
“Nama saya Gladys, Kak. Bukan gadis,” ralat Gladys tanpa berani tertawa.
Seganteng-gantengnya wajah yang dimiliki Rivano, tetap saja menyeramkan jika
dia sedang marah.
“Ngomong itu yang jelas!” hardik Rivano. “Itu jangan lupa, cuciin seragam gue yang
bersih. Besok bawa ke kelas gue. Awas kalo telat!”
Gladys menunjukkan wajah keberatan yang langsung mengundang reaksi tidak mengenakkan
dari Rivano.
“Apa, mau protes?” katanya.
“Enggak Kak,” ujar Gladys. “Tapi tolong jangan besok Kak, nggak bakal kering
seragamnya. Dua atau tiga hari lah Kak, ya?”
“Lama amat nyuci aja sampe tiga hari?” tukas Rivano tidak habis pikir. “Lo nyucinya
di mana sih, di Hong Kong?”
“Saya nyuci pake tangan Kak, terus ngeringinnya di bawah sinar matahari.” Gladys
menjelaskan. “Jadi kalo mendung kayak gini bakal lebih lama keringnya.”
Rivano berdecak lagi.
“Hari gini nyuci pake tangan,” katanya meremehkan. “Kesian amat idup lo.”
Gladys diam saja, karena apa yang dikatakan Rivan memang benar. Hidupnya memang teramat
kasihan. Tujuh belas tahun hidup tanpa kenal siapa orang tuanya, dan sekarang
nenek yang merawatnya sejak kecil sudah tidak ada lagi bersamanya.
“Heh, malah bengong.” Rivano berdecak lagi.
Gladys memberanikan diri untuk bangkit sambil membawa seragam Rivano yang kotor.
“Ya udah Kak, akan saya cuci dan keringin secepetnya. Saya permisi ke kelas dulu,
saya udah telat karena pemakaman nenek tadi,” kata Gladys masih sangat sopan.
“Siapa yang ngizinin lo pergi?” hardik Rivano.
“Maaf Kak, tapi saya harus ke kelas. Permisi,” kata Gladys seraya pergi meinggalkan
Rivano dan si bapak tadi.
“Heh, mau ke mana lo? Berani bener main pergi aja!” rutuk Rivano.
“Sudah Mas, kasian. Dia bilang habis pemakaman neneknya, berarti dia masih berkabung.”
Bapak paruh baya itu memberanikan diri untuk mencegah Rivano mengejar Gladys.
“Alah, sok tau!” Rivano mengibaskan tangannya. “Udah ah, anterin gue pulang.”
“Jam pelajaran kan belum selesai, Mas.” Bapak itu mengingatkan.
“Bodo!”
***
Gladys berjalan seperti orang yang habis melihat hantu, untungnya dia masuk saat
pergantian jam pelajaran akhir, jadi tidak ada guru yang berpapasan dengannya.
“Dys, kok lo masuk sekolah?” tanya Alan heran. “Lo kan lagi berkabung.”
“Nggak papa Lan, gue bingung di rumah mau ngapain.” Gladys meletakkan tasnya di atas
__ADS_1
meja.
“Yang sabar ya, Dys?” ucap Selvi, teman sebangkunya.
“Kalo lo butuh apa-apa, bilang aja sama kita.” Rika menimpali.
“Makasih ya?” sahut Gladys. “Besok juga gue udah baikan.”
“Terus itu apaan yang lo pegang, Dys?” tanya Selvi ingin tahu.
“Oh, ini seragamnya senior yang tadi nggak sengaja tabrakan sama gue.” Gladys
menjelaskan seraya melipat seragam Rivano agar lebih rapi. “Gue disuruh cuciin,
nggak papa lah.”
Selvi sudah mau berkomentar, namun niat itu diurungkannya saat Bu Farida memasuki
kelas.
Begitu jam pelajaran selesai, Selvi buru-buru memberondongnya dengan pertanyaan.
“Senior siapa?” katanya penasaran.
“Rivano Marvelo,” sahut Gladys. “Orangnya galak banget, sumpah.”
“Serius itu seragamnya Kak Vano?” Kedua mata Selvi membulat. “Sini, gue mau lihat.”
Gladys menyodorkan seragam Rivano yang terkena tumpahan cokelat. Bukannya jijik, Selvi
malah menyentuhnya dengan antusias seolah itu barang berharganya yang telah
ditemukan.
“Mimpi apa gue semalem sampe bisa pegang seragamnya Kak Vano,” katanya sambil
senyum-senyum tidak jelas.
“Kalo mau lo cuciin aja sekalian,” sahut Gladys. “Biar puas pegang-pegang.”
“Boleh aja, Kak Rivano minta seragamnya harus udah kering besok,” jawab Gladys
memberitahu. “Lo kan punya mesin cuci, lha gue ngandelin sinar matahari. Itu
aja kalo nggak ujan.”
“Kak Vano nyuruh gitu?” tanya Selvi lagi.
“Iya,” awab Gladys geregetan. “Dia bisa marah kalo seragamnya nggak kering besok.”
“Ya udah deh, dengan senang hati.” Selvi cekikikan. “Kapan lagi bisa bawa seragam
Kak Vano ke rumah?”
Gladys mengernyit heran melihat tingkah teman sebangkunya. Belum tahu dia bagaimana
seramnya jika Rivano marah.
“Kalo gitu makasih deh udah gantiin tugas gue,” kata Gladys. “Besok jangan lupa
seragamnya dibawa.”
“Sip deh,” sahut Selvi seraya mengangkat jempolnya.
“Gue pulang ya?” pamit Gladys. “Mau beres-beres rumah nenek.”
“Gue anterin,” kata Selvi yang kasihan melihat wajah Gladys yang lelah.
“Makasih ya, Sel?” ucap Gladys penuh rasa terima kasih.
Selvi mengangguk seraya merangkul bahu Gladys dan menggiringnya keluar kelas.
Rivano yang sebetulnya belum pulang dan hanya berdiam diri di dalam mobilnya, tanpa
__ADS_1
sengaja melihat Gladys yang sedang membonceng motor Selvi dan melaju di
depannya.
“Itu bukannya cewek yang tadi nabrak gue ya?” gumam Rivano kepada dirinya sendiri.
“Awas aja kalo besok seragam gue belom kering, bisa abis dia di tangan gue.”
***
Gladys melewati malam pertamanya sendirian setelah kepergian neneknya untuk selamanya.
Sesekali dia menyeka air matanya perlahan, dia sudah terbiasa hidup tanpa kedua
orang tuanya, namun dia belum terbiasa hidup tanpa neneknya.
Dan setelah ini, kehidupan yang sangat keras telah menyambutnya. Memang betul untuk
biaya sekolah dia sudah ditanggung penuh oleh beasiswa yang didapatnya. Namun
untuk urusan perut, itu di luar tanggung jawab pihak sekolah.
Selama ini neneknya lah yang menghidupinya dengan makanan seadanya, namun kasih sayang
yang beliau curahkan dengan ikhlas berhasil menempa cucunya hingga menjadi
murid berprestasi seperti sekarang ini.
“Nek, setelah ini aku harus gimana?” tanya Gladys sedih sambil memandangi foto
neneknya. “Aku bisa aja kerja serabutan buat makan sehari-hari, tapi sekolahku
gimana?”
Gladys sesenggukan, tak bisa lagi membendung rasa sedihnya. Kehilangan ini begitu
sangat berat dirasakannya, seperti rumah yang kehilangan semua pilarnya,
ambyar.
“Aku nggak boleh nyerah!” Serta merta Gladys menghapus air matanya dan memandang
foto neneknya dengan sungguh-sungguh. “Aku akan belajar keras biar lulus
sempurna dan kuliah di universitas impianku, Nek. Setelah itu aku bisa kerja
biar jadi orang sukses dan membanggakan nenek.”
Gladys mencium foto neneknya, sebelum akhirnya terlelap tidur di ranjangnya.
***
Keesokan paginya, cuaca cerah menyambut Gladys yang sudah bersiap untuk berangkat ke
sekolah. Setelah menyantap sepotong roti dan secangkir teh madu sebagai menu
sarapan, Gladys menyetop ojek yang biasa mangkal di depan gang rumahnya untuk
mengantarnya ke SMA Palagan.
Gladys baru saja turun dari ojek dan menginjakkan kakinya di halaman sekolah, ketika
Rivano mendatanginya dengan langkah kakinya yang lebar dengan tampang
mengintimidasi.
“Mana seragam gue?” tagihnya dengan nada seperti menagih utang yang lama menunggak.
“Eh, ak – aku ...” Gladys tergagap. “Sa – saya ... saya belum ....”
“Belom apa?” potong Rivano tidak sabar. “Siniin seragam gue!”
Mati aku, batin Gladys ngeri. Seragamnya Rivano kan dibawa Selvi.
__ADS_1
Bersambung ....