
Julius dan Julian langsung merasakan kalau ibu mereka melihat sesuatu yang sangat mengagetkan bahkan mungkin menyakiti ibu mereka di masa lalu ibu mereka.
Karena itu, Julius dan Julian langsung berdiri di samping Nayla dan menatap ke arah TV.
"Siapa dia, mah?" tanya Julian lagi.
Sementara Julius terus memperhatikan wajah Nayla.
"Dia adalah Ayah kalian. Ingat baik-baik wajahnya dan namanya serta jauhi orang itu kalau kalian tidak sengaja bertemu dengan dia. Mengerti?" Nayla menatap bergantian ke arah Julian dan Julius dengan mimik wajah serius.
Julian dan juga Julius langsung mengangguk mengiyakan perintah ibu mereka itu.
Setelah itu, Nayla menatap tajam ke arah Julius. "Dan kamu, Julius, ingat. Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi menjadi hacker. Kalau kamu ingin berguna, lebih baik kamu menciptakan apa, kek, yang seperti Facebook kek, seperti Instagram kek. Pokoknya jangan lagi jadi hacker dan membobol rahasia perusahaan orang. Mengerti?"
Julius langsung mengangguk. "Aku berjanji, mah. Aku berjanji mulai sekarang aku tidak akan lagi membobol sistem keamanan Pentagon atau perusahaan milik orang lain. Aku janji," Julius mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan dengan tangan kanannya.
Nayla nampak puas. Setelah itu, dia langsung menuju ke arah kamarnya, masuk dan mengunci pintu kamarnya.
Si kembar mengikuti Nayla hingga ke balik pintu. Mereka bisa mendengar suara tangisan ibu mereka di dalam sana.
Mereka berdua saling berpandangan. Kemudian mereka kembali ke ruang tengah.
Julian bertanya kepada Julius, "sebelum ini kamu tidak pernah bersumpah. Apakah masa-masa kamu sebagai hacker sudah berakhir? Apa kamu akan turuti kata-kata Mama kita? Padahal aku tahu pasti, kalau aksimu akan berlanjut. Iya kan?"
Julius menatap ke arah kamarnya Nayla. Setelah itu dia berkata, "aku memang bersumpah kepada mama kita kalau aku tidak akan lagi membobol sistem keamanan perusahaan orang lain. Tetapi aku tidak pernah berjanji kalau aku tidak akan membobol sistem keamanan perusahaan ayah kita."
"Kenapa begitu?"
"Dia kan bukan orang lain tapi ayah kita sendiri."
Julian mengerutkan rekeningnya. "Apa maksudmu? Mama kan sudah bilang supaya kita menjauhi ayah kita. Kenapa kamu masih mau mendekati ayah kita?"
"Mama memang mengatakan kepada kita untuk tidak bertemu dengan ayah kita. Tapi, kita kan tidak pernah berjanji untuk tidak mengusik Ayah kita itu. Iya kan?"
"Tapi kamu sudah bersumpah, Julius."
"Aku cuma bersumpah untuk tidak membobol sistem keamanan di Pentagon atau perusahaan-perusahaan dunia lainnya atau perusahaan milik orang lain. Tapi aku tidak pernah berjanji untuk tidak membobol sistem keamanan perusahaan ayah kita sendiri. Iya kan?"
Melihat sikap serius Julius ini, Julian bertanya, "lalu apa rencanamu, Julius?"
"Kita pernah membicarakan ini. Kita pernah melihat bagaimana ibu kita menangis karena perbuatan Ayah kita itu dan sampai sekarang dia masih menangis." Julius menunjuk ke arah kamarnya Nayla.
__ADS_1
"Lalu bagaimana?"
"Karena itu kita harus membalas dendam kepada ayah kita itu?"
"Lalu apa rencanamu, Julius?" tanya Julian lagi.
"Aku akan membuat ayah kita menyesal telah menyakiti hati ibu kita dan kamu harus membantuku dalam hal ini."
"Aku siap membantumu," tegas Julian.
**
Besok paginya, baru saja Nayla tiba di kantornya dia sudah dihadang oleh bosnya yang bernama Rudi.
Sebenarnya kantor arsitek yang jadi tempat kerjanya Nayla ini dimiliki oleh Nayla, tapi dari awal, yang menyuntikkan dana untuk Nayla membuat perusahaan ini adalah Rudi. Sementara pengoperasian dan pengerjaan design bangunan dilakukan oleh Nayla dan beberapa pegawainya.
"Ada apa, Pak Rudi?" tanya Nayla yang cukup surprise dengan kedatangan Rudi ini karena biasanya Rudi hanya meneleponnya dan jarang sekali datang ke kantor ini karena Rudi memiliki kantor yang luas di tempat lain dan biasanya Nayla yang harus menemui Rudi di kantornya Rudi itu.
"Ada sebuah kejutan luar biasa," kata Rudi dengan mimik wajah yang terlihat sangat gembira.
"Ada apa?"
"Kamu tahu tentang pembangunan Star Square Boulevard yang heboh belakangan ini yang diisukan akan menjadi pusat perdagangan terpadu dan terbesar di Asia Tenggara?"
"Iya memang sudah dimulai sejak setahun yang lalu. Tapi itu baru kawasan perkantoran dan apartemen. Tetapi ternyata pengerjaan mall-nya baru akan dimulai. Dan semalam, di sebuah acara pesta kaum selebriti aku bertemu dengan seorang CEO yang kemudian mengajak kita untuk terlibat dalam proyek ini."
"Terlibat bagaimana, Pak?"
"Aku yang akan mengerjakan proyek pembangunan mal ini, sementara kamu yang akan membuat sketsa untuk proyek mall itu. Bagaimana? Kamu terkejut, kan?"
"What? Tapi sebelum ini aku cuma pernah membuat sketsa gedung-gedung perkantoran, pak. Aku belum pernah membuat gambar untuk mal."
"Berarti ini adalah kesempatan pertamamu untuk membuatnya dan kamu tidak boleh menolak. Kamu harus mengambilnya supaya namamu mulai berkibar di kancah daftar arsitek terkenal di negara ini. Mengerti?"
Nayla terdiam Tetapi dia juga merasa ini adalah sebuah kesempatan yang baik baginya untuk mengembangkan karirnya, mengembangkan namanya sebagai arsitek yang mulai diperhitungkan di dunia real estate di Indonesia. Karena itu, dia akhirnya mengangguk.
"Sekarang ikut aku," kata Rudi yang langsung berjalan menuju ke arah luar kantor.
"Ikut ke mana, Pak Rudi?"
"Ikut aku ke restoran. Kita akan bertemu dengan CEO pemilik proyek itu dan di sana kita akan membicarakan lebih lanjut tentang rencana pengembangan proyek ini."
__ADS_1
"Baik, Pak." Nayla pun bergerak mengikuti langkah Rudi.
Rudi naik ke mobilnya dan Nayla pun naik ke mobil Nayla sendiri.
Setelah itu dua mobil ini langsung keluar dari Kompleks kantor milik Nayla dan setelah sekitar 1 kilometer, mobilnya Rudi masuk ke parkiran sebuah rumah makan dan parkir di sana.
Menyadari akan bertemu dengan seorang klien penting, maka setelah memarkir mobil, Nayla segera bersiap di mobilnya. Dia menggunakan alat make up yang selalu dia siapkan di dalam mobilnya dan mulai tambah merias wajahnya.
Rudi nampak melambai-lambaikan tangan ke arahnya meminta Nayla untuk mengikuti Rudi tetapi Nayla meminta waktu sejenak.
Hingga akhirnya Rudi masuk duluan ke dalam dan duduk di bagian tengah dari restoran elite yang nampaknya menjadi tempat pertemuan dengan CEO yang dibilang oleh Rudi itu.
Baru saja Nayla keluar dari mobil, tiba-tiba sebuah mobil mobil sport parkir di sampingnya dan hampir mengenai dirinya kalau dia tidak menghindar.
Nayla jadi geram dengan sikap sembrono pemilik mobil sport ini. Dia menunggu pemilik mobil itu keluar dari mobilnya. Dia ingin mendamprat siapapun pemilik mobil itu.
Nayla tidak peduli walaupun dia tahu pemilik mobil ini pasti orang kaya karena bisa membeli mobil mewah yang berharga 40 miliar ini.
Seorang pria keluar dari mobil. Pria itu langsung mengatur dasi dan menatap ke arah restoran.
Begitu melihat pria itu, Nayla langsung memalingkan wajahnya.
Nayla begitu kaget karena pria yang baru saja keluar dari mobil sport itu adalah pria yang selama 7 tahun ini membayangi hidupnya.
Pria ini seringkali hadir dalam mimpi dan menjadi mimpi buruk yang menakutkan baginya. Karena pria ini adalah pria yang dulu merenggut kehormatannya.
Sekaligus pria yang memberikan dua anak kepadanya, yaitu Julian dan Julius.
Maksud hati Nayla yang ingin mendamprat pemilik mobil sport itu, akhirnya harus dia urungkan. Dia terus memalingkan wajahnya, tidak mau melihat ke arah restoran hingga akhirnya dia mendengar suara handphonenya berbunyi.
"Ayo masuk. Klien kita sudah mau datang, tuh," kata Rudi di ujung telepon.
"Baik, pak. Aku segera ke sana." Nayla segera mematikan telepon dan mengintip pelan-pelan ke arah belakang dan dia sangat lega karena pria bernama Jason yang dulu pernah menghancurkan hidupnya sudah tidak lagi berada di dekat sini.
Sambil sedikit menutup wajahnya supaya kalau Jason berada di sekitar sini maka Jason tidak bisa melihatnya, maka Nayla segera berjalan menuju ke dalam restoran.
Sambil terus menutup wajahnya dengan tangan kanannya, Nayla terus berjalan menuju ke arah Rudi yang sudah menunggunya di dalam restoran.
Nayla melihat Rudi sudah bangkit berdiri dan mempersilahkan dia untuk mengambil kursi tepat di sebelah kanannya sementara Nayla terus nenutup mata sebelah kanannya supaya tidak bertemu dengan pria yang ingin dia hindari.
Sambil terus menutup wajahnya yang sebelah kanan, Nayla langsung duduk di samping kanannya Rudi dan bertanya, "bagaimana? Apa dia sudah datang?"
__ADS_1
"Dia sudah datang, Nayla. Ini orangnya," kata Rudi sambil menunjuk ke arah sebelah kirinya.
Sekarang ini, barulah Nayla menurunkan tangannya yang sejak tadi dia pakai untuk menghalangi bagian kanan wajahnya. Dan saat dia menatap ke arah depan, ke arah tamu yang dibilang oleh Rudi itu, dia menjadi sangat kaget.