
“Lo keberatan?” tanya Rivano menebak keheningan Gladys menyusul perintahnya
barusan.
“Maaf Kak, masa iya saya harus tidur di rumah Kakak?” jawab Gladys ragu-ragu. “Rumah
saya gimana urusannya?”
“Lo sedekahin aja udah, lagian rumah mau roboh gitu lo pertahanin.” Rivano
menghina. “Mulai besok pagi lo udah harus siap melayani gue dua puluh empat
jam, jadi mending malem ini juga lo tinggal di rumah gue.”
“Terus baju-baju dan keperluan saya yang lainnya gimana, Kak?” tanya Gladys tidak
mengerti. “Saya nggak bawa handuk sama baju ganti.”
Rivano berputar di tempatnya berdiri.
“Lo nggak usah mikir soal itu,” katanya. “Sebentar lagi salah satu asisten rumah
tangga di sini bakalan nyiapin semua keperluan lo.”
“Buku-buku pelajaran buat sekolah besok gimana?” tanya Gladys lagi.
“Sopir pribadi gue bisa nganterin elo buat ngambil buku-buku lo di rumah reyot itu,”
jawab Rivano tangkas. “Lo mau alesan apa lagi? Mau beasiswa lo beneran gue
cabut?”
“Jangan, Kak!” Gladys menggeleng.
“Makanya, ikutin perintah gue. Nggak usah banyak tanya,” tukas Rivano. “Sebelum pergi lo
makan dulu yang banyak, di sini bebas lo mau makan apa aja.”
“Iya, Kak.” Gladys mengangguk patuh.
“Ya udah, gue mau ke kamar gue dulu. Tunggu di sini, asisten rumah tangga yang lain
bakalan nyamperin lo.”
Sebelum Gladys menjawab, Rivano sudah keburu pergi menaiki anak tangga dan menghilang.
Tinggal Gladys yang seorang diri bengong di tengah ruangan yang berisi
perabotan mahal dan berkelas tinggi, tidak henti-hentinya membatin betapa
beruntungnya hidup seorang Rivano yang bermandikan harta.
Tidak berapa lama kemudian, seorang asisten rumah tangga menghampiri Gladys yang
masih sibuk memelototi perabotan apa saja yang ada di sekitarnya.
“Mbak, kamu karyawan barunya Mas Vano?” sapanya ramah.
“Iya Bu,” sahut Gladys sambil mengangguk sopan.
“Makan dulu yuk, Mbak?” ajaknya. “Setelah itu baru kita pergi.”
Gladys mengangguk dan mengikuti ke mana ibu tersebut melangkah. Sebuah ruangan dengan
meja persegi besar menyambutnya, berbagai hidangan enak tersaji di atasnya.
“Nah, silakan makan apa yang kamu sukai.” Ibu itu mempersilakan. “Oh iya, nama kamu
siapa?”
“Saya Gladys Bu,” jawab Gladys sambil duduk. “Kak Vano nggak ikut makan?”
__ADS_1
“Mas Vano nggak pernah makan di sini,” jawab ibu itu sambil mengambilkan piring dan
menyendokkan nasi untuk Gladys. “Lauknya ambil sendiri, ya?”
“Iya Bu, terima kasih.” Gladys menerima piring yang diulurkan. “Ibu namanya siapa?”
“Panggil saja Sarti.”
“Kenapa Kak Vano nggak pernah makan di sini, Bu?” tanya Gladys lagi seraya mengambil
sop dan ayam goreng.
“Dia biasa makan di kamarnya,” jawab Bu Sarti. “Kamu mau minum apa?”
“Nanti biar saya bikin sendiri,” kata Gladys. “Ibu sendiri kenapa nggak makan?”
“Saya ada jam makan sendiri,” jawab Bu Sarti. “Saya tinggal dulu ya?”
Gladys mengangguk dan mulai makan. Dia bersyukur sekali Tuhan memberinya pekerjaan
melalui tangan Rivano, sehingga dia bisa mempersiapkan masa depannya dengan
lebih baik lagi. Dengan gaji yang rutin, dia bisa melanjutkan hidupnya tanpa
perlu dirundung rasa khawatir tentang kebutuhan sehari-hari yang membutuhkan
dana.
Selesai makan, atas inisiatifnya sendiri Gladys menyiapkan makan siang untuk Rivano.
Dia belum tahu apa-apa tentang majikannya ini, termasuk makanan kesukaannya, namun
dia akan mempelajarinya secara bertahap.
“Bu, kamarnya Kak Vano di mana ya?” tanya Gladys ketika Bu Sarti memasuki ruangan.
“Kamu naik aja ke lantai dua, nanti belok kanan mentok.” Bu Sarti memberitahu. “Kamu
mau ngapain?”
“Mas Vano biasanya telpon kalo minta makan,” kata Bu Sarti. “Jadi kamu nggak perlu
repot-repot nganter makanan sebelum diperintah Mas Vano.”
“Nggak papa Bu, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih saya buat Kak Vano.” Gladys mengangkat
nampan yang berisi sepiring nasi, semangkok sop dan segelas teh hangat.
“Jangan lupa habis ini kamu pergi sama Pak Joko buat ambil keperluan sekolah kamu,”
kata Bu Sarti mengingatkan.
“Iya, Bu.” Gladys mengangguk dan berjalan pergi ke kamar Rivano.
Gladys menaiki anak tangga kemudian berbelok ke kanan dan mendapati satu buah pintu
yang ada di sana. Dia mengulurkan tangannya ke depan dan mengetuk pintu kamar
Rivano.
“Kak Vano, ini saya.” Gladys memberitahukan kedatangannya. “Saya bawakan makan siang
buat Kakak.”
Gladys harus menunggu selama beberapa saat sebelum akhirnya pintu kamar Rivano
terbuka.
“Gue belom laper, entar kalo gue minta makan gue bisa telpon ke dapur.” Begitu
muncul, Rivano langsung memprotes keras. “Apa Bu Sarti nggak ngasih tau kamu?”
__ADS_1
Untuk sesaat tatapan mata Gladys salah fokus ke arah Rivano yang hanya mengenakan
kaos buntung dan celana abu-abu.
“Maaf
Kak, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih saya karena Kakak udah ngasih
saya pekerjaan,” kata Gladys sambil mengulurkan nampan yang dibawanya.
Rivano tidak langsung meresponnya.
“Elo kan belom mulai kerja,” katanya mengingatkan. “Gue nggak akan masukin ini dalam
gaji lo.”
“Saya nggak minta bayaran untuk ini,” kata Gladys. “Kalo Kakak belom lapar, dimakan
nanti juga nggak papa.”
Rivano menarik napas.
“Lo taruh aja di meja,” perintahnya sambil membalikkan badan dan menjauhi pintu.
Gladys masuk ke dalam kamar Rivano dengan hati-hati, ini merupakan pengalaman
pertamanya memasuki kamar cowok. Dengan tangan gemetar dia meletakkan nampan
yang dibawanya ke atas meja belajar Rivano.
“Jangan lupa acara lo selanjutnya,” kata Rivano mengingatkan. “Pak Joko udah siap di
bawah buat nganterin lo ke rumah, ambil semua keperluan lo setelah itu balik ke
sini lagi.”
“Iya Kak, saya permisi.” Gladys mengangguk kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar
Rivano.
Sesampainya di luar, Gladys berdiri bersandar di tembok kemudian memegangi dadanya yang
bergemuruh keras.
Kenapa rasanya deg-degan gini ya, batinnya.
Sebelum terpergok, Gladys buru-buru pergi menuruni tangga untuk menemui Pak Joko, sopir
pribadi Rivano yang sudah dipesan untuk mengantarnya ke rumah mengambil semua
keperluannya.
“Mbak Gladys, nungguin Bi Tari sebentar. Nanti dia yang akan menemani kamu ke mal.”
Pak Joko memberi tahu ketika Gladys menghampirinya ke halaman.
“Ngapain ke mal, Pak?” tanya Gladys ingin tahu.
“Mas Vano nyuruh Bi Tari beli baju buat kamu,” jawab Pak Joko.
“Nggak usah Pak, saya punya baju kok di rumah.” Gladys menolak.
“Ini perintah langsung dari Mas Vano, dia bahkan udah kasih uang cash ke Bi Tari.”
Pak Joko menjelaskan. “Nanti kita semua kena marah kalo nggak diturutin
perintahnya.”
“Ya udah deh Pak,” kata Gladys akhirnya, dia harus mengakui bahwa Rivano sangat
serius mengenai kekuasaan yang dimilikinya. Tidak hanya di sekolah, bahkan di
__ADS_1
rumah pun dia punya kuasa penuh untuk mengatur segalanya.
Bersambung ....