My Twins Jenius Anak Rahasia CEO Sombong

My Twins Jenius Anak Rahasia CEO Sombong
Dikhianati


__ADS_3

Hari ini Nayla pulang ke rumah kekasihnya dengan hati berbunga-bunga. Dia ingin memberi kejutan kepada calon suaminya yang sudah 3 tahun dia tinggalkan di Jakarta.


Selama 3 tahun, Nayla menuntut ilmu di Amerika karena beasiswa di Stanford University yang dia dapatkan.


Nayla sengaja tidak menceritakan kepada Beni, pacarnya, kalau dia sudah lulus kuliah. Dia juga tidak memposting foto-foto wisudanya di media sosialnya untuk memberi kejutan indah bagi pacarnya.


Nayla senyum-senyum sendiri di jok belakang taksi online, yang dia naiki ini. Dia berjanji kalau dia akan segera memberikan seluruh hidupnya untuk Beni bahkan kalau Beni mau, dia akan segera memberikan kehormatannya untuk Beni, seperti yang dulu selalu diminta Beni kepadanya.


Karena 3 tahun hidup jauh dari Beni, sungguh berat bagi Nayla, karena itu, dia ingin segera mengikat Beni, kalau perlu dengan memberikan tubuhnya seperti yang diminta oleh Beni, saat setahun lalu dia sempat pulang ke Jakarta sini untuk menjenguk Beni.


Saat itu, Nayla tidak mau memberikan tubuh dan kehormatannya pada Beni, tapi kali ini, dia ingin memberikan semuanya untuk Beni.


Sesampainya di rumahnya Beni, Nayla langsung keluar dari mobil. Dia bahkan melupakan koper-kopernya yang masih berada di dalam mobil.


Nayla ingin memberi kejutan kepada Beni yang tinggal sendirian di rumah yang baru Beni beli setahun yang lalu untuk pernikahan mereka nantinya itu.


Sesampainya di depan pintu, Nayla agak kaget karena pintu dalam keadaan terbuka.


"Mungkin dia baru pergi membeli makanan dan dia lupa menutup pintu. Kebetulan kalau begitu," batin Nayla yang langsung masuk ke dalam rumahnya Beni ini.


Nayla masuk diam-diam karena dia ingin memberi kejutan indah untuk Beni. Sayup-sayup dia mendengar suara-suara yang menarik perhatiannya untuk mendekati suara itu.


Ternyata suara itu berasal dari sebuah kamar yang juga tidak tertutup pintunya.


Semakin mendekati kamar itu, senyuman Nayla mulai memudar karena dia mendengar suara-suara yang tidak wajar.


"Ini bukan suara percakapan biasa tapi suara dari orang yang sedang berhubungan intim. Ada suara wanita di sana," batin Nayla dengan dada berdegup kencang.


"Ahhhh. Gimana? Enak kan, sayang?" kata suara seorang wanita di dalam sana. Suara yang dikenal oleh Nayla.


"Itu kan suaranya Dewi," batin Nayla.


Dewi adalah teman baiknya Nayla sejak SMA yang juga berteman dengan Beni.


"Iya, Dewi. Ahhhh, kamu betul-betul enak. Betul-betul luar biasa. Kamu enak seperti biasa." Terdengar suara seorang lelaki.


"Hihihi. Masih bikin kamu ketagihan, kan?"


"Tentu saja. Ahhhh."


Suara yang sangat akrab di telinga Bella, suara yang setiap 2 atau 3 hari sekali saling telepon dengannya selama 3 tahun ini.


Air mata Nayla mulai bercucuran saat menyadari apa yang sedang terjadi di dalam kamar itu.


Impian Nayla untuk melihat wajah Benny yang tersenyum gembira karena bertemu dengannya, kini pupus sudah.


Keinginan Nayla untuk memberikan tubuh dan hidupnya sepenuhnya untuk Beni, kini pupus sudah.


Suara-suara di dalam sana terdengar semakin nyaring. Ada suara ranjang berbunyi, ada suara nafas ngos-ngosan, suara air atau peluh bertemu dan suara-suara pujian yang terus terdengar dari dalam kamar sana.


Seharusnya Nayla langsung membalikkan tubuhnya untuk keluar dari rumah ini tapi dia putuskan untuk masuk juga ke kamar itu yang pintunya terbuka ini.


Setelah berada di dalam, air mata mengembang di pipi Nayla. Dia tak sanggup melihat apa yang terjadi di dalam sana, melihat dua orang yang sedang asik dengan kegiatan mereka di dalam sana.


Dua orang yang sangat dikenal Nayla, dua orang yang sangat dipercaya Nayla.

__ADS_1


"BENNY!!!" teriak Nayla di sela-sela tangisannya.


Teriakan Nayla ini membuat secara refleks Benny langsung menjatuhkan tubuh Dewi yang sedang berada di atasnya untuk jatuh ke samping kirinya.


Mata Beni melotot ke arah wanita yang berdiri di dekat pintu kamarnya.


Pemandangan yang dilihat Beni ini membuat dia sangat kaget. Dia tidak menyangka kalau Nayla yang dia tahu berada ribuan kilometer dari sini, bisa berada di kamarnya dan menyaksikan perbuatan dia bersama selingkuhannya selama ini.


"Aku tidak sangka kalian bisa berbuat setega ini kepadaku. Huhuhu. Kalian jahat!" kata Nayla sambil menangis.


Benny buru-buru berdiri berusaha untuk menutup tubuhnya yang telanjang. "Aku bisa jelaskan ini, Nayla. Aku bisa jelaskan ini."


"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Permisi!" Nayla langsung keluar dari kamar Beni ini. Dia membanting pintu dan dengan terisak-isak langsung lari keluar dari rumah milik Beni ini.


Rumah yang foto-fotonya selalu di posting oleh Beni di media sosial dan Beni sempat berkata kalau ini adalah rumah masa depan untuk dia, Nayla dan anak-anak mereka nantinya.


Nayla segera berlari ke arah luar dan saat itulah dia melihat sopir taksi online yang baru saja mengangkat tas miliknya dari dalam mobil.


"Masukkan barang-barangku kembali, pak dan antar aku ke hotel terdekat."


"Tapi, Non ... "


"Please ... selamatkan aku dari sini, pak. Please ..." Nayla menatap sopir taxi online itu dengan air mata berlinang-linang.


Akhirnya sopir taksi online itu segera mengangkat dan memasukkan kembali barang-barang milik Nayla, menutup pintu dan kembali ke balik kemudi.


Mobil baru saja hendak berangkat ketika Beni keluar dari rumah dengan sudah berpakaian lengkap. Dia langsung berteriak memanggil-manggil nama Nayla.


"Jalan, Pak, jalan. Please ..." kata Nayla sambil menangis terisak-isak.


Sopir taksi online itu mengangguk dan seakan mengerti akan apa yang sedang terjadi pada Nayla. Dia langsung menjalankan mobilnya keluar dari kompleks perumahan ini.


"Bawa aku ke hotel terdekat, pak."


"Baik, non."


Walaupun sebenarnya orang tuanya Nayla, tinggal di pinggiran kota Jakarta ini, tepatnya di Tangerang Selatan, tetapi dia tidak ingin kembali ke rumahnya dalam keadaan seperti ini.


Nayla yakin kalau orang tuanya pasti akan banyak bertanya kalau dia pulang dalam keadaan menangis seperti ini, apalagi orang tuanya Nayla juga tidak tahu kalau dia sudah berada di Jakarta.


Karena itu Nayla memilih untuk tinggal di hotel.


Beberapa saat kemudian, sambil menghapus air matanya, Nayla dengan dibantu oleh sopir taksi online sudah membawa barang-barangnya masuk sebuah hotel.


Saat berada di meja resepsionis, ada seorang gadis yang nampaknya juga baru saja memesan kamar di hotel ini. Gadis itu langsung tersenyum ke arah Nayla.


Bella pun balas tersenyum ke arah gadis itu dan kembali menghapus air matanya karena teringat akan perbuatan Beni dan Dewi kepadanya.


Setelah Gadis itu memesan kamar, gadis itu masih berdiri di meja resepsionis dan nampak sedang sibuk melakukan chatting di handphonenya.


Nayla pun mendapat giliran untuk memesan kamar.


"Kamarnya mbak di lantai 7 nomor 715," kata resepsionis hotel sambil menyerahkan sebuah keycard kepada Nayla.


Saat itulah gadis yang sebelumnya memesan kamar tiba-tiba membalikkan tubuhnya hingga tubuhnya membentur tubuh Nayla hingga Nayla langsung jatuh ke bawah.

__ADS_1


Saat Nayla terjatuh itu, diam-diam, gadis itu menukar keycard miliknya dengan keycard Nayla. Setelah itu, dia memasukkan keycard milik Nayla ke dalam sakunya dan membantu Nayla untuk berdiri.


"Maafkan aku. Aku ceroboh sekali," kata gadis berdada montok, berpipi cabi dengan mata agak besar ini kepada Nayla.


"Nggak apa-apa, kok." Nayla mengambil keycard yang tadi terjatuh, tanpa dia tahu kalau keycard itu sudah ditukar oleh gadis itu.


Setelah itu, dua orang bellboy mengantar Nayla dan gadis itu masuk ke dalam lift hotel.


Saat berada di dalam lift, gadis itu masih sibuk memainkan handphonenya.


Nayla sendiri tidak lagi memperdulikan gadis itu. Setelah berada di lantai 7, dua orang belboy sama-sama mengajak Nayla dan gadis itu untuk keluar dari lift.


Yang satu mengantar Nayla dan yang satunya mengantar gadis itu. Bellboy yang mengantar Nayla sempat meminta Nayla untuk memperlihatkan nomor kamarnya.


Setelah bellboy itu melihat nomor kamarnya Nayla, dia segera mengantar Nayla ke depan sebuah pintu kamar.


Nayla agak erkejut saat melihat nomor kamar di depannya ini. "716? Bukankah tadi resepsionis bilang aku dapat yang kamar 715?"


"Tapi yang kakak pegang ini, memang nomor 716, kak."


Mendengar kata-kata Belboy itu, Nayla memperhatikan keycard di tangannya. "Oh iya, mungkin aku salah dengar tadi. Ya udahlah." Nayla langsung membuka pintu kamar sementara bellboy itu membantu memasukkan barang-barang milik Nayla.


"Maafkan kami, kak. Tapi, ternyata handuk bersih belum sempat dibawa ke kamar ini. Nanti akan aku ambilkan, ya, kak?"


"Iya, iya. Makasih." Nayla langsung mengeluarkan uang Rp 50.000 untuk dia berikan kepada bellboy itu sebagai tip.


Setelah berada sendirian di dalam kamar, Nayla langsung melompat ke arah ranjang dan menangis di atas bantal.


Nayla betul-betul menangis sejadi-jadinya karena impiannya selama bertahun-tahun tidak menjadi kenyataan, karena ternyata Benny bukanlah pria yang setia.


**


Sementara itu, dua pemuda berumur 23 tahun baru saja keluar dari lift di lantai 7 ini.


"Dimana pelakor itu, Ton?" tanya pemuda pertama yang bertubuh tinggi besar dan atletis dengan wajah tampan tapi terlihat berjalan terhuyung-huyung tanda dia sudah mabuk berat.


"Kamar 716, son. Aku baru saja periksa di meja resepsionis."


"Ok, Ton. Kamu jaga di luar."


"Siap, bos. Itu kamarnya." Tony menunjuk ke arah kamar nomor 716.


Jason segera mendekati kamar yang ditunjuk Tony itu.


**


Sementara itu, Nayla terus menangis saat tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.


Karena dia pikir kalau ketukan itu berasal dari bellboy yang datang untuk membawa handuk, maka dia langsung membuka pintu kamarnya.


Tapi begitu pintu dibuka, ternyata yang berada di depan pintu bukanlah si bellboy tadi, tapi seorang pria tampan tapi terlihat sangat mabuk.


Pemuda itu langsung menggeram saat melihat Nayla. "Pelakor busuk! Berani Kamu merusak rumah tangga adikku, hah!" Pria itu langsung masuk membanting pintu. Kemudian dia langsung menampar pipi Nayla.


Nayla sangat kaget dengan apa yang terjadi ini. Dia yang baru saja kehabisan energi karena melihat pacarnya selingkuh dengan teman baiknya, kini tiba-tiba mendapatkan serangan dari seorang asing yang tidak pernah dia duga.

__ADS_1


Bella jatuh ke lantai karena tamparan itu. Untung saja lantainya ada karpet tebal sehingga dia tidak mengalami cedera kepala. Tapi tak urung, dia tetap kesakitan.


Pria itu langsung menarik tangan Nayla, mengangkat tubuh Nayla dan membanting tubuh Nayla ke atas ranjang.


__ADS_2