
Gladys mengkerut di tempatnya berdiri.
“Nanti saya anterin ke kelas pas jam istirahat ya, Kak?” cicitnya sambil menunduk.
“Jam istirahat?” gelegar Rivano mengagetkan tidak hanya Gladys, namun juga anak-anak
lain yang sedang hilir mudik di halaman.
“Iy – iyaa ... Kak, maaf.” Gladys hanya mampu menjawab singkat.
“Pikiran lo geser ke mana, hah?” seru Rivano seraya berkacak pinggang. “Masa iya gue
masuk kelas pake seragam bebas kek gini?”
Perlahan, kedua mata Gladys terangkat dan melihat seniornya datang ke sekolah dengan
memakai celana jins, kaos berkerah dan jaket yang dia sampirkan di bahunya.
Rambutnya yang lurus rapi dan tatapan matanya yang setajam pisau untuk sesaat
mampu mengalihkan dunia Gladys sementara waktu.
Namun tidak lama, karena Rivano sudah keburu mencak-mencak lagi.
“Kalo gitu ... sebelum bel berbunyi, Kak.” Gladys menawar.
“Ribet ya lo, seragamnya lo bawa kan? Tinggal lo kasihin ke gue apa susahnya sih?”
sungut Rivano. “Jangan bilang kalo seragam gue lo tinggal di rumah?”
“Eh, enggak kok Kak!” kata Gladys buru-buru. “Seragam Kakak aman, lagi dibawa temen
saya buat dicuciin. Soalnya Kakak kan minta kering cepet, jadi saya minta
tolong dia buat nyuciin di rumahnya pake mesin cuci.”
Hening, awalnya Gladys pikir Rivano akan terkesan dengan kecemerlangan idenya yang
layak untuk diapresiasi. Namun yang didapatkannya justru luapan kemarahan yang
luar biasa dari seniornya ini.
“Bagus ya, lo berani nyelewengin perintah gue?” katanya sambil berjalan mendekati
Gladys. “Gue kan minta elo yang nyuciin seragam gue, kenapa jadi temen lo yang
nyuci? Lo ngeremehin gue?”
“Enggak, bukannya gitu Kak!” geleng Gladys buru-buru. “Kakak kan minta cepet, saya cuma
mau bantu Kakak aja ....”
“Alah, itu tugas lo kenapa jadi lo lempar ke orang lain?” potong Rivano kesal. “Gue
paling nggak suka kalo perintah gue nggak dilaksanain dengan baik!”
Gladys menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, rasanya serbasalah. Rivano minta seragamnya
dicuci bersih dan cepat kering, lalu di mana kelirunya kalau Selvi yang mencuci
seragam itu?
“Saya jamin seragam Kakak pasti jadi bersih seperti baru lagi,” kata Gladys pelan. “Nanti
kalo ketemu temen saya, seragamnya langsung saya anter ke kelas Kakak.”
Rivano mengangkat sebelah alisnya, dia heran melihat Gladys yang masih bisa menjawab
semua pertanyaannya. Kalau murid lain yang bermasalah dengannya, biasanya dia
__ADS_1
akan langsung memohon-mohon minta belas kasihan darinya.
“Gue udah nggak percaya sejak elo main-main sama perintah gue,” kata Rivano tajam.
“Tapi Kakak sendiri yang minta cepet,” bantah Gladys. “Kalo saya yang nyuci, bisa dua
harian baru kering ....”
“Berani lo bantah gue?” potong Rivano tidak senang.
Gladys langsung menutupnya, tidak lagi berani bicara. Dia nyaris lupa kalau Rivano
tidak pernah suka dilawan siapa pun, termasuk guru-guru di SMA Palagan.
“Maaf Kak,” kata Gladys kemudian. “Saya ... mau nyari temen saya dulu.”
Tanpa menunggu izin resmi dari Rivano, Gladys langsung berlari pergi meninggalkannya
dengan langkah kaki seribu. Dan itu sukses membuat Rivano semakin marah besar
terhadapnya.
“Dasar lo, apa lo pikir gue nggak bisa nyariin kelas lo di mana?” seru Rivano membelah
kerumunan anak-anak yang sedang berjalan menuju kelasnya.
***
Gladys sampai di kelasnya dengan napas terengah-engah, beberapa anak heran sekali
melihatnya muncul seperti habis kerampokan.
“Napa lo, Dys?” tanya Ega ingin tahu. “Kek lagi dikejar anjing galak ....”
“Bukan anjing galak,” jawab Gladys lemas seraya berjalan melewati Ega. “Tapi senior
galak.”
Gladys mengangguk membenarkannya.
“Kok lo bisa terlibat masalah sama Kak Vano sih?” tanya Ega lagi. “Dia itu kalo udah
nggak suka sama orang, pasti bakal diinjak-injak terus sampe hengkang dari
Palagan.”
“Jangan nakutin gue dong,” protes Gladys. “Gue kan di sini pake beasiswa, masa iya gue
mau hengkang cuma karena bermasalah sama dia?”
“Nah, apalagi elo yang bisa masuk ke sekolah ini pake beasiswa. Dia bisa aja nyabut
beasiswa lo kalo dia mau,” kata Ega kalem.
“Mana bisa, itu kan kewenangan sekolah.” Gladys tidak setuju. “Bukan kewenangan Kak
Vano.”
“Tapi kan dia anak pemilik sekolah,” kata Ega. “Semua udah pada tahu wataknya Kak
Vano itu gimana, makanya nggak ada yang berani cari masalah sama dia. Boro-boro
bermasalah, berteman aja pada ogah saking takutnya.”
Gladys menelan ludah begitu mendengar penuturan Ega.
“Kalo gitu tolong sembunyiin gue dulu sampe Selvi dateng,” pinta Gladys. “Tolong ya,
Rik?”
__ADS_1
“Eh, oke Dys!” sahut Rika tanpa tahu masalahnya apa.
Tidak berapa lama kemudian, Selvi tiba di kelas sambil membawa seragam Rivano yang
sudah licin terbungkus plastik bening.
“Nih Dys, udah kering seragamnya.” Selvi menyodorkan seragam Rivano ke tangan
Gladys.
“Temenin gue nganter ini ke kelasnya Kak Vano, yuk?” pinta Gladys memelas. “Gue takut
kena marah lagi.”
“Ketemu sama senior ganteng kok takut,” komentar Selvi heran.
“Percaya deh sama gue, dia nggak seganteng tingkahnya.” Gladys menggeleng. “Maksud gue,
tingkahnya itu nggak seganteng mukanya. Serem gitu.”
“Ya udah, gue temenin.” Selvi mengangguk. “Sekarang aja yuk, mumpung belum bel
masuk. Lo tau kelasnya Kak Vano di mana?”
“Mana gue tau,” geleng Gladys. “Kita nanya sama senior lain aja.”
“Oke deh,” sahut Selvi antusias, seakan sudah tidak sabar ingin bertatap muka
langsung dengan senior paling ganteng yang ada di sekolahnya.
Gladys berjalan gelisah sambil membawa seragam Rivano di tangannya. Kenapa ya rasanya
seperti mau menyetorkan nyawa kepada seorang tukang jagal?
“Misi Kak, kelasnya Kak Vano di mana ya?” tanya Selvi kepada sekumpulan anak kelas
dua belas IPS yang sedang duduk di koridor.
“Di ujung sendiri,” jawab salah satu dari mereka. “Tapi kayaknya orangnya lagi di
kantin.”
“Oh iya, makasih Kak.” Selvi mengangguk sopan kemudian mengajak Gladys berjalan menuruni
tangga untuk menyusul Rivano ke kantin.
Suasana kantin hanya diisi segelintir siswa yang sedang mengisi perutnya dengan
sarapan. Di salah satu meja, nampak Rivano sedang duduk sambil bermain ponsel
dengan satu cangkir kopi terhidang di depannya.
Gladys dan Selvi buru-buru mendekatinya.
“Ini seragamnya, Kak.” Gladys mengulurkan seragam Rivano kepada pemiliknya.
Rivano menoleh dengan tampang masam, membuat hati Gladys ketar-ketir dibuatnya.
Sumpah, aura kegelapan yang dimiliki Rivano begitu kuat mengintimidasinya.
Meski begitu, Rivano meletakkan ponselnya dan mengambil seragam miliknya dari tangan
Gladys. Dibukanya plastik yang membungkus seragam itu dan ditelitinya dengan
saksama, berharap dia menemukan sesuatu yang bisa membuatnya marah.
Tapi seragam itu bersih sempurna.
“Cuci lagi,” perintah Rivano seraya menyerahkan kembali seragam itu kepada Gladys.
__ADS_1
Bersambung ....