My Twins Jenius Anak Rahasia CEO Sombong

My Twins Jenius Anak Rahasia CEO Sombong
Wajah yang Familiar


__ADS_3

Nayla sangat kaget saat dia menyadari kalau orang yang dia hindari sejak tadi hingga dia menutup bagian sisi kanan wajahnya dengan tangannya, ternyata malah sekarang ini sudah duduk di depannya.


"Apakah dia mengenalku? Apakah dia masih ingat wajahku?" batin Nayla dengan mata membulat sambil terus menatap ke arah wajah tampan di depannya ini.


"Perkenalkan Pak Jason. Ini namanya Nayla. Dia adalah arsitek berbakat yang lulusan Stanford university di Amerika," kata Rudi sambil menunjuk ke arah arah Nayla.


Jason mengangguk ke arah Nayla.


"Nayla, ini namanya Pak Jason Sutanto, CEO dari Grup Hasrat Abadi yang bergerak di bidang properti dan otomotif." Rudi menatap ke arah Nayla.


"Senang mengenalmu, Nona Nayla." Jason berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Nayla.


Nayla tercekat. Matanya membulat, ingatannya kembali ke masa lalu saat pria di hadapannya ini memperkosanya.


Nayla masih terpaku di tempat duduknya. Tidak mengindahkan uluran tangan Jason ke arahnya.


Saat ini, rasanya Nayla ingin berdiri dan menampar Jason, pria yang pada 7 tahun yang lalu, telah menghadirkan mimpi buruk dalam hidupnya.


Rudi melotot ke arah Nayla karena tidak enak pada Jason yang sudah berdiri sejak tadi untuk menjabat tangan Nayla.


Rudi bahkan menginjak kaki Nayla karena merasa tidak enak pada Jason.


AWWWW


Nayla tersentak kaget saat kakinya diinjak Rudi. Dia kini menyadari kalau Jason tidak mengenalnya.


Karena itu, Nayla langsung berdiri dan menjabat tangan Jason. "Senang mengenalmu Bapak Jason Sutanto."


"Please call me Jason, karena aku belum terlalu tua untuk dipanggil bapak. Iya, kan?" kata Jason sambil mengangkat ujung bibirnya.


"Dia benar-benar tidak mengenalku. Dasar tukang perkosa! Dia telah menghancurkan hidupku 7 tahun yang lalu, tapi dia sama sekali tidak mengenalku. Pasti banyak yang sudah menjadi korbannya," batin Nayla dalam hatinya.


Nayla juga merasa sangat direndahkan karena dia pikir seharusnya Jason akan mengenalnya setelah peristiwa pada 7 tahun yang lalu itu, pada malam terkutuk yang diingat Nayla dengan jelas itu.


Tapi ternyata Jason tidak mengenalnya. Dan ini membuat Nayla semakin membenci Jason, pria yang selama 7 tahun ini ingin dia hindari tapi sekarang, dia harus berhadapan dengan mimpi buruknya itu.


Sementara itu, Jason menatap Nayla dan membatin, "arsitek ini cukup cantik. Wajahnya seperti familiar tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya. Hmmm, mungkin aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Tapi, kenapa dia seperti familiar bagiku?"


Saling tatap dan saling membatin antara Jason dan Nayla terhenti karena Rudi sudah berdehem cukup keras yang membuat Jason dan Nayla sama-sama menarik tangan mereka masing-masing yang sejak tadi tidak terlepas itu.


"Begini, Nayla. Aku ingin kamu memaparkan akan rencanamu untuk pembuatan rancangan Mall untuk semakin meyakinkan Pak Jason akan sketsamu," kata Rudi kepada Nayla sambil menyodorkan laptop milik Nayla yang dari tadi dipegang oleh Rudi.


Jason sudah menunggu sambil menatap wajah Nayla.


Nayla yang tidak ingin bekerjasama dengan Jason, putuskan untuk mengacaukan kerjasama perusahaannya dengan perusahaannya Jason.

__ADS_1


"Aku tidak memiliki perencanaan apa-apa, pak. Karena bapak tahu sendiri, kan? Aku belum pernah membuat rancangan untuk pembuatan mal sebelumnya. So ... mungkin aku bukan orang yang tepat untuk ini."


Rudi langsung panik mendengar kata-kata Nayla itu. "Come on, Nayla. Ingat, sebelumnya kamu cuma merancang ruko. Iya kan? Sesudah itu, saat kamu kerjasama denganku untuk membuat gambar rancangan untuk apartemen 30 lantai, nyatanya kamu bisa. Iya kan?"


"Iya sih. Tapi ... aku tidak yakin kalau mal. Rancangannya lebih sulit."


Rudi melotot ke arah Nayla. Kemudian dia menatap Jason. "Maaf, pak. Aku ingin bicara dulu dengan Nayla."


"Silakan, pak," tandas Jason.


Rudi langsung melotot ke arah Nayla sambil memberi isyarat pada Nayla untuk mengikutinya.


Nayla pun mengikuti langkah Rudi yang berjalan meninggalkan meja dan baru berhenti setelah berjalan sekitar sepuluh meter.


"Kamu kenapa, sih? Kamu lagi kesambet jin apa, Nayla? Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu tidak profesional, Nayla!" sembur Rudi saat Nayla sudah berdiri di depannya.


"Aku cuma bicara apa adanya, pak. Aku kan memang belum pernah menggambar rancangan mal sebelum ini. Iya kan?"


"Iya sih. Aku sadar itu. Tapi, biasanya kamu mau belajar dan bisa. Ingat, saat kamu bikin rancangan Apartemen Great Pramuka. Kamu juga menghadapi faktor kesulitan tinggi. Iya kan? Tapi kamu tidak menyerah. Kamu terus berusaha dan hasilnya memuaskan. Iya kan?"


"Kali ini aku tidak yakin, pak."


"Kamu harus melakukan ini. Kalau tidak, kerjasama kita tidak akan berlanjut."


Nayla terdiam. Dia memikirkan karyawannya. Dia merasa belum sanggup bagi perusahaan kecilnya untuk berdiri sendiri tanpa kerjasama dengan perusahaan besarnya Rudi.


Akhirnya Nayla mengangguk. Dan saat Rudi mengajaknya untuk kembali ke meja tempat Jason berada, dia terpaksa ikut.


"Maafkan kami, pak. Arsitekku sempat bimbang. Tapi, sekarang ini, arsitekku sudah siap," kata Rudi sambil tersenyum ramah ke arah Jason.


"Tidak apa. Aku mengerti kok."


Rudi langsung memberi isyarat ke arah Nayla.


"Oke." Nayla langsung mengeluarkan handphonenya dan membuka file-file tentang rancangan-rancangan gedung yang pernah dia buat sebelumnya.


"Aku tidak bisa melihat dari sini. Bolehkah aku duduk di sampingmu?" tanya Jason sambil menunjuk ke samping Nayla.


Nayla pun mengangguk walaupun harus menyimpan amarah di hati karena teringat perbuatan Jason kepadanya dulu.


Rudi yang ingin mengambil hati Jason, langsung mengangkat sebuah kursi kosong yang berada agak jauh dari Nayla, untuk dia taruh di samping kanan Nayla.


Setelah itu, dia mempersilahkan Jason untuk duduk di kursi yang dia taruh itu.


Jason langsung duduk di samping Nayla.

__ADS_1


Jason menatap Nayla dan membatin. "Gadis ini cantik. Dan lebih dari itu, aku seperti merasa pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi dimana?"


Nayla mulai menjelaskan tentang rancangan-rancangan yang sebelumnya dia buat sambil dia memperlihatkan rancangan lamanya di dalam folder di laptop miliknya.


Dengan penuh senyum walau harus menyimpan bara api di dada, Nayla menjelaskan segala hal tentang rancangan pertamanya.


Tapi saat Nayla menyadari kalau pahanya dan paha Jason sudah saling tempel, maka dia segera menjauhkan pahanya dari paha Jason sehingga Jason tidak bisa lagi menempelkan pahanya di dekat pahanya.


"Apakah aku melihatnya di TV? Apa dia seorang artis atau model?" batin Jason sambil terus menatap wajah Nayla.


Menatap wajah Nayla dengan jarak sedekat ini membuat Jason semakin terkesima akan kecantikan Nayla.


"Aku yakin aku pernah melihatnya sebelum ini. Tapi dimana?" batin Jason.


Setelah itu, Jason mulai memainkan cara yang lain. Sambil menatap Bella, dia berkata, "aku ingin melihat rancanganmu yang lain."


"Oke. Yang ini adalah saat aku merancang sebuah hotel bintang 3 di Bandung," kata Nayla sambil menunjukkan salah satu rancangan kebanggaannya.


"Oke sangat bagus. Betul-betul sangat bagus. Aku kagum," kata Jason sambil menatap rancangan yang pernah dibuat oleh Nayla itu.


Tanpa disengaja, tangan Jason telah berada di atas tangan Nayla. "Benar-benar mengagumkan." Jason mengagumi rancangan Nayla ini.


Nayla menatap ke arah Rudi menunjukkan tidak sukanya ke arah Rudi sambil dengan kerlingan matanya, dia menunjuk ke arah tangan Jason yang sedang memegang tangannya.


Nayla ingin mengatakan kalau dia tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Jason pada tangannya ini.


Tapi Rudi malah menyatukan kedua tangannya di depan dada, Rudi memohon supaya Nayla jangan marah akan kelakuan Jason pada saat ini.


Sebenarnya kebencian Nayla kepada Jason semakin menumpuk karena masa lalunya dengan Jason, ditambah dengan sikap Jason dalam menggodanya bahkan menjurus ke arah pelecehan kepadanya pada saat ini tetapi Nayla memilih untuk bersabar.


Setelah menjelaskan beberapa saat tentang rancangan hotel bintang 4 di Bandung yang pernah dibuatnya, Nayla langsung memanfaatkan situasi saat pesanan makanan datang untuk menjauhkan tangannya dari tangan geser Jason.


"Kalau begitu, kita makan dulu, Pak Jason. Kebetulan aku sudah lapar berat, nih," potong Rudi.


"Oke kalau begitu mari kita makan." Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan-makan.


Tapi sepanjang acara makan berlangsung, Jason terus menatap Nayla seakan dia akan merasa sangat rugi kalau sedetik saja tidak menatap wajah cantik Nayla.


Setelah acara makan usai, Rudi berkata, "jadi bagaimana, Pak Jason? Bapak kan sudah melihat rancangan-rancangan yang pernah dilakukan oleh Bella. Jadi bagaimana? Apakah perusahaan kami tetap akan dikontrak untuk pembangunan mall itu?"


Jason berpikir sejenak kemudian dia berkata, "masih ada beberapa detail yang harus aku lihat dulu jadi aku ingin ada penjabaran yang lebih detail lagi."


"Kalau begitu, aku dan staffku akan datang ke kantor bapak untuk kembali menjelaskan rancangan dan cara kerja kami secara menyeluruh. Bagaimana, pak?"


"Tidak perlu, Pak Rudi. Soal Anda, saya sudah sangat sudah sangat yakin akan kinerja Anda dalam mengerjakan pembangunan mal itu. Tapi aku masih belum yakin akan rancangannya." Jason menatap ke arah Nayla.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Jason itu, Nayla berkata pada Rudi. "Tuh, kan, pak. Aku tidak qualified untuk mengerjakan rancangan ini. Mungkin bapak harus menggandeng arsitek lain di kantor bapak, pak."


"No. Aku tidak ingin arsitek lain. Aku cuma mau kamu," tegas Jason.


__ADS_2