nggak punya duit,” kata Gladys jujur. “Kalo pun ada, itu buat makan saya hari
ini. Saya kan belum kerja, jadi nggak bisa bayarin laundri.”
“Lah, palingan cuma lima ribu perak.” Rivano memandang Gladys heran.
“Itu jumlahnya lumayan buat makan saya,” kata Gladys.
“Kalo elo nggak mampu bayar laundri, kok lo bisa sekolah di Palagan?” tanya Rivano
superheran. Setahu dia, biaya sekolah elit macam SMA Palagan hanya bisa
dijangkau oleh anak-anak kalangan orang berduit.
“Saya pake beasiswa,” jawab Gladys. “Makanya saya masih bisa sekolah di sana. Tapi
sejak nenek meninggal, tentu aja saya nggak tau mau makan dari mana
besok-besok.”
Rivano menganggukkan kepalanya, dia paham sekarang kenapa Gladys belum juga hengkang dari
sekolah sejak terlibat masalah dengannya. Mendadak sebuah seringai terukir di
wajahnya yang tampan.
“Terus seragam gue gimana urusannya?” Rivano pura-pura bertanya.
“Ini mau saya rendam dulu pake air sama sabun colek,” jawab Gladys.
“Nggak mau gue,” tolak Rivano. “Gue maunya pake air PAM sama deterjen merek paling
bagus.”
“Kakak kok sengaja mempersulit saya?” tanya Gladys heran.
“Kalo elo nggak mau, beasiswa lo gue cabut.” Rivano mengancam. “Lo tau kan gue ini
siapa? “
“Kakak nggak punya kuasa apa-apa buat nyampurin urusan beasiswa murid,” kata Gladys.
“Siapa bilang nggak bisa?” sahut Rivano sombong. “Kekuasaan gue itu luas, apa pun bisa
gue atur. Gue juga bisa ngatur biar elo jadi milik gue, dan nggak bakal ada
yang bisa nolongin elo.”
Bersambung ....
__ADS_1